“Saya rasa kamu paham maksud saya,” diam beberapa detik, “jadi tolong tolak perjodohan ini.”
Kini giliran Atha yang memandang lurus ke wanita tersebut, ternyata bukan hanya dirinya yang tidak menginginkan perjodohan ini namun juga perempuan itu tidak menginginkannya.
“Maaf Bu, saya tidak bisa.” Tidak bisa bukan berarti ingin. Atha juga ingin perjodohan ini dibatalkan, tidak dilanjutkan dan kembali pada situasi semula di mana dia tidak dalam posisi yang sulit saat ini.
Atha tidak tahu apa yang dipikirkan oleh wanita tersebut karena tidak menunjukkan ekspresi apa pun setelah dirinya berkata seperti itu. Wanita yang kini berpenampilan sangat formal itu malah menatap ke arah pintu masuk Cafe ini.
“Apa kamu yakin? Bukankah perempuan semalam itu adalah pacarmu?”
Atha terkejut mendapatkan pertanyaan seperti itu, dia tidak menyangka berada di posisi seperti ini di mana dirinya tidak bisa memilih antara pacarnya atau keluarganya. Atha menghela napas sejenak karena ini adalah hal di luar kendalinya.
“Itu ... saya ....” Ah, Atha sungguh tidak tahu harus membalas seperti apa, padahal semalam saat dirinya berbincang dengan Vania mereka akan berjuang bersama. Tapi, kenapa muncul keraguan di dalam hatinya saat ini? Seharusnya tidak begini.
“Batalkan perjodohan ini dan hiduplah dengan tenang.” Ujar Queen melihat keraguan dalam diri lelaki muda di hadapannya ini.
Dalam beberapa menit ke depan suasana hening hadir di tengah-tengah mereka. Dari kedua pihak tersebut tidak ada yang ingin berbicara atau membuka perbincangan sebab sibuk dengan pikiran masing-masing.
Queen menghela napas pelan, dia baru saja akan berdiri dan meninggalkan tempat ini tetapi suara pemuda itu menghentikannya. Atha menatap ke arah Queen, entah keberanian dari mana dia mengatakan hal yang membuatnya mungkin akan dalam masalah nanti.
“Jika itu yang Anda minta saya akan berusaha, mohon bantuannya.”
Queen tersenyum tipis. Dia sudah menduga bahwa lelaki ini pasti juga akan melakukan perjodohan tidak masuk akal ini. Mungkin di awal dia sempat ragu tapi, Queen puasa karena dirinya berhasil membuat lelaki dihadapnya ini tetap pada tujuan awalnya. Tidak bermaksud menguping tapi, sedikit obrolan mereka semalam sempat terdengar olehnya dan ia senang akan hal itu.
“Jawaban yang memuaskan. Terima kasih.” Setelah menyelesaikan ucapannya Queen beranjak dari tempat duduknya dan menaruh selembar uang kertas berwarna merah lalu pergi begitu saja meninggalkan Atha yang masih terdiam di tempat.
Atha menghela nafasnya dan menunduk dengan dalam. Dia berusaha meyakinkan dalam dirinya bahwa apa yang dilakukan sudah benar. Dia akan memperjuangkan cintanya bersama Vania, mewujudkan impian yang di bangun olehnya dalam diam, dan membangun rumah tangga yang harmonis bersama Vania.
Pemuda yang memakai hoodie berwarna putih tersebut mengambil ponselnya yang bergetar di dalam saku celana jeans yang dia kenakan. Atha sedikit terkejut karena Vania menghubunginya, Atha juga hampir lupa kalau hari ini dia berjanji akan pulang ke rumahnya bersama Vania, yah untuk apa lagi kalau bukan membatalkan perjodohan ini.
“Udah selesai ketemuannya sayang?” Atha tersenyum mendengar suara Vania di seberang sana. Hatinya yang tadi sempat urakan sedikit tenang.
“Udah ini baru aja selesai.” Yah, Dia memberitahu soal Vania bahwa dirinya bertemu dengan Queen bahkan alamat Cafe saja dia beri tahu. Mereka sudah terbiasa seperti itu, memberi kabar pada pasangan ke mana dan dengan siapa mereka bertemu. Bukan keinginan sepihak melainkan dua pihak karena Atha tidak mau jika Vania khawatir pada keadaannya begitu pun sebaliknya. Inisiatif mereka sendiri lah untuk memberi kabar dan ini salah satu yang membuat hubungan mereka tetap bertahan meski sudah lama terjalin.
“Berarti aku gak ganggu, kan yah?” Atha terkekeh mendengar hal tersebut. Baginya Vania itu adalah sesuatu yang harus didahulukan oleh apa pun sesudah sang bunda.
“Kalau masih ngobrol terus kamu telepon juga bakal aku angkat kok, kamu wanita nomor satu di hati setelah bunda sayang.” Sekarang giliran suara kekehan dari seberang sana. Atha tahu bahwa wanita itu sedang menertawakan apa yang baru saja dikatakan olehnya.
“Itu berarti aku bukan nomor satu Tha.”
Atha meminum es cappucino yang tadi belum sempat ia minum lalu berkata, “tapi tetep aja kamu berarti buat aku.”
“Oh yah, terus gimana obrolan kalian?” tanya Vania dengan nada antusias.
“Ya gak gimana-gimana, intinya kita sama-sama menolak perjodohan itu.” Atha tersenyum senang karena rencananya dengan Vania akan berjalan mulus. Dia akan kembali seperti semula dan hidup tanpa kerumitan yang melanda, semoga saja kedua orang tuanya setuju dengan keputusan yang dia ambil. Menolak sekali saja tidak apa-apa kan.
“Sayang?” Panggil Atha karena tidak mendengar suara dari Vania di sana.
“Van?” Atha menjauhkan ponselnya dari telinga lalu melihat layar benda pipih tersebut. ‘Masih tersambung kok gak ada suara.’ Batin Atha lalu menempelkan kembali benda tersebut ke arah kupingnya.
“Vania, Vania, sayang?” Atha menaikkan sedikit nada suaranya beberapa oktaf setelah itu suara Vania terdengar kembali.
“Ya? Kenapa Tha?”
“Kamu denger aku ngomong, kan tadi?” tanya Atha.
“Ah, iya aku dengar kok ... Tha,” jawab Vania dengan suara yang melemah di akhir.
“Kenapa Van?”
“Kamu terima aja perjodohannya dan hubungan kita cukup sampai di sini.” Ujar Vania yang membuat Atha tersedak minumannya. Lelaki itu kembali mengerutkan keningnya.
“Maksud kamu apa sih?!” Bukannya tidak mengerti. Atha tahu arti dari ucapan itu hanya saja dia tidak habis pikir dengan apa yang Vania katakan barusan.
“Maksud aku kamu terima perjodohan ini dan kita mulai jalan masing-masing. Aku sama kamu akan menempuh jalan yang berbeda mulai saat ini. Hubungan kita sampai di sini dan mungkin ini yang terbaik buat aku sama kamu.”
“Di mana kamu?” Atha menegakkan badannya, dia berdiri dari duduknya dan meninggalkan uang pembayaran di meja Cafe, persis seperti yang dilakukan oleh Queen tadi. Nada suaranya juga terdengar serius, Atha berjalan keluar Cafe. Dia tidak suka Vania berkata seperti itu terlebih saat mereka tidak berbicara secara langsung.
“Kamu gak harus tahu aku di mana.” Perkataan Vania meningkatkan rasa kesalnya. Atha tidak tahu apa yang dimaksud oleh Vania tapi, gadis itu sangat aneh hari ini, bicaranya tidak seperti biasa.
“Aku tanya sama kamu sekali lagi. Di mana kamu Vania?!”
“Atha kamu nanya seribu kali pun jawabannya tetap sama. Dan ayuk pisah!”
Atha tertawa mendengar itu. Enteng sekali gadis ini berbicara pisah, Apa dia tidak tahu seberapa sakitnya mendengar hal tersebut?
“Jangan ngaco Van.” Kekeh Atha.
“Siapa yang ngaco? Aku beneran. Kamu sama aku udah gak bisa bersama, lagi pula mungkin ini yang terbaik.”
“Terbaik? Kamu lupa yang kamu bilang semalam? Kamu lupa kalau kita mau bilang ke bunda sama ayah tentang perjodohan ini? Kamu yang bilang kita harus berjuang demi hubungan ini, mana? Kemana yang kamu bilang itu Van!”
“Maaf Tha,”
“Aku gak butuh maaf kamu, aku butuh di mana posisi kamu sekarang dan kita obrolin ini secara langsung.”
Atha mencengkeram kemudi mobilnya. Dia ingin cepat-cepat bertemu dengan Vania, apapun alasannya ia tidak mau membicarakan ini lewat sambungan telepon.
“Sekali lagi Maaf Tha.” Tut. Tut. Panggilan pun berakhir dengan kata maaf yang Atha sendiri tidak butuh, benar-benar tidak butuh.
“Kenapa?” tanya Atha entah pada siapa. Bahkan Atha tidak tahu apa alasan gadis itu tiba-tiba memutuskan hubungan ini. Kenapa? Kenapa? Dan kenapa? Itu saja yang dipikirkan oleh Atha.
Selain bingung Atha juga merasakan sakit di hatinya, seperti ada ribuan jarum yang menancap di sana. Sakit yang tak berdarah ini mengganggu kinerja otaknya, hubungan yang sudah terjalin lebih dari tiga tahun kini kandas begitu saja akibat perjodohan yang aneh ini. Atha menghembuskan nafasnya kasar, sudah berulang kali menghubungi nomor Vania tapi, tidak bisa terhubung sedikit pun. Jadi, apa ini keraguan yang sempat melandanya tadi?