Chapter 17 : Kekuatan Para Sahabatku

1239 Words
"Mana ucapan terima kasihmu? Bukankah kami telah menolongmu dari danau Alawiyah? Biola yang menemukanmu!" Lavender kembali bersuara. "Aku tidak butuh bantuanmu!" DEG! . . . . . . . . . . . Kami semua terkejut mendengar jawaban Tasya yang terdengar sangat ketus. Lavender semakin geram dengan sikapnya, Bella menahan kekesalannya didada, sementara Diana memandang Tasya dengan rasa iba, dia sama sekali tidak marah dengan Wanita asing ini, mungkin menurutnya, Tasya pasti punya alasan dibalik sifat menyebalkannya itu. Sama seperti Diana, Sania juga menatap Tasya seperti kasihan, kalau Ferli sepertinya dia agak tidak peduli, ia malah memandang kearahku dengan wajah galaknya. "Sekarang antarkan aku pulang!" kata Tasya dengan muka kesal, mendengarnya, kami semua lagi-lagi terkejut. "Maaf, tapi bisakah kau istirahat sebentar disini bersama kami? Akan kuambil buah-buahan untukmu." Sepertinya apa yang dikatakan Sania berhasil membuat Tasya lupa akan permintaannya tadi. . . . . . . . . . "Oke. Sekarang tunjukkan batu itu padaku! Hey! Dengarkan!" Aku, Lavender, Diana dan Bella langsung menatap Ferli, lalu kami mengeluarkan dan menunjukkan batu hijau itu padanya. "Telan batu itu!" DEG! "Me-menelannya!?" Lavender tidak percaya dengan Ferli, dia mengira kalau hal itu tidak mungkin bisa dilakukan, melihat kalau batu itu kotor dan sedikit menjijikan, mungkin saja warna hijau itu karena terkena kotoran ikan atau apapun itu. "Kenapa! Apa kau jijik? Aku benci Wanita manja sepertimu!" jawaban Ferli membuat Lavender semakin kesal. "Jika kemanjaanmu itu dikembangkan didalam dirimu, maka kau tidak pantas menjadi seorang Penyihir sejati, karena penyihir adalah pekerjaan dimana kau akan melawan kejahatan yang menjijikan! Pulanglah kalau begitu Lavender!" Perlahan-lahan amarah Lavender semakin memuncak, dia langsung mencengkram tubuh Ferli dan diangkatnya kehadapan wajahnya. "AKU TIDAK PEDULI DENGAN PENYIHIR, TAPI JIKA KAU SEKALI LAGI MENGATAKAN KALAU AKU MANJA! AKAN KUBUNUH KAU! KUCING NAKAL!" BUAG! Ferli dengan kecepatan kilatnya langsung menendang wajah Lavender sampai terjatuh direrumputan, Tasya dan Sania terkejut melihat kegaduhan itu. "Jadi kau menantangku?" Lavender kembali bangkit dengan muka berdebu, Diana langsung membantunya berdiri. Bella hanya memasang wajah datar, seakan-akan dia tidak mempedulikan hal itu. "Lavender, jangan melakukannya lagi." ucapanku membuat Lavender semakin kesal. "JADI KAU LEBIH MEMBELA KUCING INI DARIPADA SAHABATMU SENDIRI!?" teriakan Lavender semakin menjadi-jadi. "Ada apa ini?" Tasya menghampiri kami dengan wajah ketusnya. "Katakan, ada masalah apa?" Tidak ada seorangpun yang menjawab pertanyaan Tasya, kami semua terkejut dengan Ferli yang langsung memasukkan batu hijau tersebut kemulut Lavender secara paksa. "AAAAAAAH!" Lavender menjerit histeris, dia langsung menelannya, kedua matanya perlahan-lahan menjadi hijau terang, dan secara perlahan, dia kembali seperti semula. Ferli tersenyum melihatnya, sementara diriku kaget, apa yang membuat kedua mata Lavender menjadi hijau. Mengetahui apa yang kupikirkan, Ferli menjelaskannya. "Menurut data yang kuperoleh, Lavender telah menjadi penyihir roh bintang." "Roh bintang? Apa maksudmu?" tanyaku dengan wajah tidak mengerti, Tasya menjawabnya dengan cepat. "Penyihir Roh bintang yaitu seorang penyihir yang dapat mengeluarkan seluruh makhluk Zodiak, untuk lebih jelasnya, bagaimana jika dia menunjukkan hal itu pada kita?" Lavender terkejut mendengar perkataan Tasya. "AKU TIDAK MAU!" BLETAK! Bella langsung menjitak kepala Lavender, dengan wajah galaknya dia berkata. "Lakukan, sebelum kau kusebut sebagai Wanita manja." Merasa tidak terima, Lavender langsung menutup kedua matanya, kedua tangannya dilebarkan, kami semua memandangnya dengan penasaran. "KELUARLAH! LIBRA!" TRANG! Tiba-tiba tepat dihadapan Lavender muncul seorang Pria berambut hijau dengan jas merah, dia memiliki ketampanan yang tiada tara, dengan suara coolnya, dia bersuara. "Katakan, siapa yang ingin kutimbang dosanya, dengan senang hati, akan kuhukum kalian." DEG! Sungguh tidak bisa dipercaya, Lavender menitikkan air mata dan dia langsung memeluk pria itu. "Akulah pemilikmu, kau harus mematuhi apa yang kuperintahkan! Libra." Dengan senyuman, Libra menjawab. "Baik, Nona." "Aku ingin kau kembali." ucapan Lavender membuat sosok Libra menghilang dengan cepat, ia jadi terkejut karena memeluk udara. "Ce-cepat sekali?" "Nah, begitulah. Jadi dia dapat memanggil semua makhluk Zodiak dengan teriakannya, jadi berhati-hatilah, bisa dikatakan kalau Lavender kini mempunyai Para Pelindung yang berbahaya." Penjelasan Tasya membuatku semakin iri pada Lavender, aku juga ingin mempunyai kekuatan seperti itu. Namun, ketika aku akan menelan batu itu, Bella langsung mendahuluiku. Kedua matanya menjadi hijau dan kembali seperti semula. "Bella kini menjadi seorang Penyihir pengendali hewan. Bella, coba kau panggil kawanan burung?" Mendengar perintah dari Ferli, Bella langsung menarik nafas dan berteriak. "DATANGLAH, PARA BURUNG!" Tiba-tiba aku mendengar suara-suara kepakan sayap dari berbagai arah. Barat, selatan, timur dan utara kini dipenuhi oleh kawanan burung yang mencoba mendatangi tempat ini. Sungguh keren sekali, ketika sekujur tubuh Bella dikelilingi oleh ribuan burung, dengan wajah sombongnya, dia berkata. "Mereka adalah Para Pelindungku yang sangat berbahaya. Siapapun yang akan menjadi lawanku, bersiaplah." Lalu, Lavender dengan wajah tidak sukanya, dia berteriak. "KELUARLAH! AQUARIUS!" Secara mengejutkan, seorang Wanita berambut biru dengan wajah galaknya muncul dihadapan Lavender. Dia berkata dengan wajah dinginnya. "Katakan, siapa yang akan kuhabisi dengan Tsunami, Bocah!" Lavender semakin bahagia mendengar hal itu. "Tidak ada, kau boleh kembali." TAR! Aku tidak percaya, Lavender ditampar oleh Aquarius. "Perlakukan kami layaknya Manusia! Kami tidak suka kau memperbudak Kami dengan seenaknya!" Lavender terkejut, lalu sosok Aquarius menghilang. "Itu benar, tidak semua dari mereka yang suka diperintah, maka dari itu, panggil mereka hanya pada saat kau sedang dalam keadaan bahaya. Catat itu, Lavender!" Lavender menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan dari Tasya. "Memangnya, kau mempunyai kekuatan apa?" Tasya tersenyum mendengar pertanyaan dari Lavender. "Kekuatanku sama sepertimu." DEG! "EH! KENAPA ADA PENYIHIR ROH BINTANG SELAIN DIRIKU!?" Lavender terkejut setengah mati, dia masih belum paham dengan hal itu. "Tentu saja, bukan hanya kau yang memiliki pengawal, akupun sama, bahkan bukan hanya kita berdua, masih banyak lagi penyihir roh bintang." "Baiklah, sekarang, suruh mereka pergi Bella!" bentak Ferli pada Bella. "Pulanglah." Lalu, burung-burung itu satu-persatu terbang dan pergi dengan indah. "Baiklah, sekarang tunjukkan pada kami, Diana." Diana mengangguk, dengan sedikit paksaan, ditelannya batu itu. Kini kedua mata Diana mengeluarkan cahaya merah, tidak hijau seperti Bella dan Lavender. "Oke. Menurut pengamatanku, Dia kini menjadi seorang Penyihir kegelapan." "JAUHI DIA!" Tasya langsung berteriak, kami semua menuruti apa yang diteriakannya, Lavender, Bella, Ferli dan diriku menjauhi Diana. "Kenapa kalian menjauhiku?" Diana tidak mengerti akan hal itu. Lalu, rerumputan yang berada disekelilingnya berubah menjadi hitam, pohon-pohon sakura juga tiba-tiba kehilangan semua daunnya, dan mati. Bahkan langit menjadi sangat gelap, suara petir yang menggelegar membuatku terkesiap. "Kenapa kita harus menjauhinya?" Tasya menoleh padaku dan menjawab. "Jika kau tetap berada didekatnya, kau akan mati." "Kenapa seperti itu?" "Karena dia adalah penyihir kegelapan, apapun yang ada didekatnya akan mati. Hewan, tumbuhan dan yang lainnya akan menghitam dan mati, jangan pernah kau buat dia menangis, karena itu akan mengundangmu kedalam malapetaka besar." Bella dan diriku yang mendengarnya tidak percaya. "Diana, sekarang kau harus menahan kekuatanmu, cepat!" Perintah Ferli hanya dibalas dengan wajah polos Diana. "Bagaimana caranya? Aku tidak tahu?" DEG! "Tidak, kau tetap disitu." Sania dengan anggunnya berjalan mendekati Diana. Ini aneh, kenapa Sania tidak mati. "Kenapa dia tidak-" "Karena dia adalah penyihir cahaya, hanya Sanialah yang dapat mengontrol tindakan Diana." jawaban Ferli membuatku paham. . . . . . . . . . . . Sania dengan lembutnya menempelkan telunjuknya pada dahi Diana, dan cahaya menerangi tempat ini dengan dahsyat. Aku, Tasya, Bella, Lavender dan Ferli menutupi penglihatan kami. Merasa sudah berakhir, akhirnya diriku membuka kedua mata pelan-pelan. Ternyata Diana pingsan dipelukan Sania. "Kenapa dengan Diana, katakan!" Bella memaksa Ferli untuk cepat menjawabnya. "Dia masih belum mampu mengendalikan kekuatannya, jadi dia akan merasa letih setelah memakainya." . . . . . . . Akhirnya, langit kembali berwarna biru cerah, namun, kenapa perasaanku tidak enak. "Sekarang, tunjukkan pada kami kekuatanmu, Biola." DEG! . . . . . . . . . . . . . . . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD