Tak Lagi Sama

1123 Words
Rafli berdiri mematung di depan kolam, menatap punggung Melati yang kini makin terasa jauh. Gadis itu tidak mengatakan sepatah kata pun padanya. Bahkan saat dia berdiri hanya beberapa meter darinya, Melati tetap menjaga jarak. Mata itu tidak lagi mencari-cari persetujuan darinya. Tidak juga meminta maaf atau meminta perhatian. Pak Basuki yang berdiri di antara mereka tampak canggung, tapi tetap tenang. Lelaki tua itu tahu, ada dinding baru yang tak kasat mata, tumbuh di antara dua insan muda ini. Rafli menarik napas dalam-dalam. "Aku yang antar dia," ucapnya datar. Pak Basuki hanya mengangguk pelan dan menyerahkan kunci mobil. Sementara Melati menunduk makin dalam, seolah ingin menghilang dari pandangan. Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan. Rafli mengemudi tanpa ekspresi. Sesekali melirik ke samping, tapi Melati hanya menatap keluar jendela, memeluk tas sekolahnya erat-erat. Tak ada lagi sosok gadis yang dulu takut-takut mengucap salam padanya. Tak ada lagi tatapan kecil yang menanti perintah darinya. Yang tersisa kini hanya diam, dingin, dan janggal. Saat mobil berhenti di depan gerbang kampus, Melati membungkuk kecil. "Terima kasih, Tuan." Rafli hanya diam, dia ingin mengatakan sesuatu. Apapun, tapi lidahnya kelu. Dan ketika pintu mobil tertutup, Rafli tetap duduk di kursi pengemudi, menatap bayangan Melati yang menjauh, seolah tidak mengenalnya lagi. Siang hari, Rafli kembali ke banglo. Tak seperti biasanya, dia tidak langsung masuk kantor, duduk di ruang kerja, tapi tak membuka laptop. Hanya memandangi foto di meja, bukan foto siapa-siapa. Hanya bingkai kosong yang belum pernah diisi. Entah kenapa, ruang itu terasa terlalu besar. Dia mengusap wajahnya. Kesal, bingung dan tidak tahu harus apa. 'Kenapa diamnya itu lebih menyakitkan dari teriakannya? Kenapa sekarang justru gue yang nungguin jawabannya?' Tangannya meraih ponsel. Dia membuka pesan terakhir dari Pak Basuki, laporan soal kegiatan Melati di kampus hari ini. Tidak ada yang mencurigakan. Semua normal. Tapi kenapa dadanya terasa berat? Karena ini bukan soal kegiatan. Ini soal dirinya. Dia, Rafli Mahendra yang terbiasa membuat orang tunduk dengan kata-kata kasar atau tatapan tajam, hari ini dibuat lumpuh hanya karena satu hal yaitu diamnya Melati. Sore harinya, Melati pulang lebih awal dari jadwal biasanya. Pak Basuki sedang keluar membeli perlengkapan kebun. Jadi hanya ada Rafli di rumah. Melati mengganti baju lalu masuk ke dapur seperti biasa. Tapi hari ini dia tidak memasak. Hanya membuat teh panas, lalu kembali ke kamarnya. Rafli yang sejak tadi memantau lewat layar CCTV rumah pun mendesah pelan. Tangannya refleks menutup laptop dan berjalan ke dapur. Cangkir teh itu masih mengepulkan uap, tapi gadisnya sudah pergi. Dia memandang uap itu, sehangat yang dulu dia rasakan dari Melati, yang selalu menunduk dan patuh, sekarang yang tersisa hanya sisa aroma dan keheningan. Untuk pertama kalinya, Rafli merasa kehilangan meski orang itu belum pergi. Dan diam-diam, dia bertanya dalam hati, 'Apakah aku sudah membuatnya setakut itu dan benar-benar membenciku?' Malam datang lebih cepat dari biasanya. Langit menggantung kelabu, angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dari halaman belakang. Rafli masih di ruang kerja, tapi tak satu pun file terbuka. Kertas-kertas berserakan di meja, tapi tak satu pun disentuh. Sesekali dia mendongak ke arah pintu, mengharap entah apa. Mungkin, menunggu seseorang mengetuk atau sekadar lewat dan menatap, tapi tidak ada. Melati tidak turun malam ini. Tidak muncul di ruang makan. Tidak menyalakan televisi seperti biasanya. Tidak juga mengendap-endap keluar ke taman belakang. Bahkan langkah kakinya pun tak terdengar. Rafli akhirnya bangkit, berjalan pelan menaiki tangga. Entah sudah yang keberapa kalinya hari ini. Tapi malam ini berbeda, dia mengetuk pintu itu, melawan egonya sendiri. Tok. Tok. Tok. Diam. "Melati." Suaranya berat, nyaris tak terdengar. Bahkan dia sendiri ragu sudah memanggil atau belum. Tak ada jawaban hanya hening. Hanya suara jarum jam di dinding lorong yang mengingatkan bahwa waktu tetap berjalan, walau perasaannya tak beranjak dari tempat yang sama. "Aku cuma mau bilang, kamu bisa makan dulu. Aku tidak akan turun," katanya akhirnya. Masih tak ada balasan. Rafli mengepalkan tangan. Ingin marah. Tapi pada siapa? Pada Melati yang diam? Atau pada dirinya sendiri yang terlalu bodoh untuk menyadari semuanya lebih cepat? Dia menempelkan dahinya ke daun pintu. Kamar itu sunyi, tapi terasa seperti sedang berteriak ... menolaknya. Dia mengetuk sekali lagi. "Apa kamu marah padaku?" Tak ada jawaban. Rafli mengumpat pelan dan berbalik, tapi langkahnya terasa berat. Malam ini, dia benar-benar sendiri. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka tinggal serumah, dia sadar, Melati bisa pergi kapan saja tanpa harus benar-benar meninggalkan rumah ini. Karena yang meninggalkan bukan tubuhnya, tapi hatinya dan Rafli, tak tahu lagi bagaimana cara memanggilnya kembali. Pagi itu hujan turun rintik-rintik. Embun menempel di kaca jendela kamar Melati, kabur seperti pandangannya yang kosong sejak semalam. Dia duduk di tepi ranjang, mengenakan seragam kampus seperti biasa. Tapi kali ini tidak ada lipstik tipis di bibir, tidak ada bedak yang biasanya dia sapukan dengan gemetar, hanya wajah pucat, mata bengkak yang tak sempat sembuh. Tangannya bergerak pelan menyisir rambut, lalu berhenti. Ucapan itu kembali mengiang. “Kau harus tahu diri dari mana dirimu berasal, p*****r!” Melati menutup mata. Giginya gemeretak. Tidak karena marah, tapi karena tubuhnya sudah terlalu sering menahan segala hal. Tangis, rasa sakit. Bahkan perasaan bahwa dirinya sangat menjijikkan. Dia berdiri, menenteng tas lalu keluar kamar tanpa suara. Menuruni tangga, seperti biasa. Ke dapur untuk menyiapkan sarapan, tapi jiwanya tidak lagi di sana. Rafli sedang duduk membaca koran di ruang makan. Kepalanya menoleh cepat saat mendengar suara sendok beradu dengan piring. Dia melihat Melati dengan wajah datar, meletakkan nasi putih dan telur dadar di meja. Tak ada ucapan juga lirikan. “Melati,” panggil Rafli akhirnya. Gadis itu berhenti. Menoleh perlahan. Tanpa ekspresi. “Apa kamu sengaja menghindariku?” “Apa Tuan perlu sesuatu?” tanyanya, datar seperti robot. Rafli menggertakkan gigi. “Jangan mulai bersikap seperti korban.” Melati menggeleng. “Saya bukan korban. Saya hanya tidak ingin membuat Tuan risih. Saya tahu diri.” Ada jeda. Rafli merasa dadanya diremas oleh kalimat yang dia sendiri pernah lemparkan sembarangan. "Saya tahu diri." Dua kata yang seharusnya membuatnya lega, tapi justru seperti cambuk yang menghantam balik dadanya. "Kau!" Rafli yang sudah mengepalkan tangan, tidak jadi. Hanya melonggarkan dasinya. Melati menunduk sedikit dan melanjutkan langkah dan menoleh lagi. “Tapi bukan berarti saya tidak punya hati.” "Apa maksudmu, hah?" Melati tidak menjawab. Pintu tertutup pelan. Tak ada suara bantingan, tapi dentingannya bergema sampai ke ulu hati Rafli. Hari itu Melati tidak banyak bicara di kampus. Bahkan, ketika teman dekatnya Wulan dan Unnik mengajaknya ngobrol, dia tetap menjawab sekadarnya. Banyak yang mengira dia kelelahan karena ospek. Tapi tidak ada yang tahu, bahwa sebenarnya dia sedang menata hatinya yang hampir remuk. Setiap dia menatap bayangan dirinya di kaca yang terpantul hanya kata p*****r bukan ‘Melati’, tapi stigma yang diucapkan oleh orang yang kini menjadi suaminya. Meskipun itu hanya sekadar ijab qobul secara syar'i saja. Dia paham arti konsekuensi bahwa dia, bisa kapan saja memberikan talak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD