Suasana malam itu begitu hening. Lampu di sudut ruangan kamar kecil itu hanya menyisakan cahaya redup kekuningan, menambah kesan hangat sekaligus membuat d**a Melati berdebar tak menentu. Setelah pintu tertutup rapat, ia menyandarkan punggungnya pada kayu dingin itu. Napasnya memburu, bukan karena berlari melainkan karena kejutan yang barusan ia terima. Kecupan singkat di keningnya. Sebuah tanda sederhana, tapi terasa sangat dalam. Melati menyentuh keningnya dengan jemari gemetar. Hangat itu masih tertinggal, seakan Rafli benar-benar meninggalkan jejak yang tak bisa ia hapus begitu saja. Hatinya berdesir, bergetar, bercampur antara bahagia dan cemas. Ia menutup mata sebentar, berusaha menenangkan diri. “Apa yang sudah aku lakukan, kenapa aku tidak menolaknya?” bisiknya lirih, hampir ta

