Chapter 14 : Terima Kasih untuk Hari Ini

1291 Words
Lavender P.O.V Aku berjalan tertatih-tatih dikastil ini, tujuanku hanya satu yaitu mencari mereka. Walau sudah beberapa kali terjatuh aku kembali bangkit, apapun itu, aku akan tetap mencarinya. Dimana kalian! Kucepatkan langkahku, ruangan-ruangan gelap kulewati, lukisan-lukisan seram sesekali melirik kearahku, dan juga cahaya matahari sudah mulai redup, tentu saja, hari semakin gelap, dan kini aku terjebak didalam kegelapan. "BIOLA! DIANA! DIMANA KALIAN!" Jeritanku menggema dikastil ini, tetap saja, sampai berapa kalipun mereka tidak akan mendengarnya, menjengkelkan. "AHA! KETEMU!" DEG! . . . . . . . . . Aku mengenal suara itu, tentu saja, itu adalah Nori. Aku menoleh padanya, dia sedang berdiri dengan wajah menyeringai padaku, tepatnya berdiri diatas tangga. "Aku tahu keberadaan mereka." Aku terkejut mendengarnya, akhirnya dia mengetahuinya. "Katakan! Ada di-" "Aku akan memberitahumu, asalkan kau berani membayar!" Membayar? "Apa maksudmu? Membayar?" Dia mengangguk pelan. "Bayarannya sangat mudah, aku ingin membunuh temanmu yang bernama Biola." DEG! "KAU GILA! MANA MUNGKIN--" "Jadi kau menolak?" Tidak, itu tidak mungkin, aku tidak akan pernah menyerahkan Biola pada Nori, aku merasa kalau dia sedang menaruh dendam pada temanku itu, aku harus mencegahnya. Tiba-tiba seluruh pintu ruangan tercabut dari engselnya dan meluncur kencang kearahku, gawat. BRAK! "AH!" Tubuhku dibanting oleh pintu itu sampai terjatuh, bahkan aku merasa keningku terluka. Tentu saja, aku tahu persis siapa yang melakukannya. "Kenapa kau menyerangku! BODOH!" Nori menyeringai. "Aku hanya ingin menyiksamu, Pendek!" Pendek? "DIAM! JANGAN MENGHINAKU BODOH!" BRAK! Sebuah pintu kembali mengenai wajahku sampai berdarah, itu sangat menyakitkan. Aku mencoba bangkit namun entah kenapa tubuhku tidak dapat digerakkan. Kenapa dengan tubuhku? "Ha ha ha!" Itu suara Zack, dia sedang berdiri sambil menyenderkan tubuhnya didinding, jadi begitu rupanya, mereka sedang mempermainkanku. "KALIAN SEMUA b******k!" BUAG!! Wajahku dipukul sangat keras oleh seseorang, berdasarkan penampilannya, aku tahu, itu adalah Melinda. Dia menatap nanar padaku, daguku dicengkram paksa untuk memandang mukanya. "Asal kau tahu ya! b******n! Kami telah dipermalukan oleh hewan-hewanmu itu! Mereka dengan sombongnya telah mengalahkan kami, dan apa kau tahu, mereka mengalahkan kami menggunakan sisi terangnya! AKU TELAH DIPERMALUKAN OLEH MEREKA!" TAR! TAR! TAR! TAR! Aku tahu ini sangat menyakitkan, tapi aku harus bertahan, tamparan Melinda tidak akan mampu membuat orang sepertiku menyerah. "Asal kalian tahu ya, mereka--" TAR! "SIAPA YANG MENGIZINKANMU BERBICARA! HAH!" . . . . . . . . . . "Dasar Tikus kotor!" ucap Nori dengan melemparkan gelas pada mukaku. PYAR! Tes. Tes. Tes. Darah menetes dari wajahku, tapi entah kenapa aku malah tersenyum. Aku tersenyum karena aku bangga terhadap mereka. Mereka telah mengalahkan makhluk-makhluk ini tanpa terluka. Aku sangat bangga. "Sebaiknya kita habisi saja dia." Ucap Zack dengan mendekatiku, mendengarnya Melinda dan Nori tersenyum. . . . . . . . . . . Biola, aku akan tetap disisimu... . . . . . . . . . . Biola Margareth P.O.V Aku dan Diana terlonjak kaget ketika suara jeritan kencang terdengar dari kejauhan, dan aku merasa kalau itu adalah suara Lavender. Tidak, itu tidak mungkin. "Biola...apakah Lavender baik-baik saja?" "Aku percaya, dia pasti masih hidup!" Mendengarnya Diana tersenyum lembut, walau kecemasan tetap ada padaku. Sebenarnya, aku dan Diana sedang duduk menjaga Bella yang sudah menjadi batu, kami berada diruangan gelap yang hanya diterangi oleh cahaya lilin. "Rupanya kalian disini ya?" Olivia tiba-tiba muncul tepat ditengah-tengah kami dengan ekspresi cantiknya. "Bolehkah aku meminjam Diana sebentar, Biola?" Diana terkejut mendengarnya, suasana semakin dingin, keringatku mengucur deras, aku memandang Diana. "Kau dapat meminjamnya." Mendengar jawabanku, Olivia tersenyum sementara Diana terkejut. "Aku menolak! Aku tidak akan meninggalkan temanku sendirian!" Olivia langsung berjongkok menghadap Diana, senyuman terukir diwajahnya. "Aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan, Diana?" . . . . . . . . . Sekarang, hanya ada aku dan Bella diruangan gelap ini, tanpa ada suara tawa, obrolan, atau kebahagiaan. Aku memperhatikan Bella, tanpa disadari air mata mengalir dan menetes. Jangan menangis! Kedua tanganku langsung menghapus air mataku, aku melamun sebentar dan secara mendadak aku mengingat sesuatu. Tongkatku! Aku mengeluarkan tongkat itu dari saku bajuku dan memegangnya gemetar, dan anehnya, air mata kembali memberontak untuk keluar. Sepertinya aku sedang kesepian. "Bella, Apakah kau ingat, kau selalu melarangku memakan makanan berminyak, kau selalu memarahiku ketika pulang terlambat, dirimu selalu membenci tentang dunia dongeng, aku juga terkejut ketika melihatmu menangis, itu adalah pertama kalinya dalam hidupku melihatmu hancur." Aku mengatakan hal itu dengan menangis, kedua mataku fokus menatap wajah Bella, berharap dia membalasnya. "Aku...merindukanmu...Bella." . . . . . . . . . . Bella, bentaklah diriku... Aku merindukan suara kasarmu.. Aku merindukan semuanya tentang dirimu... . . . . . . . . . . Dengan tangan gemetar, kuputar tongkat itu sekali diudara dan berharap sesuatu. Kembalikan Bella, Diana dan Lavender padaku! Kumohon... Ketika kuperhatikan, tidak ada yang berubah, Bella tetap menjadi batu dan aku masih sendirian. . . . . . . . . . "Itu sudah menjadi kebiasaanmu untuk menghilangkan benda itu, lagi dan lagi! Dan sekarang sudah kesebelas kalinya kau menghilangkan benda kotak yang membosankan itu!" Aku mengingat suara Bella memarahiku, aku menangis. Sungguh, aku merindukannya. . . . . . . . . "Uhm, Biola, apakah kamu sudah menonton Cinderella Kemarin malam?" Aku juga mengingat pertanyaan Diana, dia selalu bertanya hal itu padaku. Apakah hari esok, aku masih mendengar pertanyaannya lagi? . . . . . . . . "AAAH! JAD-JADI KAU ITU ANAK DARI JONATHAN JENARIO, AKTOR KESUKAANKU!" Aku mengingat Kekagetan Lavender, aku merindukan suaranya sekarang, kumohon, Lavender, datanglah. . . . . . . . . . . . . . . . "Biola! Apakah kau mendengarku! Biola!" Itu suara Bella. . . . . . . . . "Hey! Jangan menangis! Ayolah bangkit! Jangan seperti kedua temanmu itu Biola!" . . . . . . . . . . . . "Biola, aku pergi sebentar ya, salamkan pada ayahmu, mungkin aku tidak akan kembali.. sekarang diriku disini bersama Bella dan Lavender, lanjutkan perjalananmu kedunia itu, Biola." Jelas sekali, itu Diana. Aku mencoba menoleh kesemua arah, tapi tidak ada siapapun, itu hanya suara tanpa wujud. Dimana mereka. "BELLA! LAVENDER! DIANA! DIMANA KALIAN!" . . . . . . . . . . . . . . . . . "Kami dihatimu." . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . "Sekarang, akan kuantarkan kau menuju duniaku." Tiba-tiba Rio berada disebelahku, kemunculannya membuatku kaget. Apakah dia selalu muncul secara tiba-tiba, sungguh menjengkelkan. "Maaf, tapi aku harus menjaga Bella disini." "Dia sudah meninggal." DEG! . . . . . . . . . . . . . . . "DIA BELUM MENINGGAL! DIA HANYA SEDANG MENJADI BATU! JIKA KAU SEKALI LAGI MENGATAKANNYA, AKAN KUHAJAR KAU!" "Ketiga temanmu telah tiada." DEG! . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Aku terdiam seketika, aku menatap kedua bola mata Rio dengan serius, aneh, aku melihat bayangan Bella, Diana dan Lavender sedang tersenyum padaku didalam matanya. "Ma-matamu!" ucapku terkejut, dan bayangan itu langsung menghilang. "Ada apa? Ada apa dengan mataku?" Rio keheranan dengan tingkahku. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Teman-teman, akan kubuat kalian hidup kembali. Aku berjanji! . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . "Kami dihatimu." . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Bella Diana Lavender Aku akan terus mengingat kalian... Terima kasih... Terima kasih banyak... Untuk hari ini... . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD