Episode 4

1351 Words
"Lo kerja disini?" Anye melirik Adimas disampingnya, pria itu menawarkan tumpangan padanya, sudah ditolak namun terus memaksa, ditambah Anya yang ikut-ikutan memaksanya untuk ikut bersama ayahnya itu. Mau tak mau, Anye pun mengiyakan tawaran itu. Anye mengangguk, "Iya, gue kerja disini." "Ya ampun, Nye... Ini kenapa dunia sempit banget coba?" Anye mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Adimas. "Hah?" Adimas terkekeh pelan, "Ya, sempit gitu. Gue baru aja dapat tawaran disini buat jadi konsultan hukum..." Anye terkejut, "Serius?" "Iya... serius lah, ngapain gue bohong coba." Jujur, jantung Anye berdebar tak karuan kini. Entah kenapa sekarang takdir terus mendekatkan mereka. Apakah ini sebagai pertanda baik atau justru sebaliknya? "Kapan mulai join?" "Bulan depan. Gue urus dulu kerjaan gue di perusahaan sebelumnya." Anye mengangguk-angguk, tersenyum tipis karena bagaimana pun dia tak bisa menyembunyikan rasa bahagia nya. "Okey... Gak sabar kerja sama bareng." "Iya, gak sabar nih satu gedung sama dengan ibu Anye." Anye tertawa pelan sampai memejamkan mata, "Apa sih? Udah, ah! Makasih, ya udah dianterin sampai sini. Sorry jadi ngerepotin." Adimas berdecak, "Enggak lah, mana ada ngerepotin. Justru gue yang terimakasih." Adimas melirik Anya yang tengah tertidur di baby seat nya di kursi belakang. "Makasih udah buat Anya ngerti." Anye mengangguk, "Yaudah, gue turun sekarang, ya. Makasih... Lo hati-hati, ya." Anye turun dari mobil Adimas, menatap kepergian mobil pria itu sebelum akhirnya melangkahkan kakinya memasuki gedung perusahaan. Senyuman terus terpancar dibibirnya membuat beberapa pasang mata mengerutkan kening bingung, jarang soalnya melihat senyum Anye yang padahal begitu menawan. "Mbak Anye, kelihatan bahagia sekali." Anye menoleh pada Mba Lastri, office girl disini yang sudah berusia paruh baya, namun masih on point make-up nya. "Eh, masa sih, mbak?" tanya Anye, dia malu sebenarnya ketahuan tengah tersenyum bahagia. "Iya, mbak. Kelihatan sekali tahu, auranya itu beda loh." Anye terkekeh saja. "Mau teh atau kopi mbak? Saya bawain nanti sekalian ke atas." "Teh boleh, deh, mbak. Gak terlalu manis, ya. Makasih loh..." "Siap! Yaudah, mbak saya ke belakang dulu. Senyum terus, ya, mbak, senang saya lihatnya. Mbak tambah cantik jadinya." Tak pernah Anye se-tersipu ini hanya karena sebuah pujian, namun tidak kali ini. Pipinya yang merona menjadi bukti bahwa dia terpesona akan pujian yang diberikan mbak Lastri padanya. Sederhana namun benar-benar memberikan efek yang luar biasa. Anye masuk ke lift, menatap pantulan dirinya di cermin dalam lift tersebut. Lagi-lagi dirinya tersenyum, kemudian dia perhatikan. "Emang iya, kalau senyum tambah cantik?" Anye semakin melebarkan senyumnya. "Duh, mana daritadi senyum terus sama Dimas. Cantik, gak, ya di mata dia?" Tiba-tiba pertanyaan itu terlintas di benaknya, namun dengan cepat dia mengenyahkan pikiran tersebut. "Duh, ngapain mikirin Dimas lagi sih? Ih... Anye! Gak boleh!" Anye coba menyadarkan dirinya, jika Adimas bukan untuknya. Adimas hanya untuk Kanaya, almarhumah istrinya. Sepertinya. *** "Nye! Menurut lo gue bagus pakai yang mana?" Anye mengambil ponsel Nadin yang disodorkan kepadanya, dia menggeser bolak balik foto Nadin yang mengenakan outfit yang berbeda. Menimbang-nimbang, mana yang menurutnya paling cocok dengan Nadin. "Yang ini bagus, lo lebih kelihatan fresh kalau pakai baju warna ini. Terus, gak terlalu seksi juga, jadi lebih sopan. Emangnya, mau dipakai kemana?" tanya Anye, dia menyerahkan kembali ponsel Nadin. Nadin tersenyum lebar, "Ya, ngedate lah! Ya, kali udah punya pacar. Masa gak ngedate? Rugi dong!" Anye mendengus pelan, "Sombong!" canda Anye, dia terkekeh pelan. "Bukan sombong, tapi kenyataan. Ya, masa iya punya doi malam sabtu sama minggu nya harus sendirian terus? Ya, minimal makan bareng gitu." "Yaelah... Lo tiap pulang kerja juga dinner bareng kali. Aneh, aneh." Nadin menggeleng, "Beda tahu, Nye. Kalau perginya pas besoknya gak kerja sama gak ada acara tuh, lebih enak. Kek lebih... —ah, pokoknya enak gitu. Lo sih, gak pernah pacaran, jadi gak ngerti deh rasanya gimana pas tiba-tiba malam sabtu atau malam minggu dijemput doi. Wuh... Mantap pokoknya!" Anye hanya tersenyum saja. "Tahu, gak sih Nye harapan terdekat gue saat ini apa?" "Dilamar cowok lo." Nadin tersipu, dia memang sering kali curhat demikian. Namun, bukan itu saat ini. "Itu sih paling gue aminin. Tapi, ada lagi, Nye, selain itu." "Apa?" "Tebak coba!" "Males, ah." Nadin mencebik, namun dia segera merangkul Anye. "Gue berharap lo juga bisa dilamar sama cowok secepatnya. Jadi, nanti kita bisa nikah bareng, hamil bareng dan siapa tahu kita jadi besanan. Oh my God, amin..." Anye mengaminkan itu semua dalam hatinya. "Gue rasa emang sebentar lagi deh, Nye." "Apanya?" "Jodoh lo. Gak tahu kenapa, ya setelah reuni kemarin gue ngerasa antara lo sama Dimas tuh masih ada benang yang belum juga lepas. Ya, siapa tahu setelah meninggal istrinya, Dimas jadinya—" "Ah... Jangan kayak gitu, Nad. Gak enak kalau sampai ada yang dengar, nanti dikiranya gue ngebet banget lagi sama dia. Lagipula, belum tentu juga." "Tapi, kan gue hanya mengutarakan keyakinan gue doang. Tugas lo tuh cuma mengaminkan aja, gak usah peduliin orang lain kalau sampai ada yang ngatain atau apalah." ucap Nadin, dia menggerak-gerakkan pundak Anye yang dia rangkul. "Ya, Nye? Lo aminin, ya dalam hati lo." Anye diam. "Anye..." "Iya, iya, ya Allah..." Nadin tersenyum lebar, dia memang benar-benar berharap banyak kali ini sebab menyakini betul firasatnya. "Yaudah, ah. Kerja, kerja, kerja!" *** Anye sampai di kosannya, dia segera membayarkan sejumlah uang kepada ojek pangkalan yang sudah jadi langganannya saat pulang ngantor. Namun, keningnya mengerut saat melihat sebuah mobil terparkir didepan kosanya, mobil yang dia hapal betul siapa pemiliknya. "Makasih, ya, pak." "Makasih juga, neng. Hayu lah, neng." Anye menghela napas kasar, dia harus mempersiapkan dirinya sebelum mendengar ceramah yang panjang lebar dia dapatkan dari seseorang. Dan, benar saja, benar seperti dugaannya. Kakaknya datang. Iya, pemilik mobil tersebut adalah kakaknya dan orang yang akan memberinya ceramah juga pasti kakaknya. "Baru pulang, Nye." Anye menyalami mereka. A Benny, kakak kandungnya yang sudah beristri. Dan, istrinya itu adalah teh Syilla, perempuan sholehah yang kini berdiri di samping suaminya. "Iya, baru pulang." jawab Anye. "Kalian dari tadi?" "Enggak kok, Nye. Kita juga baru nyampe." jawab teh Syilla yang diangguki Anye. "Yaudah, ayo masuk ke kamar aku aja." ajak Anye pada mereka yang menunggu kepulangannya di sofa depan yang memang disediakan pemilik kosan untuk tamu. Mereka memasuki kamar kosan Anye. Kamar sederhana yang hanya dilengkapi dengan dapur minimalis, kamar mandi juga kamar tidur. "Silahkan..." ucap Anye sambil meletakkan dua botol air mineral untuk mereka, tak lupa beberapa makanan ringan juga dia keluarkan dari lemari pendinginnya. "Nasya kok gak diajak sih." "Kami kesini juga karena gak sengaja sebenarnya, gak berniat juga. Tapi, berhubung pulangnya kita lewat sini. Yaudah, deh sekalian aja mampir ke kamu. Untung aja kamu gak lembur, Nye." Anye hanya mengangguk saja. "Kamu gak mau tanya, tujuan Aa sama teteh kesini apa?" Anye mendongak, mengalihkan atensinya dari ponsel. "Gak perlu ditanya, udah tahu juga jawabannya." Teh Syilla menghela napas gusar melihat sikap yang ditunjukkan Anye, terlihat sekali perempuan itu masih bersikap dingin. Mungkin ini efek dari keputusan mereka tempo hari. "Teteh tahu kamu pasti masih kesal kan sama kami?" Anye tak mengiyakan ataupun menyanggah prasangka kakak iparnya ini. "Nye, niat kami itu baik. Kami gak mau kalau lihat adik kami sendiri harus sendirian. Padahal kan umur kamu—" "Apa ada yang salah dengan umur aku?" potong Anye cepat, dia menatap lekat kedua kakaknya itu. "Teh, A, menikah itu bukan perkara umur. Bukan karena umur yang lazim di masyarakat segini harus menikah, maka harus menikah saat itu juga dan jadi sebuah kesalahan kalau sampai lewat dari umur itu." "Teteh sama Aa juga pasti paham dong, apa-apa aja yang harus jadi pertimbangan untuk menjalin rumah tangga. Lagian, seumuran aku belum menikah itu juga bukan kesalahan. Bahkan, dalam Islam pun perempuan diperbolehkan untuk tidak menikah." Anye menghela napas gusar, dia lelah terus dipaksa untuk hal yang sama. "Tapi, dalam Islam juga mengatakan kalau menikah itu sebagai penyempurnaan agama. Jadi, gak ada kesalahan apapun kalau menikah." balas Benny cepat, dia tahu sifat adiknya yang agak keras. "Lagipula, kenapa juga sih kamu gak mau menikah, Nye?" teh Syilla mengerutkan kening bingung. "Padahal pernikahan itu adalah momen yang paling dinanti-nanti sama setiap perempuan." timpal teh Syilla. "Enggak dengan aku." balas Anye. "Teh, A, aku—" "Dicoba dulu, Nye. Ketemu dulu orangnya, kenalan dan kalau masih merasa gak cocok juga! Udah, selesaikan. Aa sama teteh gak akan memaksa lagi. Semuanya terserah kamu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD