Eureka baru menyelesaikan kelas mata kuliah terakhirnya hari itu. Kini ia tengah berjalan bersisihan dengan Itha menuju ke gedung kegiatan mahasiswa.
"Itha, Reka seneng deh bisa sekelas terus sama Itha. Padahal semester kemarin kita cuma sekelas di beberapa mata kuliah aja, kan?" Eureka membuka obrolan.
Itha mengangguk setuju. Ia menambahkan, "Iya, Reka. Aku juga seneng bisa sekelas sama kamu. Syukurlah di semester ini, kita banyak ambil kelas yang sama. Jadi bisa barengan terus, deh."
Eureka mengulas senyum lebar. Ia berjalan dengan langkah yang ringan dan riang.
"Eh, Ka, aku mau mampir ke koperasi dulu sebelum ke gedung kegiatan mahasiswa. Kamu duluan aja ke sana," ucap Itha saat keduanya sudah berjalan di area luar gedung kelas perkuliahan.
Eureka setuju. Ia melambaikan tangan pada Itha dan meneruskan langkah menuju ke ruang sekretariat Teater Artes. Langkah gadis itu makin riang ketika dari kejauhan, Eureka sudah melihat ada Athaya di ruang sekretariat.
Eureka tak sabar untuk bertemu pemuda yang selalu bersikap cuek padanya. Meski Athaya tidak bersikap baik, Eureka tak berniat jauh-jauh dari pemuda itu.
Sambil berjalan, Eureka bersenandung, "Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta kepadaku. Beri sedikit waktu, biar cinta datang karena telah terbiasa."
Tepat ketika Eureka berhenti bersenandung, matanya dan mata Athaya bertemu. Eureka mengulas senyum puas. Ia sangat yakin kalau suatu saat nanti, ia dan Athaya akan bisa bersama tanpa ada perasaan salah satu pihak yang tak berbalas.
***
Athaya buru-buru memalingkan wajah begitu matanya tak sengaja bertemu dengan mata seorang gadis bernama Eureka. Ia yang semula berdiri di depan ruang sekretariat Teater Artes pun memilih melipir pergi ke ruang sekretariat UKM Tari yang hanya berjarak dua ruang dari tempatnya berdiri.
Meski sekarang posisi Athaya berada di ruang sekretariat UKM Tari, ia masih bisa melihat gerak-gerik Eureka yang selalu tampak ceria dan energik. Saat ini, Eureka tengah membantu Airin dan Pia memindah-mindahkan properti bekas pentas bulan lalu.
"Tha, tega ya lo biarin cewek-cewek angkat barang-barang properti teater gitu," komentar Putri yang asyik duduk di jendela ruang sekretariat UKM Tari.
"Awas ada satpam. Ntar dimarahin lagi gara-gara nangkring di situ," balas Athaya memperingati Putri. Ia sendiri tak menghiraukan ucapan Putri sebelumnya.
Lantas keadaan jadi hening karena Putri tak menanggapi ucapan Athaya. Athaya juga sudah kembali sibuk mengamati gerak-gerik Eureka yang terus bergerak ke sana kemari memindahkan barang di depan ruang sekretariat Teater Artes.
"Ketua macam apa yang biarin anggotanya kerja keras sementara ia malah bermalas-malas?" Putri kembali mengusik Athaya setelah jeda cukup lama.
Athaya menghela napas. Ia menggumam dengan nada tak ramah, "Put, diem dulu deh."
"Dih, akhirnya bisa marah! Lo tuh cowok paling tenang yang pernah gue kenal, Tha," ucap Putri, "sekali-kali harus ada orang yang konsisten merusuh di hidup lo. Biar hidup lo agak berwarna."
Athaya melirik tajam ke arah Putri. Ia pun bangkit berdiri sembari berkata, "Iya, Tuan Putri. Hamba pamit undur diri. Hamba akan membantu anggota hamba yang tengah bekerja keras."
Putri tergelak mendengar perkataan Athaya yang diucapkan secara serius namun diksinya terdengar lucu. Setengah berteriak karena Athaya sudah berjalan menjauh, Putri berpesan, "Iya, hambaku yang tersayang. Kerja yang rajin, ya! Biar lo nggak dilengserin dari jabatan lo sebagai ketua."
Mendengar ledekan Putri, Athaya geleng-geleng kepala. Padahal cowok itu betah bersahabat dengan Putri karena awalnya Putri tidak pernah merusuh di hidup Athaya. Tapi belakangan ini, Putri sama saja dengan yang lain, sama-sama hobi mencari masalah.
***
Eureka diam-diam memicing tak suka melihat interaksi antara Athaya dan seorang cewek di sekretariat UKM Tari. Kedua orang itu terlihat akrab. Bahkan Eureka bisa melihat bahwa Athaya begitu nyaman berbicara dengan cewek itu. Ada hubungan apa mereka? Eureka jelas tak terima.
Eureka tahu siapa cewek yang tampak banyak tingkah dengan duduk di jendela sekretariat UKM Tari. Namanya Putri. Dan sepertinya sih, sekarang gadis itu menjabat sebagai ketua di UKM itu. Ah, tak hanya itu saja, ada rumor yang mengatakan bahwa Athaya dan Putri diam-diam sudah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Meski kedua orang itu selalu menegaskan bahwa mereka hanyalah sepasang sahabat.
Jadi ketika Athaya berjalan mendekat ke arah ruang sekretariat Teater Artes, Eureka langsung menyapa, "Hai, Kak Atha."
"Hmm," jawab Athaya dengan gumaman yang sama sekali tak terdengar ramah dan justru ada nada malas di dalamnya.
"Kak, ini bisa dibuang atau disimpan aja?" tanya Eureka sembari mengangkat sebuah bingkai foto yang sudah lusuh yang tak lain juga merupakan properti pentas teater bulan lalu. Eureka sengaja mencari-cari kesempatan untuk mengobrol dengan Athaya. Ia tidak mau kalah dari Putri!
Athaya menoleh sekilas untuk melihat apa yang Eureka tunjukkan. Dengan nada cuek, Athaya menjawab, "Simpan aja dulu."
Eureka mengamati benda yang ada di genggaman. Ia tak yakin bahwa benda yang sudah kelihatan tidak dalam kondisi bagus seperti itu perlu disimpan. Memang besok-besok benda itu masih akan dipakai? Sepertinya tidak.
Jadi tanpa menghiraukan jawaban Athaya, Eureka meletakkan bingkai foto itu di dalam kardus sampah. Ia pun melanjutkan kegiatan membereskan properti lain seperti kertas-kertas dan tumpukan styrofoam.
"Kak Athaya, bisa bantu aku buat pindahin ini ke tempat pembuangan sampah?" pinta Eureka sekalian cari-cari kesempatan jalan berdua saja dengan Athaya.
Athaya menoleh sekilas. Dan selanjutnya, ia menggelengkan kepala. Pemuda itu malah menjawab, "Ajak Airin atau Pia aja."
Airin dan Pia yang masih sibuk membereskan bagian dalam ruang sekretariat pun menoleh dan menatap Athaya penuh protes. Masa segala tugas dilimpahkan pada mereka?
"Kayanya Kak Airin dan Kak Pia masih sibuk, deh. Ya udah, aku cicil bawa sendiri aja." Eureka bergumam agak keras, berharap Athaya akan peka.
"Bantu Reka gih, Tha," perintah Pia, "lo nggak sibuk apa-apa, kan? Jangan berlagak kaya mandor, dong!"
Athaya mengembuskan napas keras. Ia akhirnya meraih sebuah kotak berisi properti-properti bekas pentas. Ia mengedikkan dagu untuk memberi isyarat agar Eureka memegangi sisi kotak yang satunya lagi.
Eureka tampak kesenangan. Ia segera meraih kotak itu. Dan berikutnya, ia berjalan bersama Athaya menuju ke tempat pembuangan sampah.
Meski begitu, Eureka tak bisa berlama-lama tersenyum. Ternyata kotak yang ia gotong bersama Athaya cukup berat juga. Napas Eureka sampai terengah-engah. Apalagi ia harus mengimbangi langkah Athaya yang lebar-lebar dan cenderung cepat.
"Kak, aku capek," keluh Eureka. Ia bahkan hampir tersandung kakinya sendiri karena ia mulai goyah.
Athaya memperhatikan Eureka dari sela-sela properti di dalam kotak yang menggunung tinggi. Ia memang lebih tinggi dari Eureka. Tinggi badan mereka cukup beda jauh. Jelas saja Eureka kesulitan mengimbangi kecepatan jalan Athaya.
Kemudian Eureka merasa langkah Athaya agak melambat. Ia tak lagi terlalu kesulitan untuk berjalan sejajar dengan cowok itu.
Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, mereka tiba di bagian pembuangan sampah di kampus mereka. Kedua orang itu meletakkan kotak berisi barang-barang bekas properti pentas di sana, di antara sampah-sampah lain yang belum terangkut oleh petugas kebersihan.
"Ah, lega!" seru Eureka sembari meregangkan tangan dan jari-jarinya. Ia sukses meletakkan beban berat itu.
Tak seperti Eureka yang mengambil waktu untuk bernapas dulu sebelum kembali berjalan meninggalkan tempat itu, Athaya langsung buru-buru pergi. Cowok itu balik badan dan meninggalkan Eureka di belakang.
"Eh, Kak, tunggu aku," ujar Eureka. Gadis itu tergesa-gesa mengejar langkah Athaya.
Athaya tetap tak mengindahkan panggilan Eureka. Cowok itu selayaknya orang bisu dan tuli. Itu sukses membuat Eureka teramat gemas sekaligus jengkel.
Eureka menghadang langkah Athaya. Ia merentangkan tangan untuk memblokir jalan.
"Kenapa lagi?" Nah, barulah Athaya buka suara. Cowok itu mengernyit dan menaikkan sebelah alis. Tampaknya, Athaya tidak suka dengan tingkah Eureka.
Eureka berusaha mengabaikan raut wajah Athaya. Ia mengulas senyum lebar dan berujar, "Jalannya barengan dong, Kak. Pelan-pelan aja. Nggak lagi dikejar setan, kan?"
Athaya mengembuskan napas keras. Ia pun menyingkirkan Eureka yang menghalangi jalannya.
"Kak Athaya kenapa jadi bisu sih kalau lagi sama aku?" gerutu Eureka sembari kembali berusaha menyejajarkan langkah dengan Athaya.
Athaya diam saja. Ia hanya fokus menatap ke depan dan memasang tampang datar.
Eureka mendesis lirih sembari menghentikan langkah. Gadis itu memandangi punggung Athaya yang makin menjauh. Ia kelewat gemas melihat Athaya yang mengacuhkannya. Alhasil, dengan nekat, Eureka berlari ke arah Athaya dan menabrakkan diri ke punggung cowok itu.
"Aduh, lo apa-apaan, sih!" seru Athaya terdengar kesal. Ia membalikkan badan dan berhadapan dengan Eureka yang sibuk cengar-cengir tanpa rasa bersalah.
Bahkan ketika Eureka ditatap dengan tatapan marah begitu, ia tetap memilih cekikikan riang. Tingkah Eureka memang kekanak-kanakan.
Sementara Athaya, cowok itu dibuat kebingungan dengan tingkah Eureka yang tak ada juntrungan. Cowok itu geleng-geleng kepala lalu berniat balik badan.
Namun sebelum Athaya kembali meninggalkan Eureka untuk kesekian kalinya, Eureka mengambil langkah berani untuk memeluk lengan cowok itu. Abaikan saja tatapan orang yang berjalan di sekitar mereka dengan tampang keheranan. Eureka tak peduli.
"Lo gila, ya?" Athaya hampir histeris karena kelakuan sinting Eureka. Namun karena histeris bukanlah gaya Athaya, cowok itu memilih sedikit menahan diri. Ia mendorong Eureka perlahan agar gadis itu melepaskan pelukan pada lengan Athaya. Athaya memperingatkan, "Lo jangan kaya gini. Gue nggak suka."
"Kak Atha sukanya apa? Semua yang Reka lakukan, pasti nggak ada yang Kak Atha sukai." Eureka menggumam dengan nada sedih yang sedikit dramatis. Itu juga berkat dia belajar akting di Teater Artes.
Athaya mendengkus. Ia pun mengangguki ucapan Eureka. "Memang benar, gue nggak suka sama semua tentang lo. Maaf kalau gue jahat. Tapi lebih baik memang lo nggak usah melakukan apa-apa lagi buat menarik perhatian gue."
***