"Non, Non Cecil,"Panggil Bi Een menggoyang-goyangkan bahu Cecil lembut. Namun yang di panggil sama sekali tidak menggubris.
"Non bangun Non, udah siang, Non harus sekolah."namun tetap tidak sahutan dari Cecil, dia malah semakin menggulung tubuhnya kedalam selimut.
"Non."
"Hmm..."
"Non ga mau sekolah?"
"Hmm, sekolahnya kebakaran, jadi sekarang di liburin,"Jelas Cecil bergumam sekenanya.
"Hah, yang bener Non, di bakar sama siapa?"Tanya bi Een terkaget-kaget. Bi Een itu orang yang gampang percaya, bilang kalo bumi itu bentuknya persegi panjang aja dia pasti percaya-percaya aja.
"Kepala sekolah."
"Lah kok bisa kepala sekolah bakar sekolah."
"Gabut kali."
"Masa sih Non gabut, terus kepala sekolahnya udah di laporin..."
"Sstt, udah ah sana bi, Cecil masih ngantuk,"Potong Cecil mengusir bi Een, kemudian kembali menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuh.
****
Drrttt...drrrttt..
"ihhh..." Cecil mengusak-usak rambutnya kesal. Kenapa sih pagi-pagi gini ada aja yang ganggu tidurnya.
Cecil meraba-raba nakas, mengambil hpnya, dan mengangkat panggilan entah dari siapa.
"Cil lo seriusan ga berangkat ya, gila ya lo berani-beraninya ga berangkat pas pelajaran pak Firman!"Sembur suara yang tidak asing di seberang sana, suara cempreng bikin kuping berdarah, siapa lagi kalau bukan suara Crystin.
"Apaan sih lo berisik banget, ini masih jam lima, gue pasti berangkat lah."
"Wah mabok lem nih anak, liat jam beker lo!"
Cecil melirik jam beker diatas nakas, matanya melotot lebar, mulutnya menganga, disana menunjukan pukul delapan pagi. Tubuhnya refleks melompat dari atas kasur.
"Kenapa lo ga bangunin gue daritadi!!"
"Lah gue nelpon lo sampe seribu kali setan, cepetan, Pak Firman udah ada di ruang guru, bentar lagi masuk kelas kita."
Cecil mematikan panggilanya, dia langsung menyambar handuk dan buru-buru masuk kedalam kamar mandi.
Biasanya kalo telat beberapa menit saja, dia tidak akan segan-segan menyuruh muridnya membersihkan semua wc di sepenjuru sekolah dan memaksa mereka lari mengelilingi lapangan sampai mampus, biasanya Cecil lebih memilih alpa daripada di hukum di sekolah.
Tapi masalahnya hari ini adalah ulangan IPA susulan, yang tidak mengikuti ulangan susulan ini, dia diancam akan tinggal kelas. Cecil bisa saja meremehkan ancaman itu, tapi Pak Firman itu guru yang tidak pernah ingkar janji, tahun kemarin saja ada dua orang yang tinggal kelas cuma karena buat masalah dan nilai ujiannya benar-benar anjlog. Cecil tidak mau jadi orang yang ketiga ga naik kelas, apa kata dunia nanti.
Tidak lama Cecil keluar dari kamar mandi, mandi yang biasanya satu jam, ini cuma lima menit. Bi Een sudah sibuk membereskan tempat tidur Cecil dan memunguti baju-baju yang berterbangan milik anak majikannya.
"Bi Een, bi Een kok ga bangunin aku sih, cepet siapin bekal,"Suruh Cecil sibuk menyisir rambutnya
"Katanya hari ini libur, sekolahnya kekebakaran di bakar kepala sekolah,"Jelas bi Een.
"Duh ngomong apa sih bi, masa iya kepala sekolah bakar sekolah. ngapain, gabut banget."
"Iya, kata Non Necil kepala sekolahnya gabut."
Cecil celingak-celinguk, sepi. Duh mana kalo jam segini semua orang rumah sudah tidak ada di rumah. Papah berangkat ke kantor, mamah sudah menyambangi butiknya, Deon juga pasti sudah duduk rapih di kelas. apalagi Arkan, dia pasti sudah berangkat satu jam yang lalu. Kalo sudah begini, mau tidak mau dia harus pesen ojek online, walau nantinya dia akan di ledek habis-habisan oleh bestinya. Iya lah, seorang anak Pratama masa naik ojek, ga banget iyuh.
Setelah menunggu di luar gerbang, mamang ojek datang. Cecil mengelap jok motor mamang ojek sebelum naik keatasnya.
"Ayo mang ngebut ya udah telat banget ini,"kata cecil panik sendiri sudah berpegang teguh memegang kedua pundak si mamang.
"Siap dek."Sesuai perintah, mamang ojek membawa motornya menembus jalanan pagi yang cukup lenganggang.
Sudah cukup jauh, motor yang di tunggangi Cecil tiba-tiba saja oleng, hampir kehilangan arah.
"Kenapa mang?" Tanya Cecil mulai khawatir.
"Ga tau dek,"Mamang itu menepikan motornya di pinggir jalan, Cecil dan mamang ojek turun dari motor, mamang ojek langsung memeriksa apa yang salah dari motornya.
"Kenapa mang?"
"Bannya bocor neng,"Jawab mamang itu.
Cecil mengusak-usak wajahnya frustasi"duh gimana sih mang, niat ngojek ga sih, masa iya banya bisa bocor."
"Ya maap neng, mamang juga ga tau kenapa banya bisa bocor."
Cecil mendengus"yaudah mang, nih." Dia memberikan uang seratus ribuan pada mamang ojek, tanpa minta kembalian, dia berlari meninggalkan mamang ojek.
Kaki Cecil berlari kecil di pinggir jalan, tanganya terasa perih karena terkena sinar matahari langsung. Untung saja sekolahnya sudah lumayan dekat, lari sedikit saja pasti nyampe.
CPRASSSS....
Sebuah mobil brio hitam melaju cepat di samping Cecil, menerobos genangan air hingga airnya menyiprat membasahi seragam Cecil. Membuat seragam putih mamahnya berubah menjadi kuning kecoklatan.
"Akkhhh!!"Jerit Cecil. Hari ini dunia punya dendam apa sih sama dia. Ini belum jam sembilan tapi masalah sudah bertubi-tubi menghantamnya. Sudah bangun telat, motor ojeknya mogok, sekarang kecipratan air kotor.
Mobil brio hitam itu berhenti tidak jauh di depan Cecil. Sepertinya orang yang punya mobil baik, dia pasti mau minta maaf dan tanggung jawab atas kesalahanya. Baguslah kalau begitu, tapi Cecil tetap akan memakinya.
Cecil buru-buru melangkahkan kakinya ke arah mobil.
Tok... Tok.... Tok...
Penuh emosi, dia mengetuk-etuk jendela kaca mobil. Tidak lama, orang di dalamnya membuka kaca jendela. Cecil sekarang bisa melihat siapa pengemudinya.
Cecil nyaris berdecak kagum saat melihat orang di dalam mobil. Pria tampan berkulit putih, hidung mancung seperti pahatan dan bibir plum yang sangat menggoda. Cecil sampai lupa tujuanya.
"Dek?"pria itu mengibas-ibaskan tanganya di depan Cecil. Cecil tersentak kaget, tersadar dari lamunanya.
"Woy, lo harus tanggung jawab, gara-gara lo seragam gue jadi kotor begini,"Komplen Cecil" Lo tau ga harga seragam gue? Bahkan mobil butut lo ini aja ga bakal bisa beliin seragam gue!!"
Tidak ada respon, pria itu tetap diam memandangi Cecil.
"Woy lo tuh denger gue ga sih, ganteng-ganteng budeg!"
Tanpa mengecap satu kata pun, pria itu menyodorkan uang seratus ribuan dua pada Cecil, alis Cecil berkerut.
"Maksud lo apa, hah?! Mau bayar gue dua ratus ribu?! Uang jajan gue aja ga segitu!!"
"Tidak mau?"
"Ya ga lah."
"Ya sudah."Dengan entengnya pria itu memasukkan kembali uangnya kedalam saku. Dia lalu menyalakan mesin mobilnya.
"Eh, eh lo mau kemana, lo harus tanggung jawab, seragam gue kotor gara-gara lo!"
"Tadi saya sudah kasih uang, kamu bilang tidak mau."
"Ya lo pikir uang segitu bisa gantiin seragam gue yang mahal, hah!!"
Drrtt... Drrtt...
HP diatas dashboard pria itu bergetar, pria mengambilnya, melihat siapa yang memanggilnya, lalu mengangkat panggilanya.
"Ya, Sepertinya saya akan terlambat, ada gadis tidak jelas yang menghentikan mobil saya."
Kedua tangan Cecil mengerat, rahangnya mengeras, bisa-bisanya dia anggep Cecil seperti itu"Siapa yang lo bilang ga jelas?!"
"Kamu,"Jawab pria itu dengan muka datar tanpa rasa bersalah.
"Berani-beraninya lo bilang gue cewek ga jelas."Cecil melemparkan bogeman pada pria itu, namun pria itu dengan begitu gampang meenghindari beberapa pukulan tersebut.
"Sudah, Saya lagi buru-buru, tidak ada waktu meladeni orang gila sepertimu."
setelah mengatakan itu, pria itu menyalakan mesin mobilnya, lalu menutup jendela mobil.
"Woy, woy masalah gue belum selesai!"
Cecil mencoba agar pria itu memberhentikkan mobilnya, tapi usahanya gagal.
"Gue bakal cabik-cabik muka sok ganteng lo kalo ketemu!!"Teriak Cecil sambil menghentak-hentakkan kakinya ke tanah.
***
Kaki Cecil berberlari tergesa-gesa melewati lorong-lorong yang sudah begitu sepi, ya iyalah, kelas sudah di mulai empat puluh menit yang lalu, untung saja Cecil tidak di hukum karna pas dia masuk, satpamnya lagi asik godain mbak-mbak kantin.
"Maaf Pak saya telat, soalnya tadi di jalan rame banget sampe macet,"Bohong Cecil dengan nafas ngos-ngosan diambang pintu.
Hening, tidak ada jawaban dari pak Firman. Cecil mengangkat kepalanya. Tidak ada pak Firman disana, hanya ada teman-temannya yang menatapnya heran.
"Ngomong sama siapa lo cil?"
Cecil buru-buru menghampiri para sahabatnya"lah pak Firmannya mana? Ulanganya udah selesai? Duh gue harus gimana? Bisa-bisa gue ga lulus nih,"Cecar Cecil ketar-ketir.
"Ulanganya di undur,"Jawab Luna.
"Di undur?!"Mata Cecil terbelalak lebar.
"Kenapa di undur?"
"Anak pak Firman dibawa kerumah sakit semalem, dia bilang ga bakal berangkat hari ini, ulanganya bakal di laksanain minggu depan,"Jelas Luna.
Cecil melemparkan tatapan pada Crystin, dia rela-rela naik ojek, Lari-lari kayak orang gila, eh ternyata pak Firmannya ga berangkat.
"Hehehe."Crystin terkekeh"ya maap ibu hajah."
"Cecil lo abis renang dimana?"Tanya Eva yang daritadi melihat seragam Cecil basah kuyup dan rambutnya acak-acakan kayak sapu ijuk.
Karna Eva ngomong gitu, jadi Crystin dan Luna juga ikut memperhatikan penampilan.
"Pfttt."Crystin mencoba menahan tawanya"hahahahaha."Sayangnya Crystin, Luna dan Eva tidak bisa menahan tawanya melihat penampilan sahabat mereka.
"Sumpah seriusan gue ga boong, lo mirip banget sama kucing yang abis kecemplung di got,"Ledek Crystin menyentuh lengan seragam Cecil.
"Lebih kayak gembel yang di jalan sih," Timpal Luna memandang miris sekaligus terus terkekeh.
"Bacot lo pada."Cecil menggebrak meja"ini tuh gara-gara om-om mesum kayak iblis, bukanya minta maaf sama gue, dia malah ngasih gue lima puluh ribu buat tanggung jawab, emang gue keliatan semurahan itu. Terus gue dibilang ga jelas sama dibilang cewek gila."
"Dih, siapa sih orangnya, berani-beraninya dia gituin besti gue, sini bawa orangnya ke gue, biar gue tendang tuh otongnya,"Ujar Crystin berapi-api.
"Otong siapa? Kok dia ga salah apa-apa mau di tendang."Tanya Eva, Crystin sudah ingin menjambak rambut Eva.
"Otong itu cowok tinggi, ganteng, hitam manis, jadi idaman semua cewek, lo mau gue kenalin sama otong?"Jelas Cecil, eva mengangguk-angguk polos.
"Mau, mau."Crystin dan Cecil tertawa terbahak-bahak mendengar respon dari Eva. Sedangkan Luna hanya menggeleng-
geleng heran.
"Gila lo crys ngajarin anak orang ga bener."Cecil berdiri dari kursinya"dah lah gue mau ganti baju dulu."
Setelah beberapa menit, Cecil kembali kedalam kelas dengan seragam putih baru. Iya, dia mendadak beli seragam dan rok di koperasi siswa.
"eh btw nih ya, lo pada semua udah denger belum gantengnya guru yang gantiin pak ilham,"Kata Crystin memulai awal pergosipan mereka.
Luna mengangguk membenarkan, sebenarnya dia tidakk tertarik dengan obrolan seperti ini, menggosipi cogan-cogan baginya hanya membuang-buang waktu saja.
"ada yang bilang dia mirip ahjusi-ahjusi korea, mukanya putih, tinggi, mancung, rambutnya belah tengah aaahhhh, pasti dia sugar daddy, tipe aku banget."
"halah paling juga kaya mang Asep tukang kebun, murid cewek disini kan alay,"Celetuk Cecil, tanganya sibuk mengetikkan balasan pesan dari Arkan.
"tau sih yang pacarnya paling ganteng se sekolah."
"oh ya jelas."Sombong Cecil mengibaskan rambutnya yang panjang.
Suara gemuruh langkah kaki dari luar terdengar begitu jelas dari dalam kelas Cecil. Beberapa murid perempuan berlarian kearah kelas sebelah.
"duh ganteng banget sih."
"gila-gila itu guru penggantinya?"
"kalo kayak gini, gue push up seribu kali juga bakal tak jabanin kalo gurunya kayak dia."
Suara histeris dan teriakan para siswi perempuan diluar sana membuat rasa penasaran Eva, Luna dan Crystin semakin menjadi. Hanya Cecil yang sama sekali tidak menunjukkan rasa penasaranya, mau seganteng apapun guru pengganti pak ilham, dihati Cecil, yang paling ganteng ya cuma papihnya dan Arkan. Deon tidak termasuk kedalam jajaran cowok ganteng di list Cecil, jijik banget masukin Deon ke list cowok ganteng, cuih.
"Woy pak Jamal dateng, pak Jamal dateng!"Teriak salah satu teman Cecil yang daritadi berada di ambang pintu masuk kelas.
Semua orang menghambur, kembali ke tempat duduknya masing-masing.
Seorang pria pendek namun berwajah tua, memakai setelan batik warna cokelat masuk kedalam kelas cecil, itu pak Jamal, wali kelas cecil tercinta. Dengan rambut tipis, tapi botak di tengah-tengahnya yang dia sebut lapangan kutu dan kumis malang melintang seperti ikan lele membuat siapapun akan langsung mengenal pak Jamal karna tampilanya yang begitu mencolok.
"Morming peole,"Sapa pak Jamal. Walaupun lidahnya kecil, pak Jamal sangat suka ngomong bahasa inggris, walau kadang nadanya begitu medok.
"morning sir!"Jawab satu kelas kompak.
"bapak gausah jelaskan ya, kalian udah tau sendirilah ya bapak berdiri disini mau apa. Karena pak ilham bulan madunya belum selesai, jadi bapak mau memperkenalkan guru pengganti untuk beberapa bulan, bapak panggil langsung aja atau besok aja."
"panggil!"Jawab hampir seluruh murid cewek di kelasnya kompak.
"Idih najis,"Balas murid cowok berbanding terbalik menunjukkan ekpresi tidak senang, padahal takut pada kesaing aja.
Semua murid memusatkan seluruh perhatianya kearah pintu, beberapa siswi rasanya tidak sabar melihat wajah tampan guru pengganti yang di gembor-gemborkan itu.
Seorang pria tinggi, dengan tubuh atletish dan wajah bak patung pahatan berjalan masuk kedalam kelas. Semua mata tertuju padanya. Kecuali murid cowok-cowok dan Cecil yang lebih peduli dengan chatnya dengan Arkan.
"ganteng banget,"gumam Luna, Cecil melirik sahabatnya, bahkan seorang Luna yang hampir tidak pernah mengagumi seseorang, Tiba-tiba bilang ganteng?
Cecil mengalihkan perhatiannya ke depan.
BRAKKK!!
Cecil tiba-tiba saja menggebrak meja sangat kencang, membuat semua perhatian tertuju padanya.
"Ini nih si iblis yang bikin seragam gue kotor dan basah semua!!"Tunjuk Cecil melotot tajam pada si guru baru.
"Cecil, yang sopan sama guru baru!" Sentak pak Jamal"duduk kamu."
"Engga pak, saya ga bakal duduk sampe iblis ini minta maaf sama saya."Cecil mengalihkan pandangannya pada Crystin"Crys katanya lo mau tendang otong orang yang basahin seragam gue, sana cepet tendang otong dia,"Frontal Cecil menatap jijik pada guru itu.
"Duh ganteng banget ya Allah,"Gumam Crystin.
"Kamu duduk sekarang atau bapak suruh kamu duduk tengah-tengah lapangan!"
Ternyata semua desas-desus tentang guru baru itu benar. Guru tidak begitu cocok untuk jadi guru olahraga yang terkenal berbadan tambun dan pipi tembam.
"Perkenalkan nama bapak Samuel, panggil saja pak Sam, saya pindahan dari SMA Arum bangsa,"Ucap Samuel menembangkan senyumnya.
"nah ada yang mau di tanyain buat pak Samuel?"
"kalo manggilnya sayang boleh ga pak?"Tanya Crystin menumpu dagunya dengan tangan. Tatapanya terus menatap samuel di depanya.
Samuel tertawa kecil, itu membuat kadar manisnya bertambah 10000%.
"Duh manis banget, bisa-bisa diabetes gue."
"Arrrghhh calon suami gue."
"Apaan sih anjir alay banget, kayak ga pernah liat cowok ganteng aja, lebih gantengan mamang gojek tadi," Cibir Cecil, si paling ga Terima.
****
Keesokan harinya Cecil datang terlambat ke sekolah. Gara-gara Deon----tepatnya kucing kesayangan Deon yang melahirkan anak-anaknya di dalam tas favorit Cecil, sudah begitu bukanya minta maaf, Deon malah meminta pendapat pada Cecil siapa kira-kira nama anak yang bagus untuk kucingnya.
Setengah jam Cecil memaki, memukul dan menjambak rambut Deon membabi buta, sampai dia lupa kalau Arkan sudah menunggunya lama di luar sana. Awas saja nanti kalau pulang, akan Cecil robek-robek baju kesukaan Deon, lalu membakarnya di depan mata pria itu.
Cecil berjalan santai kearah lapangan yang sudah ramai oleh teman-temanya yang sedang melakukan pemanasan. Ini bukan pertama kalinya dia terlambat mengikuti pelajaran pak ilham, dia bahkan pernah beberapa kali absen pelajaran olahraga dan malah ngapel dengan arkan di gudang belakang sekolah.
"abis darimana kamu?"Tanya samuel, melipat kedua tanganya di depan dada dihadapan Cecil. Tinggi mereka yang cukup jomplang membuat Cecil harus sedikit mendongak untuk melihat wajah pria itu.
"bukan urusan bapak,"Jawab Cecil acuh. Dia melangkahkan kakinya kearah teman-temanya, namun dengan cepat tangan besar samuel menghentikan langkah Cecil.
"jelas itu urus saya, kamu terlambat 30 menit untuk pelajaran saya."
"oh,"Jawab Cecil santai. Namun samuel sama sekali tidak menunjukkan ekspresi marahnya.
"sit up,"Perintah Samuel. Pupil mata Cecil membesar, dia membalikkan tubunya kembali menghadap kearah Samuel.
"bapak mau ngehukum saya?"Tanya Cecil menunjuk dirinya sendiri. Lalu raut wajahnya berubah meremehkan.
"cih, bapak ga tau saya siapa?"
"siapa?"
"saya anak komite kepala sekolah pak, bapak saya nyumbangin uang 50juta buat pembangunan sekolah ini, Bapak mau saya adukan ke papah saya dan di keluarka dari sekolah?"
Tidak ada jawaban dari Samuel, Cecil tersenyum penuh kemenangan, Cecil yakin gertakan kecil itu sudah membuat Samuel takut dan berakhir seperti guru yang lain, harus mirik ribuan kali untuk menghukum Cecil.
"ya itu si terse....."
"yasudah kalau begitu, karena kamu anak komite, sit upnya jadi 50 kali."
"hah?!"
"cepat!"
"pak saya ga main-main pak, saya bakal aduin bapak biar bapak di keluarin dari sekolah ini."
"silahkan saja, cepat push up atau saya tambah hukuman kamu."
"saya ga mau....."
"tiga, dua..."Samuel mulai menghitung mundur.
Cecil mendengus, walau enggan, tapi akhirnya dia menuruti perintah Samuel, baru kali ini Cecil menurut pada guru. Mungkin karena tatapan mata Samuel yang menatapnya begitu tajam.
Cecil menaik turunkan tubuhnya ke bawah dan keatas. Dengan bibir mencebik dan tatapan seakan-akan ingin membunuh sosok guru pegangganti di depanya itu.
'awas aja lo om tua, bakal gue laporin lo ke papah dan lo bakal di keluarin dari sekolah ini, hahahaha, makanya jangan berani lawan cecilia,"Gumam Cecil dalam hati.
"lima puluhhh....ahhh...ngoshh
...ngoshhh."Nafas Cecil ngos-ngosan, dia menyeka keringat yang sudah mengucur deras di keningnya.
"Nih."Samuel memberikan selembar tisu pada Cecil.
Beberapa detik Cecil menatap tisu di tangan Samuel. Dia tersenyum penuh arti, Walau sedikit menyebalkan, ternyata Samuel juga tipe guru yang perhatian, buktinya dia kasih tisu ke Cecil buat ngelap keringatnya, pasti ini karena kecantikan Cecil yang membuat Samuel tidak tega setelah menghukumnya.
Cecil mengambil tisu dari tangan Samuel
"sebenernya saya bisa usap pake tangan, tapi mak..."
"usap lipstik kamu, saya tidak mau ada tante-tante ikut pelajaran saya,"Potong Samuel mematahkan ekpetasi Cecil.
Suara gelak tawa dari teman-temam cecil menggelagar, bahkan eva sahabat yang paling dia cintai saja pun tertawa paling kencang diantara semuanya.
"Buka buku paket kalian, kita mulai pelajarannya."
****
Arkan berlari dengan tergesa-gesa menyusuri koridor yang lumayan ramai karena sudah waktunya jam istirahat.
"Arkan sayangquuuuu!!"Teriak seorang cowok tambun berlari begitu anggun di belakang Arkan.
Dughhh....
Arkan menabrak tubuh seseorang sangat keras.
"sayang, kamu kena....."
Melihat yang di tabrak adalah pacarnya, Arkan menarik tangan Cecil, mendudukan tubuh pacarnya dibalik meja kotak paling ujung taman untuk bersembunyi.
"say...."
"ssttt."Arkan membekap mulut pacarnya cepat sebelum cowok tambun itu menemukanya.
pria bertubuh tambun itu menghentikan langkahnya tepat beberapa meter di depan mereka. Pria itu celingak celinguk ke kanan dan ke kiri. Cecil mengerti sekarang.
Bukan cuma terkenal di kalangan para murid-murid cewek, bahkan Arkan sampai di taksir beberapa murid cowok tulang lunak juga karena kelewat gantengnya.
"ih ayang Arkan kamu dimana sih, jangan ngajak main petak umpet coba,"Dengus cowok itu sebal.
Cecil mencoba menahan tawanya, melihat ekspresi ketakutan sang pacar, tidak bisa dia bayangkan, Arkan mengalami hal seperti ini hampir setiap hari.
"Ayang Arkan jangan ngumpet dong, aku ga gigit ayang kok."
tubuh Arkan terus bergetar, keringat dingin membasahi keningnya. Dari mulutnya dia terus bergumam"Astagfirullah, astagfirullah."
Hening, suara cowok yang mencari arkan itu tidak lagi terdengar, begitu hati-hati aarkan mengumpulkan kepalanya, celingak-celinguk memastikan cowok itu sudah pergi atau belum, Setelah memastikan cowok itu sudah pergi jauh, Arkan menghela nafas lega. Huh, rasanya udah kayak di kejar-kejar tirex.
"ih kamu kok gitu sih."
Alis Arkan berkerut, tidak mengerti dengan ucapan Cecil.
"hanif tuh lagi kangen sama kamu tau, kok kamu malah ngumpet dari dia, dasar cowok ya sama aja."
"apaan sih cil, ga lucu."Cecil tertawa terbahak-bahak, wajah geli dan kekutan Arkan membuat perutnya tergelitik geli.
Tangan kiri Arkan sudah melilit pinggang Cecil, posisi memeluk, wajah mereka begitu sangat dekat, saking dekatnya, bahkan angin saja tidak bisa masuk celah diantara mereka. Hidung mereka saling bergesekan, bau parfum milik Arkan tercium jelas di hidung Cecil, bahkan deru nafasnya membuat bulu kudug Cecil berdiri.
Jantung Cecil semakin berdetak tidak karuan, dia memejamkan matanya erat-erat, ini akan menjadi ciuman pertamanya seumur hidup.
BYUURRRR......
"aaahhh!"Jerit Cecil kaget, tiba-tiba saja tubuhnya diguyur air yang entah apa itu. Kalau air hujan tidak mungkin, karena airnya keruh dan baunya tidak enak.
Cecil dan Arkan langsung bangun.
"Bapak apa-apaan sih, main buang air begituan sembarangan."
"oh saya kira tidak ada orang, jadi saya buang air bekas pel disini,"Ujar Samuel menjelaskan, dengan tampang datar menyebalkan seperti biasanya.
Mata Cecil menyalak, gigi-giginya bergemeratak kesal, kedua tanganya sudah mengepal erat siap menggolem wajah Samuel yang sok ganteng itu.
"makanya, kalo mau buang apa-apa tuh liat-liat dulu dong pak, jangan main asal buang aja, sekarang jadi gimana?! Saya ga mau tau pokoknya bapak harus bayar semua kekacauan ini."
"Bapak udah dua kali ngotorin seragam saya, seragam saya ini harganya mahal tau pak, baju import limited edition yang saya beli langsung dari paris, gaji bapak satu tahun disini juga ga bakal cukup buat beliin seragam ini!"
"oh,"Jawab Samuel dengan wajah sama sekali tidak peduli.
"pokoknya saya ga mau tau ya pak, bapak harus gantiin seragam saya, kalo ga saya bakal laporin ke kepala sekolah buat ngeluarin bapak dari sekolah ini!!"
Samuel meraih tangan Cecil, lalu memberikan uang dua puluh ribuan dan lima ribuan satu pada Cecil, alis Cecil berkerut heran.
"kembalianya untuk kamu saja."Samuel membalikkan badanya sebelum Cecil menyerocos berkomentar.
Baru beberapa langkah, Samuel membalikkan badanya kearah Cecil kembali"dan kamu."dia menunjuk kearah Arkan.
"kalo tidak mampu pesan hotel, jangan lakukan itu di sekolah. Itu benar-benar menjijikan."Lalu Samuel kembali membalikkan badanya, berjalan meninggalkan Cecil dna arkan.
"woy pak, Kita ga semesum itu ya, pikiran bapak aja tuh yang kotor!!"
****
bell pulang berbunyi, hari yang begitu buruk akhirnya berakhir juga. Gara-gara guru kampret sok ganteng itu, hari Cecil benar-benar hancur dalam sekejap mata, harusnya Cecil sudah merasakan ciuman pertama dengan Arkan, kalau saja pak Samuel tidak mengguyurnya dengan air bekas pel.
Dan akhirnya Cecil mengganti sergamnya yang basah dengan baju olahraga Arkan, Arkan sampai bela-belain tidak ikut kelas dan dihukum si guru kutukupret itu cuma agar cecil tidak masuk angin karena bajunya yang basah
"gue gedeg banget sama si Samuel, Samuel sambel trasi itu. Masa tadi gue lagi diem di taman sama arkan terus di siram air pel coba, apa ga waras tuh guru,"Cerocos Cecil"mana dia ga minta maaf malah ngasih gue uang lecek lagi, dia kira gue cewek apaan."
Tidak ada respon dari temen-temenya, Luna, Crystin dan Eva sibuk melihat layar ponsel Crystin.
"guys, kalian dengerin gue ga sih."
ketiganya mengangguk kompak tapi tidak melihat sedikit kearah Cecil.
"Kalian lagi liat apa sih."
"woy ini beneran ignya pak sam?!"Teriak Crystin histeris.
"Iya, ini beneran ignya."Luna dan Eva buru-buru membuka hpnya dan mulai mengetikkan nama ig samuel di HP mereka.
Kalau mereka tau sifat asli Samuel, nanti juga mereka akan kembali ke jalan yang benar lagi.
"e, eh, itu kan pak Samuel ya."Heboh Crystin menunjuk Samuel yang hebatnya kebetulan lewat di depan warung bakso. Membuat perut Cecil semakin mual saja melihat mukanya yang sok ganteng itu.
"Apaan sih jelek gitu aja, heboh amat jadi orang,"Cibir Cecil membuang muka, sudah muak dengan muka Samuel.
"Jangan gitu loh Cil, nanti kalo dia jodoh lo gimana?" Ceplak Luna, semakin berteman dengan Crystin, mulut Luna semakin enteng.
"amit-amit punya jodoh kayak dia, mending gue jomblo seumur hidup kalo itu sampe kejadian."