BAB 9 : Perjodohan dua Sahabat

2225 Words
Pagi ini, Hanifah bersiap-siap ke toko pakaian miliknya, di daerah Tanah Abang. Sejak bercerai dengan suaminya, ia hanya fokus pada usaha yang telah di rintis, dengan menjual brokat, baju dan berbagai jenis kain. Kehancuran hati dan rumah tangganya atas pernikahan kedua yang dilakukan oleh Handoko, membuat ia hanya fokus untuk merawat putranya. Sebagai ibu, ia mencurahkan seluruh kasih sayang, layaknya, sebagai seorang ibu. Dan ia juga menggantikan peran sebagai seorang ayah dengan memberikan penghidupan yang layak bagi putranya. Memang tidak semudah membalikkan tangan, untuk bisa melepas rasa sakit hati akibat pengkhianatan yang rasanya kala itu. Yang ada di benaknya hanya bekerja dan bekerja. Dan hasil jerih payah, kerja kerasnya tidak pernah memungkiri suatu perjuangan yang di awali untuk melupakan luka, berbuah manis. Ketekunan, fokusnya pada bidang usaha yang ia jalani, membuat ia mampu melebihi kehidupan dan melupakan mantan suaminya. Memang terkadang, saat kita bisa mengelola rasa sakit dan kepahitan hidup yang kita hadapi, dengan berpikir positif, maka segala hal yang positif pun akan mendatangi hidup kita. Begitulah kehidupan lampau Hanifah, yang diberikan hak asuh pada putra tunggalnya, atas perceraian yang terjadi 18 tahun lalu. Waktu itu, Hanifah melakukan gugatan cerai, saat ia mengetahui suaminya selingkuh dengan teman kantornya. Keputusan itu di ambil karena baginya, sekali seseorang berselingkuh, ia akan mengulanginya lagi. “Pagi Uni..., tumben pagi sekali Uni ke toko, akan pelesiran bersama kawankah hari ini?” tanya seorang pedagang grosir yang mempunyai toko persis di sebelah toko Hanifah. “Iya nih dik, Uni mau bersua dengan sahabat lama, hendak berhitung perjodohan si Jaya,” ucap Hanifah. “Sudah cukup lama, Awak tak melihat batang hidung Jaya, apa sudah mulai di pingit.. Uni?” Raswati bertanya dengan berdiri tepat di depan toko Hanifah. “Ha..ha..ha., kau ini, pingit-pingit macam mana pula, tak ada model-model gitu. Si Jaya lagi keluar kota, masalah kerjaan,” Hanifah menjelaskan keberadaan Wijaya pada Raswati, teman berdagangnya. Di tokonya Hanifah mempunyai dua pekerja, yang membantu di toko pakaian miliknya. Mereka berasal dari daerah yang sama, hanya berbeda desa saja. Hanya saja, Hanifah dan kedua orang tuanya, sudah cukup lama merantau di Jakarta, mengadu nasib dengan berdagang dan selepas SMA, ia mengikuti kedua orang tuanya ke Jakarta. “Arif, coba.. kau tengok tukang bubur kacang ijo di dekat parkir, apa sudah tiba.., kalau sudah tiba, belikan aku satu porsi, kalau kau minat, belilah pula, Ooh...yaa, sekalian tanya Salimah, apa dia ingin pula,” Hanifah menyuruh Arif, membelikan bubur kacang ijo untuk ia dan kedua pekerjanya. “Baik Mak’Ifah,” Arif berlalu dari hadapan Hanifah setelah menerima uang yang akan digunakan untuk membeli bubur kacang ijo. Begitulah keseharian Hanifah ketika berada di tokonya. Dan memang seperti itu, gaya bahasa mereka, ketika bertemu dengan satu rumpun. Sedangkan ketika berada di rumah, Hanifah tidak pernah sekalipun menggunakan bahasa daerah. Sedari kecil, Wijaya hanya mendengar Hanifah menggunakan bahasa Indonesia, dan bahasa Indonesia menjadi bahasa keseharian mereka. Apalagi, sejak kecil, ia tidak pernah di ajak ke rumah keluarga jauh, yang berada di bukit tinggi, karena mayoritas keluarga inti, telah merantau di Jakarta, sedangkan Hanifah adalah anak tunggal. Dan sejak Hanifah menikah dengan pemuda diluar sukunya, ia tidak lagi mengikuti perkumpulan anak rantau, yang biasa di ikuti oleh orang tua yang telah tiada. Kemudian ia memutuskan, untuk fokus pada Wijaya, saat jalan perceraian menjadi keputusannya. Tetapi, ketika ia mulai merintis usaha, kembali ia berteman dengan beberapa kerabat jauh satu daerah. Dan itu membuat ia kembali menggunakan bahasa daerah, ketika berada dalam lingkungan sukunya. Walau tidak se-fasih orang-orang yang berasal satu daerah dengannya, namun ia berusaha untuk tidak melupakan bahasa daerah dan asal kedua orang tua yang telah tiada. Sekitar dua puluh menit kemudian, Arif membawa tiga gelas kacang ijo. Ia menyerahkan bubur kacang ijo pesanan Hanifah. Sementara pegawai perempuan yang bernama Salimah, sedang membantu pembeli memilih pakaian yang di carinya. Dan Hanifah berkata pada Arif, “Rif..., kau taruh ini punya Salimah. Kau makanlah dulu kacang ijo itu, lepas itu bergantian kau dengan Salimah.” Hanifah lalu menikmati bubur kacang ijo yang sangat digemarinya, begitu juga dengan Arif, terlihat menikmati bubur kacang ijo, duduk di sebuah kursi plastik, yang ada di bagian belakang, dekat kamar ganti pakaian. Sedangkan Salimah terlihat tengah membungkus pakaian yang diambil oleh pembeli, lalu ia berjalan menuju Hanifah, untuk meminta kembalian untuk pembeli pakaian di tokonya. “Minta kembalian sepuluh ribu, Mak!” ucap Salimah dengan memberikan selembar uang seratus ribu. Selesai memberikan kembalian pada Salimah, Hanifah berkata, “Imah, kau makan itu bubur kacang ijo, bagian kau..., selepas ini, Mamak akan bertemu sahabat lama, kalian berdua berjaga-jaga di toko dengan baik yaa,” ucap Hanifah, ketika dilihat Salimah mengambil jatah bubur kacang ijo yang di taruh pada sebuah lemari plastik dekat kamar ganti. “Baiklah Mak, tidak balikkah ke toko lepas sore nanti?” tanya Salimah, sambil menelan bubur kacang ijo yang telah masuk ke mulutnya. “Sepertinya tidak, karena Mamak ada urusan besar hari ini, berhati-hati kalian menjaga toko,” Hanifah mengingatkan kedua pegawainya. “Baik Mak’Ifah, kami akan berhati-hati,” jawab Salimah, dengan masih menikmati bubur kacang ijo. “Hati-hati di jalan.., Mak..,” ucap Arif dan Salimah bersamaan, ketika Hanifah berjalan keluar toko. Hanifah berjalan menuju tempat parkir mobil dengan menyusuri lorong pertokoan yang kian padat pengunjung. Memang di jam-jam sibuk, penuh sesak, antara lorong toko yang satu dengan yang lain. Sesampai di tempat parkir, ia menghubungi sopirnya dan memberitahukan keberadaannya. Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Ia masuk ke dalam mobil, lalu mobil pun meninggalkan area parkir pertokoan yang telah ramai. “Kita akan ke mana hari ini Buu..?” tanya Ahmad, setelah berhasil keluar dari kepadatan yang terjadi di tempat parkir. “Antarkan saya ke Thamrin City,” pinta Hanifah pada sopirnya. Dalam perjalanan, Hanifah menghubungi sahabatnya, Silvana, lewat ponselnya. “Sil..., aku menuju lokasi..., udah On The Way, sekitar tiga puluh menit sampai, nanti kita saling tunggu di lobby gedung utama yaa,” ujar Hanifah pada sambungan ponselnya. “Baiklah..., aku juga udah di jalan,” jawab Silvana memberitahukan keberadaannya. Kemacetan yang biasa di lalui oleh sebagian besar masyarakat perkotaan seperti Jakarta, membuat mereka memilih menghabiskan waktu dengan bermain Games, membaca berita online, atau hanya mendengar lagu lewat ponselnya. Setidaknya hal itu, mengurangi tingkat Stress yang di timbulkan dari kemacetan dan kebisingan di jalan raya. Begitu juga dengan Hanifah, ia lebih suka mengisi waktu di mobil, dengan buku TTS (Teka Teki silang) yang selalu ia bawa, ketika hendak bepergian. Pikirnya, selain mengusir rasa Stress di jalan, dapat juga untuk mengasah pikiran dan daya ingatnya, apalagi di usia yang hampir mendekati angka lima. Akhirnya, mobil yang membawa Hanifah sampai pada lobby Thamrin City, salah satu Mal yang cukup besar, dan berada di kawasan Jakarta Pusat. Sebelum keluar dari mobil, Hanifah berkata pada sopirnya, “Ahmad..., kamu langsung pulang saja, kemungkinan saya agak lama di sini.” Terlihat, Ahmad menganggukkan kepala, saat mendengar perkataannya. Setelah itu, Hanifah keluar dari mobil. Kemudian, Ahmad langsung keluar dari halaman Mal tersebut, menuju jalan raya yang kian padat merapat. Hanifah melangkah menuju lobby gedung untuk menunggu sahabatnya sesuai dengan percakapan di telepon. Tak berapa lama, sahabatnya, Silvana telah sampai dan sedang berjalan ke arahnya dengan melambaikan tangan. “Sudah berapa lama ada di Lobby?” tanya Silvana dengan menjabat tangan sahabatnya. “Enggak lama koq, aku juga baru sampai..., enggak sampai sepuluh menit.” Jawab Hanifah. “Ayoo, kita ke dalam mencari tempat untuk berbincang.” Saat masuk ke dalam gedung, mereka berjalan dengan bergandengan tangan. Dan bercakap-cakap tentang Jakarta tempo dulu dan sekarang. Karena, sejak meninggalkan Indonesia, hanya sesekali, Silvana pulang ke tanah air, dan itu juga, ketika ada momen-momen penting. Bukan untuk Holiday. “Kita makan empek-empek aja, Sil..., pastinya sudah lama kamu enggak ketemu empek-empek,” seloroh Hanifah pada sahabatnya. Dan disambut dengan senyum lebar dengan barisan gigi yang masih terlihat rapi. Mereka memasuki, kedai yang menjual empek-empek, lalu duduk pada kursi yang berada di bagian tengah. Kemudian Hanifah melambaikan tangan pada seorang gadis muda, yang bekerja disana, seorang pramusaji. “Selamat siang...Ibuu, saya Ita, ada yang akan di pesan?” tanya gadis muda itu ramah dengan menyodorkan daftar menu. Sejenak, Hanifah dan Silvana membaca menu dan berpikir, atas menu yang akan di pilihnya. Sementara gadis muda itu menunggu dengan sebuah nota dan bolpain ditangan. “Dik...saya pesan empek-empek kapal selam, tolong agak garing yaa... dan jus alpukat tanpa coklat” pinta Hanifah, masih melihat-lihat daftar menu yang terbuat dari kertas karton yang ada di tangannya. “Saya..., sama kan saja dengan ibu ini,” ujar Silvana dengan menunjuk ke arah Hanifah. “Uhmm untuk minumnya, saya minta jus mangga, tetapi jangan pakai s**u dan jangan terlalu manis.” Pramusaji yang bernama Ita, kembali membacakan pesanan yang telah di tulisnya, lalu ia bertanya, “Ada tambahan lagi?” “Aha! Lupa awak jadinya, tambahkan dua porsi otak-otak ikan tenggiri,” ujar Hanifah, sambil tersenyum ke arah pramusaji tersebut. Setelah memastikan semua pesanan sesuai dengan yang ditulis, pramusaji itu berlalu dari hadapan mereka. Lalu, Hanifah membuka percakapan hari ini, dengan menanyakan kabar kedua putri sahabatnya. “Bagaimana kabar Gaby dan Sheila ..., apa dia sudah mulai merasa betah di sini?” tanya Hanifah memandang ke arah Silvana dengan serius. “Belum terlalu tampak betah atau tidaknya, hanya saja, Sheila sempat komplain masalah nyamuk, udara yang panas dan...., yaa..., begitulah, anak yang terlahir disana, agak sedikit sulit untuk beradaptasi di lingkungan berbeda iklim.” “Yaa... memang agak sulit bagi Sheila yang terbiasa dengan lingkungan dingin, apalagi saat ini sedang musim panas. Tapi mudah-mudahan dia bisa secepatnya beradaptasi,” ucap Hanifah. Tak berselang lama, makanan yang mereka pesan telah sampai di depan meja mereka, dan Pramusaji yang bernama Ita mempersilakan mereka untuk menikmati dan berkata, “Ibuu..., silakan menikmati, jika perlu sesuatu, bisa langsung memanggil saya, terima kasih.” Setelah itu, Pramusaji pun berlalu, dan mereka langsung menikmati makanan dengan antusias, terutama Silvana, karena ketika berada di Australia, ia tidak pernah lagi merasakan empek-empek khas Palembang yang sangat di gemarinya. Dulu, saat mereka sekolah, selepas olah raga, mereka selalu mampir pada kedai, penjual empek-empek yang berada di dekat lapangan basket. Dan ingatan mereka akan masa-masa sekolah kembali terbuka, ketika menikmati makanan khas Palembang itu. “Ifah..., masih ingat kau dengan penjual empek-empek dekat lapangan basket sekolah kita, luar biasa nikmat aroma cukanya yaa..., berbeda dengan yang kita makan sekarang,” Silvana mengingat kembali kenangan masa sekolah ketika makan empek-empek. “Yaa..., bedalah Sil! Kalau waktu kita sekolah dulu, asli orang Palembang itu yang buat, kalau enggak salah, istrinya berkulit putih, seperti orang cina yaa..,” Hanifah menimpali ucapan sahabatnya dengan mengingat-ingat si penjual. Mereka mengingat-ingat masa sekolah di SMA. Dan berbincang-bincang tentang beberapa sahabat, teman yang bercerai-berai di rantau. Usai makan empek-empek dan makan otak-otak, mereka mulai berbincang hal yang serius. Mengenai perjodohan anak mereka. Kemudian, Hanifah bertanya pada sahabatnya, “Silvana..., apa kau yakin, Gaby mau menerima Wijaya, putraku? Karena kan.., mereka belum pernah bercakap-cakap sebelumnya.” “Aku udah tanya ke Gaby, dan dia anak yang penurut. Semua terserah mami, katanya,” jawab Silvana. “Uhmm.., kalau Jaya sendiri bagaimana? Apa kau sudah berbicara tentang hal ini? Apa dia setuju dengan perjodohan yang kita atur?” tanya Silvana. Dengan memegang tangan sahabatnya, Hanifah meyakinkan Silvana dengan berkata, “Sampai saat ini, Jaya enggak punya calon istri, apalagi yang di tunggu? Usia telah matang, dan jodoh pun telah di depan mata,” ucap Hanifah dengan nada suara bahagia menyambut perjodohan yang telah lama di ikrarkan bersama. “Aku bahagia sekali, Ifah..., akhirnya kita bisa bertambah dekat, walaupun rumah tangga kita sama-sama hancur, setidaknya dengan perjodohan ini, kita sudah sama-sama tau, baik-baiknya dan buruk-buruknya. Jadi tidak seperti membeli kucing dalam karung,” ujar Silvana dengan perasaan lega dan bahagia. Mereka saling berpelukan satu sama lainnya, dan berlanjut dengan mencari waktu yang pas serta melakukan persiapan atas pernikahan kedua anak mereka. Walaupun Wijaya belum pulang ke rumah, tetapi Hanifah dapat memastikan, kalau putranya dapat menerima keputusan yang telah ia sepakati. “Baiklah kalau begitu, kita berbagi tugas, untuk acara akad dan resepsi, setidaknya kerabat dekat dan jauh harus kita undang dan kita libatkan juga, kalau kita di perantuan, semua sahabat adalah saudara kita,” ucap Hanifah dengan wajah semeringah. “Ifah, coba kau telepon Jaya, kapan dia akan pulang, jadi kita bisa atur waktunya dengan penghulu,” pinta Silvana pada Hanifah untuk menghubungi Wijaya. “Baiklah aku akan hubungi dia, tapi... bagaimana kalau kita buat kejutan untuk dia, jadi..., pada saat dia pulang, persiapan sudah hampir rampung, setuju?” tanya Hanifah pada Silvana dengan wajah penuh kebahagiaan. Dalam benaknya, ingin rasanya, ia segera menimang cucu. Karena terlalu sepi di rumah, ketika hanya berdua dengan Wijaya. “Jaya..., berapa hari lagi kamu pulang..., Nak?” tanya Hanifah pada sambungan teleponnya. “Sekitar seminggu lagi, kenapa Bu? Apa ibu baik-baik saja?” tanya Wijaya dengan nada cemas. “Ibu baik-baik saja, hanya kangen saja.., baiklah kalau begitu, kamu jaga diri baik-baik disana,” ucap Hanifah dan menutup percakapan diantara mereka. Mendengar percakapan antara Hanifah dan Wijaya, membuat hati Silvana ikut berbahagia, karena ia meyakini, kalau Wijaya adalah lelaki baik yang bertanggung jawab dan mau menerima putrinya Gaby, dalam keadaan seperti apa pun, pikir Silvana. Lalu mereka meneruskan pembicaraan dengan berbagi tugas dalam menyiapkan pernikahan yang akan di lakukan dua minggu lagi. Baik untuk katering, tenda, dekorasi, kartu undangan dan siapa saja yang akan di undang. Untuk kostum pengantin, mereka akan menunggu kedatangan Wijaya. Dan perbincangan pun berlanjut dengan acara makan malam bersama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD