Chapter 5 : Hancurnya Diana

1057 Words
"Membersihkan diri? Apa ini? Dan kenapa nyawa menjadi taruhan disini? Kalian pikir nyawa manusia itu-" "Bella, kau tidak perlu berbicara. baiklah. Dengar, untuk memasuki dunia dongeng kalian harus benar-benar suci, jika ada kotoran sedikit saja dihati kalian, maka kalian gagal. Dan sebelum memainkan permainan menakutkan ini, kalian harus mengalahkan sisi gelap dari diri kalian sendiri. Sampai disini bisa dimengerti? Girls?" Penjelasan yang di katakan Lavender cukup membuat Bella dan Diana terkejut setengah mati. Sebelum melakukan permainan, aku harus bertarung melawan sisi gelap diriku? Hey, ini aneh. "Bagaimana kita melakukannya? Maksudku, bagaimana kita bertarung mengalahkan sisi gelap diri kita sendiri, bukankah kita tidak akan pernah bisa menemukannya?" Mendengar pertanyaanku, Rio menghembuskan nafas lelah dan Lavender tersenyum tipis. "Kau harus memakan pil yang akan diberi Rio." jawaban Lavender membuatku, Bella dan Diana menoleh pada Rio. Merasa di tatap oleh kami, Rio salah tingkah. "Baiklah, cukup untuk penjelasannya, kita masuk sekarang." ucap Lavender dengan membuka perlahan pintu besar tersebut. Krekek! Braak! Ketika pintu berdaun dua itu di buka oleh Lavender, semua barang-barang bekas tiba-tiba bergetar. Televisi, kursi, bahkan atap juga ikut bergetar seperti terjadinya gempa. Kedua mataku akhirnya dapat melihat cahaya terang yang berada di dalam pintu yang telah di buka oleh Lavender. Oh, itu sangat menyilaukan. "Kalian. Masuklah." Mendengar perintah dari Rio, aku bersama yang lainnya masuk dengan langkah pelan. Tes. Tes. Tes. Suara air menggema di ruangan ini, dan setelah kulihat dengan jelas, ruangan ini sangat basah, pergelangan kakiku tenggelam. Dinding ruangan ini seluruhnya hijau berlumut, juga terdapat batu-batu yang diatasnya terdapat katak-katak yang sedang meloncat kesana-kemari. JRASHH!! Secara mengejutkan, muncullah sebuah air terjun tepat jauh di depan kami, ya benar, ruangan ini menyerupai sebuah air terjun di dalam hutan. "Rio, bolehkah aku beri penjelasan pada mereka sekarang?" Rio langsung menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan dari Lavender. Dengan senyuman manis, Lavender berjalan dan berhenti di depanku dan yang lainnya. Merapikan rambut pendeknya dan mulai berkata. "Biola, Diana, dan kau Bella, aku tahu, kalian sedang bingung kenapa kalian bertiga di bawa kemari.  Oke. Ini adalah tempat di mana kalian akan mengalahkan sisi gelap diri sendiri. Tepat di atas batu itu." Lavender menunjuk ke sebuah batu besar yang berada di depan air terjun dengan telunjukknya. "Nah, di batu itulah satu persatu dari kalian akan duduk di atas batu jelek itu dan kalian akan menemukan sisi gelap dari diri kalian sendiri. Siap, Girls?" Lavender dengan indahnya memerintahkan Rio menggunakan bahasa mata untuk memberikan pil-pil kecil kepadaku, Diana dan Bella. Setelah masing-masing dari kami mendapatkan satu Pil kecil berbentuk bulat dan berwarna hitam ini, kami di bisiki oleh Rio. "Makanlah, dan bersiaplah." Kami bertiga langsung mengunyah pil ini. Uhh, rasanya sangat pahit. Dan dengan langkah anggun Lavender mendekati Diana dan berbisik padanya. "Kau yang pertama." Diana langsung terkejut. "A-aku?" Lavender menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada Diana. Diana dengan langkah yang begitu pelan, menghampiri batu besar itu dan duduk manis di sana dengan rasa khawatir sekaligus takut. "Kalahkan dia, Diana!" teriak Bella dengan semangat. . . . . . Diana Kamelia P.O.V Kenapa aku yang pertama dari mereka, aku belum siap. Aku takut. Entah kenapa, mataku penasaran dengan air terjun itu, dan benar, ini sangat menakutkan. Aku melihat sebuah bayangan manusia dari dalam air terjun sedang berjalan menuju kemari. Dan tidak lama kemudian, seorang wanita berambut cokelat panjang sedang berjalan mendekatiku, dia menundukkan kepalanya. Aku mulai ketakutan sekarang. Aku menoleh kebelakang, hanya ingin melihat teman-temanku, tapi hanya cahaya putih yang kulihat, di mana mereka, kenapa mereka meninggalkanku? Ini tidak adil. Kedua mataku terus mencari keberadaan teman-temanku, dan hasilnya nihil, hanya cahaya putih saja. TAP! Sebuah tangan menyentuh pundakku, dan setelah kupandang ke depan, wajah wanita itu tepat didepan wajahku, dan wajahnya menyerupaiku. "Kau hanyalah sampah!" DUAG! "AH!" Pipiku di pukul oleh wanita itu dan aku terjatuh dari batu tersebut. Pakaianku basah terkena air. Dan dengan mengejutkan wanita yang mempunyai wajah sepertiku duduk manis sambil tersenyum lebar melihatku. "Diana! Kau hanyalah sampah!" Dia berteriak padaku, aku mencoba membenarkan posisiku untuk kembali bangkit. "Hentikan permainan itu!  Kau tidak berguna!  Kau hanya akan menjadi beban bagi Biola!" DEG! Perasaan apa ini, perkataannya menusuk hatiku. Ini sungguh keterlaluan. "Siapa kamu! Kenapa kamu mempunyai wajah sepertiku! Dan kenapa kamu menghinaku!" Mendengar pertanyaanku, wanita itu langsung meloncat dari batu dan berdiri tepat di hadapanku, dan menyeringai. "Aku adalah dirimu yang sebenarnya! Aku adalah kau! Kenapa aku menghinamu! Itu karena kau memang lemah! Kau sangat lemah! Kau tidak berguna! Kau hanyalah beban untuk mereka! Kau hanyalah babi yang ikut dengan sekumpulan singa!" DEG!! Tanpa sadar, air mataku menetes. Air mataku mengalir dan jatuh di lantai berair ini sehingga menimbulkan riak -riak kecil. Suasana hening. Aku hancur sekarang dan dia menyeringai senang. "Ka-kamu benar. Aku hanyalah beban untuk mereka." Mendengar suara ku di sertai tangisan dia menyeringai. "Iya! Akuilah! Kalau kita hanyalah beban untuk mereka! Akuilah bahwa kau memang SAMPAH!" ucapnya tepat didekat telingaku. "HAHAHAHAHAH! MENYERAHLAH! MENYERAHLAH! DIANA!" Dia tertawa sinting sementara diriku menangis. Aku memang lemah bukan. Aku tidak pantas berada disana. Aku tidak pantas. Semua yang telah kulakukan untuk mereka memang tidak berguna sama sekali. Aku terlihat sangat lemah, apakah aku layak berada di dekat Biola dan Bella. Aku tidak berguna. Aku lemah. "Kalahkan dia, Diana!" Tiba-tiba aku mengingat teriakan dari Bella ketika aku akan memulai hal ini. Iya aku ingat. Dia menyemangatiku. Dia mendorongku untuk terus maju. Dia tetap menerima diriku. Dia tidak memusingkan kelemahanku. Terima kasih. Terima kasih Bella. Akhirnya, senyuman terlukis di wajahku sekarang. Melihat diriku tiba-tiba menyunggingkan senyum, sisi gelapku memandang tidak suka padaku. "Apa yang membuatmu tersenyum! Apakah kau sudah menjadi gila hanya karena dirimu terlalu lemah? Kalau benar seperti itu, aku juga ikut bahagia. Kau memang pantas menjadi-" "Cukup. Hentikan!" ucapku dengan memotong perkataannya, dia langsung marah. "Apa kau sudah berani melawanku? Jika iya? Mari kita bertarung disini!" Tidak. Aku tidak mau bertarung melawannya. Aku tidak ingin menyakiti diriku sendiri, aku tahu dia adalah diriku sendiri. Dia adalah wujud dari rasa tidak percaya diriku. Iya, aku ingat sekarang. Sampai saat ini aku selalu merasa diriku lemah dari yang lainnya. Aku merasa bahwa hidupku seperti sampah. Dan aku selalu menangis jika memikirkannya. Aku mengerti sekarang. Sebenarnya dia tertekan. Dia membenci diriku karena aku tidak pernah percaya pada diriku kalau aku ini bisa lebih dari Biola, Bella, dan Lavender, bahkan Rio sekalipun. Aku akan membuatnya bahagia sekarang. Aku janji. GREB! "Ap-apa yang kau lakukan!?" Dia terkejut karena diriku langsung memeluknya secara mendadak. Aku menangis di pundaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD