3. Nikah Kontrak

1226 Words
Rumah dipenuhi perabot kayu klasik. Di pekarangan, kolam ikan dan bonsai-bonsai tersusun rapi, menciptakan suasana yang tenang. Namun, asing. Melati heran begitu menginjakkan kaki dan sudah ada orang yang menunggunya di dalam. Dia hanya melihat ada dua perempuan. Satu orang perempuan paruh baya dan seorang lagi gadis seumurannya. Gadis tadi menyalami Melati dan membawanya masuk ke kamar. Sekejap saja Melati sudah disulap menjadi seorang pengantin yang sangat cantik memakai kebaya putih. Meskipun dengan make up tipis, tidak menghilangkan paras ayu gadis kampung itu. Begitu Melati keluar dari kamar, Rafli menatapnya tak berkedip, kagum tapi kemudian menunduk. Hari ini tepat pukul 09.05 menit, Rafli dan Melani resmi menikah meskipun bertempat di rumah Pak Basuki. Pak Basuki dan keluarganya yang menjadi saksi di acara sakral itu. Acara do'a pun selesai. "Aku hanya bisa menikahimu secara syar'i." Rafli membuka suara ketika mereka berada di salah satu kamar. Melati tidak menjawab, dia hanya mengepalkan kedua tangannya meskipun begitu dia sedikit lega, karena bagaimanapun akhirnya lelaki itu mau menikahinya. "Aku akan turuti semua permintaanmu, tapi dengan satu syarat." Melati menoleh, dan terkejut saat Rafli melemparkan sebuah map berwarna cokelat di atas kasur. "Dengar baik-baik. Kamu sekarang jadi urusanku, semua yang ada dalam dirimu itu milikku, tapi sebaliknya. Aku sama sekali bukan apa-apamu. Ingat baik-baik!" Dengan tangan gemeteran, Melati membuka map tadi. Membaca perlahan. Ada tiga lembar kertas yang intinya adalah peraturan dan batasan yang harus dia jaga meskipun mereka sudah menikah. Dan, Semua informasi tentangnya menjadi sebuah rahasia besar yang tidak boleh dibuka sampai kapan pun. Melati menandatangani semua kertas itu lalu kembali memasukkan ke dalam map dan meletakkan ke tempat semula. Tanpa bertanya lagi, Rafli melenggang dan berhenti di tengah pintu, menoleh. "Pernikahan ini tidak ada hitam di atas putih dan tidak tercatat di buku nikah manapun. Kau, tidak bisa menuntutku!" Melati tidak menjawab, hanya menahan diri untuk tidak memaki. Karena dia tahu, hidupnya kini sudah berubah. Dia sudah menjadi istri seorang lelaki bernama Rafli Putra Aryanto. Lelaki yang baru dikenalnya. Semua berubah terlalu cepat, seolah hidupnya ditulis ulang dalam semalam. Suara pintu diketuk, Melati yang sudah mengganti pakaian langsung membukanya. "Neng, bisa ikut saya sekarang?" Pak Basuki bertanya dengan lembut dan Melati mengangguk. Dia juga tidak bertanya lagi akan dibawa ke mana. Selain pasrah. Mobil berhenti di sebuah rumah berpagar tinggi. Rumah mewah yang entah milik siapa. "Masuklah, kamu sudah aman sekarang. Jangan takut, ya." Pak Basuki begitu ramah, berbeda dengan saat pertama kali bertemu. "Terima kasih, Pak." Bangunan ini sangat megah dan asri dengan pemandangan taman bunga yang berada di pekarangan. Air mancur berwarna pelangi juga kolam ikan yang dihiasi bunga teratai. "Ini kamarmu," kata Pak Basuki menyerahkan kunci. "Yang di sebelah terkunci itu kamar Den Rafli, dia sebulan sekali datang ke sini. Jadi, kamar ini jarang di buka. Oh iya, di samping tangga nanti akan menjadi kamar belajarmu. Nunggu beberapa hari lagi sampai semua peralatan lengkap, ya." "Terima kasih, Pak." Melati tidak hentinya mengucapkan terima kasih. "Kamar sudah bisa ditempati, silakan beristirahat dahulu. Nanti sore saya antar untuk membeli keperluan kamu. Kalau ada apa-apa panggil saya. Kamar saya ada di bawah di samping ruang tamu itu. Permisi." "Terima kasih, Pak." Melati mengucapkan terima kasih lagi dan itu membuat Pak Basuki tersenyum. "Ini sudah menjadi bagian dari tugas baru saya, Neng. Jangan ucapkan terima kasih terus menerus, ya." Melati pun mengangguk lalu duduk di samping jendela, matanya menerawang jauh. 'Apakah mereka orang-orang baik yang Engkau turunkan untukku, ya, Tuhan?' batinnya bergejolak. Melati bangkit dan meneliti seisi almari, tidak menemukan mukena. Lalu, dia turun menemui Pak Basuki. "Ya, ada yang bisa dibantu, Neng?" "Maaf, Pak. Mengganggu lagi. Boleh saya minta tolong sebentar?" "Boleh, apa?" "Di almari tidak ada mukena, Pak. Saya mau salat." Pak Basuki melongo beberapa saat mendengar ucapan Melati. Apa dia salah dengar tadi? Bukannya Den Rafli membawa perempuan ini dari sebuah night club? Dia bukannya seorang pe la cur? "Pak, kenapa, ya, Pak? Kok, Bapak liatin saya begitu? Ada yang salah?" "Oh ti-- tidak, Neng. Apa kita keluar sekarang untuk membeli keperluannya?" "Baiklah kalau begitu." Melati pun bersiap dan sudah berada di mobil bersama Pak Basuki. Dalam perjalanan, Pak Basuki terus saja berpikir. Siapa sebenarnya gadis yang dinikahi tuan mudanya ini? *** Sehari sudah dilalui Melati di rumah mewah dan tertutup ini. Dia tidak dapat tidur, merasa asing dan sendirian. Melati turun ke dapur dan membuat sarapan. "Pagi, Pak. Sarapan dulu, saya sudah buatkan kopi dan nasi goreng. Mari," sapa Melati ramah dan Pak Basuki mengangguk hormat. "Wah, aromanya harum sekali. Pasti enak," celetuk Pak Basuki menerima sepiring nasi goreng darinya. "Oh iya, kalau boleh tahu. Nama neng siapa, ya? Saya lupa." "Panggil Melati saja, Pak. Bapak ini, Pak Basuki, 'kan?" "Betul. Panggil Pak Bas saja, Den Rafli. biasa manggil saya begitu." "Iya, Pak Bas." Keakraban mengalir begitu saja. Pak Basuki tidak semenakutkan seperti hari pertama mereka bertemu. Begitu juga Melati. Sosok seorang gadis yang periang dan menyenangkan. Namun, baru beberapa menit kemudian terdengar suara ponsel dari dalam kamar Pak Basuki. Dia pun pamit. "Ini, semua berkas ada di dalam sini, tentang gadis bernama Melati itu, Den?" tanya Pak Basuki setelah sampai di kediaman Rafli. "Betul. Cari tahu keberadaan si Lastri. Dia bibi dari perempuan yang kunikahi kemarin." "Siap, Den. Segera laksanakan." "Oh iya, Pak Bas. Bagaimana soal pendaftaran di kampus?" "Sudah beres semuanya, Den." "Soal identitas itu jangan sampai diketahui oleh siapapun, termasuk Papa dan Mama." "Saya mengerti, Den." "Ya sudah. Terima kasih, Pak Bas." "Sama-sama, Den. Permisi." Pak Basuki datang ke kampung asal Melati dan menemui kepala desa setempat serta menanyakan perihal Lastri. Yang ternyata memang benar bahwa malam itu Melati kedatangannya tamu asing yang mengatakan bahwa mereka adalah orang suruhan dari pamannya, Pak Ahmad. Tapi, naasnya Melati justru jatuh ke tangan orang jahat. Semua karena ulah si Lastri yang kini melarikan diri entah ke mana. Juga Pak Ahmad, begitu tahu kalau keponakannya hilang kemudian jatuh sakit dan meninggal dunia. Dan, pastinya Melati tidak tahu akan hal itu. "Sibuk, Pak?" sapa Melati begitu melihat kelebat Pak Basuki di ruang tamu. "Eh, Neng. Iya, tadi pulang ada urusan sedikit. Gimana hari ini? Sudah bisa tidur?" "Lumayan, Pak. Oh iya, itu ... nggak pernah pulang ke sini?" Pak Basuki langsung paham siapa yang dimaksudkan oleh Melati. Lelaki ini tersenyum tipis. "Den Rafli sedang berada di luar kota, mungkin dua minggu lagi baru pulang ke rumah ini. Ada sesuatu yang ingin disampaikan?" Melati cepat-cepat menggeleng. Dia tidak mau bertemu dengan lelaki dingin itu lagi. Menakutkan. "Enggak, Pak." "Oh iya, lusa sudah bisa berangkat ke kampus." "Kampus? Aku?" Wajahnya berbinar. "Betul, di kampus favorit Den Rafli." Melati diam. Dia kembali teringat isi surat perjanjian yang sudah ditandatangani itu. "Semuanya sudah diuruskan. Neng Melati tinggal berangkat saja." "Baiklah." "Ruang belajarnya sudah komplit?" Pak Basuki mengalihkan pembicaraan, dia tahu saat ini Melati sedang tidak menyetujui perihal kampus. Lelaki paruh baya ini juga tidak paham, apa yang menjadi alasan tuan mudanya. Rafli, dia memang susah ditebak dan keinginannya tidak bisa ditolak. Kenapa harus di kampus itu? "Sudah siap berangkat, Neng?" "Sudah, Pak. Ayo," ujar Melati tersenyum manis. Bertepatan dengan itu, sebuah mobil mewah meluncur dan berhenti tepat di sampingnya. Rafli menatap sinis. "Kau, ikut denganku!" Jantung Melati berdetak kencang, dia menoleh ke arah Pak Basuki yang menatap bingung. "Heiii ... Kamu budeg apa bisu, sih?" Melati terpaksa mengikuti Rafli menaiki anak tangga, di lantai atas. Lelaki tanpa senyuman ini melemparkan beberapa kertas di atas meja. "Baca! Lalu, tanda tangani lagi!" perintahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD