03 | Bad Partners

2160 Words
BAB 03 BAD PARTNERS Grey | Geraldi Yudhantara ______________ Saya menyebut ini sebagai bencana. ​Tidak peduli seberapa sering Kaf memuji saya sebagai "teman baru yang dermawan". Tidak peduli seberapa jeli Nath menguliti penampilan saya dari ujung kaki hingga kepala. Tidak peduli walau tadinya saya kira mereka cukup tahu diri untuk tidak mengusik otoritas saya. ​Yang saya sadari sekarang, saya tengah terjebak di antara dua makhluk ingusan yang gemar sekali menyanyikan lagu-lagu melankolis. ​Saya risih. Bukan karena sekarang saya harus menyetir di depan sementara mereka asyik berduaan di kursi belakang. Bukan juga karena malam ini jalanan ibu kota macet dan langit meremang pekat karena hujan bersiap tumpah. Jelas bukan kedua hal itu yang membuat saya waras-waras ingin membuka pintu mobil dan menendang mereka keluar di tengah jalan. ​♪ When you feel your love's been taken ♪ When you know there's something missing ♪ In the dark we're barely hangin' on ​Sejak saya memutar kemudi dan membawa Jeep putih ini membelah jalanan, mereka berdua sudah bersiap dengan satu gitar dan sebuah kecrekan dari tutup botol. Kaf dan Nath bernyanyi lantang, seolah-olah dunia ini milik mereka sendiri dan tidak ada yang terganggu oleh keisengan itu. ​Omong-omong, saya benci musik. Kebencian yang sangat mendasar. ​Pertama, karena saya tidak tahu apa bagusnya mendengarkan ratapan melow dengan syair yang bagi saya menjijikkan. Kedua, karena saya memang buta nada; tidak mungkin saya bisa mengikuti lagu yang saya dengar. Ketiga, musik menghancurkan fokus saya. Dan terakhir, saya tidak suka membuang-buang waktu berharga hanya untuk bernyanyi atau sekadar mendengarkan musik. ​Intinya, saya tidak punya satu pun alasan untuk menyukai musik. ​"Simpan suara kalian untuk besok. Kita butuh tenaga ekstra," potong saya, menyela nyanyian mereka. Saya melirik cermin spion tengah dan mendapati wajah keduanya seketika berubah segan. ​Nath berhenti memetik gitar lalu menurunkan instrumen itu ke dekat kakinya. ​"Sori, kita mengganggu waktu semedi lo, ya?" ​Celetukan Kaf membuat dahi saya berkerut. Apa dia pikir saya tersinggung? Maaf saja, saya sudah kebal dengan segala kritik dan ejekan. Di usia yang menginjak 26 tahun ini, sudah terlalu banyak hal menyakitkan yang saya lewati. Sebagai General Manager di dua perusahaan sekaligus, tentu saya sudah khatam menghadapi berbagai karakter orang. Terutama tipe seperti mereka: menyebalkan, suka membuang waktu, dan berisik. ​Atau jangan-jangan, mereka belum tahu siapa saya? Ah, yang benar saja. Manusia primitif dari mana mereka sampai tidak pernah membaca surat kabar mengenai kesuksesan saya? ​"Kalau nyanyi nggak boleh, terus kita ngapain sepanjang jalan? Tidur?" Kaf kembali mengeluh. Wajahnya ditekuk lesu. Padahal belum ada setengah jam kami meninggalkan rumah. Tidak bisakah dia membiarkan saya fokus menyetir? Saya terbiasa pergi sendiri; rasanya terlalu janggal saat mobil ini tiba-tiba diisi oleh dua orang asing. ​Dari spion, saya melihat Nath menegakkan posisi duduknya. Ia meraih botol air mineral, meminumnya hingga tersisa seperempat, lalu bertanya, "Dari Jakarta ke Bogor berapa lama, sih?" ​"Kurang lebih satu jam. Itu juga kalau nggak macet. Kenapa?" sahut Kaf. ​"Dalam waktu sesingkat itu, mungkin kita bisa saling mengenal. Ide sederhana, sih, tapi bagiku cukup untuk membuat kita menjadi tim yang klop." ​Klop? Memangnya dia pikir ini biro jodoh? ​"Ide bagus tuh!" Sudah saya duga Kaf akan langsung menyambarnya. ​"Oke, mulai dariku, ya." Nath merelakan diri membuka percakapan tidak penting yang saya tebak akan berjalan alot. "Raiga Jonathan. Nath. 24 tahun. Guru les musik," ucapnya mantap. ​"Alkafa Praja Seno. Kaf. 22 tahun. Emm, yah, gue cuma montir yang kotor dan dekil, haha." Lelaki yang malam ini mengenakan kaus bertuliskan “Forever Young” itu tertawa hambar. Jelas terdengar nada pahit di dalamnya. ​Lalu, hening. ​Keduanya bungkam, menunggu giliran saya. Namun, saya tetap membeku. Tak berniat bersuara. ​Sampai akhirnya, Kaf menyenggol topik lagi. "Ayolah, Grey. Gue tahu sebenarnya lo nggak sedingin itu." ​Memangnya kenapa kalau saya dingin? Apa urusannya dengan dia? ​"Kita nggak punya banyak biaya untuk membeli suaramu, omong-omong," tambah Nath. ​Sembari memutar kemudi ke arah kiri melewati Jalan Rawasari Selatan, saya menyahut datar, "Geraldi Yudhantara. Grey. 26 tahun. General Manager." ​"Sudah gue duga kalau lo setua itu, hihi," Kaf si dekil itu mengejek saya dengan lelucon recehnya. Saya benar-benar harus mempertimbangkan untuk melemparnya keluar agar digilas truk. "Jadi, apa hubungan kalian dengan Om Benri? Saudara?" imbuhnya. Pertanyaan itu seketika membuat saya mengurungkan rencana brilian tadi. Sejujurnya, saya pun memikirkan hal yang sama. ​"Aku anak angkatnya Om Benri," Nath bersuara. ​"Serius? Gue juga anak angkatnya Om Benri!" Mata Kaf membelalak. ​Dengan suara sedingin es, saya melirik keduanya dari spion dan menimpali, "Saya juga." ​"Kebetulan macam apa ini?" Nath mendesah berat. ​"Kenapa gue nggak pernah tahu kalau Om Benri punya anak angkat selain gue? Lagipula, bukannya lo asli Semarang ya, Nath?" ​Orang yang diajak bicara menoleh. "Iya. Aku ketemu Om Benri juga di Semarang." ​"Gimana ceritanya?" Kaf mendesak. ​Nath akhirnya membagikan kisah hidupnya. Kaf menyusul dengan ceritanya yang tak kalah menyesakkan. Dan malam itu ditutup dengan cerita milik saya—yang sengaja saya pangkas singkat, namun tetap menyisakan bagian-bagian krusial di dalamnya. ​Tanpa disadari, saya baru saja membuka diri. Setelah sekian lama, kisah hidup yang saya gembok rapat akhirnya bocor juga kepada orang lain. ​Saya pasti akan menyesali momentum ini. Namun, entah mengapa, malam ini saya merasa mereka berdua berhak tahu apa yang terjadi dalam hidup saya. Kami bertiga layaknya garis-garis yang membentuk segitiga tanpa nama; para pemilik masa lalu kelam yang bahkan jika diingat kembali, sanggup membuat tenggorokan tercekat. ​Nath masih terus bercerita. Kaf sesekali menimpali dengan pengalaman hidupnya. Sementara saya memilih kembali ke mode aman: menjadi pendengar. ​Dan dari sanalah, semuanya bermula. ​* ​Waktu merangkak cepat. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tak terhitung berapa kali Kaf menguap hingga matanya berair, sampai akhirnya ia tumbang dengan mulut terbuka dan dengkur halus. Hal itu membuat Nath memutuskan pindah ke kursi depan, tepat di samping saya. ​Awalnya, saya mengira kami akan tiba di Bogor dalam waktu satu jam. Namun kenyataannya, jalanan sedang tidak bersahabat. Arus kendaraan begitu padat, nyaris tak bergerak. Saya pasrah saat menyadari kami baru akan tiba dua jam kemudian. ​"Apa nggak sebaiknya kita berhenti dulu?" Nath menawarkan opsi yang sebenarnya sudah beberapa kali melintas di benak saya. ​Saya menepikan mobil di bahu jalan sebelah kiri. Nath melirik saya lagi. "Maksudku bukan berhenti di sini. Tapi kita istirahat, menunggu, atau mencari apa pun untuk memecahkan clue ini." Nath mengangkat secarik kertas yang sejak tadi didekapnya. ​"Yakin waktu kita cukup?" Saya mungkin terdengar paranoid, tapi beginilah saya. Saya selalu memaksa diri bersikap disiplin karena saya tipikal orang yang benci menanggung risiko. Bagaimanapun, prinsip saya adalah "lebih cepat lebih baik". Namun, sepertinya Nath punya sudut pandang lain. ​"Sebenarnya, aku nggak yakin." Nath menatap saya nanar. Ada keraguan yang terpancar jelas di matanya. "Setelah k****a beberapa kali, hasilnya tetap sama. Aku memikirkan kalimat ini: Kalau kamu tidak temukan dia dalam tiga kali surya karam, Caesa akan merah di bawah permadani gelap. Artinya... kalau kita nggak bisa menemukan Caesa dalam tiga hari, dia akan terluka." ​Untuk pertama kalinya, ucapan seseorang berhasil menohok d**a saya. Dan sialnya, orang asing bernama Raiga Jonathan inilah yang melakukannya. ​Saya tidak pernah takut pada apa pun selain Tuhan. Namun kali ini, kalimat Nath sanggup meluluhlantakkan keberanian saya hingga tak bersisa. ​Bagaimana kalau kami tidak menemukan Caesa dalam tiga hari? Bagaimana kalau kami gagal? ​Ah, tidak. Saya tidak pernah gagal. Saya yakin, saya dan dua rekan kerja yang buruk ini akan berhasil menyelamatkan Caesa. ​"Semoga tebakanku salah," tambah Nath. ​"Anggap itu benar. Kita harus menemukan Caesa dalam tiga hari. Kita harus mulai dari mana?" Saya tersadar, nada bicara saya tidak lagi dingin. Barusan, suara saya bahkan terdengar sedikit bergetar. ​Nath mengedikkan bahu. "Aku masih belum tahu." ​Saya terdiam. Kehilangan arah mengenai apa yang harus dilakukan dan ke mana mobil ini harus diarahkan. Kami sudah tiba di Bogor, tetapi buta total harus memulai dari titik mana. Saya amatir dalam urusan pelacakan seperti ini. Pekerjaan saya sehari-hari hanyalah menganalisis proposal dan menandatangani dokumen. Sementara orang yang saya harapkan bisa diandalkan dalam situasi darurat, justru sedang asyik bertualang di alam mimpi. ​"Kamu bangunkan dia. Ajak dia berpikir," ucap saya sembari melepas sabuk pengaman. ​"Memangnya kamu mau ke mana?" ​"Saya ke minimarket sebentar. Mau titip minum?" ​Nath menggeleng. "Nggak usah. Tapi aku lumayan lapar." ​Gerakan saya tertahan. Alih-alih turun, saya kembali mengunci sabuk pengaman dan menyalakan mesin mobil. "Kita cari makan dulu. Tahu restoran yang enak di dekat sini?" ​Nath cepat menyahut, "Aku pernah ke Hancock Resto and Cafe. Teman-temanku juga sering merekomendasikan tempat itu." ​Tanpa membalas, saya langsung mengarahkan kemudi menuju lokasi yang ia sebutkan. ​* ​Tidak tanggung-tanggung, Kaf langsung memesan dua porsi sekaligus. Satu porsi makanan berat, dan satu lagi makanan penutup—yang bagi saya porsinya sama-sama mengenyangkan. ​"Ini semua lo yang bayar, kan?" Begitulah cara Kaf memastikan keamanan dompetnya sembari melirik saya tanpa dosa. ​Saya terlalu malas untuk membalas. Tangan saya meraih gelas berisi jus lemon, lalu menyeruputnya hingga tandas. ​"Aku curiga, nggak mungkin kamu nggak ngantuk setelah makan sebanyak ini," sindir Nath. Bagi saya, kalimatnya terlalu halus untuk menegur orang seperti Kaf. ​"Yaelah, kapan lagi makan enak, Nath," balas Kaf, ditutup dengan sebuah sendawa keras yang tidak sopan. ​"Kita ke sini bukan untuk liburan," peringat saya tajam setelah menghabiskan makanan saya. ​"Iya, iya, gue tahu kok. Nggak usah diperjelas lagi. Mari kita mulai diskusinya." Dengan lagak sok pintar, Kaf memasang wajah serius. Namun sekeras apa pun ia mencoba, aura bad boy dari wajah dekilnya itu tidak bisa disembunyikan. ​"Kita hanya punya waktu tiga hari untuk menemukan Caesa. Dan aku rasa, kita sudah kehilangan satu hari hanya untuk perjalanan dan makan malam santai seperti ini. Jadi, dengan berat hati, waktu kita tinggal dua hari lagi, dimulai besok pagi," jelas Nath panjang lebar. Semua ucapannya masuk akal. ​"Apa lo nggak salah? Dua hari? Dapat apa kita dalam dua hari?" Kaf mendesah geli, setengah tidak percaya dengan ucapan Nath yang jelas-jelas adalah kenyataan pahit. ​"Maka dari itu, kita nggak boleh santai-santai." ​Dalam hati, saya mendengus. Memangnya dari tadi siapa yang santai? Bukankah mereka berdua? ​"Kita harus mulai sekarang!" Kaf menggebrak meja. Tidak terlalu keras, namun cukup sukses membuat beberapa pengunjung di sekitar kami menoleh terkejut. Benar-benar bodoh. ​"Masalahnya, kita nggak tahu harus mulai dari mana," ujar Nath, seketika memadamkan semangat Kaf. ​"Emangnya lo masih belum bisa memecahkan clue itu?" ​Nath menyeruput kopi susunya, lalu menyahut datar, "Aku lulusan Seni Musik, bukan Sarjana Sastra yang bisa dengan mudah memahami bahasa kiasan dalam clue itu. Lagipula, emangnya harus aku terus yang memecahkannya? Bukannya kita ini tim? Kenapa kamu nggak ikut mencoba?" ​Apa katanya? Tim? Memangnya siapa yang melabeli kami bertiga dengan kata semenjijikkan itu? Saya bahkan masih belum bisa menerima kenyataan ini. Bagaimana bisa Om Benri menjerumuskan saya ke dalam kelompok yang isinya hanya orang-orang naif? Mereka pikir ini lelucon? ​"Sejak lulus SMA, gue memutuskan untuk langsung terjun ke dunia perbengkelan. Lo pasti tahu kenapa. Ya karena kapasitas otak gue emang nggak sampai standar rata-rata, Nath..." ujar Kaf, diakhiri dengan nada mendendang do-sol-fa. ​"Alkafa..." ​"Ayolah, Nath, lo bisa lihat sendiri gimana susahnya hidup gue. Mana bisa gue mikir keras soal gituan?" ​"Oke, terserah kalau emang kamu mau lepas tangan soal clue ini." Nath menyerah, mengembuskan napas panjang yang sarat akan frustrasi. "Gimana dengan kamu, Grey? Mau mencoba?" ​Tanpa basa-basi, saya langsung menyambar kertas yang ia sodorkan. ​Mata saya menyipit begitu membaca tulisan di atasnya. Saya membacanya berulang-ulang, mematrinya di dalam kepala hingga yakin saya sudah menghafalnya luar kepala. ​"Gimana?" desak Nath. ​Bagaimana apanya? Saya bahkan tidak menemukan petunjuk apa pun di dalam otak saya. ​Saya tahu ini terdengar memalukan mengingat betapa sukses dan mapannya hidup saya, namun kenyataannya, saya blank. Saya tidak tahu apa jawabannya. ​Meski begitu, harga diri melarang saya memperlihatkan kelemahan ini di hadapan mereka. Reputasi saya sudah terlanjur tinggi. Jangan sampai semuanya runtuh hanya karena saya tidak mampu memecahkan teka-teki dari si penculik. Benar-benar menjatuhkan gengsi. ​"Kita bergerak sekarang, atau tidak sama sekali," ucap saya seraya berdiri tegak. ​"Kamu sudah tahu kita harus ke mana?" Nath mengikuti gerakan saya, disusul Kaf yang masih terburu-buru mengunyah sisa dessert-nya. ​Saya memang belum tahu harus melangkah ke mana. Namun, saya pantang mengeluh. Jadi, saya memaksa tubuh ini untuk tetap tenang, memutar otak bagaimana caranya menunjukkan bahwa saya pantas berada di sini atas mandat dari Om Benri. ​"Ikuti saya," perintah saya dingin. Berharap aura otoritas saya tetap membuat mereka segan, terlepas dari apa pun yang telah mereka ketahui tentang masa lalu saya. ​"Tunggu, Grey. Biar aku yang menyetir. Lebih baik kamu istirahat saja," tawar Nath. ​Tanpa perlu mengangguk atau mengiyakan, saya langsung melemparkan kunci mobil ke arahnya. ​Dan malam itu, kami memulai perjalanan. Menembus kegelapan tanpa tujuan yang pasti. TO BE CONTINUED.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD