bc

Wanita Lain Pilihan Ibu Mertua

book_age18+
197
FOLLOW
1.3K
READ
HE
heir/heiress
drama
like
intro-logo
Blurb

Apa yang akan kamu lakukan jika suamimu pulang membawa madu untukmu?. Marah, meminta cerai, pergi dari rumah. Semua itu dilakukan oleh wanita bernama Hanum. Dia pergi dari rumah setelah sang suami bernama Dava menolak perceraian karena ia sangat mencintai Hanum. Namun, kekurangan yang dialami mereka, membuat keduanya tidak bisa mengelak ketika sang mertua Nani menginginkan seorang cucu. . Iya, faktor keturunanlah yang membuat Nani memaksa Dava menikahi wanita pilihannya.. Siapa wanita pilih sang mertua? Apakah mereka akan hidup rukun? Atau malah banyak perselisihan di dalamnya?Yuk langsung baca aja biar nggak penasaran!

chap-preview
Free preview
Bab 1. Tamu Tak Diundang
"Loh, kok datang bulan lagi sih?" Hanum terkejut tatkala mendapati noda merah saat buang air kecil. Dia melepaskan kain yang terkena noda merah tersebut, lalu mencucinya sendiri sambil menggerutu kesal. "Tau gitu mending nggak usah terlambat sekalian, cuma ngasih harapan kosong." Perasaan kesal juga sedih bercampur aduk menjadi satu. Bagaimana tidak, penantian selama tiga tahun sampai sekarang belum juga membuahkan hasil. Padahal, saat melakukan pemeriksaan ke beberapa dokter spesialis, keduanya dinyatakan sehat. Selesai membersihkan noda, Hanum mencuci tangan, lalu seseorang memanggilnya dari luar yaitu suaminya, Dava. "Num, kamu di dalem?" "Iya, Mas," jawab Hanum sambil mengeringkan tangan di bawah alat pengering yang menempel pada dinding. "Tas aku di mana, ya?" Hanum membuka pintu, lalu menjawab, "Ada di lemari." "Bantu aku cariin, dong. Perasaan tadi aku cari kok nggak ada," titah Dava seraya mengancingkan kancing kemeja. "Iya, Mas." Hanum menutup pintu kamar mandi, lalu berjalan menuju ruang ganti hendak mencari apa yang dibutuhkan oleh suaminya. Saat Dava melihat ke arah Hanum, ia melihat Hanum berjalan sambil memegangi perutnya. Karena Penasaran, ia pun memanggilnya lagi. "Hanum!" Hanum menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh ke belakang. "Kenapa?" "Perut kamu sakit?" "Sedikit." "Apa ini hari ...." Belum selesai satu kalimat diucapkan, dengan cepat Hanum memangkasnya. "Hari pertama datang bulan, maaf." "Loh, kok maaf sih? Maaf kenapa?" "Maaf karna aku belum bisa kasih kamu keturunan." "Hei, sejak kapan aku mempermasalahkan itu?" Dava bicara sambil berjalan menghampiri Hanum yang akhinya menumpahkan air mata yang sejak tadi ia tahan-tahan. "Tuhan nggak adil, Tuhan nggak sayang sama aku. Kenapa dia tega melakukan ini sama aku, Mas. Setiap bulan aku terus menanti kepercayaan. Aku menanti dia menitipkan bayi ke dalam perutku, tapi sampai sekarang dia belum juga percaya sama aku. Apa aku nggak layak jadi seorang ibu?" Tidak tega melihat Hanum menangis, Dava pun membawa sang istri ke dalam pelukannya. "Jangan bicara seperti itu, Hanum. Mungkin memang belum waktunya Tuhan memberikan kita keturunan. Sabar ya, Sayang." Dava coba menenangkan sang istri dengan trus memeluk, mengusap punggungnya dengan lembut. "Sampai kapan, Mas. Kita udah menikah selama 3 tahun, tapi sampai sekarang aku belum juga hamil. Kita udah ke dokter dan dokter menyatakan aku sehat, kamu sehat, apalagi yang kurang?" "Ini cuma soal waktu, Hanum. Kita harus sabar." "Aku takut kamu berpaling, aku takut kamu ninggalin aku, Mas. Aku takut kehilangan kamu." Dava melepaskan pelukannya, menangkup pipi Hanum dengan kedua tangannya. "Kamu pikir aku akan meninggalkan kamu hanya karena belum memiliki keturunan?" Raut wajah Dava menunjukkan keseriusan. "Aku takut," lirih Hanum. Air mata terus mengalir deras. "Jangan pernah punya pikiran seperti itu, Hanum. Aku mencintai kamu dengan tulus, aku sayang sama kamu, aku menerima kamu apa adanya. Jadi, jangan pernah berpikir seperti itu lagi, ya." Dava mengusap air mata yang membasahi pipi tirus Hanum dengan lembut. "Kamu berjanji?" "Sumpah demi apa pun aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan kamu." "Walaupun aku nggak bisa ngasih kamu keturunan?" "Aku nggak perduli itu." "Terima kasih, Mas. Terima kasih kamu sudah mengerti keadaan aku, terima kasih kamu sudah sangat mencintai aku," lirih Hanum masih terisak. "Sama-sama, Sayang. Udah, ya. Jangan terlalu memikirkan anak. Kita hidup hanya berdua juga nggak masalah. Aku bahagia." "Tapi, Mas. Kita nggak boleh pasrah begitu aja. Tetap kita harus berusaha, berdoa, kan kita nggak bakal tahu doa mana yang akan Tuhan kabulkan, atau usaha mana yang akan Tuhan berikan keberhasilan." "Iya, Sayang. Tapi aku nggak mau kamu terbebani dengan itu semua. Coba pikirkan hal positif, supaya kamu juga nggak stress. Kamu tau kan stress juga bisa menghambat kehamilan?" Hanum mengangguk. "Iya, Mas." "Udah, sekarang jangan nangis. Lebih baik kamu tolong aku cari tas kerja aku, oke." "Baiklah." Sementara Hanum mencari tas di dalam ruang ganti, Dava memilih kembali duduk di sofa sambil memakai sepatu. Baru sebelah sepatu yang dipasang, ponsel yang ada di dalam saku celana berdering, Dava mengeluarkan benda pipih itu dari dalam saku celana, keningnya mengerut saat melihat nama ibu dalam layar ponselnya. Nani: Kamu di mana? Dava: Di rumah, Bu. Ada apa? Nani: Hanum ada? Dava: Ada. Setelah membalas pesan sang ibu, Dava meletakkan kembali ponselnya ke atas meja, lalu memakai sepatu sebelahnya. Bunyi notifikasi kembali terdengar, Dava melihat isi pesan dari layar depan, di baris pertama sang ibu mengatakan, Nani: Dua hari lagi istri kamu datang bulan, atau kayaknya udah lewat. Saat akan membuka isi pesan agar bisa membaca semuanya, Hanum keluar dari ruang ganti, memanggil namanya. "Mas, kamu udah pakai jam tangan apa belum?" Dava mengurungkan niat membuka pesan dari sang ibu. Dia memilih mengunci ponselnya, lalu dimasukkan ke dalam saku celana. Tidak ada respon, Hanum kembali memanggilnya. "Mas Dava." "I–iya, Hanum. Ada apa?" "Jam tangan kamu di mana? Udah kamu pake?" "Jam tangan?" Dava melihat pergelangan tangannya, lalu menjawab, "Iya udah. Udah aku pake." "Oh, aku pikir ke mana?" Kali ini Hanum berjalan menghampiri sang suami, lalu berdiri di depannya. "Udah semua?" tanya Dava sambil berdiri. "Udah, Mas. Dokumen-dokumen juga ada di dalam." Tas berwarna hitam itu ia pegang di depan dengan kedua tangannya. "Ya udah, ayo kita sarapan dulu. Kita liat pagi ini Minah masak apa." Dava meraih tangan sang istri, mereka berjalan keluar dari kamar sambil bergandengan tangan. Selama ini mereka hidup bahagia, tetapi semenjak Nani ikut campur masalah keturunan, kenyamanan mereka mulai terganggu. "Kayaknya nanti aku pulang telat. Kamu mau titip makanan apa?" tanya Dava sambil berjalan menuruni anak tangga menuju ruang makan yang ada di lantai dasar. "Ada apa? Tumben?" tanya Hanum. "Biasa owner minta meeting dulu." "Lama?" "Kurang tau, kayaknya sih nggak." "Aku nggak mau pesen apa-apa, minta meetingnya jangan terlalu lama." "Aku usahakan, ya," ucap Dava sambil tersenyum. Setelah berada di lantai bawah, tepatnya di ruang makan, Dava dengan Hanum sarapan berdua dengan khidmat. Sesekali mengobrol ringan, sedikit candaan, juga beberapa obrolan cukup serius tentang pekerjaan. Selesai sarapan. Baru ia meletakkan sendok di atas piring, ponsel Dava berdering. Kali ini bukan notifikasi pesan, tetapi dering panggilan masuk yang entah dari siapa. "Angkat dulu teleponnya," titah Hanum. "Iya, sebentar." Dava mengeluarkan handphone dari saku jas, lalu memasukkannya lagi ketika tahu siapa yang menelepon. Dia tidak mungkin menjawab telepon tersebut, karena pembahasannya hanya akan membuat Hanum sakit hati. "Kok nggak diangkat? Siapa, Mas?" tanya Hanum lagi dengan dahi mengerut. "Nggak tau, nomer tidak dikenal." "Diangkat dulu aja, Mas. Siapa tau penting." "Nggak usah ah. Aku mau berangkat juga." Dava berdiri, begitupun dengan Hanum. "Ingat pesan aku, ya. Meetingnya jangan terlalu lama." Hanum menyerahkan tas kerja kepada Dava. "Aku usahakan, ya." Dava menerima tas kerja yang diserahkan, lalu mereka berdua berjalan menuju teras rumah. Setelah ada di sana, Dava mengecup kening Hanum singkat, lalu berpamitan. "Aku berangkat dulu ya, Num." "Iya, Mas. Hati-hati." Dava masuk ke dalam mobil, lalu mobil melaju dengan kecepatan sedang, keluar melalui gerbang utama. Setelah Dava pergi, ponsel milik Hanum berdering pelan. Dia mengambil handphone dari dalam saku, melihat pesan masuk dari sang ibu mertua menanyakan keberadaannya. Nani: Di mana? Ibu mau tanya, bukannya dua hari lalu harusnya kamu datang bulan? atau belum nyampe tanggal?

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.7K
bc

TERNODA

read
199.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.4K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.7K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
72.8K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook