♩✧♪● Theatre 2 ○♩♬☆

1435 Words
Hari ini adalah hari pertama perkuliahan di semester genap. Setelah libur selama lebih dari satu bulan, seharusnya para mahasiswa kembali bersemangat untuk mengikuti segala aktivitas perkuliahan selama satu semester ke depan. Namun nyatanya, yang bersemangat dan menantikan hari ini hanyalah segelintir orang. Sisanya justru malas meninggalkan masa liburan yang membuat nyaman dan tak tertekan. Athaya masuk ke dalam golongan orang yang kedua alias dia malas hadir di kampus hari ini. Sebenarnya bukan karena aktivitas perkuliahan di kelas yang ia hindari, tetapi ia malas untuk datang ke organisasi di mana ia didapuk menjadi ketua—secara paksa, garis bawahi ini. Bagi Athaya, rasanya terlalu jadi beban. Athaya berdecak lirih. Ia melangkahkan kaki dengan terpaksa keluar dari parkiran dan berjalan menuju gedung kelas. Baru akan menyeberang ke gedung sebelah, Athaya harus menghentikan langkah kala ia mendengar seseorang memanggil namanya. Oh, ternyata yang memanggil itu adalah sahabatnya. "Lo ada kelas pagi?" tanya seorang gadis yang berjalan bersisihan dengan Athaya saat ini. Athaya mengangguk sambil menggumam, "Males banget, kan." "Males? Biasanya lo semangat dateng ke kampus. Lo kan ambis." Gadis itu membalas ucapan Athaya sembari memasang wajah keheranan. "Put, lo belum denger ya kalau gue dipilih secara paksa buat jadi ketua Teater Artes satu tahun masa kepengurusan ini?" tanya Athaya sambil melambatkan langkahnya. Putri—gadis yang berjalan di samping Athaya—kelihatan kaget. Ia bertanya untuk memastikan, "Serius lo?" Athaya mengangguk diikuti raut wajahnya yang semakin suram. Putri menepuk bahu Athaya untuk memberi semangat. "Keren lah kalau lo jadi ketua. Jangan suram gitu dong mukanya. Toh, nanti bakalan gampang buat gue ajak kerjasama," ujar Putri dengan semangat. Athaya hanya mendengkus. Dia belum menemukan apa yang harus ia syukuri dari menjadi ketua Teater Artes. "Gue juga jadi ketua UKM Tari," lanjut Putri sambil tersenyum lebar. Athaya balas memberi selamat dan semangat. Namun ia tentu tahu kalau kondisinya dan Putri itu berbeda. Putri memang berniat mengajukan diri jadi ketua. Sejak dulu, Putri berambisi untuk menduduki jabatan itu. Sementara Athaya? Ah, sudahlah. *** Eureka sudah tiba di kelasnya. Ternyata dia datang terlalu awal hingga belum ada satu pun teman yang ia temui di sana. Sambil menunggu kelasnya dimulai, Eureka menyibukkan diri dengan bermain ponsel. Ia menyempatkan menonton drama Korea sebelum kelas pagi itu dimulai. "Assalamu'alaikum," seru seorang gadis dari ambang pintu kelas. Gadis itu melongok ke dalam. Sepertinya ia ingin memastikan sesuatu. "Waalaikumsalam," balas Eureka sambil meletakkan ponsel dan mengangkat wajah. "Reka, ini bener ruang kelas mata kuliah Komunikasi Lintas Budaya?" tanya gadis itu. Reka kenal dengan gadis itu dan gadis itu juga kenal Reka, tentu saja. Mereka dulu sempat beberapa kali sekelas. Jadi mereka lumayan saling mengenal, bahkan pernah terlibat tugas kelompok bersama. "Iya, Itha, bener banget. Sini masuk." Eureka berkata sembari melambaikan tangan, meminta temannya itu untuk segera bergabung masuk ke dalam kelas. Gadis bernama Itha meletakkan tas di kursi di sebelah Eureka. Mereka pun saling mengobrol untuk mengisi waktu luang sebelum kelas dimulai. "Itha ikut organisasi apa?" tanya Eureka saat melihat Itha yang pagi itu membawa jaket organisasi namun belum jelas apa nama organisasi yang tercetak di bagian lengan jaket. Itha tersenyum. Ia menjawab, "Oh ini, aku join UKM Tari." Eureka mengernyit. Ia kembali bertanya, "Sejak kapan? Kok aku nggak pernah liat kamu? Aku anak Teater Artes, lho. Padahal UKM Tari sama Teater Artes sering latihan di aula yang sama." Itha mengangguk-angguk dan menjelaskan, "Hehe, aku emang jarang ikut latihan. Paling kalau mau ada lomba aja baru deh rajin dateng." Eureka ber-oh-ria. Ia bisa memahami jawaban Itha. Setelah selesai berbasa-basi, Eureka pun kembali memandangi layar ponsel untuk melanjutkan aktivitas menonton drama Korea. Namun belum cukup puas menonton, ternyata dosennya untuk mata kuliah yang satu ini sudah memasuki kelas. Alhasil Eureka terpaksa kembali menghentikan aktivitas menonton drama itu. *** Pukul tiga sore, Athaya sudah duduk santai di depan ruang sekretariat Teater Artes. Ia masih menunggu anggotanya untuk berkumpul sore ini. Semalam ia diberi tanggung jawab oleh angkatan atas untuk membentuk struktur kepengurusan yang baru. Juga ia dan anggota teater harus menentukan proker-proker apa saja yang akan Teater Artes jalankan ke depan. "Belum ada yang dateng?" tanya seseorang membuat Athaya yang sempat melamun akhirnya tersadar dan kembali ke bumi. Ia menoleh dan mendapati ada mantan ketua Teater Artes berdiri di sebelahnya. Athaya mengangguk-anggukkan kepala dan menjawab, "Iya, belum ada, Bang." "Ya udah, gue cuma mau pesen buat hati-hati pas nyusun struktur organisasi, juga orang-orangnya. Terus soal proker, gue harap bakalan ada kemajuan, sih. Bagus-bagusinlah teater kita ini. Dah ya, gue cabut dulu. Sorry nggak bisa nemenin kalian rapat. Gue masih ada urusan lain habis ini. Kalau misal ada apa-apa, lo bisa chat gue aja. Nanti gue bantu sebisa gue," ujar mantan ketua itu. "Oh, iya, Bang, santai aja. Hati-hati di jalan, Bang," balas Athaya sambil mengangkat tangan sebagai isyarat mengantarkan kepergian mantan ketua itu. Jujur saja, Athaya merasa lega kalau tidak ada angkatan atas yang mengawasi jalannya rapat. Karena ini adalah pertama kalinya Athaya memimpin, ia jadi agak grogi. Tak lama setelah kepergian mantan ketua Teater Artes itu, satu per satu anggota mulai memenuhi ruang sekretariat. Sebelum masuk, mereka menyapa ketua baru mereka yang tak lain adalah Athaya. Namun ketika Athaya hendak menyalami seorang gadis yang tersenyum ceria, Athaya menghentikan gerakannya. Ia cukup kaget dengan kehadiran sosok itu di sana. Athaya tidak sedang berhalusinasi, kan? *** Eureka kebingungan saat tiba gilirannya untuk memberi selamat kepada Athaya, cowok itu malah diam mematung. Belum lagi raut wajah Athaya kelihatan sangat kaget ketika mendapati Eureka ada di sana. Masa sih selama ini Athaya tidak tahu kalau Eureka bergabung dengan UKM yang sama dengannya? "Kak," panggil Eureka lirih. Tangan Eureka yang sudah terulur itu tak kunjung dijabat oleh Athaya. Parahnya, tangan Eureka mulai terasa pegal. Dan yang lebih memalukan, beberapa pasang mata memperhatikan mereka. "Oh," gumam Athaya seolah tersadar. Athaya menjabat tangan Eureka dengan cepat lalu melepaskannya dan beralih menjabat tangan anggota Teater Artes yang lain. Gantian Eureka yang terdiam. Gila ya? Dia belum buka suara apa-apa, tapi Athaya sudah buru-buru mengalihkan perhatian ke anggota lain. Padahal kan, Eureka juga ingin menyampaikan sepatah dua patah kata pada Athaya seperti yang dilakukan teman-temannya. Huft, kenapa Athaya begini menyebalkan? Perlakuan Athaya pada Eureka benar-benar diskriminatif. Meski sebal dan kesal, Eureka tetap mengikuti instruksi dari Athaya untuk masuk ke ruang sekretariat. Ya mau bagaimana lagi, Eureka bukan siapa-siapa di sana. Ia masihlah anggota baru. Sebentar lagi rapat pembahasan struktur kepengurusan dan proker tahunan akan dilaksanakan. Tentu saja Athaya yang memimpin rapat itu. Selama rapat, yang banyak bicara adalah anggota dari angkatan di atas angkatan Eureka. Gampangnya, mereka-merekalah yang seangkatan dengan Athaya. Jadi mereka sudah merasa santai dan terbiasa dengan satu sama lain. "Gue jadi sekretaris, ya? Tinggal ngelanjutin aja. Kan, setahun kemarin gue udah jadi wakilnya," usul Airin yang langsung disetujui oleh banyak anggota. Athaya tampak mengangguk-angguk juga. Ia lantas bertanya pada Airin, "Lo mau nunjuk siapa sebagai wakil lo? Dari angkatan bawah biar ada yang gantiin lo di kepengurusan tahun depan." "Eureka aja. Gue suka cara kerjanya. Dia orangnya rapi dan paham juga soal kesekretariatan," jawab Airin sembari tersenyum ke arah Eureka. Belum sempat Eureka menolak atau mengiakan, Athaya sudah sepakat. "Oke, sekarang kita bahas wakil gue. Siapa yang bersedia?" "Dari angkatan kita atau angkatan bawah, nih?" tanya Pia yang notabenenya adalah bendahara di kepengurusan tahun ini. "Terserah, siapa aja boleh," jawab Athaya sambil menatap satu per satu anggota Teater Artes. Namun tentu saja, ia mengecualikan Eureka. "Bang, gue mau jadi wakil lo. Boleh nggak?" tanya seorang cowok dari angkatan Eureka. Namanya Kaka. Athaya menjawab dengan anggukan kepala tanda setuju. Bahkan pemuda itu tidak meminta alasan kenapa Kaka mengajukan diri untuk menjadi wakilnya. Pembahasan dilanjutkan untuk memilih ketua divisi dan membagi anggota yang belum mendapat tugas agar bisa masuk ke divisi-divisi itu sebagai staf. Setengah jam kemudian, rapat penentuan struktur kepengurusan tahun ini telah usai. Athaya meminta pada sekretaris yang bertugas mencatat notula rapat untuk membacakan hasilnya di depan anggota forum. "Rin, tolong bacain notulensinya," pinta Athaya pada Airin. Namun Airin mengedikkan dagu ke arah Eureka. Ia mengatakan, "Eureka yang nyatet notulensinya." "Oh," balas Athaya seraya memasang ekspresi yang sulit dideskripsikan oleh Eureka. Sadar bahwa sepertinya Athaya enggan menyebut namanya, Eureka berinisiatif untuk langsung membacakan hasil notula rapat ini. "Struktur kepengurusan tahun ini, Kak Athaya ketua. Wakilnya Kaka. Kak Airin sekretaris dan aku wakil sekretaris. Kak Pia bendahara dan Dinda wakil bendahara. Kadiv diklat Kak Sekar. Kadiv humas Kak Sarah. Kadiv inventori Bang Panca," jelas Eureka membacakan hasil rapat yang telah ia catat. "Udah cukup. Nanti selebihnya kamu kirim ke grup chat aja biar pada baca sendiri. Sekarang, kita lanjut bahas proker dan tupoksi per divisi, keburu malem," ujar Athaya yang sepertinya ia tujukan pada Eureka. Meski tatapan Athaya tidak tertuju pada gadis itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD