4. Keputusan

1179 Words
Radit menatap kearah Atha dengan malas sambil mengemut permen batang di mulutnya. Sudah dari tadi kakak tercintanya itu mondar mandir di depannya seperti setrika yang sedang di pakai. Lama-lama dia pusing sendiri liatnya, belum lagi dengan kegiatan yang akhir-akhir ini di lakukan sang kakak. "Lo mau ngomong apa sih, A? mondar mandir terus." Gemasnya akan tindakan yang tidak berfaedah itu. "Gue harus apa? Gue harus gimana? Vania susah banget di hubungin dari dua Minggu yang lalu, rumahnya kosong, dia juga gak masuk kuliah, kenapa dia seniat ini buat ngehilang dari gue!!" Atha tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan Vania. Gadis itu berucap hal menyakitkan lalu pergi bak di telan bumi tanpa menjelaskan alasannya. Lalu bagaimana caranya Atha memperjuangankan hubungannya jika Vania saja tidak ada. Radit menganggukkan kepalanya. "Terus lo mau apa?" katanya balik bertanya. dua Minggu yang lalu kakanya begitu sibuk. Radit kira pria yang lebih tua tiga tahun diatasnya sibuk dengan tugas serta kegiatan kuliah, ternyata bukan. Atha sibuk mencari keberadaan Vania, hingga apapun yang di kerjakan Atha kehilangan fokusnya. "Gue gak tahu, gue bingung." Radit menepuk tempat duduk di sampingnya. "Duduk dulu di sini, lo gak capek apa kek gitu mulu gue aja yang liatnya capek." Atha langsung menuruti ucapan Radit yang menyuruhnya duduk tanpa protes sedikit pun. Saat ini dia sedang galau di tinggal pacarnya dan Radit tahu itu. "Gue mau cerita ke lo," ujar Atha dan Radit membalas dengan anggukan, "Gue sama bu Queen udah ketemu, dua Minggu yang lalu sebelum Vania memtuskan kontak." "Serius! Terus lo ngomong apa aja?" tanya Radit dengan antusias. Dia sangat merestui sang kakak dengan dosen cantik itu. Atha menunduk lesu dan berkata, "Kita sepakat buat sama-sama gak setuju, gue gak tahu alasan pasti kenapa dia nolak perjodohan ini. Tapi, dia tahu alasan gue nolak, dia tahu kenapa gue gak terima perjodohan ini." "Kak Vania, bener?" tebak Radit tepat sasaran. "... iya," Atha menatap sang adik. "Andai kita seumuran dan telahir kembar, gue mau tuker posisi biar lo aja yang di jodohin." Lanjutnya lagi. "Iya, gue juga berharap gitu," sahut Radit dengan cepat. Siapa yang tidak mau di jodohkan dengan Queen wanita mandiri dengan segala kelebihan yang ada dalam dirinya. "Tapi sayang aja gak bisa, andai-andai itu katanya gak baik. Jadi keputusan lo apa?" Lanjut Radit yang berpikir normal bahwa semua itu tidak bisa terjadi. Dia hanya bisa menganggumi sosok Queen dari jauh. Atha menggeleng. Dia tidak tahu harus melakukan apa, Vania hilang begitu saja, dia tidak bisa memperjuangkan hubungannya dan jika diam sama saja dengan menelan ludah sendiri. Atha tidak tahu apa yang nanti akan di pikirkan oleh Dosen triplek itu. "Sholat dulu sana minta petunjuk sama Allah, kalo emang ini yang terbaik lo gak bisa apa-apa, A." *** Lain dengan Atha, kini wanita dengan pakaian santai itu memandang datar kedua orang tuanya. Queen duduk dengan tegak sejak beberapa menit yang lalu setelah orang tuanya datang ke apartemen tempatnya tinggal. "Kamu bilang Atha menolak perjodohan ini?" tanya sang Mama setelah anaknya memberi tahu bahwa pihak pria menolak perjodohan ini. "Ya." Jawab Queen. Singkat, padat, dan jelas sesuai kebiasaannya. "Kamu yakin? Kamu lagi gak berbohong 'kan Queen?" Kini giliran sang Papa yang bertanya. "Saya yakin dan kalian bisa tanya Atha jika kurang yakin." Queen yang kaku dan tidak murah senyum berlaku pada kedua orang tuanya. Untung saja kedua paruh baya itu tidak merasa keberatan. Mereka menghela napas dan saling tatap sebentar. "Lalu apa keputusan, kamu sayang?" Sang Mama berharap bahwa anaknya juga tidak ikutan menolak dengan begitu dia berdiskusi kembali dengan temannya agar perjodohan ini tetap lanjut. "Menolak perjodohan ini sama dengan keputusan Atha dua minggu yang lalu." *** Atha menatap pintu apartemen seseorang dengan serius, helaan napas keluar darinya. Entah bagaimana reaksi si pemilik apartemen ini, Atha pikirkan belakangan, dia sudah meminta petunjuk, berdoa pada sang kuasa apa yang terbaik untuknya dan sekarang dia berada di sini. Meski sedikit ragu Atha harus berusaha setidaknya dia harus menjaga hati sang bunda, jika yang dilakukannya tidak tepat pasti Allah meberi jalan untuknya keluar. Tapi, jika dilakukannya benar maka Atha yakin semua akan di permudah meski kenyataannya sulit mengingat bagaimana sifat wanita itu selama ini kesemua orang. Baru saja Atha akan mengetuk pintu apartemen si pemilik sudah menampilkan batang hidungnya. Dengan tersenyum canggung Atha menyapa, "Assalamu'alaikum Bu Queen, selamat pagi!" "Wa'alaikumsalam, ada apa?" Balas Queen dengan tatapan datar serta aura dingginnya. "Saya mau jemput Ibu lah, emangnya mau apa lagi?" Atha menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia agak tidak nyaman dengan Queen yang hanya diam saja seperti ini dengan pandangan bertanya. "Kita harus pendekatan dulu 'kan sebelum melanjutkan ketahapa yang serius?" Atha terkejut mendapatkan tatapan tajam dari wanita di hadapannya. Tatapan yang biasanya di tunjukan jika ada mahasiswa yang melanggar tau tidak mengerjakan tugas yang di berikan, bahkan mungkin lebih tajam dari biasanya. Tangan Atha sedikit bergetar, reaksi tubuhnya sungguh tidak bisa di percaya. Atha mundur selangkah, dia harus mencari akal agar Queen mau berangkat dengannya, malu jika dia sudah di sini dan tidak berhasil dengan tujuannya. "Pendekatan?" Atha mengangguk kaku. "Kita 'kan di jodohkan nah seblum lanjut ke tahap berikutnya lebih baik pendekatan dulu bukan?" Tanpa membalas ucapan Atha Queen berlalu begitu saja, meninggalkan pemuda yang kini tengah mengela napasnya dan menyemangati dirinya. Atha hanya perlu melakukan apa yang telah menjadi keputusannya. Menerima hal yang bertolak belakang dengan keinginan hatinya, bagi Atha tidak sulit untuk melakukan peran ini toh banyak orang di luar sana melakukan hal yang tidak mereka sukai namun semua berjalan baik meski awalnya tidak lancar. "Jadi gimana? Ibu mau tetep bareng saya 'kan?" tanya Atha setelah menyusul langkah tegas wanita di sampingnya. "Dalam mimpimu!" Yah, itu penolakan yang sangat kasar, Atha akui itu. Selain harus punya otak yang cerdas untuk pandai membuka topik obrolan pada wanita sedingin Queen ia juga harus siapkan mental dan hati untuk mendengar setiap ucapan pedas wanita itu. "Aih Ibu tau aja kalo saya suka mimpiin Ibu akhir-akhir." Celetuk Atha yang malah membuat langkah Queen semakin cepat. Atha meringis dalam hati, sudah menggunakan hak tinggi sekarang wanita itu berjalan sangat cepat. Atha berpikir apa tumit wanita tersebut tidak merasakan sakit atau membengkak. "Bu jalannya cepet banget sih saya–" Atha tidak melanjutkan ucapannya saat pintu lift langsung tertutup dengan sempurna. Ia mengerutuki dirinya karena sempat berhenti tadi. "Ais gagalkan!" Gerutunya dan berjalan kearah tangga darurat untuk bisa sampai dengan cepat ke lantai bawah sebelum keduluan oleh Queen. Atha terus saja berlari menuruni tangga darurat, menghiraukan napasnya yang tersengal-sengal serta keringat yang bercucuran dan dengkul yang sedikit nyeris. Jujur saja Atha lebih menyukai olah raga jalan di bandingkan dengan olahraga lari. Saat sampai di lantai bawah di melorotkan matanya saat melihat mobil Queen sudah berjalan keluar gedung apartemen. Atha tidak membiarkan kakinya beristirahat barang sebentar, ia mengejar mobil Queen sambil sesekali berteriak. "BU TUNGGU BU!! QUEEN!!" Ah sudah lah Atha lelah. Menjatuhkan diri ke aspal jalanan dengan kaki yang di luruskan jauh lebih baik daripada tenaga semakin terkuras habis dan tak menghasilkan apa-apa. "Cepet amat tuh Dosen triplek!" Sungutnya dan menatap kearah mobil belakang Queen yang semakin hilang dari padangan matanya. Atha menarik napas dalam-dalam dan membuangnya kasar. Hari pertama dia gagal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD