Angga mulai naik lagi ke atas meremas d**a wanita itu dan memberi tanda pada dadanya “Ryaaa” panggil Angga dengan sendu nafsunya.
“ya sayang” desah Bella sambil memegang pedangnya yang mengeras itu “masukin ya” desah Angga pada Trilya di telinganya.
Angga tidak menyadari dia sedang bukan dengan istrinya, Angga merasakan badan penuh gelora membutuhkan hangatan wanita saat itu. Angga mulai melakukan penyatuan bersama Trilya, memasukkan pedang perkasanya pada bagian inti wanita, ia merasakan lubang milik Trilya sangat sempit.
‘ah kenapa sulit kali menerobos pertahanan wanita ini’ ujarnya dalam hati. Trilya yang merasakan Angga seperti memaksa karena tidak tahan ingin memasuki daerah sempit itu meringis kesakitan “aaaaarh sayang saakit…”desah Trilya menggigit bibirnya.
“sabar sayang sempit kali ini” desah Angga yang masih berusaha memasuki pedangnya.
Trilya mencengkeram lengan Angga “Aaaarh” desah Trilya, Angga yang sudah mulai maju mundur perlahan yang sudah berhasil memasuki pedangnya.
“Ah … sakit sayaaang..” desah Trilya yang mulai merasakan goyangan Angga mengencang membuat tubuhnya bergetar, Trilya mencengkram lengan Angga.
Angga yang mendengar desahan dari Trilya semakin membabi buta menikmati goyangnya sampai terdengar suara serak dari dalam tubuh wanita itu.
Dan beberapa menit kemudian Angga mengeluarkan cairan kenikmatan di area intinya hangat dan basah. Tidak lama Angga menghentikan goyangannya di atas tubuh Trilya.
Angga merasakan yang belum pernah dia rasakan. Angga bangun kembali menghentakan kembali nafsunya bersama Trilya. Trilya yang merasakan panas yang belum pernah dia rasakan selama ini menikmati setiap gaya yang Angga suruh malam itu.
Kali ini Trilya mengangkat satu kakinya dan menikmatin lumatan dari Angga yang sangat argesif. Membuat miliknya bergetar.
Angga yang mulai menyatukan kembali pedangnya pada Trilya ntah untuk keberapa kali setelah empat jam bercinta.
“Aaah ryaa punya kamu enak kali sayang, menggigit rasanyaa” desah Angga menggoyang-goyangkan pinggulnya seperti tidak tahan lagi.Dan akhirnya cairan hangat keluar kembali dari keduanya.
Angga dan Trilya tertidur pulas dengan badan polosnya di tutupi selimut itu.
***
Jam dinding menunjukan pukul tiga pagi Bella akhirnya duduk di tepi kasurnya menatap foto pernikahannya berada diatas meja riasnya.
Bella berjalan dan duduk ditepat meja riannya memandang foto pernikahannya bersama Angga, Bella merasa perasaannya tidak tenang malam ini, ia mandang jauh dalam gambar mereka berdua.
Bella seperti merasa adalah hal buruk yang terjadi pada Angga saat ini, merasa akan terjadi hal besar dalam rumah tangganya setelah ini tetapi apa ia juga tidak tau.
Bella mengingat hari pertama kali Angga mempersuntingnya menjadi seorang istri Angga Wijaya.
*** (5 tahun yang lalu)
Bella dan Angga yang sudah duduk di atas kasurnya, Angga mengelus lembut kepada Bella “Sayang maafkan mas belum bisa kasih lebih dari ini, tapi mas janji mas akan berkerja keras untuk membahagiakan kamu dan anak-anak kita” ujar Angga pada Bella pada malam setelah pernikahan mereka.
Bella merasa ucapan Angga membuat hatinya begitu tenang “ya mas nggak apa, aku akan selalu mendoakan kamu agar suatu saat kamu bisa menjadi Angga Wijaya interior termuda dan sukses” jawab Bella yang tersenyum menatap suaminya begitu yakin.
“Amiin, mas janji tidak akan ada namanya dua ratu dalam rumah tangga kita” ujar Angga mengucap janji di malam pertama keduanya.
Bella menganggukkan kepala pada Angga dan kembali memeluk laki-laki yang sekarang telah menjadi suaminya itu.
***
Jam dinding menunjukan pukul delapan pagi. Angga terbangun merasakan badannya yang begitu nyeri semua, Angga menggeserkan badannya dalam setengah sadar menyenggol kepala Trilya yang masih mendepatnya dalam pelukannya.
Sontak Angga terkejut melihat dirinya tidur bersama teman kuliah ini, Angga mengecek tubuhnya yang polos tanpa pakaian sehelai pun. Trilya terbangun akibat gerakan Angga.
Trilya memandang Angga dengan terkejut, Angga pun yang masih syok menatap Trilya mengingat-ingat apa yang terjadi pada mereka berdua.
Trilya menarik selimutnya dan menatap tubuhnya yang polos dan mukanya yang langsung memerah. Angga masih diam menatap Trilya seperti tidak yakin dengan apa yang mereka lakukan tadi malam.
Angga bangkit dari tempat tidur dan mengambil setiap helai pakaiannya yang tergeletak di lantai dan masuk ke dalam kamar mandi kamarnya.
Angga bersendiri di balik pintu kamar mandinya ‘apa yang aku lakukan semalam’ jengkel Angga memukul wastafel hotel itu tanpa memperdulikan rasa sakit di tangannya.
Trilya yang masih menatap kebingungan hanya menangis seraya merasakan sakit yang baru dia rasakan di bagian miliknya itu.
Trilya bangkit dari tempat tidurnya mengambil pakaian-pakaiannya dengan menutupi tubuhnya dengan selimutnya. Angga yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan muka yang begitu marah seperti tidak ingin memandang Trilya.
Trilya menatap Angga yang sibuk mengemasi koper-kopernya, tanpa memperdulikan Trilya tetapi laki-laki itu seperti tidak ipeduli lagi dengan keberadaan wanita tersebut, Angga menarik kopernya ke arah pintu keluar dan berhenti membalikan badannya menatap Trilya yang masih berdiam diri di ujung kasurnya.
“Gue mau cek out! Loe bisa beres-bereskan barang loe sekarang” ujar Angga tanpa menatap Trilya dan membalikan badannya kembali.
Belum melangkah ke arah pintu Angga dengan nadanya yang begitu ketus seperti menyesali perbuatannya, kembali berbicara pada Trilya “Soal semalam anggap saja tidak terjadi apa-apa!” ujar Angga yang langsung melangkahkan kakinya keluar pintu.
“Kalau gue hamil gimana” ujar Trilya seketika dengan menahan air matanya yang sejak tadi tumpah memikirkan nasibnya setelah ini gimana.
Angga yang mendengar kalimat Trilya sontak menghentikan langkahnya, memejamkan matanya berusaha menenangkan dirinya “saya sudah menikah dan mempunyai anak! Dan suatu hal yang tidak mungkin untuk saya menikahkan anda” jawab Angga dengan cara bicara seperti berusaha untuk tidak mau mengenal lagi wanita yang telah menghabiskan malam buruknya itu.
Angga melangkah pergi meninggalkan Trilya yang sontak menumpahkan air matanya dengan seketika. Trilya merasa dirinya kini benar-benar telah hancur.
Trilya telah menyerahkan kepemilikannya kepada laki-laki yang pernah mencintainya dulu, Trilya tidak menyangka malam reuniannya akan menjadi malam dimana dia dan Angga mengciptakan hal yang buruk setelah ini.
Bahkan setelah mereka menyadari perbuatan mereka berdua, Angga merasa jijik dengan dirinya, apa lagi jika nanti orang tuanya tau, teman-temannya tau. Trilya tidak bisa membayangkan kehidupannya setelah ini akan seperti apa.
***
Sepanjang perjalanan Angga hanya diam berusaha membuyarkan ingatannya tetapi ia selalu kembali pada kejadian di hotel bersama Trilya bagaimana bisa dia melakukan hal seperti itu pada wanita yang bukan istrinya.
Angga sampai tidak menyadari dirinya sudah sampai di depan rumah “papa…..” teriak suara dari luar mobil, Angga yang terkejut mendengar teriakan dari Delisa langsung bergegas keluar dari mobil.
Delisa berlari menyambut sang ayah dengan penuh bahagia bersama Bella tetap Angga hanya tersenyum memaksa ke arah putrinya dan berjalan lurus memasuki rumah mereka.
Bella yang sedikit bingung menatap wajah suaminya yang tidak seperti biasanya yang selalu hangat dan mencium putrinya jika ia pulang dari luar kota.
“ini” ujar Angga menyondorkan kopernya pada Bella kembali berjalan menuju kamar.
Bella hanya mengambil koper yang Angga sondorkan padanya melirik putrinya dengan tersenyum “mungkin papa capek, sama mama dulu ya” ujar Bella mengajak putrinya ke ruang televisi yang sedang menyala.
Delisa yang kini sudah tertidur seperti biasa sesuai jam tidurnya. Bella menutup rapat pintu kamar putrinya.
Hati Bella seperti bertanya, ada masalah apa dengan suaminya sampai dari tadi siang pulang Angga sama sekali tidak keluar kamar. Bahkan untuk makan malam ia juga meminta untuk makan sendiri didalam kamar.
Bella berusaha tidak terlalu ambil pusing. Ia berjalan menuju kamarnya. Angga yang kini sudah terbaring di kasur, Bella hanya menggelengkan kepalanya pelan lantas meneruskan langkahnya kekamar mandi untuk bersih-bersih.
Bella keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar dan memakai pakaian tidurnya seperti biasa karena Angga selalu menyuruhnya untuk memakai pakaian-pakaian seks jika tidur.
Kini Bella mulai membaringkan tubuhnya di ranjang kasurnya tepat di samping Angga yang sudah terbaring. Bella sedikit menggeserkan tubuhnya pada lengan Angga.
“Apa sih” ketus Angga mendorong tubuh Bella dan membelakangkan istrinya.
Bella yang terkejut mendengar respon Angga terbengog menatap suaminya yang sudah membelakanginnya, ia merasa seperti bukan sifat suaminya pasalnya Angga secapek apapun ia tidur selalu berpelukan dengan Bella. Tetapi malam ini tidak jangankan untuk memeluk suaminya bahkan Angga tidak mau sama sekali di sentuh dengan Bella.
***
“pagi anak mama” sapa Bella membawa piring berisi nasi goreng yang masih hangat.
Delisa yang sudah ada di meja makan dengan pakaian rapi untuk berangkat kesekolahan hanya menuduk tanpa menjawab sapaan dari Bella.
Angga yang baru saja keluar dari kamar dengan tas dan jasnya berjalan lurus ke arah pintu luar “Mas duluan ada rapat pagi ini” ujar Angga yang terus berjalan tanpa memandang istri dan anaknya.
Bella dengan cepat mengejar Angga dan terus berjalan “mas… mas..” teriak Bella.
“Ada apa lagi mas buru-buru” bentak Angga membalikan badannya menatap Bella.
Bella sontak berhenti mendengar suara Angga yang meninggi di saksikan oleh Delisa dan mbok Wati pagi itu.
“Aku cuma mau salim” jawab Bella dengan menundukan kepalanya.
Angga tanpa berbicara apa-apa hanya menyondorkan tangannya kemudian melanjutkan kembali pergi meninggalkan Bella dengan mobilnya.
Bella kembali bersama Delisa yang sedang menghabiskan makanannya pagi, Bella berusaha tersenyum karena ia tau putrinya melihat dan mendengar bentakan Angga padanya.
“Ayo sayang, biar mama antar kesekolah ya” ujar Bella menatap putrinya tersenyum.
Delisa hanya menunduk menghabiskan makanannya.
***
“Ga loe kenapa?” Rian melihat temannya merasa aneh dengan sekap Angga yang pemarah seharian.
“Nggak kenapa-kenapa, Emang tampang gue kenapa?” sahut Angga yang masih menatap komputernya.
“Semua orang di kantor ini pada cerita loe seharian ini marah-marah aja. Lisa itu sekretaris loe sampai nangis elo lempar berkasnya” ujar Rian menatap bingung melihat temannya “elo kenapa bro? Pak Mahendra acc bukan?”
“ACC” sahut Angga singkat.
“Lah terus masalahnya apa bro? Coba elo cerita deh sama gue” ucap Rian.
“Gue nggak kenapa-kenapalah, dah ya gue mau ketemu pak Kamil dulu” sahut Angga yang sudah bersiap-siap untuk keluar dari ruangannya meninggalkan Rian sendiri.
***
Bella yang tengah duduk di taman sekolah anak-anaknya mendengar pecakapan seorang ibu-ibu.
“Kasih teh Rina itu punya madu sampai nggak tau! Anaknya sih Uci sudah 3 harikan nggak masuk sekolah” ujar ibu-ibu yang duduk di depan Bella.
Bella yang penasaran ikut bertanya pada ibu-ibu “apa ada dengan teh Rina?” tanya Bella.
“Suaminya nikah lagi di luar kota diam-diam” jawab ibu itu.
Bella hanya menganggukkan kepala dan tidak ingin bertanya lagi karena Bella tidak suka memasuki urusan orang lain.
“Makanya kamu Bel, hati-hati suami kamu sering keluar kotakan takutnya nanti……” ujar ibu-ibu berhenti melihat tatapan Bella yang membulat menatap dirinya.
“Saya permisi buk, sebentar lagi Bella keluar” sahut Bella yang langsung meninggalkan ibu-ibu itu dengan hati yang sesikit jengkel.
‘Apa sih doanya kok kayak gitu sih’ batin Bella melanjutkan langkahnya ke arah kelas Bella.
“Mamaaaaa…..” teriak Bella melambai Bella.
Bella melambaikan tangannya dengan mempercepat langkahnya “Wih anak mamaa….” Bella yang langsung memeluk Delisa “Gimana tadi belajarnyaa?” tanya Bella yang masih jongkok mengajak Delisa mengobrol.
“Tadi Delisa di suruh nyanyi ma” sahut Delisa dengan semangat.
Bella antusias mendengarkan cerita Delisa “Terus bisaa” tanya Bella lagi.
“Bisaa dong… anak papa” jawab Delisa melanjutkan langkahnya menggandeng tangan Bella.
“Wah bukan anak mama” sahut Bella.
“Anak mama juga” jawab Delisa yang sekarang sudah masuk kedalam mobilnya.
Di tengah teriknya matahari Bella yang sedang fokus membawa mobil bersama Delisa yang sedang memandang langit yang terpancar panasnya.
“Ma itu mobil papa?” Delisa menuju mobil Angga.
Bella melirik ke arah jari anaknya menunju menatap mobil suaminya yang sudah melintasi mereka duluan dengan beda arah “ya papa lagi kerja. Nanti kita ketemu dirumah ya” sahut Bella.
“Papakan lagi marah sama mama. Pasti papa juga nggak mau main sama Delisa nanti” jawab Delisa lagi.
Bella terkejut mendengar kalimat putrinya, Bella membelokan mobilnya berhenti di ujung jalan “Delisa mau es krim?” ujar Bella tersenyum manis pada putrinya.
Delisa menganggukan kepalanya. Bella dengan cepat mengajak putrinya turun untuk menikmati makan es krim kesukaan putrinya.
***
“Mas?” suara Bella yang hampir hilang memanggil Angga yang lagi sibuk di meja kerjanya.
Angga yang masih fokus kelayak komputer sejenak menatap istrinya dengan tatapan yang datar dan kembali lagi melihat layak komputernya.
“Kamu nggak makan malam atau mau makan di kamar lagi?” tanya Bella menatap suaminya seperti orang asing.
“Di kamar” sahut Angga singkat.
Bella yang mendengar langsung membalikan badan untuk keluar kamar dan mengambilkan Angga makan yang akan dibawa ke kamarnya atas permintaan suaminya tersebut.
Tidak lama Bella kembali ke meja makan menemani putrinya yang sedang menikmati makan malamnya tersebut.
“Papa sibuk banget ya ma, sampai makan saja harus di kamar” ujar Delisa protes.
Bella yang sedang mengunyah makanan yang masih ada di mulutnya berusaha menelan paksa. Ia seperti tidak tau lagi apa yang harus ia jelaskan pada Delisa, pasalnya ia juga tidak tau penyebab apa yang membuat Angga berubah demi kian.
Sejak kepulangannya dari surabaya Angga selalu menghabiskan waktunya di dalam kamar, bahkan mengajak Bella mengobrol pun tidak. Setiap kali Bella bertanya Angga jawabannya selalu ketus kalau tidak pasti membentak kasar Bella.
Bahkan Bella setiap hari harus menghadapi Delisa yang selalu mempertanyakan papanya kenapa, tidak mau makan bareng lagi, mengajak ia main lagi, bahkan biasanya Angga senang mengantari putrinya sekolah sekarang tidak pernah lagi.
Bella yang sekarang sudah memasuki kamarnya menatap suaminya yang sudah membelakangi tidurnya ‘salahku apa? Kenapa mas Angga tidak pernah memandang aku lagi, bahkan ia setiap malam selalu tidur duluan, pagi berangkat duluan. Bicara cuma seperlunya’ batin Bella.
Bella yang kini berdiri di depan kaca jendela kamar menatap langit-langit yang gelas tanpa di temani bintang-bintang bahkan bulan pun tak nampak malam itu seperti dirinya yang mempertanyakan perubahan suaminya yang drastis.
Air mata Bella mengalir membasahi wajahnya yang putih. Ia menangis sikap suaminya yang ia tidak tau kenapa. Bella yang berderai air mata membuat Angga bangun dari tidurnya.
Angga mulai bangkit dari tempat tidurnya berjalan mendekati Bella, Angga yang mulai memeluk istrinya dari belakang “kenapa nangis malam-malam gini” ujar Angga mengusap air mata Bella sembari memeluknya.
Beberapa menit Bella berusaha mengatur tangisnya dan mengatur napasnya lantas menghapus air mata dari wajahnya “kamu kenapa mas? Selama sebulan ini berubah sekali, apa aku ada salah?” tanya Bella.
Angga melepaskan pelukannya dari Bella sedikit menjauh karena pertanyaan Bella seperti membuatnya mengingatkannya kembali dengan perbuatan kotornya.
Angga merasa ia tidak pantas lagi menyentuh istrinya atas perbuatannya itu. Angga memandang jauh dengan mata yang kosong membuat Bella berusaha menggapai tangan Angga.
Angga malah memundurkan badannya ketika melihat Bella ingin meraih tangannya “kamu kenapa mas?” tanya Bella dengan heran.
Angga tetap diam, Angga pikir waktunya belum tepat untuk dirinya bercerita pada istrinya, Bella pasti akan marah besar jika mengetahui hal sebenarnya.
“Mas! Kamu kenapa sih aku ini istri kamu. Kalau aku ada salah bilang? Kalau kamu ada masalah kamu cerita sama aku, jangan kayak gini mas. Aku sentuh pun kamu nggak mau” ujar Bella dengan air matanya yang kembali basah.
“Mas kamu boleh diamin aku. Tapi jangan Delisa, setiap hari dia selalu tanyain kamu, Delisa butuh kamu mas” sahut Bella kembali yang semakin kencang menangis dan kini Bella terduduk lemas dibawah kaki Angga.
bersambung...