♩✧♪● Theatre 3 ○♩♬☆

1301 Words
Athaya kaget setengah mati melihat Eureka berada di sana, di Teater Artes. Selama ini Athaya memang belum begitu mengenal anggota baru di teater itu. Dia hanya akrab dengan teman-teman teater yang seangkatan dengannya. Lalu ternyata ada Eureka di sana? Ini gila. Tapi Athaya tak bisa berbuat apa-apa. Athaya menghela napas. Ia buru-buru mengunci pintu ruang sekretariat Teater Artes. Semua anggota teaternya sudah pulang lebih dulu. Hanya ia yang tersisa di sana. Rapat pembahasan proker tadi ternyata memakan waktu cukup lama. Bahkan kalau bisa dibilang, pembahasan tadi itu belum keseluruhan. Masih ada beberapa hal yang belum sempat dibahas karena waktu yang tidak mencukupi. Athaya tak mau ambil risiko. Ia tahu bahwa banyak anggota Teater Artes yang rumahnya jauh dari kampus. Meski beberapa juga ada yang tinggal di indekos di sekitar kampus. Ah, lagi pula banyak anggota cewek juga di teaternya. Bahaya dan tidak baik kalau Athaya membuat mereka pulang terlalu larut malam. Toh ini bukan hal mendesak. Mereka masih bisa rapat lagi besok atau lusa. Seberes mengunci dan memastikan ruangan itu aman, Athaya pergi meninggalkan gedung kegiatan mahasiswa. Ia berjalan menuju parkiran motor di fakultasnya. Athaya bergegas mencari motornya lalu cabut dari sana. Namun baru keluar gerbang, Athaya mendapati sosok Eureka tengah melambai-lambaikan tangan ke arahnya. Dia tidak salah lihat, kan? "Hai, Kak," sapa Eureka setengah berteriak dan berlari-lari kecil mendekati motor Athaya. Athaya menghentikan laju motor dengan hati-hati. Ia melihat-lihat ke sekitar untuk memastikan tidak ada orang yang melihatnya bicara dengan Eureka. Apalagi bicara di tempat gelap begini. Eureka menyadari bahwa Athaya merasa tak nyaman berlama-lama dengannya. Jadi Eureka buru-buru berucap, "Kak, aku nebeng ya sampai depan. Soalnya dari tadi aku cari driver ojol nggak ada yang mau masuk ke kampus." Athaya mengernyit mendengar permintaan Eureka itu. Ia bingung sendiri harus menerima atau menolak. Tapi melihat keadaan sekitar yang sudah sepi, Athaya tak tega juga meninggalkan Eureka sendirian di sini. Akhirnya, Athaya mengangguk. Ia membiarkan Eureka naik ke boncengan motornya. Seberes itu, ia langsung tancap gas meninggalkan area fakultas. Setelah lima menit perjalanan, Eureka meminta berhenti. "Sampai sini aja, Kak," ucap gadis itu. Athaya menepikan motor di depan sebuah minimarket. Di sana cukup banyak orang dan sepertinya tidak terlalu berbahaya meninggalkan Eureka sendirian. "Thanks, Kak Atha," bisik Eureka sembari mengedipkan mata. Berniat genit tapi ternyata tidak mendapat respon apa-apa dari Athaya. "Gue balik dulu," pamit Athaya singkat dan cenderung kaku sembari mulai melajukan motor. "Hati-hati di jalan, Kak," teriak Eureka sambil melambaikan tangan dengan semangat. Athaya memilih tidak menggubris itu. Ia tetap bersikap dingin pada gadis bernama Eureka. *** Eureka mendengkus sebal. Ia lumayan berharap kalau Athaya akan memaksa mengantarkannya sampai ke rumah. Eh, ternyata Eureka sungguhan diturunkan di sini. Padahal, ia kan cuma basa-basi. Sial, kenapa Athaya tidak punya hati? Oh, salah. Athaya punya hati. Namun hati Athaya bukan untuk Eureka. Dengan malas, Eureka membuka aplikasi ojek online. Sambil menunggu driver-nya datang, Eureka menyempatkan diri mampir ke minimarket yang berdiri mentereng di belakangnya. Ia akan membeli minuman dingin untuk meredakan rasa kecewanya pada Athaya. Saat ia selesai berbelanja, driver ojek online pesanannya sudah menunggu di depan minimarket. Jadi tak perlu menunggu lama, ia langsung diantar pulang. Di jalan, ia sedikit mengobrol dengan driver ojol itu. Meski kadang ia menjawab asal karena tidak benar-benar mendengar pertanyaan yang driver ojol itu lontarkan. Ya maklumlah, anginnya kencang. Suara mereka jadi teredam. Dua puluh menit kemudian, Eureka sudah tiba di rumah. Setelah mengembalikan helm dan mengucap terima kasih pada driver ojol itu, Eureka buru-buru masuk ke dalam rumah. "Assalamu'alaikum," teriak Eureka sambil membuka pintu utama rumahnya. Dari dalam rumah, terdengar balasan salam. Sepertinya sang mama sedang berada di ruang keluarga. Ada suara televisi juga di sana. Eureka menuju ke ruang itu dan mendapati mamanya sedang bekerja. Mama Eureka adalah seorang editor naskah di sebuah perusahaan penerbitan. "Ma," panggil Eureka yang sudah menjatuhkan diri di sofa di sebelah mamanya. Sang mama menoleh dan mengangkat sebelah alis, tanda bertanya. Eureka mencebikkan bibir. Ia sangat ingin menceritakan soal kelakuan Athaya yang tidak ada baik-baiknya. Namun Eureka ragu dengan respon sang mama. Eureka sudah menduga kalau mamanya tak akan percaya pada cerita yang akan gadis itu beberkan. "Kenapa, Sayang?" tanya mamanya kemudian. Wanita itu meletakkan laptop dan memandangi putrinya yang terduduk lesu. Eureka hanya tersenyum dan tak jadi mengadukan sikap Athaya. Tunggu saja deh, siapa tahu nanti Athaya akan berubah. Mungkin sekarang dia sedang tidak mood saja. Makanya agak menyebalkan. Eureka mengganti arah pembicaraan, "Mama nggak nanya alasan aku pulang sampai larut gini?" "Tadi Athaya udah ngabarin mama. Katanya kamu ada rapat organisasi jadi harus pulang agak terlambat," jawab mamanya yang sudah kembali berkutat dengan laptop. Eureka berdecak. Pintar sekali Athaya berpura-pura baik di depan mama Eureka. Gadis itu tidak terima. Ia berceletuk, "Ya iya lah, Athaya harus ngabarin mama. Kan dia ketua organisasinya. Yang berarti, dialah penyebab Reka harus pulang sampai larut malam." "Tapi apa Athaya juga ngabarin orang tua dari anggota lain? Mama rasa enggak. Pasti anggota yang lain harus minta izin sendiri ke orang tua mereka. Athaya cuma ngabarin ke mama karena dia bertanggungjawab sama kamu, tunangannya. Dan lagi, bukan salah Athaya kalau kamu pulang malam. Dia kan nggak pernah nyuruh kamu gabung di UKM itu. Kamu sendiri yang mau masuk ke sana, kan?" "Mama, ih. Kok belain dia. Mama tau nggak, tadi Athaya nurunin aku di minimarket. Dia nggak mau nganterin aku sampai rumah, Ma. Nggak bertanggungjawab kan kalau kaya gitu?" Mamanya hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil terkekeh. Rupanya mama Eureka tidak menyadari seberapa genting masalah ini. Athaya tidak sebaik yang sang mama pikirkan. *** Athaya baru selesai mandi dan sekarang sudah berpakaian selayaknya orang mau pergi tidur. Namun ia menyempatkan diri membuka pintu balkon kamar alih-alih langsung naik ke ranjang. Ia membiarkan udara malam memenuhi kamarnya. Meski kata orang, udara malam tidak baik untuk kesehatan. Namun ini cukup menyejukkan. Athaya berdiri dan bersandar di pintu balkon sembari mengotak-atik ponsel. Ia membuka pesan masuk dari mama Eureka. Ia hanya ingin memastikan bahwa cewek yang ia tinggalkan di minimarket tadi sudah tiba di rumah dengan selamat. Tenang, ini bukan karena Athaya benar-benar peduli pada Eureka. Ia hanya berusaha menjalankan amanah yang papa Eureka berikan. Saat itu papa Eureka berpesan agar Athaya bisa membantu mama Eureka untuk menjaga gadis itu. Sebelum lamunannya makin jauh, ia menyudahi itu dan kembali fokus membaca beberapa baris kalimat balasan dari mama Eureka. Sesuai dugaannya, Eureka sudah tiba di rumah dan dalam kondisi baik-baik saja. Setelah memastikan hal itu, Athaya beranjak dari pintu balkon dan menuju ke ranjang. Ia bergegas merebahkan diri di tempat nyaman itu. Perlahan, mata Athaya terpejam. Sedikit lagi ia akan masuk ke alam mimpi. Namun sayang, semua itu gagal ketika suara teriakan adik Athaya terdengar memanggil-manggil namanya. Lalu tak lama kemudian, suara panggilan itu disusul ketukan pintu yang amat tergesa. Sambil menghela napas kasar, Athaya turun dari ranjang. Ia membuka pintu kamar yang sebelumnya memang sudah ia kunci. Tak banyak omong, adik Athaya langsung menerobos masuk ke dalam kamar. Cewek yang duduk di bangku kelas tiga SMP itu segera menyalakan laptop milik Athaya. "Lo kenapa, sih?" tanya Athaya panik. Ia heran saja kenapa adiknya itu tiba-tiba melakukan sidak pada laptop Athaya. Duh, Athaya sudah menyimpan semua file rahasia atau yang bersifat pribadi dengan benar, kan? "Aulia mau numpang print tugas," ucap adik Athaya sambil cepat-cepat menyalakan printer. "Emang printer lo kenapa?" tanya Athaya sambil mengawasi aktivitas adiknya. "Nggak tau deh, tintanya nggak keluar," terang adiknya. "Oh," gumam Athaya singkat. Kini pemuda itu bersandar di tembok sembari berpangku tangan, tak ingin lengah melakukan pengawasan. Setelah menyelesaikan urusan di sana, Aulia buru-buru cabut dari kamar kakaknya itu. "Makasih, Mas," katanya sembari berlarian meninggalkan kamar Athaya. Athaya geleng-geleng kepala. Aulia memiliki banyak kemiripan dengan Eureka. Terutama dalam bidang membuat rusuh, mereka jagonya. Jika Athaya harus berurusan dengan kedua makhluk itu di waktu bersamaan, Athaya yakin dirinya tidak akan sanggup. Bisa dibayangkan akan jadi seberantakan apa hari-harinya! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD