Bab 3 Rencana kepulangan

1572 Words
Untuk ke sekian kalinya Hanna mengembuskan napas, selama itu pula ia merasa mulutnya akan berbusa karena berbicara kalimat yang sama. Keadaan Mario tak jauh berbeda, pria itu terlihat berdiri memunggunginya dengan telapak tangan kanan di kening dan tangan kiri di pinggang. Diliriknya kembali dua lembar tiket pesawat di atas meja kaca, kemudian Hanna kembali menatap Mario. Ada pula beberapa berkas terkait penerbangan maupun hal lainnya. "Ini bukan urusanku, Mario. Kenapa kau selalu memutuskan sesuatu tanpa bertanya padaku lebih dulu?! Sampai akhirnya aku harus melakukan sesuatu yang tidak kusukai," keluh Hanna. Kini Mario berhadapan dengannya, menatap Hanna dengan ekspresi menahan kesal dan kening mengernyit. "Aku sudah mengatakan setuju kepada pihak perusahaan, lalu kau mau aku menanggung malu? Bagaimana jika mereka memberiku cap yang buruk?" Tangan besar itu membungkus tangannya dalam genggaman, Hanna diam-diam membuang napas ketika lagi-lagi ekspresi memelas terlihat di wajah Mario. "Aku mohon, Babe. Lagi pula kita hanya kembali ke Indonesia untuk beberapa waktu sampai kontrak selesai, aku janji tidak sampai dua belas bulan. Kau mau 'kan membantuku?" Perlahan Hanna melepaskan genggaman tangan Mario, kemudian melangkah menuju balkon di sana. Memandang hamparan pepohonan di luar, langit gelap mulai mengikis senja, angin berembus membelai lembut wajahnya. Hanna memeluk dirinya sendiri, berusaha keras meredam rasa sesak yang tiba-tiba menghantam hatinya. Ia mengambil napas dalam-dalam, dan mengembuskan perlahan. "Oke, tetapi kuharap kali ini kau menepati janjimu." Sayup-sayup terdengar pekikan Mario, hal itu sontak membuat tersenyum miris. Tubuhnya terperanjat ketika sebuah tangan turut serta memeluknya, Mario meletakkan kepalanya di pundak Hanna. "Terima kasih, Babe. Aku janji setelah ini semua selesai, kita akan pergi berlibur ke tempat yang kau mau." Sebuah kecupan kilat mendarat di pipi, Hanna terlonjak. Kemudian melepaskan tangan Mario di pinggangnya, ia tampak canggung. "Aku akan kembali ke kamar, jangan ganggu aku." Usai mengatakan itu, Hanna berlalu pergi. Meninggalkan Mario yang memandangnya dengan ekspresi tak berarti. • Rasa kantuk tak jua menghampiri, Hanna kembali membalikkan tubuh, mencoba mencari posisi nyaman untuk membuat matanya terpejam. Namun, lagi-lagi wajah seorang pria muncul. Hanna mau tak mau membuka mata, ia memandang hampa pada langit-langit kamar. Kamar itu terlihat terlalu terang untuk seseorang yang ingin tertidur, tetapi perempuan itu sama sekali tampak tidak terganggu. Waktu telah menunjukkan pukul satu dini hari, Hanna mendudukkan dirinya. Terdiam beberapa saat sebelum memutuskan untuk berdiri, ia melangkah menuju kamar mandi. Wajah pucat yang tampak lelah itu terlihat di pantulan cermin, untuk beberapa detik Hanna hanya memandang kosong ke arah cermin. Lalu langkah kecilnya membawa ia pada bathub kering di sana, Hanna membaringkan tubuhnya. Membiarkan permukaan keras benda tersebut menyentuh punggung, pikirannya menerawang jauh. Akan tetapi, kepalanya seolah hanya memiliki satu ingatan saja. Samar-samar suara lembut seorang pria terdengar, melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang begitu merdu. Hanna memejamkan mata, menikmati kehangatan yang perlahan menjalar di hatinya. Segaris senyum terbit di bibir, setetes air mata jatuh bersamaan dengan rasa sesak yang ikut terbawa. Sekalipun waktu telah berlalu, jarak telah memisahkan, dan hari demi hari ingatan lama tergantikan oleh ingatan baru. Hanna seolah tidak pernah bisa lepas dari masa lalu yang telah mengikatnya dengan kuat, tidak ada cara untuk bernapas dengan tenang. Andai ada cara melupakan tanpa perlu merasa sakit, akan Hanna lakukan sekalipun nyawa sebagai taruhan. • Kelopak mata itu terbuka, bersamaan dengan rasa pegal di sekujur tubuh. Hanna melenguh, lalu memandang sekitar dan menghela napas. Ia berusaha berdiri, kemudian melangkah menuju ruangan kaca dan berdiri tepat di bawah shower. Tanpa memedulikan pakaian tidurnya yang basah, Hanna terus membiarkan air dingin menyentuh langsung. Memberikan kesegaran dan perlahan kesadarannya pun kembali, ia melirik ke arah bathub. Tanpa sadar dirinya kembali melakukan kebiasaan lama, mungkin sudah lebih dari setahun ini Hanna tidak seperti ini. Suara kenop pintu mengejutkannya, Hanna menoleh dan mendapati handle pintu kamar mandi yang terus bergerak, seolah seseorang berusaha untuk membukanya. Tanpa sadar ia menahan napas, detak jantungnya berpacu keras. "Daisy! Kau di dalam?!" Seruan tak asing membuat napasnya kembali normal, suara Mario kembali terdengar. "Daisy! Tolong jawab bila memang kau ada di dalam!" Hanna mematikan shower, kemudian meraih bathrobe yang tergantung di luar tempat itu. Ia mendekat ke arah pintu yang masih terus terdengar ketukan. Wajah panik Mario menjadi hal pertama yang terlihat ketika pintu terbuka, pria itu tampak mengamati penampilannya beberapa saat sebelum memalingkan wajah. "Ah, kau sedang mandi." Terdengar nada gugup dalam kalimat itu. "Cepatlah ganti pakaianmu dan turun ke bawah! Kita akan sarapan bersama," ucap Mario sebelum melangkah cepat meninggalkan kamar Hanna. Sementara Hanna hanya bisa mengembuskan napas kasar, ia tidak sempat menegur Mario. Dari mana pria itu mendapatkan kunci cadangan kamarnya, dan bagaimana bisa pria itu melupakan peraturan yang ia buat di sini. Terlalu banyak memikirkan hal itu membuat Hanna pusing, ia memilih untuk melupakan sejenak dan melakukan apa yang Mario katakan tadi. Aroma sedap makanan menguar memenuhi ruangan, ketika Hanna tiba di dapur. Seumur-umur hidupnya di London, mungkin bisa dihitung jari ia berkunjung ke dapur. Kesibukan membuatnya melewatkan waktu untuk melakukan aktivitas yang dulu begitu disukainya, memasak. Punggung lebar seorang pria terlihat berdiri di depan kompor yang menyala, tangannya terus bergerak di atas wajan. Untuk ke sekian kali, Hanna membuang udara di dalam mulutnya. Mario adalah pria yang baik, tetapi mengapa sulit untuk Hanna menyukai pria itu. Bahkan meskipun kurang lebih tahun berlalu, dan dirinya bersama dengan Mario, tak jua membuat Hanna jatuh cinta. "Kau di sini? Duduklah." Suara Mario menyentak kesadaran Hanna, perempuan itu tampak linglung beberapa saat sebelum mengikuti apa yang Mario katakan. Sup ayam dan ayam goreng, dua masakan yang dulu Hanna ajarkan kini pria itu melakukannya dengan baik. Bahkan Mario tahu bahwa dirinya tidak terbiasa sarapan, tetapi kini pria itu menyiapkan salah satu makanan kesukaannya agar Hanna bisa makan. "Aku harap kau suka, mungkin sedikit berbeda dengan yang dulu kau buat. Tapi aku sebisa mungkin membuatnya dengan mirip," kata Mario. Hanna melirik sekilas, sebelum meraih sendok dan menyendok besar sup ayam yang masih mengepulkan uap panas. Sensasi rasa gurih dari kaldu, memenuhi rongga mulutnya dan menghantarkan rasa hangat ketika ditelan. Lumayan, meski sedikit asin. Hanna kembali menyuapkan sesendok sup, tetapi tangannya terhenti di udara ketika menangkap ekspresi Mario. Sontak sendok yang hendak masuk ke mulutnya, kembali diletakkan di mangkuk. "Rasanya lumayan, tapi kurangi sedikit asin." Ekspresi gugup itu berganti dengan mata berbinar, Mario tersenyum lebar. "Syukurlah kau menyukainya, aku akan berusaha keras lagi nanti." Hanna mengangkat bahu acuh tak acuh, dan kembali melanjutkan makannya. "Ah, ya. Mengenai tiket itu ...." Namun, terhenti ketika Mario mengatakan kalimat menggantung itu. Seolah mengerti apa yang hendak Mario katakan, napsu makannya seketika turun dan mungkin hilang. Hanna meletakkan sendok kembali ke tempatnya, ia berdiri dan berbalik hendak meninggalkan meja makan. "Daisy!" seru Mario panik. "Aku akan bersiap, terima kasih untuk makanannya." Usai mengatakan itu, Hanna benar-benar meninggalkan ruangan. Diiringi tatapan Mario yang terarah padanya, pria itu menghela napas pelan. Dia bisa merasakan keberatan dari Hanna, tapi dirinya pun tidak bisa membatalkan kontrak. Perusahaan yang baru memasarkan dengan luas produknya itu, rela memberikan uang besar kepada Hanna. Sejujurnya Mario tidak mengerti mengapa hal itu terjadi, di antara banyaknya model bagus-bagus di sana, perusahaan itu justru memilih Hanna yang tidak begitu terkenal. Bisa dikatakan Hanna hanya seorang model yang sesekali muncul di majalah, bukan model dengan nama besar. Sejujurnya semua ini begitu berat untuk Hanna, ia harus kembali ke tempat di mana pusat rasa sakitnya berada. Mungkin saja akan banyak kejutan tak terduga, dan sebelum itu dirinya berharap telah kembali ke London. Mereka kini tengah berada di mobil yang akan membawa mereka menuju bandara, sepanjang perjalanan hanya diisi dengan keheningan. Mario sesekali melirik kekasihnya yang sedari tadi memandang ke arah luar, bahkan ucapannya hanya mendapatkan balasan angin lalu. "Daisy, kau masih marah padaku?" tanya pria itu untuk ke sekian kali. Kali ini Hanna merespons dengan gumaman tak jelas, tetapi pandangannya tetap mengarah keluar kaca. Mobil akhirnya berhenti setelah 25 menit perjalanan, Hanna memandang sekitar yang sedikit ramai. Terlalu sibuk mengamati, sampai dirinya dikejutkan oleh pintu mobil dibuka dari luar. Pandangan Hanna sontak mengarah pada Mario yang tersenyum padanya dengan tangan kanan berada di pintu mobil, seolah mengerti Hanna pun keluar dari sana. Mario bergegas mengambil alih koper Hanna yang baru saja diturunkan oleh sopir dari bagasi mobil, membuat pandangan perempuan itu terarah padanya. "Biar aku yang bawa," kata Mario. Dia sontak menjauhkan tangannya ketika Hanna hendak mengambil alih koper, Mario menggeleng seraya berbalik dan berjalan lebih dulu. Di sisi lain, Hanna menghela napas melihat tingkah Mario. Ia pun melangkah dan memberikan jarak dua langkah di belakang pria itu, pandangannya jatuh pada dua koper di masing-masing tangan Mario. Hanna tidak terlalu banyak membawa pakaian, karena ia merasa kontrak tidak akan memakan banyak waktu. Berbeda dengan koper hitam di tangan kiri Mario yang merupakan milik pria itu sendiri, koper dengan ukuran lebih besar itu menarik perhatiannya. Mario seperti hendak liburan panjang di negeri orang, padahal mereka pergi ke sana untuk bekerja. Terlalu banyak melamun, membuat Hanna tidak menyadari bahwa mereka telah tiba di loket bandara untuk check-in. Hanna melirik jam di pergelangan tangan, satu jam lagi sebelum waktu keberangkatan. Setelah pemeriksaan bagasi dan sebagainya, akhirnya kini Hanna dan Mario telah tiba di dalam pesawat. Pesawat pun lepas landas, membawa ketegangan tersendiri untuk Hanna. Meski bukan penerbangan pertamanya, ia tetap saja tegang, terlebih tujuannya kali ini cukup menguras pikiran. Pesawat meninggalkan permukaan landasan, gumpalan awan mulai terlihat seiring dengan jauh antara tanah dan pesawat. Hanna memandang ke arah luar, memperhatikan tiap jarak yang terlihat jelas di bawah sana. Sama seperti pikirannya yang melambung jauh, meninggalkan kalimat penenang di dalam hati. Berharap hal itu sedikit berguna, alih-alih membawa debaran menyakitkan di hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD