01 | Sebuah Awal
BAB 01
SEBUAH AWAL
Nath | Raiga Jonathan
_____________
Sebentuk wajah dengan sepasang mata tajam yang dingin, bibir yang terkunci rapat tanpa kurva senyum, serta proporsi tubuh kokoh yang dibalut setelan apik. Lelaki itu tengah berjalan lenggang membelah ruangan, lurus ke arahku.
Tidak ada satu pun orang di lobi ini yang mampu mengabaikan kehadirannya.
Meski aku hampir tidak pernah mengagumi sesama jenis, harus kuakui penampilannya sore ini begitu memukau. Dan aku yakin, bukan hanya aku yang sedang terpaku. Di sudut sana, dua petugas resepsionis bahkan tengah memelototinya secara terang-terangan, melupakan profesionalitas kerja mereka.
Aku, Nath. Dan mataku masih bergerak horizontal, mengekor ke mana pun kaki lelaki tinggi itu melangkah.
Kulit putih bersihnya kontras dalam balutan jas abu-abu yang dipadukan dengan jins hitam pekat. Selera fashion-nya cerdas—rapi, namun tetap kasual tanpa kesan kaku. Sangat cermat. Gaya rambutnya pun ditata ala bos muda yang baru keluar dari salon profesional. Secara visual, dia nyaris tanpa cela. Kutebak usianya masih di bawah dua puluh tujuh tahun.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu?"
Perempuan di balik meja lobi yang tadi sempat mencoba bersikap genit padaku, kini mulai melancarkan aksinya kembali. Melihat ada umpan yang jauh lebih mewah, ia langsung memotong jalan si lelaki asing tepat di ambang pintu.
Namun, lelaki itu hanya membalas dengan gelengan kecil yang teramat samar. Ia melangkah melewatinya begitu saja, lalu mengambil tempat di sebelahku tanpa suara. Meninggalkan si petugas lobi yang kembali ke mejanya dengan bersungut-sungut dan wajah masam yang kentara.
Seketika, hawa dingin yang ganjil mulai menguar di lobi ini—sebuah ruang persegi berdesain minimalis yang dikelilingi dinding kaca di setiap sisinya. Gorden sewarna putih tulang yang menjuntai di sudut-sudut ruangan sebenarnya memberikan kesan simpel yang menenangkan. Namun, berada sedekat ini dengan lelaki dingin di sampingku justru membuat rasa minderku perlahan mencuat.
Bagaimana tidak?
Siang ini, aku hanya mengenakan kemeja navy dengan lengan yang digulung asal hingga ke siku, dipadukan dengan celana jins belel yang sudah kulupakan kapan terakhir kali menyentuh pelat setrika. Gaya rambutku pun undercut model lama; kering tanpa sentuhan minyak rambut dan selalu berantakan jika aku lupa menyisirnya. Kehadiranku di sini sama sekali tidak memancing perhatian siapa pun.
Diam-diam, aku melirik lagi ke arah lelaki asing di sebelahku.
Ia duduk dengan gestur yang sangat santai. Kaki kanannya menumpang di atas kaki kiri. Wajahnya sekaku patung porselen, sementara matanya kini fokus menatap jam tangan, meski sorot tajamnya sedikit melunak.
"Nunggu siapa?"
Setelah beberapa detik terjebak dalam perang batin yang melelahkan, akhirnya aku memberanikan diri untuk bersuara. Aku hanya ingin memecah kecanggungan yang mencekik ini, meski aku tahu pertanyaanku mungkin terlalu klise untuk ia gubris.
Sesuai dugaan, lelaki itu tidak langsung merespons. Ia bergeming sejenak, lalu menoleh dan mengamatiku dari ujung rambut hingga kaki. Dinilai dengan ujung mata setajam itu membuatku merasa bahwa menegurnya adalah salah satu keputusan terbodoh yang pernah kuambil.
Selesai dengan penilaian sepihaknya, ia menjawab singkat, "Pemilik hotel."
Suaranya berat dan dalam. Tegas, sekaligus terdengar... seksi pada saat yang bersamaan.
Tunggu, biar kuperjelas: aku ini laki-laki normal. Namun, logikaku benar-benar buntu untuk mencari padanan kata yang tepat demi menggambarkan jenis suara misterius yang barusan menggetarkan udara itu.
Mendengar jawabannya, punggungku spontan menegak. "Om Benri maksudnya?" tanyaku, memastikan.
Ia hanya mengangguk kecil, tampaknya sama sekali tidak peduli pada eksistensiku.
Namun, siapa yang menyangka kalau ternyata tujuan kami sama?
Ya, aku rela memesan tiket first flight dari Semarang pukul enam pagi tadi, demi terbang ke Jakarta untuk memenuhi pertemuan mendadak dengan Om Benri hari ini. Padahal, beberapa hari terakhir ini jadwal les musikku sedang padat-padatnya. Salah satu muridku bahkan sampai merengek memintaku agar tidak pergi. Tapi aku tidak punya pilihan. Permintaan Om Benri sudah seperti titah suci bagiku; tidak pernah sekalipun aku berani menentangnya.
Detik berikutnya, kami kembali terperangkap dalam keheningan yang panjang. Lelaki di sampingku mulai sibuk dengan ponselnya, beberapa kali bergeser menjauh ketika menerima panggilan telepon.
Sementara itu, aku hanya bisa melemparkan pandangan ke luar lobi. Orang-orang berlalu-lalang di bawah terik Jakarta. Penginap di hotel ini lumayan banyak siang ini. Kulihat antrean mengular di meja check-in, sementara beberapa orang lainnya sudah berhamburan membawa koper menuju kamar masing-masing.
"Hai, boleh gabung?"
Sebuah suara tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Aku mendongak, menemukan seorang lelaki lain tengah berdiri di hadapan kami dengan cengiran lebar yang terkesan santai.
"Kata mbak-mbak di depan tadi, gue disuruh nunggu di sini," ujarnya lagi tanpa beban.
Aku sedikit terkejut saat pemuda berkemeja marun itu langsung menghempaskan tubuhnya di kursi depan kami. Aku bahkan belum sempat mengizinkannya—well, meskipun lobi ini adalah fasilitas umum dan dia memang tidak perlu izin dariku.
Lelaki baru ini memandangiku dengan seringai yang agak pongah. Rambutnya sedikit gondrong hingga nyaris menyentuh mata, sedangkan bibirnya yang tipis tampak agak kehitaman—sebuah tanda yang meneriakkan dengan jelas bahwa dia adalah seorang perokok berat.
"Eh, kenalin dulu, gue Kaf." Ia menyodorkan sebelah tangannya ke arahku. "Udah lama di sini?"
Dengan cepat, aku menyambut tangannya. "Aku Nath," ucapku ramah dibarengi senyum tipis. Kulit tangannya cokelat matang seperti orang yang sering menghabiskan waktu di bawah sengatan matahari, dan aku bisa merasakan telapak tangannya yang hangat sekaligus kasar—sebuah tekstur yang mencerminkan kerja keras fisik.
"Hm, lumayan," sambungku menjawab pertanyaannya.
"By the way, lagi nunggu siapa?" Lelaki bernama Kaf itu kemudian melirik ke arah manusia sedingin es di sampingku, mencoba menyeretnya masuk ke dalam percakapan.
"Om Benri, pemilik hotel ini," jawabku tepat saat Kaf melepaskan jabat tangan kami.
"Oh, dia juga?" Kaf menunjuk lelaki di sebelahku menggunakan dagunya.
Aku mengangguk mengiyakan.
"Oi, nama lo siapa? Gue Kaf." Kali ini, Kaf mengulurkan tangan langsung ke hadapan lelaki dingin itu, lengkap dengan cengiran lebar yang sama.
Lelaki di sampingku hanya menatap tangan Kaf tanpa minat. Bibirnya masih terkunci rapat, ekspresi wajahnya tidak berubah satu inci pun. Masih sedingin sebelumnya.
Mendapat perlakuan sekaku itu, Kaf jelas merasa tersinggung. "Oh, gue paham. Enggak terbiasa bersentuhan sama rakyat jelata, ya?" sindirnya terang-terangan lewat pertanyaan retoris.
Dengan wajah yang tetap datar, lelaki itu akhirnya menyahut, "Grey."
Suaranya begitu pelan dan berat hingga aku hampir saja melewatkannya. Apa katanya tadi? Gray? Abu-abu?
"Hah? Apa?" Rupanya bukan hanya aku, Kaf pun mengalami gangguan pendengaran yang sama.
"Grey. Itu nama saya," ulangnya sekali lagi, kali ini dengan artikulasi yang lebih jelas dan sedikit penekanan.
Kaf hanya mengangguk-angguk paham, tidak berniat mengomentari nama asing tersebut lebih jauh. "Ngomong-ngomong, ini enggak ada suguhan minuman? Jus atau apa kek," keluh Kaf berbasa-basi sambil mengusap tenggorokannya yang tampak kering.
Dia benar. Sejak tadi aku duduk di sini, pemandangan di atas meja kayu ini hanya dihiasi oleh satu kotak tisu dan sebuah vas bunga kecil. Tidak ada apa-apa lagi. Tidak ada satu pun staf yang cukup peka untuk sekadar menghidangkan segelas air.
Padahal, hawa di luar sedang gila-gilaan panasnya. Tenggorokanku sendiri sudah terasa kering kerontang akibat dehidrasi dan... yah, karena aku terlalu banyak merokok akhir-akhir ini. Aku tahu kebiasaan buruk itu merusak kesehatan, tapi jangan salahkan aku. Salahkan saja sensasi nikmat yang dihantarkan oleh pembakaran nikotin ke dalam paru-paruku.
"Coba kamu pesan saja. Aku sih sudah duduk di sini dari tadi, tapi enggak ada satu pun yang nawarin minum," sahutku akhirnya.
Belum sempat Kaf membalas ucapan atau memanggil pelayan, pandanganku tiba-tiba menangkap sosok yang familiar tengah berjalan tergesa-gesa ke arah kami.
Seorang pria bertubuh tinggi besar dengan sepasang mata cokelat yang memancarkan binar bersahabat. Senyumnya sudah mengembang sejak pertama kali ia melihat kami bertiga duduk berkumpul.
"Sudah lama menunggu?"
Pria itu, yang mengenalkan dirinya padaku sebagai Om Benri Diwanta, kini telah berdiri di tengah-tengah kami. Wajahnya masih terlihat awet muda, persis seperti ingatan terakhirku beberapa bulan lalu.
"Maaf, ya. Tadi ada pertemuan mendesak dengan klien di luar, jadi saya agak terlambat," imbuhnya dengan senyum penyesalan yang tulus.
Aku segera berdiri, diikuti oleh Kaf dan Grey yang melakukan hal serupa.
"Enggak apa-apa, Om. Gimana kabarnya?" Kaf menjadi orang pertama yang menjabat tangannya akrab, disusul olehku dan kemudian Grey.
Om Benri tersenyum sejenak, namun binar di matanya meredup dengan cepat saat ia menjawab, "Fisik saya sehat, Kaf. Tapi pikiran saya... tidak ada sehat-sehatnya sama sekali."
Aku tidak tahu hubungan apa yang mengikat antara Kaf dan Om Benri, namun aku bisa melihat kedekatan yang nyata di antara mereka. Sangat dekat, seperti dua orang yang sudah saling mengenal bertahun-tahun.
"Memangnya ada masalah apa, Om?" aku memberanikan diri untuk ikut bertanya.
"Saya akan jelaskan semuanya, tapi tidak di sini. Kalian bertiga, ikut saya sekarang." Om Benri menepuk pundak kami bergantian dengan raut serius.
Dan, tanpa perlu dikomando, kami bertiga mengangguk serempak.
*
Hal pertama yang terlintas di kepalaku saat melangkah masuk ke ruangan sempit berdinding hitam ini adalah: ruang interogasi. Di dalamnya hanya ada empat kursi kosong yang mengelilingi satu meja bundar polos tanpa ornamen apa pun.
"Duduk dulu. Pembicaraan kita kali ini jauh lebih serius daripada suara perut kalian yang kelaparan."
Boom!
Om Benri menyindirku. Sepertinya radar peka milik pria paruh baya ini masih berfungsi dengan sangat baik.
Kami berempat akhirnya duduk melingkar dengan formasi: aku, Kaf, Grey, dan Om Benri. Tidak ada yang berani membalas kelakar itu. Kami bertiga hanya diam, memaku pandangan lamat-lamat pada pria di depan kami. Lampu temaram yang menggantung tepat di atas kepala membuat atmosfer ruangan terasa jauh lebih menjebak dan sempit dari ukuran aslinya.
"Baik, sebelumnya saya minta maaf karena tiba-tiba menyuruh kalian datang ke Jakarta mendadak seperti ini. Saya tahu kalian punya kesibukan masing-masing," Om Benri membuka suara, menatap kami satu per satu sembari melipat kedua tangannya di atas meja. "Tapi saya benar-benar membutuhkan kalian. Hanya kalian bertiga yang bisa saya mintai bantuan saat ini."
Mendengar nada suaranya yang bergetar penuh beban, aku langsung tahu bahwa situasi yang sedang kami hadapi benar-benar buruk.
"Mari saya ceritakan dari awal," lanjut Om Benri lagi setelah memastikan tidak ada dari kami yang berniat menyela. "Kalian bertiga masih ingat putri saya, kan?"
Secara refleks, kami mengangguk bersamaan.
Tentu saja aku ingat pada putri semata yang Om Benri Diwanta. Gadis berusia tujuh belas tahun bernama Caesa Ibrianis. Parasnya cantik dengan proporsi tubuh menawan yang membuatnya kerap kali wara-wiri di layar televisi atau menjadi model sampul majalah remaja. Dia tidak hanya pintar secara akademis, tapi juga berbakat di dunia modeling dan tarik suara. Aku sempat beberapa kali berinteraksi dengannya saat dia masih SMP, tepatnya ketika Om Benri memintaku menjadi guru privat untuk mengajari Caesa bermain piano dan melatih vokalnya.
"Iya, aku ingat, Om. Caca pernah mampir ke bengkelku waktu mobilnya mogok," cetus Kaf tiba-tiba, membuatku sedikit mengernyit dan meliriknya dengan tatapan heran.
"Caca?" aku membeo pelan, hampir menyerupai bisikan.
Kaf menoleh padaku lalu mengangguk santai. "Iya, Caca. Caesa. Panggilan iseng dari gue sih, hehe."
Hanya bisa mendengus pelan, aku memutuskan untuk tidak memperpanjang urusan nama panggilan itu.
"Memangnya ada apa dengan Caesa, Om?" Akhirnya, pertanyaan yang menggantung di kepalaku diwakilkan oleh Kaf.
Om Benri menghela napas berat. Baru sekarang aku menyadari betapa kantung matanya tampak begitu hitam dan cekung—sebuah bukti fisik bahwa ia telah kehilangan waktu tidurnya selama beberapa hari terakhir.
"Sudah dua hari ini Caesa hilang. Biasanya, dia selalu memberi kabar kalau pergi ke luar kota atau ke mana pun. Tapi semenjak pamit pergi ke Bogor dua hari lalu, dia sama sekali tidak bisa dihubungi. Saya sudah mengonfirmasi ke manajernya, dan dia bilang Caesa pergi ke Bogor sendirian, bahkan tanpa didampingi asisten pribadinya. Sampai detik ini, saya belum melaporkan kejadian ini ke polisi. Dan saya... juga belum membicarakan hal ini dengan istri saya."
Pria itu menggigit bibir bawahnya yang tampak tebal dan pucat. Sebelah tangannya naik untuk memijat pelipis yang berdenyut, sementara tangan yang lain mengetuk-ngetuk permukaan meja secara acak, menyuarakan kecemasan yang teramat sangat.
"Kalau istri saya tahu Caesa hilang, dia bisa terkena serangan jantung lagi. Jadi, saya terpaksa berbohong dan mengatakan kalau Caesa sedang berlibur di Bogor. Saya tidak mau kondisinya memburuk karena cemas. Kesehatannya sedang tidak stabil akhir-akhir ini, saya tidak mungkin membebani pikirannya dengan masalah ini. Karena itulah, saya mengumpulkan kalian di sini untuk meminta bantuan mencari Caesa."
"Tapi kenapa Om enggak minta bantuan polisi saja?" tanyaku bingung.
Sebagai Chief Executive Officer dari BD's Group yang memiliki jaringan bisnis gurita di mana-mana, seharusnya Om Benri mempunyai akses dan koneksi hukum yang kuat untuk melacak keberadaan putrinya dalam hitungan jam, alih-alih memercayakan urusan genting ini kepada kami yang bukan siapa-siapa.
"Saya sempat berpikir begitu, Nath. Tapi masalahnya tidak sesederhana itu," jawab Om Benri lirih. "Tadi malam, saya menerima telepon dari nomor yang tidak dikenal. Si penelepon mengatakan bahwa Caesa saat ini aman, dan akan tetap baik-baik saja jika saya mengirimkan uang tebusan sebesar 10 miliar rupiah. Syaratnya mutlak: saya tidak boleh melibatkan polisi sama sekali."
"Maksudnya... Caca diculik, Om?" Kaf membulatkan sepasang mata almond-nya, tampak luar biasa syok.
Aku pun merasakan hantaman keterkejutan yang sama di dadaku. Entah bagaimana dengan si Grey di sampingku ini, karena dia masih saja betah mengunci mulut dengan ekspresi wajah yang sedatar papan tulis.
Dengan bahu yang merosot lesu, Om Benri mengangguk. "Iya, Kaf. Saya sangat mencemaskan keadaannya. Dia putri saya satu-satunya."
Selama bertahun-tahun mengenal Om Benri, aku belum pernah melihat pria berwibawa itu tampak begitu rapuh dan panik. Kehilangan Caesa benar-benar telah meruntuhkan pertahanannya.
"Grey, Kaf, Nath... saya mohon, cari Caesa. Saya tidak tahu di mana lokasi penyekapannya saat ini. Tapi, orang yang menelepon saya semalam sempat meninggalkan satu clue."
"Apa clue-nya, Om?" tanyaku dan Kaf hampir bersamaan.
TO BE CONTINUED.