prolog
Venus memasang earphone di kedua telinganya lalu berjalan menyusuri jalanan yang basah setelah diguyur hujan dari tadi siang. Senyuman tipis terukir indah di wajah cantik Venus saat ia melihat pemandangan sunset yang mendambakan hati.
"You get the best of me....." tanpa sadar Venus ikut melantunkan lagu bts- Best Of Me yang diputar di earphone-nya.
Semakin lama, senyum Venus semakin mengembang. Ia sendiri bahkan tak tahu pasti penyebabnya.
Namun, saat hampir membuka gerbang rumahnya, wajah Venus kembali datar saat mendengar perkataan Tante Anni --tetangganya yang sudah berumur 32 tahun, namun belum menikah juga.--
"Baru cantik gitu aja songongnya minta ampun! Nyapa aja kagak!"
Venus melepas earphone-nya lalu diam sambil memejamkan matanya. Rasanya ia muak terus dicemoohi oleh wanita berumur kepala tiga itu.
"Apa mungkin itu yang diajarkan oleh kedua orangtuamu?!!"
Mendengar perkataan Tante Anni, seketika dadanya naik-turun dan nafasnya mulai tak teratur. Venus menghampiri Tante Anni yang berada di depan pagar rumahnya dengan gaya melipat kedua tanganbya didepan dada.
"Ohh, ya?" Venus tersenyum remeh. "Apa saya gak salah dengar, Tan? Saya masih ingat jelas loh, dulu saya pernah bersikap ramah kepada, Tante. Tapi apa yang saya dapatkan?! Tante malah menghina saya didepan banyak orang dan bilang kalau saya itu terlalu sok kenal, dan sok dekat! Mau Tante apa sih?"
Tante Anni terdiam. Ia kehabisan kata-kata untuk menjawab omongan Venus. Tentunya karena apa yang Venus katakan adalah fakta.
Venus tertawa menyadari kebungkaman Tante Anni. Ia senang, ia sangat senang bisa membalas semua hinaan yang dilontarkan oleh Tante Anni dulu.
"Tante, Tante...!" Venus menggelengkan kepalanya. "Mending sebelum menilai kehidupan saya, mending ngaca aja dulu deh. Emangnya Tante udah lebih baik dari saya? Saya memang udah gak punya Orangtua, tapi ajaran baik yang diajarkan semasa saya masih kecil tetap melekat pada diri saya!"
Tante Anni mendelik tajam. "Kalau emang orangtuamu mengajarkan ajaran baik kepada kamu, mana mungkin kamu berperilaku seperti orang yang gak punya etika kek gini? Coba lihat penampilanmu!" Tante Anni melirik celana jeans dan sweeter Venus. "Bahkan pakaianmu bisa disebut pakaian wanita murahan yang bekerja di Club. Emang udah dasarnya aja orangtua kamu terlalu bodoh dalam mendidik!"
Venus menatap kesal Tante Anni. "Hah, apa? Hello!! Ngaca dong, Tan. Gak lihat apa pakaian Tante kek gimana?!" Venus menunjuk ke arah rok hotpans dan tanktop yang dipakai Tante Anni, lalu tertawa remeh. "Bahkan pakaian Tante lebih buruk dari jalang-jalang yang pernah saya lihat! Gak punya kaca ya, Tan? Mau saya beliin gak? Noh, lihat noh bibir Tante lipstik sama bedaknya berapa centi? Maskaranya berapa lapis!?"
Tante Anni nampak kelimpungan mendengar perkataan Venus, ditambah orang-orang semakin ramai datang kesana untuk melihat perdebatan antara mereka berdua. "Heh, kamu kurang ajar banget ya sama orang tua! Gak ada sopan-sopannya!"
"Malu sendiri, kan? Awalnya mau bikin malu saya! Nah, sekarang Tante sendiri yang malu! Aduh kasian banget deh! Senjata makan tuan!"
"Kamu itu, ya!!!" Tante Anni mengangkat tangannya berniat menampar Venus.
"Mau ngapain, Tan? Mau nampar? Nih tampar nih!"
Tante Anni mengurungkan niatnya. Venus tertawa remeh. "Tante, Tante ... kalau kelakuan Tante terus begini saya jamin Tante gak bakalan pernah nikah. Emang siapa sih yang mau punya istri bar-bar dan mulut yang pedas melebihi cabe rawit kaya Tante?!" Venus segera pergi dan meninggalkan Tante Anni. Karena berdiam disana sama saja membuat emosinya memuncak.
Sementara itu, Tante Anni terdiam mencerna ucapan Venus. Sedangkan orang yang menonton perdebatan tadi sibuk berbisik-bisk.
Iya, apa yang dibilang venus bener banget tuh. Siapa sih yang bakalan mau punya istri modelan kek dia? Pantesan aja dia gak dapat-dapat pasangan.
Dari dulu kerjaannya nyinyir doang. Sekarang tahu rasa kan, dipermaluin di depan umum. Sama anak remaja pula.
Malu banget dah tuh!!!
Telinga Tante Anni terasa panas mendengar semua bisikan yang dilontarkan untuknya. "APA? KENAPA KALIAN MASIH DISINI? DISINI GAK ADA BAGI-BAGI SEMBAKO! MENDINGAN KALIAN PULANG!!!"
Semua orang pun menyoraki Tante Anni dan pulang ke rumah mereka masing-masing. Begitu juga Tante Anni, ia memilih memasuki rumahnya.
Tanpa Tante Anni sadari, Venus masih melihat ke arahnya melalui balkon kamarnya. "Makan, tuh! Dikirain dihina gak sakit apa? Sekarang rasain tuh! Pantesan gak ada yang mau ngelamar dia sampai sekarang!"
Beberapa saat kemudian Venus tertawa hambar. Jauh dari lubuk hatinya ada rasa bersalah saat ia mempermalukan Tante Anni. "Maaf, Tan. Tapi ini juga karena Tante. Andai aja Tante gak nyangkut pautin Orangtua saya yang udah tenang disana, mungkin saya gak bakalan berprilaku kek gini."
Venus menatap langit yang sudah hampir malam. "Mama, Papa, Venus kangen kalian. Kenapa kalian tega ninggalin Venus sendiri? Venus masih perlu kasih sayang dari kalian berdua."