Chapter 41 : Ibu Mencintaimu

1213 Words
Biola Margareth P.O.V Aku tersenyum mendengar kisah yang diceritakan oleh Ayahku itu. Aku sungguh tidak menyangka, kalau Ibuku -Elsa Margareth- dan Ayahku -Keyno Margareth- mempunyai kisah hidup yang unik. Tentu saja, banyak yang dapat kusimpulkan dalam cerita itu. Pertama, ternyata dulu Ibuku itu merupakan putri dari keluarga bangsawan, beliau juga memiliki sifat yang angkuh. Ya, sangat disayangkan. Namun sebaliknya, Ayahku justru terdengar memiliki kehidupan yang sederhana, beliau tinggal di tempat yang tertutup, tetapi Ayah selalu saja tertawa walau hidupnya sangat memilukan. Dan betapa imutnya ketika Ayah dan Ibu bertengkar hanya karena nama keluarga. Aku juga terkejut ketika tahu kalau Ibu memiliki sisi gelap yang sangat ganas, bahkan lebih ganas dari punyaku. Untungnya, Ayah dapat menghapus sisi gelap Ibu dengan usahanya, yaitu, menyemangatinya. Sungguh mengesankan. Aku menatap bola mata Ayah, senyuman mengembang dibibirku sempurna. "Ayah, kau masih belum menceritakan kenapa kalian membuangku, aku ingin mengetahui hal itu? Bolehkah?" Ayah terkejut awalnya mendengar pertanyaanku itu sekaligus tuntutan padanya. Dia terkekeh pelan lalu menjawab, "Hahahah, tentu saja aku akan menceritakannya." Aku sangat bahagia mendengar jawabannya. "Ceritakanlah!" "Dengarkan ini, Biola," Keyno Margareth P.O.V Malam ini adalah waktu yang sangat menegangkan, tentu saja, istriku, Elsa Margareth sedang melahirkan. Diriku berada disampingnya, mencoba untuk menemaninya ketika proses persalinan itu berlangsung. Seorang Dokter wanita yang mengurus persalinan ini tampak serius dalam menjalankan tugasnya, dia berkeringat ketika kedua matanya memandang sesosok bayi mungil muncul dari dalam tubuh Elsa. "Ah, akhirnya dia keluar!~" Dokter itu langsung mengeluarkan tubuh bayi kecil itu secara pelan-pelan dari tubuh Elsa, setelah dirasa berhasil, ia gendong anakku dengan penuh kasih sayang. "Kalian sudah menjadi seorang Ayah dan Ibu saat ini, bersyukurlah. Kebetulan, bayi kecil ini seorang perempuan, dia tampak cantik sama persis seperti Ibunya. Ahahah, aku sangat senang melihat kalian bahagia. Selamat atas kelahiran ini, Elsa, Keyno~" Ucapan selamat dari Sang Dokter membuatku bahagia sekaligus lega, aku sangat ingin menyentuh Putriku, dia kelihatan lucu. Suara tangisnya menggelora diruangan ini ketika tubuh mungilnya kugendong. "Ke-keyno," Elsa memanggilku pelan, aku menoleh padanya yang tengah terbaring lemas di atas kasur. "Aku ingin kau memberikan nama untuk Putri kita." DEG! Seumur hidup, aku sangat payah dalam memberikan nama untuk apapun, bahkan, kucingku saja yang kini sedang menggeliat didekat kakiku mempunyai nama yang aneh, dan tentu saja itu hasil dari otak udangku. Dan Istriku malah memaksaku untuk membuatkan nama yang indah pada Putri kecilku ini, sekilas, aku bingung, apa ya nama yang bagus untuk seorang wanita. "Elsa, bagaimana kalau kita beri nama Biola?" "Eh?" Elsa terlihat kaget dengan nama yang kusebutkan tadi, dia kelihatan kurang setuju dengan apa yang kukatakan. "Mengapa harus Biola? Bukankah itu nama alat musik?" Aku tersenyum sembari memandang wajah bayi kecil itu yang kini tengah menendang-nendang tanganku sembari menangis. "Sebetulnya, Biola adalah nama yang indah, kau sangat pintar dalam memilih sebuah nama, Keyno~" ujar Sang Dokter menimpali perbincangan ringan ini. "Tapi, mengapa harus Biola?" Elsa masih belum mengerti. Dia terus memperhatikan wajah bayi yang digendongku. Aku tahu, Elsa ingin memeluk bayi ini, segera saja, aku melangkah mendekatinya. Menidurkan bayi ini disamping Elsa dan berkata, "Karena Biola adalah alat musik yang sangat kusukai sejak kecil, tapi tidak pernah kesampaian untuk membelinya? Hahahah!" Elsa terkejut mendengar alasan aneh yang kuucapkan, perlahan-lahan, dia tersenyum hangat. "Kalau begitu, aku setuju." Akhirnya, semenjak dua tahun menjadi sepasang suami-istri, aku dapat mendapatkan hadiah yang sangat indah. Seorang bayi perempuan yang cantik. Cup~ Kukecup kening Elsa pelan. Sang Dokter tersenyum tipis melihatnya. Sementara Elsa memerah malu. "Kau menjadi seorang Ibu dan aku seorang Ayah, aku tidak menyangka secepat ini kita memiliki seorang Putri, kau tahu, itu membuatku bahagia, Elsa," Mendengar apa yang kukatakan, Elsa meneteskan air mata, ia memeluk tubuh Biola dengan linangan kasih sayang. "Terima kasih, Biola, kau telah masuk ke dalam keluarga kecil ini, semoga kau dapat merasakan kebahagiaan, Biola Margareth," * * * BUAR! Sebuah ledakan tiba-tiba terdengar dari kejauhan. Kami semua kaget dengan hal itu, Elsa semakin erat memeluk Biola. Diriku cepat-cepat berganti pakaian memakai baju penyihir "Elsa?" panggilku. "Kumohon, jangan!" Elsa menjerit gemetar melihatku bersiap-siap akan pergi untuk mencari tahu kenapa ada ledakan besar tersebut. "Tidak, Elsa, ini sudah kewajibanku sebagai seorang Penyihir. Tolong, jaga Putri kita, lindungilah dia, aku tidak akan lama. Aku pasti kembali, tetaplah disini," ucapku secara tegas. Sang Dokter panik memandang hal itu, tiba-tiba dia berjalan cepat mendekatiku. "Ka-kau akan kemana? Kenapa kau tega meninggalkan Istrimu yang sedang tidak berdaya bersama seorang bayi kecil? Apakah kau akan membiarkan musuh membunuh mereka?! Seharusnya kau lindungi mereka!" Sang Dokter menghalangiku. "Maaf, aku harus menyelamatkan teman-temanku, itu kewajibanku, lagipula, Istriku adalah wanita kuat, aku percaya, dia mampu melindungi Putriku, aku tidak akan meremehkan kemampuan Istri kesayanganku." DEG! "TIDAK AKAN KUBIARKAN KAU PERGI!" Sang Dokter mendorongku paksa. Elsa memekik. "Tidak-tidak perlu! Aku dapat menjaga diri, aku akan melindungi putriku. Keyno, semoga berhasil! Aku selalu mendukung apapun keputusanmu! Berjuanglah, Keyno! Dan jangan lupakan hal ini, kau berjanji, kau pasti kembali 'kan?!" Mendengar suara lembut Elsa, aku menundukkan kepala. Tanpa sadar, aku telah membiarkan air mata keluar dari kelopaknya. Aku menghapusnya secara kasar dan berjalan cepat, mendekati Elsa dan putriku. "Aku akan menanamkan sihir ini, aku tidak tahu aku akan pulang atau tidak, tapi, dengan sihir ini, kau dan aku, masih bisa pulang dan bertemu dengan Biola Margareth. Jadi, ulurkan tanganmu, Elsa," Aku mengaktifkan sihir kecil dari tanganku, kemudian Elsa mengulurkan tangannya. Kuberikan sedikit sihirku pada Elsa, lalu perlahan-lahan, kudekatkan telapak tanganku dan Elsa pada perut Biola. Cahaya menerangi tanganku, sangat menyilaukan. WUUUUSSH! Sihir itu akhirnya telah masuk pada tubuh Biola, aku sangat lega. Setidaknya, aku masih bisa bertemu dengan Biola, walau dalam keadaan mati sekalipun. Aku menyayangi kalian. Kebulatkan tekad lalu pergi dari rumahku, meninggalkan Elsa dan Biola disana. Ayah pergi sebentar, Ayah pasti pulang, Biola! * * * Elsa Margareth P.O.V "TIDAK MUNGKIN! ITU TIDAK MUNGKIN!" Aku berteriak seperti wanita gila ketika mendapatkan kabar kalau Suamiku - Keyno Margareth- tewas dalam peperangan. "Elsa, maafkan aku, tapi, berita ini benar, aku ikut berduka cita," ucapan dari Charlotte tidak mampu menghapus kesedihanku saat ini. Ruang keluarga yang biasanya dilengkapi oleh suara tawa Keyno kini berubah menjadi sunyi. Bodoh! Sudah kubilang 'kan, kau selalu saja tidak menepati janjimu! Keyno! IDIOT! PAYAH! d***u! KENAPA KAU TEGA MENINGGALKANKU! Aku ... Aku merindukanmu! Dimana gelak tawamu hari ini? Kapan kau akan pulang, Keyno? Viniator selalu menunggu kedatanganmu di depan pintu! Biola selalu menangis sepanjang waktu, mungkin dia ingin berjumpa denganmu! Dan aku! Aku merindukan tingkah konyolmu! Keyno Margareth! * * * "Apa kau yakin? Tapi, bukankah-" "Tidak, kau boleh merawatnya, bayi ini, seorang perempuan, Biola Margareth, itu namanya. Kuharap, kalian dapat merawatnya dengan baik. Kutitipkan salamku pada Biola ya, oh ya, satu lagi, biarkan dia bebas, aku tahu, Putriku mencintai kebebasan. Kalau begitu, sampai nanti, Jonathan Jenario, Maria Ormey." Aku terpaksa menitipkan putriku satu-satunya pada seorang manusia, aku juga nekad keluar dari dimensiku, menuju sebuah dunia yang sangat berbeda dengan Pandora. Aku tidak peduli akan hal itu. Biola, semoga nanti kau tumbuh menjadi seorang gadis cerdas sepertiku! Kedua matamu, sangat mirip seperti Ayahmu. Sementara wajahmu, persis seperti diriku. Kalau warna rambutmu? Aku berani bersumpah, itu adalah lambang keberanian yang akan kau miliki. Biola, Ibu pergi dulu ya, Jaga diri baik-baik disana. Ibu akan selalu mengingatmu! Oh ya, kapan-kapan, Ibu akan menyiapkan sarapan untukmu, menyiapkan pakaian sekolah, mengantarkanmu ke taman, dan tertawa bersama! Tapi ... Kapan-kapan ya Biola! Sampai jumpa, sayang. Ibu mencintaimu ... * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD