Matahari menyorot memaksa masuk kedalam jendela besar kamar saat gorden abu-abu tua disibak.
Seorang gadis diatas kasur besar king size dengan seluruh tubuhnya dibalut selimut tebal mengulet, bibirnya bergumam pelan.
"Nona Cecil bangun non, sudah siang,"Kata seorang wanita paruh baya dengan rambut di cepol kebelakang dan menggunakan baju maid hitam berdiri di samping ranjang, Namanya bi Een.
"hmm, iya, iya lima menit lagi."
"tapi ini sudah jam 7 non."
"apa?!!"Mata Cecil terbelalak lebar. Dia langsung melompat dari tas kasur, menyambar handuk di atas tangan bi Een.
Kenalkan, Namanya Cecilia Nathania Adysty Pratama. Gadis manis dengan mata cokelat hazelnut dan bibir tipis chery. Siapa yang tidak mengenalnya, anak bungsu dari keluarga Pratama, keluarga yang terkenal kaya raya. Ayahnya, menjadi Ceo di salah satu perusahaan terbesar di jakarta. Dan ibunya mempunyai empat cabang butik yang terkenal di beberapa penjuru kota.
Semua keinginan yang dia mau pasti akan diberikan oleh orang tuanya. Apalagi yang kurang darinya.
"Kenapa bibi ga bilang daritadi sih, duh gimana nih."Cecil segera berlari masuk kedalam kamar mandi.
Kamar mandi seluas 2x3 meter bernuansa serba putih di lengkapi dengan bathub, wc duduk, dan wastafel, telihat begitu mewah.
Cecil membuka seluruh pakaianya, lalu memasukkan tubuhnya kedalam bathub berisi air hangat dengan air susu yang menyegarkan.
Iya, setiap pagi Cecil selalu mandi air susu, segala atribut sekolahnya sudah di siapkan rapih oleh bi Een. Bahkan semua tugas sekolahnya di kerjakan oleh bi Een. Tugasnya hanya tidur, sekolah dan menghamburkan harta orang tuanya.
Hampir satu jam Cecil menghabiskan waktu merias dirinya di depan meja rias di bantu salah satu pembamtu yang bertugas khusus untuk merias dan menyiapkan segala kebutuhan fashion Cecil.
Cecil menatap pantulan dirinya di depan kaca. Kalung emas berbandul kupu-kupu yang dibuat khusus dari berlian terlihat begitu cantik melilit di leher putihnya yang jenjang.
"sempurna."
Tak...
Sebuah buku melayang mengenai kepala Cecil. pria tinggi, putih, dengan wajah begitu tampan. Bibir tipis, hidung mancung, serta sorot mata coklat tajam bak elang membuat siapa saja akan jatuh cinta dengan pria itu hanya dengan sekali lihat, siapa lagi kalau bukan Andeon, Kakak KANDUNG Cecil tapi lebih berasa kakak TIRI.
Cecil mendengus, menatap tajam kakaknya"duh sakit tau, lo tuh ya main asal aja lempar-lempar barang ke kepala orang, kalo otak gue kenapa-napa lo mau tanggung jawab?"
"emang lo punya otak."
"bangs...."
"MAH CECIL NGOMONG BANGSAT TUH mah!!"Teriak Andeon mengadu.
"DEON DULUAN TUH MAH YANG ASAL MUKUL CECIL SAMA PENGHAPUS!" Balas Cecil tak kalah mengadu.
"Deon, Cecil masih pagi loh ini, cepet turun sarapannya udah mateng!!"Teriak mamah dari bawah tangga.
Hampir setengah jam sendiri Cecil memoles dirinya di kamar, dia menuruni anak tangga dengan senandung ceria.
Tiga orang sudah menunggu cecil di meja makan, Deon bahkan sudah menghabiskan dua roti lapis cokelatnya dan susu coklatnya dari setengah jam yang lalu. Daripada dia mati kelaparan karna menunggu adeknya yang kalo dandan bisa sampai lima puluh abad sendiri.
"good morning mommy, daddy,"Sapa Cecil hangat mencium pipi kedua orang tuanya bergantian, lalu memosisikan duduknya disamping Deon.
"jadi daritadi lo dandan lima jam cuma begini hasilnya?"Tanya Deon pada Cecil.
Cecil melirik sengit pada kakaknya, dari kecil, bukan, bahkan dari Cecil dalam kandungan, Deon memang selalu di penuhi iri dan dengki padanya.
"gimana, gimana, cantik kan?"Cecil mengibas-ibaskan rambutnya ke wajah Deon sangat amat percaya diri.
"sama aja, kalo mukanya kayak beruk ya beruk aja."
Mata Cecil menyalak"apa lo bilang!"
"Cecil, Deon, kalian ini udah pada gede masih aja berantem, mamah pusing liatnya."
"ya gausah diliatin lah mah kalo pusing,"Jawab Cecil dan Deon bersamaan, kalau urusan durhaka sama orang tua saja pasti mereka sangat kompak.
"Mamah masukin lagi kalian ke rahim mamah baru tau rasa."
Setelah pertengkaran kecil antara Cecil dan Deon, suasana kembali tenang, hanya ada suara sendok dan garpu yang saling beradu.
"pah,"Panggil Cecil.
"hmm,"Jawab pratama sama sekali tidak mengalihkan pandangannya pada koran di depanya.
"masa ya pah si Eva kemaren di beliin mobil lambroghini keluaran terbaru cuma gara-gara badan mobil bmwnya yang lama lecet sedikit. Baik banget ya orang taunya."
"hmm,"Jawab Pratama sekenanya.
"papah ga mau juga gitu beliin Cecil mobil."Cecil menatap papahnya penuh pengharapan"ga perlu sekarang kok belinya pah, abis pulang sekolah atau besok juga gapapa."
"iya, iya nanti papah beliin, kamu mau berapa?"Ujar Pratama enteng. Beli mobil saja sudah seperti beli permen kojek, orang kaya memang sulit di pahami.
"seriusan pah? Cecil bakal di beliin mobil lambo?"
"kalo kamu bisa rangking 3 di kelas tapi."Mamah ikut menyela. Raut wajah Cecil langsung berubah.
Memang rangking 3 itu kelihatan gampang untuk di dapatkan, tapi bagi Cecil yang kerjanya cuma makan, berak, rebahan dan ngabis-abisin uang, mendapatkan rangking tiga adalah hal paling sulit di dunia ini. Lebih sulit daripada mendapatkan 7 bola dragon ball. Cecil bisa lulus mepet nilai rata-rata saja sudah membuatnya sujud syukur. Itu juga nilai hasil ulangan nyontek setengah ke Luna, kadang kalo khilaf Cecil nyontek semua jawabanya.
Deon menyenggol lengan Cecil, matanya menatap dengan tatapan remeh"kenapa, kenapa? ga bisa ya jadi rangking tiga ya."
"Bisa kok, ngeremehin gue lo?!"Sulut Cecil lalu kembali mengalihkan pandangannya pada Pratama"pah bisa nego ga, jangan rangking tiga ya, minimal masuk sepuluh besar lah."
"yaudah, kalo gitu dapet stirnya aja,"Jawab Pratama enteng.
"Nah bener tuh, atau ga spionya aja,"Timpal Deon.
Brrrmmm...
Suara deru motor terdengar dari luar rumah, tanpa perlu menebak siapa pemilik motor tersebut sudah tau siapa orangnya, Cecil langsung berdiri dari kursinya.
"cecil berangkat sekolah dulu ya, mah, pah."Cecil menyalami tangan mamah dan papahnya bergantian.
"lo masih pacaran sama kuburan baru itu?"Tanya Deon mencibir. Pasalnya, setiap kali Arkan main ke rumah, bau parfumnya menyeruak masuk hingga kekamar Deon sampai bikin Deon pengen muntah.
"bukan urusan lo, batu nisan,"Balas Cecil tak kalah sengit.
"heh mulut lo ya."Deon sudah melepaskan sendalnya, mengambil ancang-ancang untuk memukul Cecil. Namun gerakanya terlalu lambat, Cecil keburu ngibrit keluar dari rumah.
Cecil keluar dari rumah, tepat di depan teras rumahnya, seorang pria duduk diatas motor ninja besar warna hitam. Siapa lagi kalau bukan Arkana, kekasihnya yang ke tiga puluh tiga. Tapi cecil yakin Arkan akan menjadi pelabuhan terakhir perjalanan hidupnya.
"morning,"Sapa Cecil dengan senyum paling manisnya.
Pria itu melepaskan helm full facenya, rahang tegas, hidung mancung dengan sedikit lesung pipinya mampu membuat Cecil terpana akan ketampanan pacarnya ini.
Arkan menyugar rambutnya ke belakang, senyumnya mengembang penuh sampai lengsung pipinya nampak begitu jelas.
"nih."Arkan memberikan helm hitam yang lebih kecil dari helmnya pada Cecil.
Cecil mengambil helm dari tangan Arkan, mencoba memakainya, entah helmnya yang memang sulit di kunci atau emang Cecil nya yang bego ga bisa ngunci helm.
Arkan berdecih, dia menarik tali helm Cecil"ckk, bocah."
"Ih Arkan, aku tuh ga bocah tau, helm kamu aja yang udah rusak ga bisa di kunci."
Bibir Cecil belum kering, Arkan sudah berhasil mengunci tali helmnya.
"Hehehehe."Cecil terkekeh-kekeh"Aku emang ga ada bakat buat buka kunci helm."
"Ayo naik,"Suruh Arkan, sebelum itu, dia menurunkan pijakan kaki untuk Cecil, cowok begini harus di pertahanin sampai till janah.
"pegangan,"Katanya setelah Cecil naik, Tanpa persetujuan dari Cecil, Arkan menarik tangan gadis itu, lalu melilitkannya ke perut.
****
Motor besar Arkan berhenti di depan parkiran sekolah, Cecil turun dari motor, mencoba melepaskan helm besarnya.
"eh, eh itu Arkan, si ketua geng yang ganteng itu kan."
"duuhhh kenapa dia nambah ganteng aja sih setiap harinya."
"emmm, pengen jadi pacarnya Arkan."
"Arkan marry me!"
Ujar beberapa gadis yang berada di lorong-lorong depan kelas. Sudah menjadi hal biasa di telinga Cecil mendengar pujian-pujian memualkan dari gadis-gadis itu.
Sudah menjadi resiko bagi Cecil karena berani memacari seorang ketua geng motor yang terkenal dengan ketampanannya. Lebih dari itu, banyak gadis yang terobsesi dengan arkan hanya karena sosoknya yang misterius dan tidak terjamah. Namun akhrinya cecil yang kembali beruntung bisa mendapatkan hati pria sedingin es seperti Arkan bentuknya.
Gerombolan cowok-cowok yang tengah asik mengobrol di depan kelas seketika mengalihkan seluruh pandnagan mereka kearah Cecil.
"kiw kiw cantik banget mbanya,"Goda salah satu dari mereka. Namun Cecil tidak menggubrisnya.
"duh cewek aw ....."Ucapan cowok itu berhenti saat mata elang Arkan menatapnya tajam.
"Eh sorry bro becanda,"Kata salah satu cowok mencoba menengahi" Temen kita emang suka becanda, sorry ya kalo itu bikin cewek lo ga nyaman."
Arkan menarik tangan Cecil lembut, menggandengnya pergi dari kerumunan itu.
" Lo cari mati ya bro, cewek yang lo godain itu pacarnya Arkan."
"eh anjir gue ga tau kalo dia pacarnya Arkan,"Balas cowok yang tadi mengoda Cecil dengan suara mencicit.
"mampus lo di bawa ke neraka lo."
Arkan memang semenakutkan itu, dia tidak akan segan-segan melukai siapa saja yang berani menggoda pacarnya. Bahkan dua minggu yang lalu, dia hampir mematahkan tangan teman sekelasnya sendiri karna diam-diam mengirim chat tidak-tidak pada Cecil.
Cecil melangkahkan kakinya masuk kedalam lift, Arkan juga ikut masuk kedalam lift. Harusnya arkan terus jalan lurus, karena kelasnya berada paling ujung di lantai dasar.
"eh kenapa ikutin aku ke atas, kelas kamu kan dibawah?"Tanya Cecil mengerutkan alisnya heran.
"mau nganterin kamu sampe ke kelas."
"aku bisa ke kelas sendirian kok, nanti kalo kamu masuk ke kelasnya telat, kamu bisa dihukum loh."
"aku ga mau kamu digodain cowok lain."
"kamu cemburu?"
"siapa yang cemburu."
"ah yang bener,"Goda Cecil mencolek-colek lengan Arkan. Rasanya, sulit sekali bagi arkan untuk setiap kali mengatakan kalau dia cemburu, lebih tepatnya, cowok itu tidak bisa berekspresi lebih. Mau marah, sedih, bahkan lagi gombal sekalipun, mukanya tetep datar kayak tembok china.
"lain kali gausah dandan cantik-cantik, aku ga suka kamu digodai cowok lain,"Gumam Arkan sangat pelan, namun masih bisa di dengar jelas oleh Cecil.
"tuh kan kamu...e, eh, eh"Ucapan Cecil terpotong saat Arkan menarik tanganya keluar beberapa detik setelah pintu lift terbuka.
Langkah kaki Arkan berhenti di depan pintu kelas Cecil"belajar yang rajin, aku ga mau punya istri bodoh,"Kata arkan dengan sajah begitu sangat datar.
Kalau begini, kanebo kering saja bisa minder dengan wajah Arkan yang begitu sangat amat tidak punya ekspresi.
"siap komandan."Cecil menaruh tanganya di pelipis seperti orang hormat.
Cecil bisa melihat senyum tipis di wajah Arkan, dia lalu mengusak-usak atas kepala Cecil. Sebelum dia melangkah meninggalkan Cecil dan turun ke bawah.
"aciee...cieee, yang tiap hari makin lengket!"Seru seseorang dari dalam kelas.
Cecil menghampiri tiga orang yang duduk di bangku pojokan paling belakang, cewek-cewek dengan dandanan heboh dan bibir model abis makan orok.
Queen of bastard, kumpulan anak-anak orang kaya di kelas Cecil, bukan hanya di kelas, bahkan di seluruh penjuru sekolah ini. Orang tua mereka selalu memberikan sumbangan apapun untuk membangun sekolah ini agar lebih baik. makanya, tidak ada satupun murid yang berani dengan mereka, bahkan guru-guru sekalipun.
"hai guys."Cecil mendudukan dirinya disamping Luna. gadis cantik dengan rambut di kuncir kuda. Luna adalah orang paling waras dan paling pinter diantara kedua temanya yang cuma jadi beban keluarga.
Alis Cecil berkerut heran. Tumben Crystin dan Eva pagi-pagi udah rajin nyatet di buku, biasanya sampe jam masuk pun mereka masih terus mementingkan makan jajan.
"lagi ngapain lo pada, serius amat."tidak ada jawaban dari ketiga temanya, Crystin kelihatan fokus menyalin apa yang Luna tulis, sedangkan Eva menyalin punya Crystin.
"ngapain lo va?"
Eva menggeleng-geleng"gatau, Eva cuma ngikut."
Menyesal Cecil bertanya pada orang yang otaknya hanya sebiji zarah seperti Crytin bentukanya.
"tugas Pak Andi, lo udah ngerjain belum?"Jelas Luna.
"emang ada tugas?"
Ini nih, spesies murid kayak Cecil ini selalu ada di setiap sekolah, bahkan mungkin ada banyak di setiap kelas. Murid yang kalo di kasih PR, cuma iya iya nya doang, abis itu prnya di lupain gitu aja.
"Gini nih, kalo di pikiranya cuma Arkan, Arkan aja. Sadar cil lo tuh udah goblok, jangan jadi tambah goblok karna cinta dong."Kasar Crystin menonyor-nonyor kepala Cecil. Dia ga sadar kalo di otak dia juga isinya cuma oppa-oppa Korea. Karena kebanyakan ngehaluin oppa dia lupa segalanya.
"Bacot."Cecil menonyor balik kepala Crystin"kalo masih nyontek sama Luna ga usah sok keras bitch."Cecil mengacungkan jari tengahnya pada crystin, lalu mengambil paksa buku Luna.
"ih Cecil, kata mamih aku ga boleh nyontek tau."Petuah Eva tiba-tiba menceramahi.
"lah lo itu lagi nyontek ke Crystin, goblok."
"kan aku mah cuma nyalin, bukan nyontek kayak kamu."
"Woy, woy ada yang berantem di kelas 3 ips!!"Teriak murid kelas sebelah diambang pintu kelasnya. Semua orang yang merasa kepo berbondong-bondong berlari ke kelas ips 3, kelas paling ujung dan di kelas sebagai kelas paling nakal. Karena disana ada gerombolan para anak-anak berandal geng motor dan beberapa anak yang tidak lulus, mereka terkenal dengan kelas buangan pencari onar.
"Lah bukanya kelas ips 3 kelas pacar lo ya cil?" Tanya Luna, Cecil mengangguk- angguk membenarkan.
"Jangan-jangan.... "Sebelum Crystin menyelesaikan ucapanya, Cecil sudah berdiri dan berlari keluar dari kelas.
"Cecil tunggu!"Crystin, Luna dan Eva berlari mengejar di belakangnya.
Suasana di kelas ips 3 sudah begitu tidak kondusif, para siswa berkerumun di dalam kelas ips 3, beberapa cowok terlihat sedang taruhan siapa yang akan menang di pergulatan ini. Cecil mencoba masuk kedalam kerumunan itu.
Benar saja, sosok arkan dengan seragam penuh keringat dan beberapa tetesan darah tengah memukuli seorang pria yang sama sekali tidak Cecil kenal.
Beberapa murid cewek sekelas arkan mencoba melerai pertikaian itu, tapi arkan sama sekali tidak peduli, dia terus menghajar cowok yang sama sekali tidak Cecil, tapi yang pasti, cowok itu sudah di buat babak belur di buatnya.
"Jangan berani-berani jelekin pacar gue lagi anjing!!"Tanpa ampun Arkan meninju bertubi-tubi perut cowok di depanya. Cowok di depan Arkan sempoyongan, di detik berikutnya, tubuhnya jatuh terkterkulai di lantai.
"Mampus jagoan gue menang!!" Teriak salah cowok membuat beberapa siswa yang lainya menimpali dengan sorak.
"Arkan hentikan,"kata Cecil mencoba menyentuh lengan arkan, namun usahanya gagal karena arkan sudah membabi buta dan nyaris tidak bisa di hentikan.
"Arkan hentikan!!"teriak Cecil, Arkan melirik kearah pacarnya sekilas, lalu kembali memukuli si cowok yang sudah tidak berdaya"Aku bilang berhenti."
Cowok itu menghela nafas sebelum melepaskan kerah seragam si cowok di bawahnya.
"Kali ini lo selamat, tapi kalo sampe lo jelekin cewek gue lagi, lo habis di tangan gue,"Ancam Arkan menghajarkan tinju terakhinya, lalu meludahi wajah cowok itu.
Dengan wajah garangnya yang penuh luka, dia menarik tangan Cecil lembut keluar dari orang-orang yang mengerumuninya, tanpa tau guru bk sudah menunggunya di belakang kerumunan.
*****
Bell istirahat berbunyi saat arkan keluar dari ruang bk. Cecil menuntun pacarnya masuk ke dalam UKS. Dia langsung mengambil obat merah, kapas dan pill pereda nyeri.
"Ini minum,"Perintah Cecil menyodorkan obat kaplet itu pada Arkan.
"Aku gapapa."
"Ayo cepet minum,"Paksa Cecil dengan sedikit nada penekanan.
Karena Arkan tipe cowok yang bakal jadi suami-suami takut istri, jadi dia mengambil obat di tangan Cecil, menelan tiga obat itu dalam sekali telan. Kalau Cecil yang minum, udah keluar lagi tuh obat.
Cecil duduk di pinggir ranjang, berhadapan dengan Arkan.
"Sekarang apalagi? Kamu udah berantem sepuluh kali dalam seminggu ini loh yang, kalo kamu terus-terusan begini, kamu bisa di keluarin dari sekolah,"Omel Cecil mulai menempelkan kapas yang sudah diberi obat merah.
"Dia yang mulai duluan."
"Mulai apa?"
"Dia ngejelekin kamu."
"Ngomong apa dia?"
"Dia bilang kamu murahan."Beberapa detik Cecil diam, raut wajahnya langsung berubah menjadi sedih.
"Aku ga terima pacarku di jelek-jelekin orang lain."Ucapan Arkan sama sekali tidak membuat Cecil tenang.
"Kamu udah makan?" Tanya Arkan sekaligus mengalihkan pembicaraan.
"Emang harusnya kamu tonjok aja tuh kepala cowok itu sampe mati, bisa-bisanya dia ngomong aku murahan. Padahal kalo aku ngajak jalan dia juga mau tuh,"Kata Cecil mencak-mencak.
Arkan tertawa kecil. Duh, liat dia ketawa kecil gitu aja udah bikin Cecil jatuh cinta. Emang bener-bener pelet cowok itu sangat kuat.
"Nanti, Kalo ada yang jelek-jelekin aku, kamu diem aja ya, Pura-pura ga denger. Aku ga mau kamu berantem kaya tadi lagi, kalo seandainya dia ga terima terus bawa temen-temenya buat nyerang kamu gimana? Aku khawatir kamu kenapa-napa."
"Hmm,"Jawab Arkan seadanya.
"ih aku serius tau ngomong sama kamu."
"Iya."
"Janji."Cecil mengacungkan jari kelingkingnya ke depan Arkan. Arkan menghela nafas. Sebelum mengkaitkan jari kelingkingnya di jari kelingking Cecil.
"Janji."
"Cantiknya mana?"
"Janji cantik,"Pungkas Arkan mengusak-usak pucuk rambut Cecil tetap dengan wajah kanebo keringnya.