Persetujuan

1004 Words
Jantung Melati seakan berhenti berdetak, tangan lelaki ini menekan urat-urat di lehernya. Kuat. "Saya akan lompat dari jendela itu!" pekik Melati menunjuk ke arah jendela. "Hah, kamu mau menggertakku?" Rafli semakin emosi. Matanya melotot dan terus menekan kuat. Sampai wajah Melati tampak kemerahan karena tidak bisa bernapas. Reflek, dia melepaskan tangan. "Setidaknya saya bisa keluar dari tempat ini dan sebutan pe la cur itu akan hilang dari diri saya." "Aneh! Seorang pe la cur sampai mati pun tetap akan jadi p*****r. Jangan bermimpi, aku tidak akan terkecoh dengan gertakanmu itu!" "Anda betul, Tuan. Dan malam tadi pertama kalinya saya melacurkan diri." Rafli tertawa sengit mendengarnya. "Apa buktinya kalau itu yang pertama? Hah?" Melati menarik seprei dan mata Rafli membulat sempurna. Mulutnya terkunci rapat. Noda merah itu? Jadi, benar dia masih perawan? "Saya nggak peduli semua orang mengatakan saya ini p*****r, kalau saya benar seorang p*****r untuk apa saya meminta pertanggungjawaban darimu, Tuan?" Rafli diam, rahangnya mengeras. "Kamu minta uang berapa pun, akan saya kasih. Tapi, tidak untuk menikahimu. Aku masih waras." "Baiklah kalau begitu." Tidak ada cara lain. Melati nekad, dia berjalan mendekati jendela lalu membukanya. Baginya saat ini, mati pun akan lebih baik meskipun ini hanyalah gertakan saja. Mana mungkin dia akan melalukan hal bodoh begini. Rafli menelan ludah, dia juga gugup. Kalau perempuan ini sampai terjun dan diketahui publik dialah penyebabnya maka itu akan membuat masa depannya hancur seketika. Tidak, ini tidak boleh terjadi. "Sudahlah. Jangan bersandiwara lagi. Soal darah itu bisa jadi hanya taktik licik kamu saja." Melati menoleh. Sinis. "Kalau masih tidak percaya, sekarang juga kita ke dokter. Bagaimana?" Rafli diam. Itu tidak akan mungkin dia lakukan karena ini juga akibat kesalahannya sendiri yang terlalu larut memikirkan kekasihnya, Kassandra itu. Sialll! Saat ini yang ada dalam pikiran Rafli adalah tentang reputasinya yang sebentar lagi akan hancur dalam hitungan detik. Rafli melayangkan satu tinjunya tepat ke arah wajah cantik Melani. Membuat gadis ini memejamkan mata, takut. Namun, rupanya tangan itu dihantamkan ke arah tembok. Bibir Melati gemetaran rasa takut benar-benar menguasainya. Napas kasar Rafli terdengar dekat di telinga. Dia tidak berani membuka mata. Seluruh tubuh gemetaran. 'Sialan, selama ini aku banyak bergaul dengan perempuan di luaran sana, tapi aku selalu bisa mengontrol diri untuk tidak melakukan hubungan intim dengan mereka meskipun perempuan itu akan ikhlas memberikan segalanya. Tidak, aku bukan penganut seks bebas karena alasan berduit. Ada seorang perempuan yang sangat aku kagumi dan aku jaga, aku tidak mau hidupku hancur seperti Papa. Iya, Mama adalah bayangan sosok perempuan yang selalu mencegahku untuk menyakiti makhluk lemah itu.' Rafli terus bermonolog dengan dirinya sendiri. Akan tetapi, apa yang terjadi hari ini jauh berbeda. Semuanya tanpa rencana dan berakhir tragis. Rafli coba mengingat kejadian semalam dan jiwa kelelakiannya mengakui bahwa perempuan ini masih murni, masih perawan. "Apa yang kamu mau dariku?" tanya Rafli dan Melati memberanikan membuka mata dan alangkah terkejutnya saat melihat bahwa wajah lelaki ini hanya berjarak beberapa centi saja. "Keluarkan saya dari tempat ini, Tuan." "Lalu, apakah ada persyaratan lagi selain harus menikahimu?" "Iya," jawab Melati gugup. Dia merasa tidak leluasa bergerak karena kedua tangan Rafli mengunci pergerakannya. "Saya ingin kembali ke sekolah. Itu saja!" Entah kenapa mendengar alasan itu, d**a Rafli bergetar aneh. Hal itu membuat satu ungkapan hadir di benaknya. Perempuan ini pasti dijebak seseorang sehingga sampai di tempat ini. Itu kesimpulan yang dapat Rafli ambil di otak warasnya. "Namamu siapa?" Pertanyaan Rafli mulai serius. Emosi mulai mereda. Dia duduk di sofa empuk di samping jendela. "Isabel?" tanya Rafli lagi sambil menggelengkan kepala. "Bukan." "Lalu?" "Melati." "Mana identitas yang bisa aku lihat." Melati menggeleng. Rafli mengerutkan dahi, tapi kemudian dia paham. Pasti semua ada pada Margaret. "Orang tuamu ada di mana?" "Sudah meninggal." Rafli menarik napas dalam-dalam. "Sorry. Kau punya saudara?" "Tidak. Saya anak tunggal." Rafli diam, tak lagi bertanya. Kemudian dia bangun dan menghampiri Melati lagi sebelumnya terlebih dulu, menutup jendela. "Aku antar kamu pulang ke kampung." "Tidak, selagi Anda tidak menikahi saya, Tuan." Melati tetap mempertahankan keinginannya untuk menjaga harga dirinya yang sudah hancur. "Aku keluar dulu. Kamu tunggu di sini." "Tapi," sahut Melati khawatir akan ditipu. "Diam di sini!" perintah Rafli dan dia pun meletakkan dompetnya di meja. Rafli meraih ponselnya dan berlalu. Sepeninggal Rafli, Melati hanya mondar-mandir tak tentu arah. Pikirannya masih was-was, dia khawatir kalau lelaki itu tidak kembali dan justru akan mengembalikannya pada Margaret. Bagaimana kalau Margaret itu datang dan menjemputnya untuk kembali ke tempat laknat ini? Dalam kebingungan, terdengar suara ketukan pada daun pintu. Melati panik, dia hanya berdiri mematung dari balik pintu. Siapa orang yang ada di luar sana? Kemudian, terdengar lagi dua kali ketukan dan Melani langsung membukanya. "Permisi!" Suara lembut seorang perempuan yang membawa sesuatu. "Ini pakaian untuk Anda dari Tuan muda." "Tuan muda?" "Iya, maaf izinkan saya masuk untuk merias Anda, Nona." "Apa? Kenapa?" Melati ingin menolak. "Ini perintah!" Dua orang perempuan tadi langsung menyulap Melati menjadi perempuan anggun yang sangat cantik. "Sudah siap, Nona. Anda cantik sekali. Permisi." "Terima kasih." Melati hanya mengangguk saja. Siapa mereka pun, dia tidak tahu pasti. Baru saja Melati ingin duduk, kembali terdengar suara ketukan di pintu, dia pun langsung membukanya dan terkejut melihat seorang lelaki gagah memakai setelan jas warna hitam. "A ... Anda siapa?" tanya Melati gugup, dia mundur beberapa langkah. "Segera ikut saya," perintah lelaki ini setelah mengambil dompet yang berada di atas meja. "Bapak siapa? Mau bawa saya ke mana?" Melani ketakutan. Dia tidak ingin bertemu Margaret lagi. "Kamu aman bersama saya, silakan!" Melati tidak bergerak dan lelaki itu menyunggingkan senyuman simpul. "Mari, ikut saya." Semua perintah yang datang berturut-turut membuatnya bingung. Ada apa dan siapa mereka? "Silakan masuk. Jangan takut, kamu aman." Lagi, lelaki tinggi tegap ini mempersilakan dengan sopan. Akhirnya, Melati pun menurut tanpa bertanya ini itu lagi. Sepertinya lelaki ini juga bukan orang jahat. "Maaf, Pak. Saya mau dibawa ke mana lagi ini? Bisakah Bapak menunggu seseorang dulu?" "Maaf, Nona. Ini hanya perintah. Silakan duduk dengan tenang, ya." "Taa--tapi, Pak .... " "Sebentar lagi kita sampai." "Sampai?" Tidak lama kemudian mobil berhenti di sebuah pekarangan luas. Di mana ini? Kenapa mereka membawaku ke sini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD