Seminggu sudah Wijaya tinggal di rumah paman Nilam. Rencananya hari ini Wijaya akan minta izin untuk jalan-jalan ke kota Yogyakarta selama tiga hari, dan mereka akan menginap di sebuah hotel dekat Malioboro.
Selesai sarapan, seperti biasa paman Nilam selalu pergi menuju tempat kandang sapi untuk memberi makan. Dan letak kandang sapi tersebut sekitar lima ratus meter dari rumah. Sebelum paman Nilam berangkat ke kandang sapi, Wijaya yang melihat Rifai sedang bersiap-siap memakai sepatu botnya, langsung berbicara padanya.
“Paman, saya mau minta izin untuk ke kota Yogyakarta selama tiga hari. Dan rencananya kami akan menginap disana, biar lebih dekat ke tempat wisata,” ucap Wijaya meminta izin pada Rifai dengan memberikan alasan untuk jalan-jalan ke beberapa tempat rekreasi, walau sebenarnya ia ingin berbulan madu dengan Nilam.
“Rencananya akan menginap dimana?” tanya Rifai, seusai memakai sepatu bot berwarna merah, menoleh ke arah Wijaya.
“Kami akan menginap di hotel dekat Malioboro, supaya lebih dekat kalau jalan ke keraton dan saya juga ingin tahu keramaian Malioboro di malam hari, karena selama ini, saya belum pernah ke kota Yogyakarta,” sahut Wijaya dengan tersenyum ke arah Rifai.
“Yaa sudah kalau begitu, lalu..., untuk ke kota, kamu mau naik apa? Di sini susah untuk cari mobil secara online..., enggak ada yang mau, karena terlalu jauh, namanya juga dusun!” ujar Rifai sambil berpikir tempat sewa mobil di daerahnya. “Ooh...iya, begini aja, nanti paman mampir ke rumah pak Bimo, menantunya punya mobil, siapa tau boleh di sewa.”
“Yaa sudah, paman ke rumah pak Bimo dulu, nanti kalau jadi, paman hubungi kamu lewat telepon,” ucap Rifai kembali, sambil ke luar rumah dan pergi dengan mengendarai motornya menuju rumah pak Bimo sebelum ke tempat kandang sapi.
Sementara itu di rumah Nilam sedang membantu bibinya yang berada di dapur, dan ia belum memberitahu perihal keinginan Wijaya untuk menginap di hotel selama tiga hari di kota Yogyakarta. Padahal Wijaya sudah meminta pada Nilam, untuk minta izin pada bibinya dua hari lalu. Hanya saja, Nilam malu untuk mengatakan hal itu pada bibinya. Ia malu kalau bibinya berpikiran, ia ingin berbulan madu.
Karena rasa malunya, selama ini saat Wijaya melakukan kewajibannya sebagai suami, Nilam hanya diam saja tanpa memberikan ekspresi apa pun. Dan Wijaya pikir, itu semua karena rasa risi dan malu Nilam pada paman dan bibinya. Beberapa kali Nilam terlihat menggigit bantal ketika mereka sedang melakukan hubungan suami istri. Karena itu, Wijaya ingin mengajaknya berbulan madu di hotel, agar Nilam tidak lagi merasa canggung dan malu ketika berada di dalam kamar bersamanya.
Apalagi, selama ini Nilam selalu menunggu paman dan bibinya tertidur lelap untuk melakukan kewajibannya sebagai istri dan sikap malunya yang membawa ia sungkan jika mengekspresikan hasrat yang ada di dalam dirinya.
“Lagi pada masak yaa Bi,” tanya Wijaya yang sudah berada di dapur dan duduk di kursi makan.
Zubaedah tersenyum ke arahnya dan berkata, “Iya... kemarin sore, selepas bada magrib, ada ayam jatuh ke kolam lele, hampir meregang nyawa, makanya bibi potong aja sekalian, dan sekarang lagi di masak jadi semur ayam, sama Nilam.”
“Ooh gitu, Wah... makan enak kita hari ini yaa,” sahut Wijaya membalas ucapan Zubaedah.
“Bii.., ” panggil Wijaya memandang Zubaedah.
Zubaedah menoleh ke arah Wijaya, sementara Nilam masih terlihat sibuk mengolah ayam yang telah berada di atas kompor. Zubaedah yang menoleh ke arah Wijaya, merasa ada hal penting yang akan dibicarakan, lalu ia pun berjalan ke arah kursi makan dan bertanya pada Wijaya yang duduk di kursi makan, “Yaa.. Jaya, ada apa?”
“Begini Bi.., hari ini Jaya minta izin untuk ke kota Yogya, rencananya selama tiga hari disana, sekalian jalan-jalan ke keraton dan tempat wisata lainnya.”
“Oooh... begitu, bibi pikir mau bicara apa.., ya udah sekarang kalian siap-siap aja dulu. Lalu kalian mau ke kota pakai kendaraan apa? Harusnya sehari sebelumnya kasih tau bibi, jadinya kan bibi bisa minta tolong sama tetangga yang punya mobil untuk antar kalian.”
“Barusan Jaya udah bilang ke paman, dan paman bilang mau ke rumah pak Bimo,” ujar Jaya memberitahukan obrolannya dengan Rifai, sebelum ia berangkat ke kandang sapi.
“Hmmmm, semoga aja mobilnya bisa di sewa yaa.., tapi kalau enggak salah, yang punya itu menantunya pak Bimo,” ucap Zubaedah menegaskan kembali hal yang telah diketahui Wijaya dari Rifai.
“Lam, udah tinggal aja itu masakannya, sekarang kamu siap-siap, mungkin sebentar lagi juga pamanmu___.”
Belum sempat Zubaedah menyelesaikan ucapannya, telepon genggam milik Wijaya berbunyi, dan ia memberitahu Zubaedah kalau Rifai menghubunginya.
“Yaa...paman,” ucap Wijaya mengawali percakapannya lewat ponsel.
“Jaya, kamu bersiap-siap aja, sebentar lagi mantu pak Bimo akan ke rumah dan mengantarkan kamu ke Yogyakarta. Beritahu juga bibi yaa,” ucap Rifai, dan menutup pembicaraannya, setelah memberikan kepastian atas mobil yang akan membawa Wijaya dan Nilam ke kota.
Zubaedah yang mendengar ucapan suaminya dari ponsel yang di loudspeaker , langsung meminta Nilam untuk bersiap-siap dan meninggalkan dapur. Begitu juga dengan Wijaya berlalu dari dapur menuju kamar. Sesampai di kamar, Wijaya langsung memeluk Nilam dan berkata, “Akhirnya... kita akan berbulan madu.”
Nilam yang mendengar kata-kata Wijaya hanya tersipu malu dan menimpali ucapannya dengan berkata, “Sudah mas..., cepat berkemas, enggak enak sama orang yang mau jemput kita.”
“Tapi..., semalam enak kan?” tanyanya menggoda Nilam, dengan memasukkan beberapa pakaian pada tas berwarna hitam yang telah disiapkan.
“Aduuh... apa sih mas ini...aah,” sahut Nilam dengan mencubit lengan Wijaya yang sedang memasukkan beberapa pakaian.
Ucapan Nilam disambut tertawa kecil Wijaya, dan memang demikianlah Nilam, seorang gadis desa yang lugu dan polos dengan sifat malu serta tata krama yang di jung-jung tinggi olehnya.
Selesai merapikan pakaian dan perlengkapan yang akan dibawanya, Wijaya kembali memeluk tubuh Nilam dan membisikkan sesuatu ditelinganya, “Sayang... sampai hotel, kita bikin anak yaa.”
Nilam yang mendengar bisikan Wijaya hanya menunduk malu, keluar dari kamar. Sesampai di luar kamar, ia menuju teras, dan terlihat Zubaedah sedang berbicara dengan menantu pak Bimo, pemilik mobil yang akan membawa Nilam dan Wijaya ke kota. Nilam mendekati menantu dari pak Bimo yang bernama Teguh.
“Lam..., ini mas Teguh yang akan mengantar kalian ke kota Yogyakarta,” ujar Zubaedah memberitahu Nilam, saat ia sudah berada di teras.
“Mau ke daerah mana ya Mbak?” tanya Teguh pada Nilam.
“Ini mas.., ke Malioboro, kalau enggak salah, banyak yaa mas hotel disana.”
“Ooh Malioboro, santai mbak..., banyak.., nanti kasih tau aja, turun di hotel apa, kalau gimana sih... biar dekat dari jalan Malioboro,” Teguh memberikan saran pada Nilam.
Tak berapa lama, Wijaya telah membawa satu buah tas hitam besar, sedangkan Nilam membawa satu tas tenteng kecil. Mereka pun berpamitan pada Zubaedah dan Nilam berkata pada bibinya, “Bii..., pamitkan saya ke paman, yaa.”
Lalu mereka masuk ke dalam mobil, kemudian mobil pun meninggalkan kediaman Rifai menyusuri jalan yang berkelok dan terjal. Perjalanan yang akan mereka tempuh sekitar satu setengah jam, dan sepanjang perjalanan itu, mereka melihat perbukitan hijau dan hamparan padi yang baru di tanam.
“Mas..., kita akan ke hotel apa?” tanya Teguh pada Wijaya yang duduk di sampingnya.
“Hotel apa aja boleh sih mas, yang penting dekat jalan Malioboro, pengen menikmati suasana malam disana,” jawab Wijaya. Sementara Nilam hanya memainkan ponselnya tanpa ikut nimbrung pembicaraan mereka.
“Baiklah mas, nanti kita cari hotel yang dekat-dekat sana, Ehmmm maaf, apa mas ada rencana tinggal di desa juga?” tanya Teguh mengisi pembicaraan diantara mereka.
“Enggak koq mas, satu minggu lagi saya pulang ke Jakarta, sedangkan istri saya dua minggu lagi baru balik ke Jakarta,” jawab Wijaya menjelaskan rencana kepulangan mereka.
“Mas Teguh sendiri, bekerja dimana?” tanya Wijaya pada Teguh yang fokus ke jalan raya.
“Saya ini usaha mas, jadi kulakkan, ngambil-ngambil hasil bumi dari desa bawa ke kota.” jawab Teguh.
“Ehmmm, usaha yang bagus itu, uhmm... biasanya bawa apa aja mas?” tanya Wijaya penasaran dengan pekerjaan Teguh, karena walau di desa, ia mampu membeli mobil yang lumayan bagus, pikirnya.
“Yaa..., apa aja mas, kadang kelapa, buah-buahan, kopi, cengkeh, semua yang bisa di jual, wong saya kan cuma menunggu di rumah, nanti yang pada panen jual di tempat saya..., jadi saya tinggal oper ke kota. Malah kadang-kadang di kota ada order kayu jati, saya cari juga kayu jati. Saya cari orang yang punya pohon jati udah tua, kalau cocok harga, yaa langsung potong kirim ke kota. Cuma seperti itu mas... kerjaan saya, yang penting halal,” ucap Teguh dengan tersenyum dan merendah ke arah Wijaya.
Dalam hati Wijaya, ‘Ternyata banyak sekali peluang yang bisa di ambil untuk usaha di desa-desa kecil seperti ini, hanya perlu modal dan jaringan di kota saja.’
Satu jam lebih mereka lalui, akhirnya mereka sampai di sebuah hotel bintang tiga dengan fasilitas kolam renang. Sebelum masuk ke dalam hotel, Wijaya memberikan uang sewa atas mobil Teguh, yang telah mengantar mereka ke kota Yogyakarta.
“Terima kasih mas Teguh, maaf berapa yaa mas ongkosnya?” tanya Wijaya.
“Enggak usah mas..., wong sama tetangga koq gitu, saya ikhlas mas..,” Teguh menolak menyebutkan ongkos yang harus di bayar oleh Wijaya. Tetapi Wijaya tetap memaksa Teguh untuk menerima uang dengan menaruh sejumlah uang di dashboard mobilnya.
“Tolong diterima mas, saya yang enggak enak, kalau besok atau lusa minta bantuan mas lagi,” ucap Wijaya, keluar dari mobil dan bersalaman dengan Teguh. Begitu juga Nilam, mengucapkan terima kasih padanya.
“Terima kasih nggih mas, ini saya terima..., yang penting sampean ikhlas nggih,” ujar Teguh dengan mencakupkan kedua tangannya. Wijaya dan Nilam menganggukkan kepala dan membalas dengan mencakupkan kedua tangannya juga.
Setelah mobil Teguh berlalu dari halaman hotel, mereka berdua masuk ke dalam hotel. Wijaya berjalan ke arah resepsionis, sedangkan Nilam langsung duduk di bangku yang ada di ruang tunggu. Seorang wanita bagian resepsionis menyapa Wijaya, ketika ia telah berada di hadapannya.
“Selamat pagi pak, bisa saya bantu?” tanya seorang resepsionis dengan ramah.
“Pagi mbak, saya ingin memesan satu kamar deluxe, dan bisa saya pesan satu buket bunga mawar putih, yang di satukan dengan bunga sedap malam?” pinta Wijaya pada seorang resepsionis.
“Baik pak, akan saya siapkan, untuk berapa hari ya pak? Tanya kembali wanita bagian resepsionis tersebut.
“Untuk tiga hari mbak.”
“Bisa saya pinjam KTP bapak?”
Wijaya menyodorkan KTP pada bagian resepsionis, dan kemudian terlihat wanita itu menghubungi seseorang, dan ia berkata pada Wijaya dengan menyerahkan kembali KTP miliknya.
“Kamar sedang siapkan, silakan bapak tunggu di ruang tunggu, ketika telah siap, akan kami sampaikan ke bapak,” ucap wanita bagian resepsionis.
“Untuk buket bunganya bagaimana mbak? Dan kira-kira berapa lama kami harus menunggu?” tanya Wijaya sambil merapikan dompetnya untuk menaruh kembali KTP miliknya.
“Sudah pak, sedang disiapkan, nanti sekalian kami letakkan pada kamar bapak, dan nanti bapak menempati kamar nomor 301, silakan ditunggu, kira-kira sepuluh menit pak,” bagian resepsionis meminta Wijaya menunggu di ruang tunggu.
Wijaya berlalu dari hadapan resepsionis dan berjalan menuju Nilam yang masih menunggu dirinya di bangku ruang tunggu. Sesampai disana Nilam langsung bertanya padanya, “Bagaimana mas.., sudah?”
“Lagi disiapkan, ehmm pasti kamu sudah enggak sabar untuk menikmati bulan madu kita ya..” ucap Wijaya menggodanya. Dan Nilam hanya melempar pandangan ke arah beberapa ornamen bangunan hotel tersebut, tanpa menjawab, seolah ia tidak mendengar Wijaya yang menggodanya.
Sepuluh menit pun berlalu, kemudian bagian resepsionis menghampiri Wijaya dengan menyerahkan kunci nomor 301 dan mengatakan kamarnya telah siap. Lalu salah seorang Room Boy langsung membantunya dengan membawa tas hitam besar yang dibawa Wijaya menuju lift di sebelah kanan dari bagian resepsionis. Sesampai di depan lift, Wijaya menekan tombol panah turun, sesaat kemudian lift terbuka dan mereka masuk ke dalam lift. Di dalam lift Wijaya menekan tombol nomor 3, tak berapa lama mereka sampai di lantai 3.
Mereka berjalan di lorong lantai 3 untuk mencari kamar nomor 301. Dan nomor 301 berada di ujung dari bangunan tersebut, sesampai di depan kamar Wijaya menempelkan kunci otomatis yang berupa card pada bagian pintu kamar nomor 301. Pintu pun terbuka, mereka masuk dan lelaki bagian Room Boy meletakkan tas yang di bawa oleh mereka di dalam kamar, lalu lelaki itu keluar dari dalam kamar. Sedangkan Nilam asyik melihat-lihat bagian kamar.
Kamar itu terdiri dari satu dapur kecil lengkap dengan microwave, sebuah kulkas yang berisi beberapa minuman dan camilan. Pada bagian lain ada satu set meja makan yang berdampingan dengan ruang menonton televisi serta sebuah sofa panjang yang berada di depan televisi. Sementara, pintu kamar tidur persis berada disebelah dapur.
Setelah meletakkan tas yang dibawa pada lemari yang ada di kamar utama, Wijaya menarik tangan Nilam ke kamar utama. Di dalam kamar itu, Wijaya menyerahkan satu buket bunga yang telah di pesan dan berkata, “Selamat datang di kamar cinta kita, istriku sayang...”
Nilam yang mendapat kejutan sebuah buket bunga, langsung mencium bunga itu dan memeluk Wijaya dengan kasih sayang. “Terima kasih suamiku, semoga kamu mampu menjadi imam yang baik untuk aku,” ucap Nilam dengan memandang penuh cinta pada Wijaya.
Wijaya mencium kening Nilam. Dan ia juga mengecup bibir ranum Nilam penuh dengan hasrat cinta lalu Nilam membalas kecupannya dengan mencium bibir Wijaya. Mereka akhirnya saling mengulum bibir dan memainkan lidah mereka, yang terdengar hanya decap pada bibir mereka. Tangan Wijaya mengelus punggung Nilam dengan lembut dan meremas bagian bokongnya yang menyembul ke atas.
Kemudian dengan hasrat yang mulai meninggi, Wijaya mulai mengecup bagian leher jenjang Nilam dan mengecup bagian belakang telinganya hingga membuat ia menggeliat dan berkata, “Aahhhh...geli mas.”
Wijaya memandang Nilam dan memegang wajahnya dengan kedua tangannya, “Sayang..., disini kamu tidak perlu malu seperti di rumah paman, aku ingin, kamu melepaskan seluruh rasa yang bisa kamu nikmati, jadi menjeritlah jika ingin menjerit, karena di sini hanya ada kita berdua,” Wijaya berkata dengan memandang dalam pada netra Nilam yang berbinar bahagia. Dan hanya anggukan kepala yang dilakukan olehnya menyetujui ucapan suaminya.
Kemudian dengan perlahan Wijaya melucuti pakaian Nilam, hingga tersisa celana dalam dan Bra saja. Tampak Nilam telah memejamkan matanya, ketika Wijaya telah mengecup kedua gunung besar miliknya yang masih terlihat kenyal dan montok. Dan ia terus mengecup bagian bawah telinga, leher hingga berulang kali.
Lalu ia bersimpuh dan mulai mengecup bagian tengah s**********n Nilam, dengan posisi tangan yang terus meremas-remas kedua gunung milik Nilam. Tanpa di minta, Nilam yang telah terhanyut dalam gelora asmara, melepaskan Bra, penutup kedua gunung miliknya. Dan ketika Wijaya mulai menurunkan celana dalamnya dan bermain di bagian tengah selangkangannya, ia mulai menggeliat dan menggigit bibirnya.
Nilam kini merasakan sensasi yang sedikit demi sedikit dilakukan oleh Wijaya, semakin lama ia merasakan gelora hasratnya, dan tanpa di minta, Nilam telah membuka kedua kakinya lebar-lebar hingga membuat Wijaya leluasa bermain di bagian selangkangannya. Sampai akhirnya Nilam merasakan hawa panas menjalar di sekujur tubuhnya.
Kini yang terdengar hanya jeritan dan desahan. Yang awalnya samar-samar, kini terdengar keras dengan sesekali tangan Nilam menarik lembut rambut Wijaya yang masih bersimpuh di hadapannya.
Dan Wijaya yang merasa telah mampu membuat istrinya terhanyut dalam permainannya, mendongak ke arah Nilam dan berkata, “Sayang... aku akan memuaskan dirimu, jadi nikmatilah.., aku suka mendengar jeritan dan desahanmu”
Nilam yang telah merasakan sensasi luar biasa tidak dapat lagi membendung kenikmatan yang telah diberikan oleh suaminya. kini ia terus mendesah, menjerit dan menarik rambut Wijaya hingga akhirnya menekan lembut kepala Wijaya untuk tetap berada di tengah selangkangnya, sampai ia berada di puncak asmara, meninggalkan rasa malu seperti yang ia rasakan sebelumnya. Kini hanya gelora asmara dan hasrat batinnya saja yang kian meninggi.