ANGGA DAN TRILYA DI HOTEL

2473 Words
Delisa hanya menganggukan kepalanya tanpa melihat Angga dan Bella. “Sayang… papa kerja dulu, nanti 3 hari lagi papa pulang” ujar Angga dengan mengelus kepala Delisa. Delisa semakin memanyunkan bibirnya “papa gambar apa sih sampai harus pergi keluar kota terus” tanya Delisa layaknya pertanyaan anak kecil yang belum mengerti pekerjaan Angga. Angga tersenyum menahan tawa atas pertanyaan anaknya “gini Delisa suka gambarkan?” tanya Angga pada Delisa yang hanya menganggukkan kepala “nah.. papa juga suka gambar tapi gambar rumah orang-orang banyak, jadi karena gambar papa bagus orang minta papa untuk bikinkan rumahnya sesuai gambar papa. Jadi papa harus kesana tunjukan gambar rumah papa” jelas Angga dengan bahasa yang bisa Delisa mengerti. Delisa yang mendengarkan penjelasan Angga sedikit tersenyum, dan langsung mengambil roti yang sudah Bella siapkan dan menikmati dengan seketika. Angga dan Bella kembali menikmati sarapan paginya setelah berhasil membujuk Delisa, ntah untuk keberapa kalinya Angga menjelaskan kata-kata ini pada Delisa, dan Bella juga melakukannya tetapi Delisa selalu saja mempertanyakan hal yang sama. Delisa mempunyai bakat yang sama dengan Angga, Delisa senang sekali menggambar-gambar banyak hal, diusianya yang terbilang masih cukup kecil untuk usia anak-anak tetapi gambar-gambar Delisa sudah cukup bagus dan rapi. Delisa juga cukup pandai menjelaskan gambarnya membuat Bella yang merasa anaknya sudah cukup bisa di asah keahliannya ia berinisiatif memasukan Delisa ke sekolah anak-anak agar Delisa bisa beradaptasi, bermain, dan melihat banyak hal di luar. Makanya Delisa sekolah anak-anak dibawah umur pada umumnya dan selama enam bulan berjalan ini Delisa tidak merengek untuk pulang malahan ia betah di sekolahnya. *** Bella yang mencium Delisa dan membukakan pintu mobil agar putrinya masuk lebih dulu ke dalam mobil. Angga yang sedang sibuk menaikan kopernya kedalam mobil, kembali berjalan mendekat Bella, Bella dengan cepat mencium tangan suaminya “hati-hati ya mas, nanti kabarin kalau sudah sampai” “ya, kamu hati-hati dirumah ya” ujar Angga yang langsung membuka pintu mobilnya dan menutupnya kembali. Mobil yang berwarna hitam tersebut tidak menunggu lama lagi langsung meninggalkan Bella yang masih tersenyum dan melambaikan tangannya pada putrinya tersebut. *** Hari sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Angga yang baru saja turun dari pesawat dan masih berada di bandara sibuk membuka ponselnya. “Sayang sudah sampai surabaya ini, tinggal tunggu jemputan mau ke hotel” Pesan dikirim ke Bella. Tidak lama kemudian ponsel Angga berbunyi kembali balasan dari Bella “Oke mas, Hati-hati disana ya. Aku lagi dijalan ini habis jemput Delisa”. Angga yang membaca pesan Bella tersenyum pasalnya wanita inilah yang membuat Angga bisa sesukses ini dengan kesabarannya dan dukungan yang penuh dari Bella. Bahkan Bella rela meninggalkan semua dunia pekerjaannya dan hidup bersama Angga yang dulu hanya punya uang pas-pasan. Pasalnya Angga diusir dari rumah orang tuanya karena orang tua Angga tidak setuju hubungannya dengan Bella. Orang tua Angga sangat kaya raya, papanya Angga mempunyai bisnis dimana-mana dan pada saat itu orang tua Angga mempunyai rencana untuk menikahkan Angga dengan teman bisnis papanya. Akan tetapi Angga malah memilih menjalin hubungan dengan Bella. Gadis yang dia kenal pertama kali menolongnya saat motornya putus rantai di jalan, Bella saat itu sedang melintas dengan motor maticnya berhenti dan membuka jok motornya untuk memberikan kunci-kunci yang ada di jok motornya pada Angga. Angga terpanah pertama kali melihat senyum manis yang terpancar dari bibir manisnya. Bella yang datang memakai jas biru dengan kaos polos berwarna hitam didalamnya ditambah rok yang berukuran cukup sopan di bawah lutut membuat Angga semakin mantap ingin mencari tau siapa wanita yang bersedia menolongnya pada pagi itu. Sampai dimana Angga tau bahwa Bella pegawai di suatu bank dengan jabatan yang sudah cukup tinggi di usianya saat itu menjadi kepala keuangan. Tetap orang tua Angga menolak mentah-mentah hubungan Bella. Pasalnya Bella dari keluarga sederhana, bahkan ayahnya sudah lama meninggal dan tinggal ibunya dengan kakak laki-lakinya yang sudah menikah dan mempunyai anak. Orang tua Angga merasa keluarga Bella akan menyusahkan mereka saja nantinya. Angga tetap tidak memperdulikan orang tuanya, ia memilih menikahkan Bella tanpa kehadiran kedua orang tuanya. Sejak itu Angga tidak di izinkan lagi untuk pulang kerumah orang tuanya dan semua fasilitas yang orang tua Angga berikan di tarik kembali. Akhirnya mereka memutuskan untuk belajar mandiri. Angga dan Bella harus tinggal dikamar sepetak. Bella yang saat itu sudah memutuskan mengundurkan diri dari tempat kerjannya karena permintaan Angga, Angga bahkan tidak punya uang untuk sebulan kedepan. Sampai akhirnya Angga memulai belajar bisnis sampai berkembang saat ini. Bella selalu percaya pada kemampuan Angga, Bella tidak pernah mempermasalahkan jika Angga selalu pergi-pergi keluar kota. Angga yang saat ini baru selesai berdiskusi dengan rekan kerjanya sambil menikmati minuman dan makanan yang disajikan di restoran hotel tersebut. “Angga kan?” ujar seorang laki-laki yang berdiri didepan meja makan Angga dan rekannya tersebut. Angga langsung memperhatikan laki-laki yang berdiri didepannya dengan tatapan heran tanpa menunggu lama Angga berdiri mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan pada temannya saat dia kuliah di Surabaya “Wih broo, Apa kabar men?” ujar Angga. “Pak kalau begitu saya pamit dulu. Selamat bekerja sama ya” ujar pak Mahendra yang mengulurkan tangannya kepada Angga. Angga menyambut uluran tangan rekan kerja tersebut dengan senang hati “Baik pak. Terima kasih atas kepercayaannya” jawab Angga yang tidak lama pak Mahendra tersebut pergi meninggalkan sahabat yang sudah lama tidak bertemu itu. “Duduk-duduk bro” Angga mempersilahkan temannya duduk “gilaa, gila udah berapa tahun kita gak ketemu ya” ujar Angga pada Dimas. “Lama kali lah, setelah lulus kuliah loe gak pernah nongol lagi, gila sekarang mainnya proyek” ujar Dimas yang memukul d**a Angga dengan tangannya. Angga memegang d**a yang dipukul Dimas dengan tertawa “Ginilah bro cari duit buat istri anak kan”. Dimas yang mendengar kalimat kawannya itu ikut bahagia “berapa anak loe? Kapan-kapan boleh jugalah aku kenalan sama orang rumah loe” sahut Dimas sambil tersenyum nakal pada Angga. “Ah nggak, nggak nanti loe kayak dulu lagi” ujar Angga tidak melanjutkan pembicaraannya. Dimas yang mendengar kalimat-kalimat Angga langsung membantah “ah loe saja yang terlalu baper ga, setelah loe mutuskan pulang ke bandung geng kita pada bubar jarang ngumpul lagi. Oyaa ngomong-ngomong elo balik kapan ?” tanya Dimas. “Besok pagi gue balik” jawab Angga singkat. “Cepat kali. Ngumpullah dulu kita atau ntar malamlah gimana?” ujar Dimas mengajak temannya itu untuk mengumpul dengan teman-temannya yang lain. “Boleh juga. Loe lah kumpulin anak-anak mumpung gue masih disini” jawab Angga antusisa dengan ajak Dimas. “Oklah, sini nomor loe, biar ntar gue kabarin dimana kita ngumpul. Oya gaa. sorry kali ini gue masih ada kerjaan! Gue tinggal ya!” Dimas yang mengambil kertas dari Angga dan langsung berpamitan meninggalkan laki-laki itu di meja makan restoran hotel tersebut. *** Delisa yang lagi menggambar di depan televisi yang sedang menyala di temani mbok Wati “Wah bagus kali neng gambar rumahnya” ujar mbok Wati. Delisa yang sedang asik menggambar tersenyum menatap gambarnya “ya mbok, ini rumah Delisa” jawab Delisa. Mbok Wati yang ikut antusias mendengarkan cerita Delisa sambil menatap ke arah buku gambarnya “ini mama papa Delisa ya” tanya mbok Wati. Delisa dengan cepat menganggukan kepala, tidak lama Delisa menatap mbok Wati “mbok mau Delisa gambar?” tanya Delisa. “Boleh, emang Delisa bisa gambar mbok?” tanya mbok Wati balik. “Bisa…” jawab Delisa dengan mantap “tapi Delisa selesaikan gambar ini dulu ya” jawab Delisa yang meneruskan gambarannya. Tidak lama Bella keluar dari kamar melihat jam dinding sudah menunjukan pukul delapan lewat dua puluh menit dan menatap putrinya yang masih dengan pensil dan buku gambarnya. Bella berjalan lurus mendekat putrinya “Sayangg? Jam berapa ini” tanya Bella pada Delisa. Delisa melirik ke arah jam dinding dan langsung merapihkan peralatan gambarnya “ya ma” jawab Delisa yang sibuk mengumpulkan barang-barangnya. Bella menunggu putrinya setelah selesai mereka berdua bersama masuk ke dalam kamar Delisa. Bella kini sudah mulai membacakan cerita-cerita Dongeng untuk putrinya di tengah cerita, Bella terkesima mendengar pertanyaan Delisa. “Maa memang orang yang sudah menikah bisa menikah lagi ya?” tanya Delisa dengan lugunya. Bella dengan seketika diam sejenak mendengar pertanyaan putrinya “Delisa dengan dari siapa?” tanya Bella balik pada putrinya. “Dari uci. Papanya menikah lagi terus dia bilang dia punya mama dua?” jawab Delisa dengan mata polosnya. Bella tersenyum dan mengelus kepala putrinya “Oh bagus dong uci punya mama dua. Banyak yang sayang uci berartikan” jawab Bella. “Tapi ma, Delisa nggak mau punya mama dua” spontan Delisa menjawab tanpa mengerti maksudnya apa. “Delisakan punya mama satu, terus punya papa satu juga dong” jawab Bella menatap putrinya dengan yakin. “Kalau dua gimana” jawab Delisa dengan bibir yang sudah manyun. “Eh sudah-sudah. Delisa doa sama Allah” Bella yang mengangkat tangan putrinya “Ya Allah Delisa cuma mau mama Bella dan Papa Angga saja, lindungin papa ya Ya Allah Amiin” ujar Bella dengan mengusapkan tangan Delisa dipipi putrinya. “Udah sekarang tidur. Udah jam berapa ini coba” ujar Bella membaringkan Delisa dan menarik selimut putrinya. Delisa mendengarkan perkataan Bella yang langsung memejamkan matanya. Tidak lama Bella beranjak dari tempat tidur Delisa. Dan meninggalkan putrinya tidur dengan pulas. Bella yang sekarang sudah ada di dalam kamarnya bersender di tepi ranjangnya, ia seperti memikirkan perkataan Delisa dengan banyaknya aktifitas suaminya yang padat diluar, dengan apa yang sudah di miliki Angga saat ini pasti banyak perempuan di luar sana menginginkan laki-laki seperti Angga. Bella berusaha membuyarkan lamunannya dengan mulai menarik selimut dan berusaha memejamkan matanya. Alhasilnya Bella tetap tidak bisa tidur malam itu, ia memikirkan Angga sepanjang malam ntah ada firasat apa. Bella menghidupkan kembali lampu kamarnya dan mengambil ponselnya di meja. “Sayang aku kok nggak bisa tidur ya” Bella mengirim pesan ke Angga. Tidak lama ponsel Bella berbunyi “Kenapa rindu ya? Besok mas pulang. Pesawat jam 09.00 pagi” pesan Angga. Bella yang membaca tersenyum-senyum malu, mungkin apa yang dia rasakan karena dirinya merasa rindu pada suaminya. Dengan cepat Bella mengetik kembali “Ya sayang, aku tunggu” pesan Bella. *** Pukul 22.00 di Cafe Legenda yang masih terlihat sangat ramai dengan banyaknya pengunjung. Terlihat Angga, Dimas dan teman-temannya yang lain sedang bercengkrama menceritakan perjalan hidup mereka masing-masing setelah sekian lama tidak berjumpa. Mereka sibuk dengan ceritanya masing-masing layaknya orang-orang yang sedang reunian anak sekolah. Angga yang sedang mengobrol dengan salah satu temannya menatap satu perempuan dari jauh yang sedang memperhatikan ia dengan detail. Gadis itu tau Angga sedang diperhatikan ia balik, dia melangkah mendekatin Angga dengan yakin. Tetapi Angga masih belum mengenali perempuan yang berjalan lurus menghampirinya. Sampai akhirnya gadis itu sudah tepat di depan matanya dan menyalurkan tangannya untuk bersaliman “Angga kan” sapa gadis itu dengan ramah. Angga masih terlihat seperti kebingungan mengingat-ingat siapa perempuan yang sedang menyondorkan tangannya. “Trilya broo” sahut teman Angga yg sedang duduk di depannya. Angga langsung menepuk jidatnya seperti baru mengingat wanita yang pernah membuatnya jatuh cinta pertama kali “gila sorry” Angga langsung berdiri dan menyambut hangat sondoran tangan gadis tersebut. Trilya Balqis wanita pertama kali yang membuat Angga betul-betul merasakan jatuh cinta saat di bangku perkuliahan, dan membuat Angga pertama kali patah hati karena Trilya memilih sahabatnya Dimas untuk jadi pacarnya masa itu. Angga bahkan rela menunggu Trilya pulang kampus pada jadwal kuliahnya berbeda, seperti orang bodoh memohon-mohon untuk Trilya bisa menerimanya tapi pada masa itu Trilya sama sekali tidak memandangnya pasalnya Trilya menjadi wanita paradona saat itu. Trilya yang saat ini sudah duduk di samping Angga “Gimana sekarang kabarnya?” tanya Trilya dengan mata yang tetap sama indahnya seperti dulu saat Angga jatuh cinta padanya. Angga mengalihkan pandangannya pada Trilya dan menatap lurus “Baik, alhamdulilah” jawab Angga. Trilya menganggukkan kepalanya dan memandang lurus. Tidak lama karyawan cafe tersebut membawa segelas sloki kecil kemeja Trilya. Angga hanya menatap Trilya dan gelas slokinya memandang aneh pada gadis yang dia kenal baik “loe suka minum sekarang?” tanya Angga. Trilya langsung meneguk segelas sloki dengan habis dan menyondorkan pada Angga “loe mau” tanya Trilya. Angga hanya menggelengkan kepalanya “gue nggak minum” jawab Angga yang masih menatap Trilya bingung. “Coba saja sikit” ujar Trilya mendorong secangkir sloki pada Angga. “Gue nggak kuat” jawab Angga mendorong kembali gelas tersebut mendekat Trilya. Trilya yang sudah meneguk tiga gelas sloki tersebut sudah mulai keleyengan dan lebih banyak bicara “Gue malu ga, pacar gue kabur saat gue sama dia mau nikah. Hidup gue hancur hancur….” ujar Trilya pada Angga. Malam yang sudah menunjukan pukul dua belas malam dan semua orang sudah mulai berpamitan balik sedangkan Trilya masih asik dengan sloki-slokinya membuat Angga tidak tega meninggalkannya sendirian. Angga yang masih terus berusaha menghentikan Trilya minum dan berusaha mendengarkan ceritanya sudah hampir kuwalahan. Trilya menyondorkan satu sloki pada Angga “minumlah, loe malu kan mau berkawan sama gue” ujar Trilya yang sudah teler. Angga langsung meneguk satu sloki yang di sondorkan Trilya, dan menujukannya pada Trilya. Trilya hanya tersenyum melihat antusias Angga. Angga yang merasa malam itu sudah cukup malam dia membopong Trilya untuk pulang dalam perjalanan dengan setengah mabok Angga tidak tau harus membawa Trilya pulang kemana. Akhirnya Angga berhenti di hotel penginapannya dan membawa Trilya menginap semalam di kamarnya. Trilya yang sudah betul-betul teler tidak sadar di baringkan Angga di kamar hotel Angga. Angga menghempaskan badannya di sofa kamarnya dia merasa kepala pusing dan dadanya yang bergitu panas. Sedangkan Trilya sudah terlelap tidur di kasurnya. Sejam kemudian Angga tersadar dari tidurnya, kepalanya sudah tidak pusing lagi, tetapi badannya masih merasakan panas. Angga melepaskan semua pakaiannya “Argh, panas kali” jengkel Angga. Angga tidak menyadari dirinya sedang bersama dalam satu kamar bersama Trilya yang ada di dalam pikirannya hanya ingin merasakan kehangatan dan sentuhan. Angga berjalan lurus ke kasur tidurnya tanpa dia sadari Trilya ada di sampingnya, Trilya yang merasakan ada gerakan dari kasurnya terbangun melirik sejenak dan kembali memeramkan matanya kembali. Trilya yang merasakan hal yang sama seperti Angga dengan rasa panas di badannya langsung memeluk erat tubuh Angga. Angga membalas pelukan Trilya. Trilya yang masih di peluk Angga melepaskan pelukan Angga dan bangkit berdiri melepaskan satu persayu pakaiannya. Trilya menjadi gelisah seperti orang yang ingin bercinta. Angga yang memperhatikan Trilya bangkit dari tidurnya dan mendorong Trilya kemeja kaca, Angga mulai mencium-cium leher Trilya tanpa sadar, Angga melumutin bibir Trilya dengan nikmat. Trilya mendorong tubuh Angga ke ranjang hotel tersebut dan memberikan dua gunung kembarnya, Angga dengan lihai memainkan dua gunung mengisap dan menggigit-gigitnya. Trilya menggigit bibirnya merasa kenikmatan yang Angga lakukan. Angga membalikan badan Trilya dan menyusurin setiap tubuh wanita itu dengan penuh nafsu. Angga yang sekarang sudah dibagian inti milik Trilya membuka pahanya dengan lebar dan mulai mencium aroma wangi milik wanita tersebut dan mencium menggigit-gigit berulang kali. “Aaah sayang” desah Trilya pada Angga. Trilya mencengkram bantal dengan kuat menikmati setiap gigitan-gigitan Angga. bersambung.....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD