Chapter 43 : Kapak Zelontinta dan Ledakan Mercedes

1359 Words
Biola Margareth P.O.V Sungguh mengerikan ketika tubuh Olivia meleleh seperti lilin yang habis daya fungsinya. Rasanya, mendengar suara jeritan wanita Finiggan itu membuatku ketakutan. Olivia sangat kesakitan dan berakhir dengan ketiadaannya menjadi cairan kental berwarna hitam pekat. Aromanya sungguh memuakkan, menusuk dan sangat menjijikan. Pandanganku beralih pada Sang Dewi, dia tetap bergeming disana, kewibawaannya dalam menjalankan kewajibannya membuatku kagum. Wanita yang berasal dari langit itu mempunyai postur tubuh layaknya perempuan biasa. Yang membedakannya hanyalah sayap kristalnya yang mengkilat-kilat dan gemerlap. "Aku tidak pernah menduga, kau mengutusku secepat ini, Biola Margareth," ucap Sang Dewi tanpa membalikkan badannya. Suaranya yang begitu lembut menyentuh perasaanku. Perasaan yang kini tengah bingung harus menjawab apa? Merasa tidak ada respon dariku, Sang Dewi melanjutkan, "Kalau begitu, aku kembali, terima kasih telah memanggilku, Biola. Jika ada masalah, kau dapat memanggilku kembali, kalau begitu, aku pamit," Sang Dewi mengepakkan sayapnya, sedikit menoleh padaku, tersenyum tipis lalu melayang pergi. Atau bisa kusebut, menghilang tanpa jejak. Aku kembali termenung, meratapi tubuhku yang terluka cukup parah, rasa nyeri masih menggerogoti kulitku, padahal ini masih pertarungan pertama. Bagaimana jika aku tidak mampu lagi untuk bertarung? Apakah aku akan mati konyol disini? Mati diserang oleh bayangan yang menyerupai mereka, teman-temanku? Itu sangat memalukan jika benar-benar terjadi! "Biola?" Aku kembali mendengar suara Ayahku -Keyno Margareth- dari dalam kepalaku. Nadanya terdengar begitu pilu, apakah dia sedang bersedih? "Ya? Ada apa Ayah?" jawabku mencoba tetap tenang, menyembunyikan ketakutanku dalam melanjutkan pertarungan ini. "Jangan bertarung," DEG! Apa katanya? Ayah memerintahkanku untuk menghentikan ini? Tidak! "Apa maksudmu! APAKAH AYAH MEMERINTAHKANKU UNTUK MENJADI SEORANG PENGECUT?" Aku sangat kesal sekarang, oke, mungkin benar, aku sedikit lemah sekarang, tenagaku sudah terkuras habis. Tapi, apakah dengan menyerah dalam pertarungan, itu dapat menyelesaikan masalah? Tentu saja tidak mungkin! Lagipula, kakiku masih kuat untuk berjalan ataupun berlari. Tanganku masih mampu untuk memukul sesuatu, dan kesadaranku tetap normal. "Tidak, bukan itu. Ayah tidak memerintahkanmu untuk menjadi seorang pencundang, namun, adakalanya, kau harus mengerti dengan keadaan, Biola." Lembut sekali, suara Ayah seolah-olah mengusap detak jantungku secara perlahan, membuatku terenyuh mendengarnya. "Aku masih ingin melanjutkan ini! Jangan menghalangiku, Ayah!" "Ayah mengetahui lawan yang akan kauhadapi setelah ini, Biola. Dan Ayah rasa, kau tidak akan mampu mengalahkannya, dia sangat kuat." Siapa? Siapa yang Ayah maksud? "Aku tidak peduli! Aku harus menyelesaikan ini, Ayah!" Aku masih tetap memegang prinsipku untuk tetap kuat. Namun, Ayahku malah berkata lain. Dia khawatir dengan keadaanku. "Lawan yang akan kauhadapi kali ini merupakan seorang pria dengan kekuatan monster, Biola. Dia dapat membunuhmu dalam sekali serangan, itulah yang aku cemaskan. Aku tidak ingin melihat Putriku mati di tempat ini. Ayah sangat mencemaskanmu, Biola," Aku melamun sesaat, benar juga apa yang Ayah katakan. Tapi, aku tidak ingin menyerah pada seseorang yang bahkan aku tidak tahu siapa dia sebenarnya? "GRRRRRHH!" Apa itu? Aku mendengar seseorang menggeram, sangat jauh dari kegelapan. Aura dingin, menusuk, membuat kulitku terasa seperti di dalam sebuah es. Ini benar-benar sangat dingin. "Aku merasakan seseorang sedang mengawasiku dari kejauhan," gumamku dengan menoleh-noleh kesegala arah, memastikan saja, dimana dia berada. Sebenarnya, siapa lawan yang akan kuhadapi? "TUNJUKKAN KEBERADAANMU!" Aku memancingnya, sebetulnya aku sangat takut. Tapi, mau bagaimana lagi? Hanya itu yang bisa kulakukan. Mana mungkin aku harus mencari keberadaannya? Lagipula, keadaanku sedang tidak stabil sekarang. "Grrrhhhhhh!" Geraman itu semakin dekat. Seperti suara binatang? Tapi, bukankah teman-temanku tidak ada yang membawa hewan sebelum ini? Lalu, kenapa aku merasa musuhku kali ini adalah seekor hewan buas? "GRAAAAAAAHHHH!" DEG! Seseorang berlari seperti seekor singa dari kejauhan, wujudnya berkelap-kelip ketika berada di dalam kegelapan. Lorong ini semakin mengerikan ketika dia sudah sangat terlihat jelas olehku. Bukankah itu? Zombila!? * * * Zombila berlari menggunakan kedua tangan dan kakinya secara bersamaan layaknya seekor singa predator yang tengah menangkap mangsanya. Tubuhnya yang t*******g d**a kini berwarna biru terang dan mengkilau seperti kristal. Namun, dibalik keindahannya, wajah Zombila terlihat berbeda dengan apa yang aku ingat. Kini, ekspresinya sangat mengerikan jika dijelaskan secara gamblang. Dua taring muncul digiginya, sorotan matanya sangat tajam, dan kecepatannya dalam bergerak sungguh diluar kendali. Zombila kemari, dia sudah dekat! Apa yang harus kulakukan? Tanah yang menjadi jejaknya rusak karena cengkramannya yang sangat kuat ketika berlari. Zombila menakutkan! "Grrrrraaaaaaah!" BRUAGH! Dia membantai habis lantai yang sebelumnya menjadi pijakanku. Aku berhasil menghindar dari serangan ringannya. Walau menurutku pribadi, itu tidak layak disebut ringan. "Ggrrrrrr!!" Aku bersembunyi di balik tembok penghalang. Aku harus ekstra hati-hati sekarang. Aku tidak percaya kalau Zombila memiliki sihir ganas seperti itu? Dia sangat kuat! "HAHAHAHAHAHA! LUCU SEKALI! LUCU SEKALI MELIHAT KAU KETAKUTAN, BIOLA MARGARETHA! HAHAHAHAH!" Sial, suara Colin kembali muncul di tempat ini, dia terdengar senang melihatku menderita. Dasar Kakek-kakek iblis! Mendengar suaranya saja aku muak. "OH BIOLA! TUNJUKKAN KEMAMPUAN LAGI? AKU MEMBUTUHKAN HIBURAN SEKARANG HEY? CEPAT KALAHKAN MONSTER KECIL ITU BIOLA, SEBELUM KAU YANG DICABIK-CABIK OLEHNYA! HAHAHAHAHAHAH!" Suara tawanya, aku menahan napas mendengarnya. Zombila mengendap-endap seperti pemangsa yang mulai mencari makanannya. Sementara aku? Aku terlihat seperti seorang gadis lemah yang tidak mengerti apa itu pertarungan. Cara satu-satunya hanya satu, yaitu bersembunyi. Bagaimana kalau aku meminta bantuan lagi kepada Dewa-Dewi? Itu akan meringankanku! "Tidak Biola! Jangan lagi!" Ayah kembali muncul didalam kepalaku. Nada bicaranya seperti menasehatiku. Aku bingung, mengernyitkan alis heran kemudian bertanya, "Kenapa tidak boleh?" bisikku pada suara Ayah. "Kau tidak dapat memanggil mereka lebih dari satu kali dalam sehari, Biola. Kau harus menunggu besok." Apa katanya? Menunggu besok? Yang benar saja! "Kenapa bisa seperti itu? Aku kira, aku dapat melakukan itu sesuka hati?" bisikku disertai pertanyaan pada Ayahku. Mengembuskan napas lelah, menunggu respon dari Ayah. "Aku juga tidak mengerti, tapi yang pasti, kau tidak akan bisa memanggil mereka sekarang, Biola." mendengar jawabannya, aku terkejut setengah mati. Kalau begitu, apa yang harus kulakukan sekarang?! Tidak ada sihir, tubuh terluka, tanpa teman, aku pasti kalah sekarang! "Aktifkan kekuatan itu, Biola," Kekuatan apa yang dia maksud? Bukankah, aku hanya memiliki sihir ini? Sihir panggilan Dewa-Dewi saja? Lalu? Kenapa Ayah memerintahkanku seolah-olah aku ini punya sihir lain? "Apa yang Ayah maksud?" tanyaku sepelan mungkin agar tidak diketahui oleh Zombila yang kini sedang mengendus-ngenduskan hidungnya, mencariku menggunakan indra penciuman. Semoga saja ciumannya tidak tajam. "Biola, kau memilikinya, kau punya sihir itu. Sihir yang aku maksud adalah Kanochi, kekuatan dari keluargaku yang dulu. Kau masih termasuk kedalam keturunan Kanochi karena kau merupakan Putriku." Terdengar cukup masuk akal, itu memang benar, aku masih termasuk keturunan Kanochi, tapi yang menjadi masalahnya sekarang adalah, bagaimana cara mengaktifkannya? Dan juga menggunakannya? "Cukup mudah, Biola. Cukup mudah mengaktifkan Kanochimu, hanya membutuhkan kosentrasi yang tinggi dan keteraturan dalam bernapas. Kanochi akan aktif dengan sendirinya jika kau mau mencobanya, Biola." * * * Oke! Aku mengerti sekarang! "Terima kasih Ayah! Akan aku coba sekarang!" Perlahan-lahan, kututup kelopak mataku, mencoba fokus dalam satu titik kegelapan yang berada didalam mataku. Mengatur pernapasanku sebaik mungkin, menghilangkan rasa takutku sementara, duduk anggun di lantai hangat ini. Sentuhan-sentuhan menggerayangi seluruh kulitku, ini membuatku takut. Rasanya seperti digelitiki oleh ribuan tangan manusia. Tapi reaksi yang kukeluarkan bukan tertawa melainkan menangis pilu. Tetesan-tetesan air mata membasahi kedua pipiku dan juga bajuku yang sudah kotor itu. Rambut merahku berantakan dan sangat lusuh. "Kau sudah berhasil Biola! Sekarang, katakan, 'Keluarlah, Kanochi!' Ayo!" Aku mengambil napas panjang dan berkata sepelan mungkin, "Keluarlah, Kanochi!" Telingaku berubah bentuk menjadi seperti kucing, aku merasakan bulu-bulu merayap kesekeliling tubuhku. Tumbuhlah, ribuan bulu putih lembut di tangan, kaki, dan telingaku, hanya wajah yang menjadi pengecualian. Gigi-gigiku bertaring tajam, lidahku berdesis, dan perasaanku sekarang hanyalah satu, yaitu membunuh. Membunuh Zombila! "GRRUUUAAAAAAHHH!" Aku menjerit kesenangan. Ini seperti bukan diriku! "GRRRAAAAAHHHH!" Zombila membalasnya. Naluriku ingin segera keluar dari tempat persembunyianku ini, tapi, perasaanku menolak akan hal itu. Apa daya, tubuhku bergerak mengikuti kemauan naluri, pada akhirnya, aku berjalan tegak menghampiri sosok Zombila yang terlihat marah padaku. "Grrrr!!" Zombila menggeram kesal. "HRRRRR!!! RUAAHH!" Kedua tanganku mencakar wajahnya hingga berdarah. Zombila mundut seketika, menjauhiku. Dia kaget sepertinya terkena serangan tiba-tiba dariku. Tubuhku seperti dikendalikan sesuatu! "Itu wajar Biola! Biarkan Kanochi liar, dia tidak suka dikekang." Suara Ayah mengagetkanku, kedua mataku menatap amarah Zombila yang sedang memuncak. Kenapa itu bisa terjadi? "Karena Kanochi adalah perwujudan dari sejuta kemarahan yang kau simpan dalam hati, Biola." Eh?! * * * "WAH WAH WAH, TERNYATA KAU HEBAT JUGA YA BIOLA? AKU KENAL SIHIR ITU? BUKANKAH ITU ADALAH KANOCHI? HM? HAHAHAHAH! KALAU BEGITU AKHIRNYA, AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANMU MENANG! BIOLA MARGARETHA! KARENA KAU SEMAKIN KUAT! AKU KELUARKAN SATU LAGI UNTUKMU! HAHAHAHAHAHAH!" Satu lawan lagi!? "GRUUUAAAAAAHHHH!!!" Aku kembali mengaum, menyuarakan kekesalanku pada Colin. BUAR! BUAR! Tiba-tiba, Zombila mengeluarkan bola-bola hitam dari mulutnya dan melemparkannya padaku, untung saja, aku gesit dalam menghindar sekarang. Srrreeekkkkkkk! Sreeeekkkkkkkk! Sreeeekkkkkkk! "Hihihihihi! Hahahahahah! Hihihihi!" Munculah seorang wanita berambut pink dengan menyeret kapak raksasa ditangannya. Dia tidak lain adalah Cacha. Wajahnya sangat mengerikan, Cacha terlihat seperti seorang pembunuh berantai yang lapar ingin memuaskan napsunya. "Mengaumlah, Biola, setelah itu, kau akan kuhancurkan menggunakan KAPAK ZELONTINTAKU! HIHIHIHI! HAHAHAHAH! DEG! Zombila dan Cacha langsung berlari bersamaan mendekatiku. Cacha mengayunkan kapak raksasanya padaku, sementara Zombila mempersiapkan bola-bola hitamnya dengan cepat. "GRRRUUUUUOOOOOOO!!!" "HIHIHIHI! HAHAHA! RASAKANLAH KEMATIANMU! BIOLA!" BUAR! BUAR! BUAR! BRUAGH! BRUAGH! BRUAGH! "BIOLA! SADARLAH!" * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD