Setelah kepergian Aska, Nala berjalan seorang diri menuju halte yang terletak tidak jauh dari perusahaan. Agak mengherankan karena hari ini halte terlihat tidak terlalu ramai. Nala tersenyum simpul, setidaknya hari ini dia bisa menunggu dengan damai, dan jika beruntung, dia bisa duduk di dalam bis yang lengang. Nala mendudukkan dirinya di kursi panjang halte sambil mengamati hiruk pikuk kota Jakarta di depannya. Orang-orang dengan pakaian rapi di depannya terlihat saling berbincang dengan rekan seprofesinya. Wajah mereka terlihat begitu lelah, namun senyum itu masih tidak luntur dari wajah mereka. Sesekali mereka tertawa, entah apa yang sedang mereka tertawakan. Tidak lama kemudian tawa mereka luntur berganti dengan wajah tertekuk kesal, mungkin mereka sedang membicarakan hari buruknya d

