Antara Hidup dan Mati Hujan malam itu seakan tak pernah berhenti. Butir-butir air menempel di kaca jendela apartemen, memantulkan cahaya lampu jalan yang redup. Melati duduk di sofa dengan tubuh meringkuk, tangannya meremas ujung bantal. Suasana di ruang kecil itu sepi, hanya suara hujan yang menjadi pengisi waktu. Sejak ucapan siang tadi, ia tidak lagi berani banyak bicara. "Kau hanyalah aib yang harus aku jaga, bukan sesuatu yang bisa kubanggakan. Ingat itu! " Kata-kata Tuan Rafli menusuk jauh lebih dalam daripada sembilu. Membuat Melati beberapa hari tidak nyenyak tidur juga tidak enak makan, kalau tidak ada bayi di dalam rahimnya, ia pasti sudah melarikan diri sejauh mungkin. Pintu berderit terbuka. Rafli masuk, membawakan wajah dingin dari luar bersama setelan jasnya yang basah.

