Chapter 4 : Ajakan dari Rio

1023 Words
Seketika Rio terdiam, menatapku tajam, dan ekspresinya langsung menunjukkan kalau ia menerima ajakanku. Syukurlah. "Aku akan melayanimu, Putri." Ucapnya dengan mendatangiku, membungkuk padaku dan mengecup punggung tanganku. Oh, itu sangat romantis. Rasanya aku mulai suka padanya. Kurasa Bella maupun Diana sedang memandang iri padaku. Terserahlah. Mau mereka iri atau apa. Yang penting makhluk dongeng ini sudah membuktikan kebenaran tentang keberadaan Negeri Dongeng pada mereka berdua. . . . . . Kini kami berdua -Rio dan diriku- duduk manis di bawah pohon, tepatnya di belakang rumah Lavender. bukan aku yang mengajaknya kesini, tapi dia sendiri yang lebih suka disini. Entahlah, mungkin ia makhluk dongeng pecinta alam. Rio menatapku dari pohon yang lumayan jauh, ya karena aku dengannya duduk di bawah pohon yang berbeda. Ia lalu menarik nafas panjang dan berkata. "Udaranya sangat segar ya?" Kedua matanya beralih ke dedaunan. "Apakah kau benar-benar dari dunia dongeng?" Tiba-tiba kedua matanya membulat, bola matanya kembali tertuju padaku, dengan wajah datar ia menjawab. "Ya." Cukup singkat bagiku. "Ja-jadi itu benar!?" Ketika aku menjawabnya dengan nada kaget, bibirnya tersenyum membuat wajahnya terlalu tampan untuk di nikmati. "Namamu?" tanyanya padaku membuat diriku tersenyum malu. "Biola Margareth, kau dapat memanggil ku Biola." "Aku lebih suka Putri." "Put-putri? Aku bukan seorang Putri." "Apakah kau penasaran dengan keberadaan duniaku?" Mendengarnya, aku langsung menganggukkan kepala. "Kau tahu, banyak orang-orang sepertimu yang mati disana. Kenapa? Karena mereka belum mengetahui semua tentang duniaku. Dunia yang kutempati sangat berbeda dari duniamu. Jadi, aku sarankan padamu, jangan pernah sekalipun melangkahkan kakimu kesana." DEG! Dia melarangku, tidak, Biola kau harus tetap berpegang teguh pada pendirianmu, kau harus tetap kesana. Ta-tapi, penjelasannya cukup membuatku merinding. "Satu hal lagi, makhluk-makhluk yang pernah muncul di mimpi burukmu akan hadir disana." . . . . "Aku tidak takut akan hal itu! Apapun yang akan terjadi, aku akan tetap kesana." Mendengar hal itu, Rio terdiam. "Apapun?" tanyanya dengan senyuman. "Ya!" "Keberanianmu tidak akan menjamin keselamatanmu, Putri." "Memangnya seberapa buruk dunia dongeng itu?" "Sangat buruk. Lebih buruk dari apa yang kaupikirkan, Putri." Rio memetik daun, lalu daun itu ia hanguskan tanpa adanya api. Aku bergidik melihatnya. "Daun itu hangus! Kau menghanguskannya sampai menjadi debu, dan aku sama sekali tidak melihat ada api di tanganmu." Rio terlihat senang memandangku kebingungan. "Aku dapat menghanguskan apapun." "MENGHANGUSKAN APAPUN!?" Dia langsung mengangguk. "Aku juga bisa menghanguskanmu, Putri." "Kau membuatku-" "Takut? Apakah kau takut padaku?" Ia memotong perkataanku."kau tidak perlu takut padaku, aku tidak akan menyakitimu. Baiklah, apakah ada pertanyaan lagi?" "Satu lagi, jika orang - orang sepertiku meninggal saat memasuki dunia itu, lalu mengapa Lavender masih baik-baik saja, bukankah dia juga manusia biasa sepertiku?" "jika tentang Lave, aku tidak akan menjawabnya." "He-hey! Ke-kenapa begitu?" "Biarkan Lave yang menjelaskannya sendiri," Lalu Rio bangkit dan berdiri memandangku, kedua tangannya membetulkan jas hitamnya. "Sepertinya obrolan kita ku akhiri sekarang, Paman Lee memerintahkanku untuk menjaga Lave, jika dia melihatku disini, aku akan kena hukuman. Sampai nanti!" Dan dengan enaknya dia berlari meninggalkanku. Seharusnya dia masuk bersamaku saja. Ternyata makhluk dongeng itu menjengkelkan ya. . . . . "Ah, akhirnya kau kembali, apa yang kalian obrolankan?" Ketika diriku masuk ke dalam kamar dan duduk di sofa, Lavender mendekatiku dan duduk di sebelahku, sementara Diana dan Bella saling berbisik di atas kasur, mata mereka memandangku, seolah-olah aku ini orang asing. "Tidak jauh-jauh tentang dunia itu." jawabku dengan nada malas yang luar biasa. Lavender meng'oh'kan jawabanku dan kembali bertanya. "Apakah Rio membahas tentangku?" "Iya, dan bukan Rio yang memulainya, tapi Aku. Lavender, ada yang ingin ku tanyakan padamu." Lavender tersenyum mendengarnya. "Silahkan, Biola." "Menurut Rio, manusia biasa sepertiku akan mati jika masuk kedalam dunia dongeng, lalu kenapa kau bisa kembali tanpa luka apapun?" "Hihihihi" Tiba-tiba Lavender terkikik geli mendengar pertanyaanku, aku memandang tidak suka padanya. "Baik. Akan kujawab. Jadi, mengapa aku bisa kembali dimana semua manusia sepertiku mati karena memasuki dunia itu, cukup simple Biola, kau harus cerdas! Berpikirlah! Walau kau di kepung oleh ratusan Makhluk menyeramkan, dengan kecerdasanmu, mereka akan kalah. Aku tidak punya kekuatan seperti mereka, aku hanya punya otak untuk melawan mereka. Dan kenapa Rio dapat patuh pada Ayahku? Padahal dia punya kekuatan, dia bisa saja menghanguskan Ayahku kapan saja, itu karena Ayahku cerdas. Ayahku dapat memperbudak mereka tanpa takut kepada kekuatannya. Keren kan?" Setelah itu, Lavender mengusap pipiku. "Biola. Kurasa kecerdasanmu lebih dariku." "Lebih tinggi? Lebih besar?" sanggahku dengan hati senang. "Maksudku, lebih rendah. Hihihihi." Oh, bagus. Dia merendahkanku didepan Bella dan Diana. "Heh pengganggu! Kapan kita kesana?! Kurasa kau terlalu menunda-nunda waktu. Kami bosan berlama-lama dikamar kumuhmu ini!" Mendengarnya, Lavender langsung menggigit bibirnya. "Diam. Kau tidak perlu ikut campur urusan kami. Lagipula kau sudah mengatakan kami pengidap gangguan jiwa! Jadi, bermain lah bersama orang-orang yang menurutmu normal, Tomboy!" jawaban Lavender sukses membuat Bella kesal. "Kami disini hanya ingin memastikan, apakah ocehan kalian tentang dunia bodoh itu benar atau bohong!" "Jadi kau masih belum percaya dengan duniaku?" Tiba-tiba Rio dengan kecepatan kilat langsung berdiri di hadapan Bella dan Diana. Mereka berdua menelan air ludah, terkejut. Kelihatannya Lavender senang akan kehadiran Rio, sementara diriku kaget sekaligus kagum dengan kemunculannya yang sangat cepat disini. "Lavender, antarkan Gadis-gadis ini menuju duniaku, sekarang." "Oh, tentu saja, akan ku buat mereka diam seribu kata, Rio." Kini diriku bersama kedua sahabatku di bawa oleh Rio dan Lavender ke sebuah Ruangan bawah tanah, Sungguh, tempat ini terlalu kotor, sarang laba-laba banyak sekali, barang-barang berdebu dan kotor berjejer berantakan disini. Mungkin ini semacam gudang. "Lavender, apakah ini tempatnya?" tanyaku pada Lavender yang sedang menyilangkan tangannya sambil berjalan angkuh. Lalu wanita itu menoleh padaku. "Oh, iya. Ini tempatnya. Maaf jika terlalu bersih. Hihihi." Bersih apanya, dasar. Lavender terkikik melihatku sementara Rio memimpin di depan dengan gagah. Diana dan Bella saling berpegangan tangan, oh, aku hampir lupa, kalau mereka berdua itu takut akan kegelapan, pengecut sekali. "Lave, buka pintunya," perintah Rio pada Lavender. Mendengarnya, Lavender tersenyum dan berjalan menuju pintu berdaun dua yang kotor tepat di hadapan kami. "Kalian bertiga, bersiaplah untuk mengikuti permainan ini." "Pe-permainan?" Lavender tidak jadi membuka pintu mendengar Bella bersuara. Lalu ia mulai berbicara lantang. "Games Kematian. Di mana kalian harus memainkan permainan ini sampai berhasil! Jika gagal atau menyerah, nyawa akan menjadi taruhannya. Sebenarnya, Game ini bertujuan untuk mempererat tali persahabatan antara kalian dan juga membersihkan diri."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD