BAB 8 : Pertemuan Sahabat Lama

2164 Words
Pagi hari ini, sekitar jam sembilan pagi, Hanifah akan berangkat ke bandara untuk menjemput sahabatnya yang telah lama tinggal di Australia, sejak putri pertamanya, yang bernama Gaby tamat Sekolah Dasar. Silvana, sahabat baiknya, mengikuti suami keduanya, yang warga negara Australia, ke negara itu dan menetap disana, dalam waktu cukup lama. Sopir pribadi Hanifah, yang bernama Ahmad, mengantar ia, ke Bandara. Ahmad sudah bekerja cukup lama pada keluarga Hanifah. Ia bekerja ketika Wijaya baru lulus SMA. Dan sejak itu, ia yang selalu mengantar Hanifah. Sesampai di Bandara, Hanifah berjalan menuju tempat penjemputan International. Dan saat ini, ia telah menunggu di tempat penjemputan International. Tiga puluh menit kemudian, ia berjalan ke sebuah tempat informasi, untuk melihat kedatangan pesawat dari negara lain. Pada sebuah layar lebar yang terpasang disana. Terlihat pesawat yang di tumpangi sahabatnya, telah mendarat empat puluh menit lalu. Dan memang untuk setiap kedatangan internasional, harus melalui pemeriksaan di bagian Imigrasi. Setelah itu, mereka akan menuju tempat pengambilan barang. Hanifah melambaikan tangan, pada sosok wanita yang telah ia kenal, sejak sama-sama sekolah di bukit tinggi. Mereka bersahabat sejak SMP. Wanita paruh baya, dengan wajah yang masih terlihat cantik berjalan beriringan dengan seorang wanita muda, seusia putranya Wijaya, serta satu orang anak perempuan berusia delapan tahun menuju lambaian tangan Hanifah. “Silvana...! Kamu masih cantik dan terlihat muda, Masya Allah..., kedua putrimu cantik-cantik,” pekik Hanifah penuh bahagia pada sahabatnya Silvana, mereka berpelukan satu sama lain. Begitu juga dengan kedua anak yang ada disebelah Silvana, mendapatkan pelukan hangat dari Hanifah. Setelah itu, seorang porter service dari Bandara membawakan ketiga koper besar, ke tempat parkir mobil Hanifah. Sesampai di tempat parkir, seorang porter service memasukkan koper ke dalam bagasi, setelah itu, terlihat Hanifah memberikan uang jasa pada orang tersebut. Mereka masuk ke mobil, setelah seluruh barang masuk ke dalam bagasi. Pada bagian depan, duduk seorang anak perempuan berusia delapan tahun dengan raut wajah perpaduan antara Indonesia dan Australia. Sedangkan di bagian belakang, Hanifah duduk bersebelahan dengan Silvana. Dan disebelah Silvana duduk putrinya, Gaby yang seusia dengan Wijaya. “Sil..., ini putri yang sering kamu ceritakan sama aku?” tanya Hanifah sambil meraih tangan Gaby yang berada dalam pangkuan Silvana. “Iya Ifah..., maunya cari kerja di sini..., aku dan suami kan sudah bercerai, jadi mau enggak mau, Gaby harus cari kerja di sini, sebelumnya dia kerja part time di sebuah perusahaan developer disana, sebagai tenaga administrasi,” jawab Silvana menceritakan kembalinya ia dari Australia. Mendengar sedikit cerita sahabatnya, Hanifah berkata, “Ehmmm aku pikir, gampang laah..., Gaby cari kerja di sini, apalagi dia jebolan Universitas di Australia. Biar nanti aku minta tolong Wijaya, untuk tanya ke beberapa koleganya, siapa tau ada tempat untuk Gaby.” “Ngomong-ngomong..., apa kabar dengan wijaya? Apa dia kerja hari ini?” tanya Silvana. Hanifah menjelaskan keberadaan Wijaya pada sahabatnya, “Dia lagi ke cabang luar kota, untuk melakukan audit, baru seminggu dia ada di keluar kota..., satu minggu lagi dia akan balik ke rumah.” Gaby yang duduk di samping mamanya, sedang asyik bermain Games dan adiknya Sheila yang berada di depan, melihat suasana kota Jakarta dengan gedung-gedung bertingkat dan beberapa orang yang berada di bawah kolong jembatan menjadi perhatiannya. Begitu juga dengan pengamen yang bernyanyi dan menadahkan tangan, ketika mobil mereka berada di lampu merah. Sampai-sampai Sheila bertanya pada Silvana. “Mami..., mengapa mereka bernyanyi di dekat mobil?” tanya Sheila menoleh ke belakang, dengan menunjuk seorang pengamen sedang bernyanyi pada mobil, yang berada di samping mobil mereka. “Yaa..., sayang..., ini Jakarta..., mereka bisa dimana saja mencari uang, yang terpenting mereka bekerja, bukan mencuri,” Silvana menjelaskan pada putrinya yang berusia delapan tahun, dengan penekanan pada kata ‘mencuri’. Hanifah mendengar penjelasan Silvana pada putrinya, yang belum pernah menginjakkan kaki di Indonesia. Sementara, Gaby sudah pernah tinggal dan bersekolah di Indonesia sampai kelas VI Sekolah Dasar. Dan beberapa kali pulang ke Indonesia, ketika kakek, nenek, dan adik dari Silvana meninggal dunia. Jadi bagi Gaby, itu bukan pemandangan yang aneh lagi. Tidak seperti Sheila, yang memandang aneh pada sisi kemegahan kota Jakarta yang Majemuk. Begitu juga ketika mereka hampir sampai di dekat Perumahan, ada pengemis, seorang wanita yang mengendong anak balitanya diantara mobil dan terkena terik matahari. Dan itu, membuat Sheila lebih terkejut, sampai ia histeris ketika berbicara pada Silvana. “Mamiii! Lihat wanita itu membawa bayi ke jalan, kasihan sekali dia, ada apa dengan wanita itu Mam? Lihat Mam...lihat...!” teriak Sheila melihat pemandangan yang berada di jalan, saat mereka kembali, berada di lampu lalu lintas. Silvana, agak bingung menjelaskan pada putrinya, yang tampak kebingungan dengan hal yang ia lihat. Lama ia terdiam, sebelum menjawab pertanyaan putrinya. “Sayang..., wanita itu minta uang untuk membeli s**u balita yang digendongnya, karena dia tidak bekerja.” Silvana menjawab, setelah berkali-kali Sheila melihat ke arahnya, dengan kedua tangan mengarah ke bawah. Seolah ia menanti jawaban atas hal yang baru saja dilihatnya. Dan ketika ia akan bertanya lagi pada Silvana, telunjuk Gaby memberi isyarat agar Sheila tidak berbicara lagi dengan mengatakan, “ Kita akan bahas ketika di rumah...Okay?” Akhirnya mereka sampai dan masuk ke gapura pada perumahan Elite. Ketika mereka akan memasuki perumahan tersebut, mereka harus memberikan salah satu kartu tanda pengenal berupa KTP atau SIM dari si pengemudi. Dan pak Ahmad, membuka kaca mobil, ketika berada di pos penjagaan di perumahan tersebut. Ia lalu memberikan kartu pengenalnya, berupa KTP. Kemudian, petugas keamanan di post tersebut, menanyakan keperluannya. “Selamat siang, bapak Ahmad, bapak akan ke rumah siapa?” tanya seorang petugas keamanan, setelah membaca nama pada Kartu Tanda Pengenal Ahmad. “Siang pak, ini saya sedang mengantar penghuni rumah di perumahan ini,” ujar Ahmad. Kemudian, Silvana yang berada di kursi bagian tengah, meminta Gaby untuk membuka kaca mobil, terlihat Silvana berbicara dengan petigas keamanan, lewat kaca yang telah dibuka pada bagian belakang mobil. Lalu, pintu gerbang pun dibuka dan mereka masuk ke dalam perumahan elite itu. “Bagus sekali keamanannya yaa Sil..., jadi kita enggak akan khawatir,” ujar Hanifah memuji kawasan rumah Silvana. Silvana memberikan arahan pada Ahmad untuk sampai pada sebuah rumah tingkat. Sebuah rumah lantai dua, berwarna hijau muda tanpa pagar, terlihat tetap terurus walaupun selama ini Silvana tinggal di negara lain. Pada bagian atas, ada beberapa tanaman dalam pot-pot yang berwarna hijau tua dengan bermacam-macam bunga. Begitu juga pada bagian depan rumah terdapat beberapa pohon besar dan rumput mutiara yang terlihat rapi. “Bagus rumahmu, Sil..., memang siapa yang merawat rumah ini selama kamu tinggal di Australia?” tanya Hanifah ketika mereka turun dari mobil dan berada di tempat parkir yang terbuka pada rumah tersebut. Belum terjawab pertanyaan Hanifah, seorang wanita berusia sekitar tiga puluh lima tahun membuka pintu utama. “Selamat datang di Indonesia, Ibuu,” ucap wanita yang keluar dari pintu rumah itu. “Hanifah..., kenalkan..., ini Suci yang tinggal dan mengurus rumahku selama ini,” ucap Silvana memperkenalkan Suci, seorang wanita berusia sekitar tiga puluh lima tahun. Dan Suci menyalami Hanifah, ketika namanya disebut oleh Silvana. Sementara kedua anak Silvana yang telah mengenal Suci, langsung memeluk mereka berdua. Mereka telah mengenal Suci, karena sudah beberapa kali Suci mengunjungi mereka, dan terkadang Silvana yang membawa Suci ke Australia ketika ia pulang ke Indonesia. Hanya saja selama delapan tahun terakhir, sejak kelahiran Sheila, ia sudah tidak pernah ke Indonesia. Dan ketika Silvana kangen dengan beberapa makanan Indonesia, ia sengaja meminta Suci untuk liburan ke Australia. “Ayoo, kita masuk Fah...,” ajak Silvana dengan merangkul pundak Hanifah. Pak Ahmad juga ikut masuk ke dalam rumah dengan membawa koper, dibantu oleh Gaby dan Suci. Sesampai di ruang tamu, terlihat ada sebuah piano kecil berwarna putih. Ruang tamu itu di isi oleh dua sofa berbentuk bulat dan satu sofa panjang berwarna abu-abu. Di belakang sofa ada sebuah tangga menuju lantai satu. Pada ruang tengah ada tiga sofa besar yang di depannya ada sebuah televisi yang diletakkan pada meja berukuran 80 centimeter. Dan pada dinding, tepat di belakang televisi, ada lukisan ikan yang berenang di antara bunga teratai. “Ehmmm, nyaman sekali rumahmu, Sil..., pintar sekali kamu menatanya,” Hanifah berkata-kata sambil menelusuri rumah sahabatnya yang baru pertama kali ia kunjungi. Dulu, Silvana menikah dengan seorang lelaki dari kampung halamannya, karena tidak ada kecocokan, mereka berpisah dan mempunyai satu anak Gaby. Kemudian ia bertemu dengan lelaki dari Australia yang serius menikahinya, lalu ia membawa Gaby ke negara lelaki itu. Dan saat ini, ia kembali ke tanah air dengan membawa anak berusia delapan tahun. Anak yang terlihat berdarah campuran. Dilihat dari hidung mancung dan matanya yang lebih tajam, selebihnya wajah anak itu, mirip dengan Gaby anak pertamanya. “Kita makan dulu aja, Buu..., ini Suci udah buat sayur asem, ikan asin dan sambel terasi pesanan ibu,” ajak Suci ketika seluruh koper telah diletakan pada kamar masing-masing. Saat Suci mengajak mereka untuk makan siang, jam masih menunjukkan pukul sebelas siang. Dan saat itu mereka sedang bercengkerama di ruang keluarga, dengan bercerita banyak hal. Saat mereka mendengar ajakan Suci untuk makan siang lebih awal, mereka sambut dengan beranjak dari tempat duduk masing-masing, menuju meja makan yang berada di dekat sebuah tanam belakang rumah. Mereka berenam makan pada sebuah meja oval, yang berisi enam kursi. Masakan Suci mendapat pujian dari Hanifah dengan menunjukkan jempolnya pada Suci dan berkata, “Hmmmm, maknyuss sekali sayur asem ini yaaa.” “Terima kasih untuk pujiannya ibuu, tambah lagi yaa buu, kebetulan saya banyak sekali masak hari ini, karena ibu Silvana cerita akan ajak sahabatnya makan di rumah,” Suci bersemangat dengan meminta Hanifah menambah, ketika mendengar pujiannya. Selesai makan, mereka saling bersenda gurau, dan bercerita tentang masa yang telah lampau. Hanifah dan Silvana bercerita tentang masa-masa mereka remaja, ketika berada di bukit tinggi. Sampai akhirnya mereka melanjutkan sekolah di Universitas yang sama di Jakarta. Dan mereka juga bercerita bagaimana, mereka sampai berikrar untuk menjodohkan anak-anak mereka. “Dulu..., Mami dan tante Ifah itu, menikah hanya beda bulan. Lalu kami juga hamil beda bulan..., tante Ifah hamil lebih duluan, kalau enggak salah..., enam bulan yaa Fah...?” tanya Silvana, meminta kejelasan atas hal yang ia katakan. Hanifah menganggukkan kepala tanda setuju dengan apa yang diceritakan oleh Silvana. Saat menceritakan perihal masa lalu mereka, kedua anaknya masih duduk di meja makan, dan Suci juga mendengarkan cerita itu. Sedangkan pak Ahmad, izin keluar ruangan, karena akan merokok. “Memang tante Ifah udah bilang sama anak lelakinya, Mii?” tanya Gaby pada Silvana, menanyakan perihal yang sering diceritakan padanya, selama ia remaja hingga saat ini. “Kamu bisa tanyakan hal itu sama tante Hanifah..., karena yang mami tahu dari tante Hanifah, semua okay-okay aja sayang,” jawab Silvana ketika putrinya menanyakan perihal yang menurut pandangan dirinya, suatu hal yang tidak mungkin, untuk zaman yang telah maju seperti saat ini, ada perjodohan seperti itu. “Uhmmm, untuk perjodohan itu, tante udah cerita juga koq sama anak tante, dan selama ini tante liat, dia enggak ada komplain, dia itu anak lelaki yang penurut,” jawab Hanifah untuk menjawab pertanyaan putri sahabatnya, Silvana. Gaby yang mendengar ucapan dari Hanifah hanya termangu dengan mulut yang terbuka, dan berkata, “Ooh..., begitu yaa...Tan.” Hanifah menoleh ke arah Gaby, ia mangut-mangut dengan tersenyum manis. Kemudian Silvana bercerita pada Hanifah kalau ia dan Gaby, putrinya beberapa kali bersitegang ketika membicarakan hal ini. “Ifah...kamu tau? Ini putriku Gaby, menentang aku dan enggak percaya..., kalau anakmu, Wijaya mau menerima perjodohan itu. Kata dia mustahil..., sekarang baru dia bisa dengar perihal penurutnya anak lelakimu,” dengan bersungut-sungut Silvana bercerita pada sahabatnya, sedangkan Gaby hanya tersenyum lebar. “Abis..., aneh aja sih Tan, masa iyaa, di zaman semodern ini ada anak lelaki yang mau di jodohkan sama ibunya, apalagi kalau Gaby liat..., Ehmmm Wijaya itu tampan, masa iya enggak punya teman dekat...hehehehe,” ucap Gaby dengan tertawa malu mengungkapkan perasaannya. “Semacam ini anak zaman sekarang Fah..., langsung bilang tampan pada lelaki, coba zaman kita dulu... memandang wajahnya saja kita takut-takut yaa Fah, Hahahahaha,” Silvana tertawa ketika bercerita tentang masa lampau dibandingkan zaman saat ini. Mereka pun ikut tertawa, termasuk Suci, yang di ketahui belum pernah mempunyai suami. Karena target dia, atas seorang lelaki terlalu tinggi. Dan itu diketahui ketika ia menceritakan type lelaki yang dicari untuk jadi suaminya. Tanpa terasa, waktu telah menunjukkan pukul dua siang, kemudian Hanifah pun berpamitan pada sahabatnya dan penghuni rumah itu. “Sil..., aku pulang dulu, kamu istirahat yaaa..., kalau gimana kita telpon-telponan mengenai rencana kita selanjutnya,” ucap Hanifah berpamitan pada seluruh anggota keluarga yang ada di rumah itu. Akhirnya Hanifah pun masuk mobil yang telah dinyalakan oleh Ahmad. Kemudian, mereka keluar perumahan elite itu, dengan terlebih dulu, mengambil Kartu Tanda Pengenal yang di titipkan pada bagian petugas keamanan yang ada di depan. Setelah itu mobil pun meluncur ke jalan raya yang terlihat belum terlalu padat. Di dalam mobil, Hanifah menghubungi Wijaya dalam sambungan ponselnya. “Jaya..., bagaimana kabarmu...? Kapan kamu pulang Nak?” tanya Hanifah pada Wijaya. “Satu minggu lagi Buu..., kabar Jaya baik-baik saja, ibu disana sehat-sehat juga Yaa...,” jawab Wijaya. “Ibu baik-baik juga, jaga kesehatanmu, ingat makan yang banyak dan istirahat yang cukup,” pita Hanifah pada putra tunggalnya dan mengakhiri percakapan mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD