Anak Siapa?

1194 Words
Kampus favorit yang berdiri megang diguyur hujan sejak pagi. Langit kelabu, suara petir sesekali menyambar, dan mahasiswa berlarian di koridor, menghindari genangan dan angin dingin. Melati berjalan pelan ke kelas, menunduk seperti biasa. Wajahnya pucat, napasnya pendek. Perutnya terasa mual sejak pagi, tapi dia menolak izin. Dia tidak ingin dianggap manja. Tidak ingin jadi bahan omongan. Tidak ingin Rafli tahu. "Kau baik-baik saja, Melati? Kau pucat sekali." "Tidak apa-apa, Unnik." Melati tetap duduk meskipun kepalanya seperti berputar-putar. Wulan juga menghampirinya. "Aku baik-baik saja." Melati tidak mau membuat cemas kedua teman dekatnya yang dia kenal lewat Ospek kemarin. Tapi tubuhnya punya kehendaknya sendiri. Namun, ketika jam istirahat tiba Melati langsung keluar karena mual tak tertahan. Namun, langkahnya goyah. Tangannya gemetar dan dunia tiba-tiba menggelap. “Melati!” Suara panik Iqbal menggema. Kursi bergeser keras, dosen terkejut. Beberapa siswa di kelas berlari mendekat. Tubuh Melati sudah terkulai di lantai. Wajahnya putih pasi, napasnya pelan. Tangan Iqbal menggenggam bahunya, mencoba membangunkannya. "Pak Rama, tolong ... Pak!" "Iya, sebentar. Biar bapak telepon ambulan dulu, Iqbal." Suasana di kelas semakin ramai dan penuh kekhawatiran sementara Rafli menerima panggilan itu di ruang rapat Mahendra Tower. Baru saja dia menolak tawaran merger dari perusahaan Korea dan memecat manajer cabang karena laporan terlambat dua hari. Dan kini, ponselnya bergetar keras. Dari nomor sekolah. Dia nyaris mengabaikannya sampai kalimat pertama terdengar. “Tuan Rafli, ini darurat. Melati pingsan, kami bawa ke rumah sakit sekarang." Dunia Rafli seperti berhenti satu detik. Tanpa sepatah kata pun, dia bangkit dari kursi rapat, mengambil jas, dan berjalan keluar. Asisten dan direksi hanya bisa saling pandang, tidak ada yang berani bertanya. Mobil hitamnya melaju gila-gilaan di jalan tol. Pengemudi bahkan nyaris tak menyentuh pedal rem. Hujan menghantam kaca depan, tapi Rafli hanya menatap lurus, diam, dengan rahang mengeras dan tangan terkepal. Di ruang IGD, suasana kacau. Dokter dan perawat keluar masuk. Suster menatap Rafli dengan ragu, lalu membungkuk sopan. “Anda keluarga dari pasien bernama Melati?” Rafli mengangguk cepat. “Di mana dia?” “Saat ini sedang observasi. Kami temukan tekanan darahnya turun drastis. Kami juga menemukan hal lain.” Rafli menyipitkan mata. “Maksud Anda?” Suster menelan ludah. “Pasien, hamil. Sekitar lima minggu.” "Apa?" Kata-kata itu memantul pelan di telinganya, seperti gema yang enggan hilang. Hamil? Otak Rafli memutar ulang semua adegan dalam kamar di night club beberapa bulan yang lalu. Satu malam yang membawa mereka pada satu ikatan pernikahan. Dan, yang membuat nasib sial Rafli seumur hidup. Dia mengira semuanya tidak berarti apa-apa. Ternyata tidak. Babak kehidupan barunya, justru sedang dimulai. “Boleh saya melihatnya?” Suaranya serak. Suster mengangguk dan membimbingnya ke ruangan rawat. Melati terbaring lemah. Selang infus di tangan, selimut menutupi tubuhnya. Wajahnya masih pucat, bibirnya kering. Tapi matanya terbuka. Dan ketika melihat Rafli berdiri di ambang pintu, tubuhnya menegang. Bukan takut, tapi pasrah karena dia tahu. Rahasianya terbongkar. Rafli berjalan pelan mendekat. Tidak ada amarah di wajahnya. Hanya kehampaan yang menakutkan. “Kau hamil,” katanya datar. Melati tidak menjawab. “Kenapa tidak bilang dari awal?” “Saya baru tahu dua hari lalu,” bisik Melati. “Saya takut.” Rafli memalingkan wajah. Dia tertawa kecil bukan karena lucu, tapi karena dunia seolah sedang mengoloknya. Seorang CEO besar yang kehidupannya terkendali. Kontrak pernikahan sempurna. Dan kini, semua berantakan karena nyali seorang gadis desa yang lebih memilih diam. Hamil. “Kau pikir ini tidak penting?” Suaranya naik satu oktaf. “Bukan itu maksud saya." “Kau pikir aku akan menerimamu kalau tahu?” Melati menggigit bibirnya. Rafli menatap perutnya. Masih datar. Tapi dia tahu, ada kehidupan kecil di sana. Darahnya dan itu adalah anaknya. Bukan bagian dari kontrak, tidak juga bagian dari rencana. Tetapi, ini nyata. Dia menarik napas panjang, mencoba menelan rasa yang tidak bisa dijelaskan. Lalu berkata dengan suara pelan, seperti perintah. “Mulai hari ini, kau tidak kembali ke sekolah.” Melati menatapnya kaget. “Tapi saya—” “Cukup.” Tatapannya tajam. “Sekolah itu milikku juga rumah yang kau tempati. Dan kau ... milikku juga.” Air mata Melati jatuh tanpa suara. Tapi dia tak membantah. Rafli berbalik, berjalan keluar ruangan. Tangannya mengepal. Matanya nyalang. Bukan karena marah, tapi karena takut. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Rafli Mahendra takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum pernah dia akui bahwa dia menginginkannya. Dan di koridor rumah sakit, dia mengeluarkan ponsel. “Anindita,” katanya dingin. “Mulai besok, rumah sakit itu di bawah Mahendra Foundation. Dan cari dokter kandungan terbaik di negeri ini. Untuk pasien bernama Melati." "Baik, Pak Rafli." Rafli Mahendra tidak pernah percaya pada kebetulan. Dunia terlalu rumit untuk diserahkan pada nasib. Maka, ketika dia memilih satu nama dari daftar dokter kandungan terbaik di Jakarta, itu bukan karena sekadar reputasi melainkan karena dia tahu siapa orang yang pantas. dr. Edward Rahman, Sp.OG Lulusan terbaik FKUI. Lulusan SMA unggulan yang sama. Dan satu-satunya orang yang pernah tahu Rafli sebelum dunia mengenalnya sebagai CEO Mahendra Group. Mereka bertemu di parkiran VIP rumah sakit siang itu. Hujan sudah reda, tapi udara masih basah. Rafli berdiri bersandar di mobilnya. Wajahnya keras, matanya tak banyak berkedip. Edward menghampiri dengan jas putih tergantung di lengan dan raut wajah serius. “Sudah lama aku tidak melihatmu, Rafli,” katanya, setengah bercanda, setengah berhati-hati. Rafli mengangguk tipis. “Terima kasih sudah datang cepat.” Edward menyelipkan tangan ke saku celana. “Pasiennya siapa?" “Anak SMA,” jawab Rafli datar. Alis Edward terangkat. “ Yang bernama Melati?” “Kau sudah tahu?” Rafli balik bertanya. “Sudah. Aku yang menangani dia tadi di IGD.” Hening sebentar. Edward menyipitkan mata, memperhatikan teman dekatnya itu. "Dia baik-baik saja. Hamil lima minggu, cukup sehat, tapi tekanan emosionalnya tinggi. Dia stres berat, Rafli." Rafli menatap lurus ke depan. “Aku tahu.” “Kau ingin aku menjaga kehamilannya?” “Aku ingin kau tes DNA anak itu.” Edward menatapnya dalam. “Rafli, serius?” “Dia menyembunyikan kehamilannya. Aku tidak bisa percaya begitu saja.” Edward mendesah. “Dengar, usia kehamilannya baru lima minggu. Secara teknis, kita bisa coba NIPT atau tes darah yang mengekstraksi DNA janin dari darah ibunya. Tapi .... " “Tapi apa?” Rafli cepat merespon. “Normalnya, cfDNA janin baru cukup untuk dianalisis di usia 9 minggu ke atas. Di minggu kelima, itu pun risikonya tinggi. Satu lagi, hasil bisa tidak valid. Bisa gagal total.” Rafli menatap lurus. “Tapi bisa dicoba?” Edward mengangguk pelan. “Kalau kau bersikeras, aku bisa kirim sampel ke lab khusus, tapi aku ingatkan jangan berharap hasil mutlak. Dan jangan bawa ini sebagai bukti untuk menghakiminya.” Sepi. Hanya suara angin lewat di antara mereka. “Lakukan saja,” ucap Rafli akhirnya. “Aku perlu tahu.” Edward memandang sahabatnya dalam diam. “Aku bisa bantu, Rafli, tapi kau harus janji satu hal.” “Apa?” “Kalau hasilnya membuktikan anak itu milikmu, kau harus mulai belajar percaya. Kalau tidak pada dia setidaknya pada dirimu sendiri.” Edward terdiam. Dia bukan tidak tahu bagaimanapun Rafli dulu yang sering bergonta-ganti pasangan sampai akhirnya dia jatuh sedalam-dalamnya pada perempuan bernama Kassandra. "Baiklah, aku tunggu kau datang ke ruanganku. Kau bebas bercerita seperti dulu." Edward menepuk pundaknya dan pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD