Motor besar Arkan berhenti tepat di depan gerbang rumah Cecil. Cecil turun dari motor, dibantu oleh Arkan untuk membukakan helm.
"Tolong beri saya keringanan sedikit pak, tolong jangan sita rumah ini, saya akan melunasi semua utangnya selama seminggu, tolong pak, saya tidak tau mau tinggal dimana lagi,"Mohon Pramata, suaranya mengalihkan pandangan Cecil dan Arkan.
Entah apa yang terjadi di dalam, beberapa orang memakai kaos hitam sibuk mengeluarkan barang-barang dari dalam rumah Cecil, papahnya terlihat terus memohon-mohon pada orang asing yang tidak Cecil kenal, sedangkan mamahnya terus menatap orang-orang yang membawa barang-barangnya keluar dari rumah.
"Aku pulang dulu ya,"Pamit Arkan, dia sebenarnya mau tanya-tanya apa yang terjadi, tapi dia tipe orang yang tidak mau ikut campur urusan orang kalau dia memang tidak dilibatkan.
Cecil mengangguk-angguk, setelah motor Arkan pergi melaju membelah jalanan, dia langsung berjalan masuk kedalam rumahnya dan menghampiri mamah papahnya.
"Ini ada apa mah? kenapa barang-barang kita di keluarin kayak gini?"
"Seluruh barang-barang di rumah kita di sita, papah kamu habis ketipu sama temen bisnisnya, dia bawa kabur uang perusahaan sampe dua belas milyar, dan dia juga ninggalin hutan atas nama perusahaan,"
Jelas Mamah lirih, mungkin badanya akan jatoh kalo tidak bersandar di tembok.
Tubuh Cecil membeku, kakinya lemas, tubuhnya juga hampir terkulai ke tanah.
"Terus berarti kita bakal jatuh miskin?" Cecil menggeleng-gelengkan kepalanya tegas, di mimpinya saja dia ogah jadi orang miskin, apalagi di kehidupan nyata. baginya, jadi miskin itu kutukan.
"Ga, ga mau, aku ga mau jadi miskin, aku ga mau tiap hari makan pake Indomie terus makanya di lantai, aku ga mau shampo habis terus di oplas sama air, aku ga mau mandi pake gayung bentuk love, akhhh!" Jerit Cecil.
***
Malam ini semua anggota keluarga diharuskan kumpul di ruang tamu. Deon yang sering ogah-ogahan saja sekarang nurut, soalnya kondisi keluarga Pratam sedang tidak baik-baik saja, hampir diambang kehancuran, Cecil bahkan belum siap membayangkan bagaimana rasanya menjadi miskin.
Ruang tamu terlihat berbeda malam ini, astmofirnya lebih mencengkam dari film horor. Semua orang tampak resah dan tidak ceria.
"Cecil,"Panggil Pratama memulai pembicaraan.
"Ya,"jawab Cecil lemas.
"Kamu masih inget om Wira?"
Cecil mengangguk-angguk, atasan Pratama dulu, kesuksesan papah Cecil juga banyak melibatkan campur tangan dari Wira, sudah pasti Cecil mengenal orang yang sudah berjasa di hidupnya.
"Dia punya anak cowok, usianya terpaut lima tahun sama kamu. Wira mau bantuin papah kalau kamu mau menikah dengan anaknya."
"Cuma dia yang bisa bantu papah sekarang, kamu sayang papah kan?"
Beberapa detik tubuh Cecil membeku, mencoba menerima pendengaranya sendiri kalau papahnya baru saja mencoba menjodohkanya dengan orang lain.
"Mamah papah tuh lagi prank Cecil kan, iya kan, mana kameranya, mana?"Tanya Cecil celingak-celinguk mencoba mencari kamera.
Ya masa dari kemaren harinya suram terus. Sudah dihukum tiga kali oleh Samuel, ulangan matematika dadakan Luna mendadak pelit. Sekarang pulang-pulang sekolah malah mau di jodohin, dosa apa Cecil semasa hidupnya.
"mamah, papah serius."Raut wajah papah udah lebih dari cukup membuktikan kalau kali ini ucapan mereka memang tidak main-main.
Cecil menghela nafas berat sambil mengusak-usak wajahnya yang sudah lecek kayak uang diakhir bulan.
"kenapa harus aku yang dijodohin, kenapa ga kak Deon aja, secara kak Deon itu kan anak terpinter, jago masak, suka beberes, bersih, jago banget nyinyirin orang juga."
"dia ini cowok cil. Anak sulung dari keluarga, masa dinikahinya sama kakak kamu."
"ya gapapa dong, sesama cowok malah enak bisa saling mengerti satu sama lain."Pemikiran cecil emang kayak kolam lele. Iya, cetek.
"lo mau gue tendang ke neraka ya,"Balas Deon menatap adiknya sengit.
"mah, pah, masa kalian tega gitu sama cecil, cecil tuh masih kecil, belum siap buat hidup berumah tangga, masih banyak mimpi dan cita-cita yang harus cecil gapai,"
Mohon Cecil memelas.
"Emang lo punya cita-cita?"Sela Deon.
"Bacot lo Bambang."
"Justru kalau kamu nikah sama anak pak Wira, semua cita-cita kamu bisa di gapai." Cecil menggeleng-geleng keukeuh tidak mau.
"Kata siapa, kalo dia nuntut Cecil cuma buat jadi istri dan ngurus anaknya doang gimana?"
"Papah kenal anak pak Wira seperti apa, kamu jangan khawatir. Papah ga bakal jodohin kamu sama sembarangan orang," Jelas Pratama.
Pratama bangun dari sofa"besok kamu pulang cepat ya, dandan yang cantik, mereka akan datang besok malam."
mamah ikut berdiri dari kursi dan meninggalkan Cecil dan Deon di ruang tamu. Cecil terus menatap ke depan dengan tatapan kosong.
"gue bakal di jodohin sama siapa ya kak?"Tanyanya. Walau dia tidak suka dengan perjodohan ini, tapi dia juga kepo. Kan lumayan tuh kalo yang dijodohinya seganteng Lee min ho, dengan ikhlas lahir batin, Cecil akan terima perjodohannya.
"ya paling juga sama kakek-kakek gapunya gigi, rambutnya putih semua yang sebentar lagi menyongsong ajalnya. Mana mau ceo, direktur kaya raya nikah sama bocah tidak berguna kayak lo."
Rasanya, Cecil ingin menghunuskan pedang ke perut kakaknya ratusan kali, lagian bukanya nenangin adiknya, dia malah bikin Cecil makin nambah overthinking.
"Pokoknya nanti, walau nanti jodoh gue ganteng, gue tetep ga bakal mau di jodohin, gue cuma maunya sama Arkan seorang, ga ada yang bisa gantiin Arkan dihati gue, gue tetep maunya nikah sama Arkan, titik!"
"Arkan lebih parah, baunya kayak kuburan."
Bughhh....
Cecil memukul keras wajah Deon dengan bantal sofa, Deon kalo ngomong bisa memancing kodam Cecil untuk marah, jangankan ngomong, kakaknya diem aja udah bikin Cecil emosi setengah mampus.
****
Kantin terlihat begitu ramai siang ini, Cecil dan teman-temanya sudah asik menyantap bakso pak haji Ahmad, bakso sapi termantul seantero dunia.
"gue mau di jodohin,"Ucap Cecil di sela-sela makan mereka.
"apa? Dijodohin?!!"Teriak teman-teman Cecil kompak membuat hampir seluruh orang-orang yang ada di kantin mengalihkan perhatianya kearah mereka.
"gausah keras-keras juga anak anjing,"
Sebal Cecil.
Crystin memajukan duduknya, si biang ghibah yang sebentar lagi akan menjadi ratunya begitu antusias mendengarkan topik hangat ini.
"kok lo bisa dijodohin sih sil, mamah papah lo kasian ya sama lo takut anaknya dimasa depan ga laku? tapi ya emang harus banget di jodohin sekarang gitu? Lo masih menganut sistem maling kundang?"Cecar Crystin.
"sangkuriang ga sih yang di jodohin tuh,"Timpal Eva ikut menyambung, sudah salah, ngomongnya percaya diri banget lagi.
"itu siti nurbayan anak-anak setan,"Koreksi Cecil sudah gemas.
Luna hanya tertawa melihat betapa bodohnya teman-temanya, tapi lebih bodoh dia yang mau aja main sama orang-orang bodoh kayak mereka.
"emang lo dijodohin sama siapa sih cil, ganteng apa ga? Mobilnya lamborghini atau pajero? Kerjanya apa? Udah punya rumah?" Cecar Crystin sudah seperti wartawan saja."
Cecil mengedikkan bahunya"jangankan merk mobilnya, mereka nunjukin fotonya juga engga."
"kalo jodoh lo aki-aki yang udah tua, bau tanah kuburan, rambutnya putih semua gimana?"
"Ya tinggal nunggu matinya,"Jawab Eva enteng. Entah kesurupan apa, tapi hari ini Eva cukup pintar.
"Tapi masa keperawanan gue harus di rebut sama aki-aki akkhh gamau gamau ga suka."
"Atau mungkin aja lo di jodohin sama om-om mesum banyak brewoknya yang tiap hari minta jatah, duh ngeri banget tuh."Crystin tuh paling pinter bikin Cecil tambah overthingking.
"terus Arkan udah tau lo bakal di jodohin?"Kini Luna yang bertanya, Cecil menggeleng lemah. Iya, dia lupa dengan Arkan.
bagaimana bisa dia bilang pada kekasihnya itu kalau dia akan di nikahkan dengan orang lain. Pria itu pasti akan memutuskan dan meninggalkanya, tidak, Cecil tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Cil."Luna menggoyangkan pelan bahu Cecil.
"ga, gue ga bakal mau di jodohin! Sampe upin ipin sekolah sd, sampe andin ikatan cinta punya anak 50 gue ga bakal mau di jodohin!"
"tapi kalo lo ga mau di jodohin lo bisa miskin cil."
"iya cil, kalo lo miskin nanti siapa yang traktir kita."
"kita udahan aja ya temenanya. Lo miskin."
"bangsat."Cecil mengacungkan jari tengahnya di depan teman-teman laknat tidak beradabnya itu.
Cecil menghela nafas, mungkin sudah tidak ada pilihan lagi untuknya. Soal nanti jodohnya tua bangka atau om-om mesum yang sering minta jatah setiap hari. Itu urusan nanti. yang penting dia tetap bisa hidup hedon dan tidak kehilangan apapun.
***
Hampir satu jam Cecil di make over oleh tetangganya yang bekerja menjadi make up artis. Memang tidak sia-sia satu jam di make up, karena muka Cecil yang cantik berubah jauh lebih cantik, bidadari aja mungkin iri liat muka dia sekarang.
Belum lagi dengan gaun coklat susu yang terlihat begitu manis melilit di tubuhnya, gaun yang di belikan oleh ibu samuel khusus untuk Cecil, yang katanya harganya lelebih mahal dari mobil avanza. Bukan cuma gaun, bahkan berlian yang melekat di tubuhnya semua dari calon ibu mertuanya.
Dari jauh mamah Cecil menghampiri anaknya. Menatap wajah putrinya yang begitu cantik di dalam cermin"cantik banget anak mamah."
Cecil tidak menggubris, dia malah mencebikkan bibirnya sambil terus misuh-misuh mengucapkan sumpah serapah.
"Nanti dibawah, kamu harus keliatan anggun ya, jangan gusrak-gusruk, jangan sampai cemberut terus juga, ini demi papah loh cil, demi kita juga."
"Y,"Jawab Cecil singkat, tidak padat dan tidak jelas.
"Sayang, sekali ini aja ya bantu mamah sama papah,"Mohon mamah mengusak-usak kedua bahu Cecil.
Ckleekk...
Pintu kamar Cecil terbuka, Deon berdiri diambang pintu, sama seperti Cecil, pria itu juga sekarang berdandan sangat rapih. Bahkan rambutnya tersusun rapih tidak berantakan seperti kehidupan Cecil.
"Jodohnya Cecil udah dateng tuh mah," Kata Deon.
"Gimana kak, ganteng cowoknya, ga tua-tua banget kan? Gue ga bakal kaget kan?"Cecar Cecil.
"Kayaknya dia deh yang bakal kaget liat muka lo,"Jawab Deon di bumbui penghinaan.
Cecil menengguk ludahnya berat, walau omongan Deon selalu menyakitkan, tapi kadang yang di katakanya itu beneran ga bohong.
Cecil keluar dari kamar dengan menggandeng mamah. Dia bisa melihat di bawah sana sudah ada papah, Pak Wira, istrinya, dan seorang pria menggunakan jas senada dengan warna gaun Cecil tengah mengobrol dengan papahnya. Cecil tidak bisa melihat wajahnya pria itu karena membelakanginya, tapi dilihat dari bahunya yang bidang dan badanya yang tinggi gagah, sudah menunjukkan kalau pria itu pasti pria tampan.
"Wah ini Cecil?"Tanya Wira saat Cecil sudah menuruni tangga terakhir.
Cecil langsung menyalami tangan Wira. tidak lupa memasang senyum paling cerah sedunia.
"Nambah cantik banget ya sekarang kamu."
Jantung Cecil hampir meledak saat pria yang akan jadi jodohnya itu membalikkan tubuhnya.
"lah lo!"Mata cecil terbelalak, tanganya menunjuk cowok yang baru saja membalikkan badanya itu.
Arrghhh..... Kenapa dunia menyiksa Cecil berlebihan seperti ini, padahal Cecil hari ini ga ulang tahun loh, kenapa rasanya semua orang sedang mengerjainya. Kenapa tiba-tiba Samuel, cecil ulangi SAMUEL, guru paling freak, paling aneh, paling menyebalkan dimata Cecil tiba-tiba ada di rumahnya. Ini benar-benar tidak masuk akal.
Berbeda dengan Cecil yang kaget, Samuel dengan sopan menyalami tangan mamah papah cecil. Dia lalu mendudukan dirinya kembali disamping Wiraguna.
Alisa menarik tangan putrinya untuk duduk manis di sampingnya.
Tatapan cecil tidak lekang menatap Samuel di depanya, jangan bilang pada Cecil kalau orang yang dijodohin itu benar-benar guru olahraganya, rasanya Cecil ingin bunuh diri saja di bawah pohon toge.
"Cecil kenalin, ini Samuel, dia anak sulung pak Wiragunawan yang kemaren mamah kasih tau. Samuel ini lulusan universitas di Amerika dan sekarang lagi sibuk ngurusin perusahaan yang dibangun sendiri."
Mau se bagus apapun mamah menjelaskan tentang Samuel, dimata Cecil Samuel hanya guru olahraga yang sering caper ke murid ceweknya dan guru sok ganteng padahal mukanya kayak sambel terasi.
Cecil berdiri dari kursinya, tiba-tiba saja meraih tangan Samuel"ikut gue,"pintanya memaksa sambil menarik pria itu pergi keluar dari dalam rumahnya.
"Cecil kamu mau kemana?"Tanya mamah Cecil tidak dengan suara tinggi seperti biasanya. Iyalah, jaga image dong sama calon besan.
"Duh kayaknya Cecil udah ga sabar deh nikah sama Samuel, sampe belum apa-apa udah di seret-seret begitu,"Celetuk ibu Samuel.
"Iya ya jeng, jadi mau dinikahin besok aja nih, biar cepet kita gendong momongan."
"Boleh, sekarang juga boleh,"Timpal ibu Samuel tertawa kecil.
Cecil menghentikan langkahnya di taman samping rumah. Dia menatap Samuel beberapa detik untuk mencoba percaya lagi kalau orang yang mau di jodohkan denganya itu si sambel terasi menyebalkan itu.
"lo, lo, lo...."Bahkan untuk mengatakan sesuatu saja rasanya lidah Cecil sudah malas, bagaimana dunia begitu jahat padanya, bisa terus mempertemukan dia dengan manusia sambal terong yang nyebelinya minta ampun kayak Samuel.
Dari dalam rumah sampai kesini, Samuel terus menatap Cecil dari ujung kepala sampai ujung kaki, bibirnya terus tersenyum tanpa memudar.
"Apa liat-liat lo!"Tukas Cecil.
Samuel menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangannya sekalipun dari hadapan Cecil" Kamu cantik juga ya ternyata."
"Bacot lo!"
"Saya serius."
Cecil mengusak-usak wajahnya kasar
"kenapa sih lo harus muncul di kehidupan gue dan selalu bikn hari gue jadi buruk, ga cukup lo ya bikin gue sengsara di sekolah!!"Tukas Cecil berapi-api.
menunjuk-nunjuk Samuel tanpa rasa sopan santun. Samuel meraih jari telunjuk Cecil, dengan tenang menurunkan jari telunjuk itu.
"saya guru kamu, sopan sedikit."
"oke, gue minta maaf pak Samuel."
"hmm, jangan ulangi lagi."
"kenapa, kenapa dari jutaan pria di dunia ini lo yang harus jadi jodoh gue!! Kenapa!! Kenapa ga Kim taehyung aja, kenapa ga Bright vacirawit aja."
"jodoh mungkin,"Jawab Samuel santai.
"jodoh lo dari jonggol, gue kenal lo aja engga, tiba-tiba lo bilang kita jodoh."
"saya kenal kamu, kamu murid yang pake lipstik kaya tante-tante itu kan, sama murid cabul di belakang taman."
Dari semua hal yang ada pada diri Cecil, Samuel hanya mengingat hal-hal buruknya saja, dasar netijen.
"bentar deh, saya mau tanya serius sama, bapak kan anak sulung keluarga terkaya di negara ini, jelas dong pasti bapak kaya raya, tapi kok bapak mau-mauan jadi guru pengganti yang gajinya ga seberapa?"
"Mengisi waktu luang,"Jawab Samuel simple.
Sebenarnya di otak Samuel tuh ada apanya sih, padahal kalau Cecil jadi dia mending diem di rumah dan ongkang-ongkang kaki, emang gabutnya orang pinter tuh beda ya.
"arrghhhh!!"Teriak Cecil kepalang depresi, dia duduk berjongkok, lalu menangkupkan wajahnya dengan kedua tangan. Kedua bahunya mulai bergetar, di detik berikutnya dia mulai terisak.
"apa salah baim ya allah,"Lirih Cecil di tengah- tengah isakanya. Samuel ikut berjongkok di depan Cecil, menumpu dagunya dengan kedua tangan seperti gaya ceribel.
"se senang itu ya kamu mau dijodohkan dengan saya."
'Ganteng-ganteng goblok ya lo, Segitu depresinya di bilang seneng, buta mata lo!'Rutuk Cecil dalam hati.
"gini aja, pak Samuel dengerin gue ya, gue ga bisa nikah sama lo, karna gue udah punya pacar."
"si cabul itu?"Tangan Cecil mengepal, tinggal satu ayunan saja dia bisa menggolem wajah sok ganteng Samuel.
"namanya Arkan. Dan gue ga bakal ninggalin Arkan selamanya, Jadi mending lo ngomong ke orang tua lo buat batalin perjodohan ini."
Samuel tetap diam tidak memberikan kepastian apapun.
Cecil mengela nafas, dia meraih tangan Samuel, menatap Samuel penuh pengharapan.
"kalo pak sam batalin perjodohan ini, saya akan jadi murid yang baik yang ga pernah telat masuk jam pelajaran, saya juga ga bakal pake lipstik tebel lagi, saya janji ga bakal ngomong kasar dan lebih menghargai guru lagi."
"sebelum bapak ambil keputusan, dengerin saya baik-baik ya pak, saya ini cewek yang ga bisa masak, males nyapu, males ngepel, paling ga mau kalo disuruh cuci piring. "
"saya punya sepuluh pembantu, kalau kurang saya carikan lagi."
Apa katanya, Sepuluh? Se sibuk apa memang si Samuel ini sampai punya sepuluh pembantu, jangan-jangan ceboknya si sambel terasi ini juga di cebokin sama pembantunya. Ya kan orang kaya bebas.
Tapi Cecil tidak bisa berhenti sampai sini, sebelum Samuel jijik padanya, dia akan mencemarkan nama baiknya dengan kebohongan-kebohongan nyrempet kebenaran hidupnya.
"saya tuh orangnya jorok banget, tiap pagi saya bangun jam tujuh dan jarang sikat gigi, nih cium bau jigong saya hah...hah...hah..."Cecil berjinjit, membuka mulutnya lebar dan menghembuskan nafas tepat di depan wajah Samuel. Samuel mendorong tubuh Cecil agar menjauh dari dirinya.
"ketek saya juga bau asem pak, eh engga, ketek saya bau ikan malah, nih-nih mau cium."Cecil menentengkan keteknya kearah Samuel, wajah jijik Samuel semakin terpampang jelas di depan matanya. Sebentar lagi juga pria itu berubah pikiran dan akan membatalkan pertunangan ini.
"saya juga sering ngupil, dan yang paling parah, saya taro upil saya di bawah meja makan. Dan asal bapak tau ya, ada bisul segede gaban di pinggir pantat saya pak. Bapak mau liat?"Cecil sudah siap menyingkap roknya, sebelum Samuel memalingkan wajahnya.
"tidak perlu."
Cecil membusungkan dadanya, seolah-olah bangga dengan sifat buruknya.
"jadi gimana pak, yakin nih mau tetep jadiin saya istri, idih kalo saya jadi bapak, amit-amit saya nikahin orang kayak saya. Ayolah pak, saya ngomong gini karna saya kasian sama bapak, saya ga mau bapak nanti nyesel akhirnya."
"hmm,"Jawab Samuel singkat, entah apa artinya itu, dia masuk kembali kedalam rumah, Cecil yang pasrah hanya bisa mengikutinya dari belakang. Di dalam sana, kedua ornag tua Cecil dan Samuel nampak mengobrol dengan sangat hangat, tawa mereka begitu menghangatkan ruangan besar itu.
"nah ini ni orangnya, belum di nikahin udah maunya berdua-duaan terus,"Ledek Pratama.
"apaan sih pah,"Dengus Cecil menatap tidak suka pada papahnya.
Cecil duduk disamping mamahnya. Senyum kemenangan terpancar di wajahnya. Lamaran yang diharapkan kedua orang tuanya tidak akan pernah terjadi seumur hidup.
"Kamu habis ngomong apa aja sama si Samuel?"tanya mamah berbisik kepo.
"Ada deh."
"jadi gimana keputusannya?"Tanya ibu Samuel.
"kita tanya pada anak-anak saja, kan kedepanya mereka yang akan menjalakan bukan kita,"Balas mamah Cecil begitu elegan, maksudnya sok elegan.
"kalo Cecil mau-mau aja sih, tapi itu tergantung pak, eh mas samuelnya, gimana mas, masih mau nerima aku apa adanya?"
Cecil sudah tau jawaban pastinya. Orang ganteng, bersih, dan kaya seperti Samuel tidak akan pernah suka dengan cewek jorok bin kotor. Perjodohan ini pasti tidak akan terjadi.
"minggu depan, saya akan melamar Cecil,"Jawab Samuel lugas.
"apa?!!"