Barangkali kedua ular jelmaan ini menganggap diriku tidak ada bedanya dengan tikus; main gigit, gigit, GIGIT. Andai bahan bajuku kualitasnya buruk, maka sudah pasti aku akan terjerembap! Jatuh begitu saja. BUUUM. Begitu sampai di depan labirin, Malam telah menanti dan menampilkan senyum jenaka. “Haa datang,” katanya dalam wujud manusia. Bulan langsung beralih rupa, menjadi manusia, dan kini membopongku. “Kau sengaja melakukannya.” “Ada bau Siel,” Malam menjelaskan. “Kau bisa mencium aroma melati dan salam dari tubuhnya, bukan?” “Tuan-Tuan,” aku menyela. “Saya ingin pulang.” Aku tidak peduli bau badanku memiliki aroma bunga atau bumbu dapur. “SAYA INGIN PULANG.” Alih-alih mengamini, Bulan menunduk, mengendus kepalaku, lalu berkata, “Benar.” “Beri aku mutiara delima,” Malam menuntut. “

