BAB 7 : Malam Pertama

1214 Words
Selepas makan malam bersama, sekitar pukul tujuh malam, Radikha dan Raditya pamit untuk balik ke kota, karena mereka hanya mengambil cuti satu hari untuk menghadiri pernikahan Nilam, adik sepupunya dan besok mereka sudah mulai bekerja seperti biasa. “Lam..., kakak balik dulu yaa, jadi istri yang baik,” ujar Radikha dan Raditya. Mereka berpelukan bertiga. Lalu mencium tangan dari kedua orang tuanya. Mereka juga, bersalaman dengan Wijaya dan berujar, “Jay..., tolong di jaga Nilam dengan baik, ingat! jangan sampai sakiti hatinya, dan ini peringatan, dari kami, kakaknya,” ucap mereka berdua sambil tersenyum, lalu bersalaman dengan Wijaya. Mereka masing-masing pulang dengan mengendarai mobil. rumah mereka di kota yogya, saling berdekatan. Mereka tinggal di sebuah perumahan, daerah Depok Yogyakarta atau biasa disebut daerah lingkar ring road. Jarak waktu yang di tempuh dari desa ke kota, sekitar satu setengah jam sampai dua jam. “Tole, nanti jangan ngebut, ingat hati-hati di jalan, dan tiap tikungan harus bunyikan klakson yaa...Le,” ujar Zubaedah melepas kedua putranya pulang ke rumah masing-masing. (*tole: panggilan kesayangan untuk anak lelaki) Kedua anak lelaki itu, menganggukkan kepalanya, dan masuk ke dalam mobil masing-masing. Setelah itu, kedua kendaraan itu hilang di kegelapan malam. Zubaedah selalu khawatir, ketika putranya pulang ke kota di malam hari, karena di daerah mereka yang terjal, sangat minim sekali lampu penerangan yang terpasang di sepanjang jalan berliku, dan penuh dengan tikungan tajam. Mereka akhirnya masuk ke dalam rumah, ayah Wijaya tidur di bekas kamar Raditya, berada di lantai atas. Di lantai atas ada dua kamar, yang dulu di pakai Raditya dan Radhika. Sedangkan Nilam, kamarnya persis disebelah ruang tamu. Dan kamar paman dan bibinya ada di depan ruang keluarga, begitu juga dengan tangga menuju lantai atas, ada di sebelah kamar paman dan bibinya. Dan bangunan ini dirancang dengan kamar mandi yang ada pada setiap kamar. “Silakan jangan sungkan pak, kalau mau istirahat. Monggo pak Handoko, biar besok bisa lebih fresh. Besok jam berapa akan balik ke Jakarta?” tanya Rifai. “Besok saya naik kereta jam tujuh pagi, pak,” jawab Handoko. “Ehmm berarti besok kita jalan dari rumah selepas subuh saja, besok saya antar pakai motor, biar lebih cepat ke stasiun Tugunya,” ucap Rifai. “Baiklah pak, kalau begitu, saya istirahat dulu, terima kasih sebelumnya... pak,” ujar Handoko, berlalu dari hadapan Rifai dan menaiki tangga yang ada di sebelah kamar Rifai. Setelah itu, paman dan bibi Nilam pun beranjak ke kamar untuk melepas lelah, karena sejak kemarin hingga hari ini, mereka isi dengan kesibukan yang menyita tenaga dan pikirannya. Ketika Nilam masuk ke kamar, di lihat tempat tidurnya telah di hias oleh kelopak bunga mawar yang di taburkan pada bagian tengah tempat tidur. Lalu pada bagian sisi tempat tidur diberikan bunga melati, dari atas hingga bagian bawah pada sisi tempat tidur. Padahal seingat Nilam, setelah ia mandi, kamarnya masih seperti kamar yang biasa ia pakai tidur, memang sejak ia mandi dan berkumpul di ruang keluarga bersama kedua kakak sepupunya, paman dan ayahnya Wijaya, ia dan Wijaya tidak masuk ke kamar tidurnya. Nilam yakin, bibinya telah menyulap kamarnya menjadi kamar yang harum dan terlihat lebih indah. Harum bunga sedap malam yang diletakkan pada pot membuat harum semerbak kamar itu. Dalam hati Nilam berkata, ‘Ooh..., seperti ini yang namanya kamar pengantin.’ “Lam..., kenapa kamu masih bingung seperti itu, memang kamu mau berdiri disana saja semalaman?” tanya Wijaya menggoda Nilam. Nilam yang di goda oleh Wijaya hanya tersenyum malu. Walau mereka pacaran sudah enam tahun, tetapi gaya pacaran sehat mereka, membuat ia kikuk ketika berada berduaan dengan Wijaya. Wijaya yang melihat Nilam kikuk di dalam kamar itu, mendekatinya dan berkata lembut pada Nilam, “Sayang..., kita sekarang ini udah suami-istri, ehmmmm jadi kamu udah enggak perlu malu-malu lagi, kalau kita sedang di kamar.” Detak jantung Nilam berdetak kencang, ia benar-benar bingung berhadapan dengan Wijaya, lelaki yang telah dicintainya selama enam tahun. Dan ketika Wijaya mencium lembut bibirnya, Nilam merasa seluruh tubuhnya terasa panas, padahal selama ini, hal itu biasa dilakukan olehnya. Wijaya lalu mengambil sebuah hadiah yang telah disiapkan untuk Nilam. Ia sengaja menyimpan pada tas koper miliknya. Wijaya membeli satu setel lingerie yang terbuat dari bahan katun berwarna putih. “Sayang..., pakailah ini untuk malam pertama kita, aku ingin melihat kecantikan kamu lebih dalam lagi,” Wijaya memberikan sebuah kotak hadiah di malam pertamanya. Nilam yang lugu, membuka langsung kotak yang diberikan padanya, setelah ia melihat hadiah yang diberikan oleh Wijaya, ia lalu bertanya, “Mas..., apa aku harus memakai ini sekarang? Uhmm aku malu memakainya...” Wijaya tersenyum melihat keluguan Nilam, dan ia sangat yakin kalau selama ini, Nilam cukup pintar dalam menjaga kesucian dirinya. Dan ia merasa sangat beruntung mempunyai istri yang belum pernah tersentuh oleh lelaki lain. “Sayang..., kenapa harus malu? Aku ini sekarang suami kamu, hemmm, apa aku yang harus memakaikan pakaian tidur itu berikut ini-nya? dan ingat kalau pakai pakaian tidur ini, kamu enggak perlu pakai Bra lagi,” Wijaya tersenyum jahil dengan memberitahukan hal yang harus dilakukan oleh Nilam. “Iyaa...yaa...aku sekarang akan ganti dengan pakaian ini,” Nilam pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya, untuk memakai baju tidur pemberian Wijaya. Di dalam kamar mandi, Nilam mengganti seluruh pakaian yang digunakan dengan pakaian tidur yang diberikan oleh Wijaya. Selesai ia mengganti pakaian yang diberikan, ia sebagai wanita dewasa sudah sangat paham atas apa yang akan terjadi pada dirinya dan Wijaya, kekasih hati yang telah menjadi suaminya di malam ini. Hanya saja, rasa malu dan detak jantung yang semakin kencang membuat ia bertambah kikuk. Dan cukup lama, Nilam berada di kamar mandi, sampai akhirnya, Wijaya mengetuk pintu kamar mandi. “Tok...tok...Nilam, kamu baik-baik saja kan?” Ketukan pintu yang dilakukan oleh Wijaya, membuat Nilam keluar dari kamar mandi dengan menggunakan lingerie yang diberikan oleh Wijaya. Wijaya memandangi Nilam dari atas sampai ke bawah, tanpa berkedip sedikit pun. Ia tidak ingin melewati sedikit pun momen bersejarah di malam ini. Melihat Nilam berdiri mematung di depan kamar mandi, membuat Wijaya berinisiatif, dengan merangkul Nilam dan mengajaknya berjalan mendekati tempat tidur mereka. Lalu Wijaya berkata, “Nilam..., bolehkah aku melakukan tugasku, sebagai suamimu saat ini?” tanya Wijaya dengan memegang dagu Nilam. Pandangan mata mereka pun beradu, Wijaya lalu memeluk tubuh Nilam yang masih kikuk di hadapannya, bahkan detak jantung Nilam terdengar semakin kuat, memompa darah ke seluruh tubuhnya. Sampai Wijaya pun merasakan detak jantungnya, ketika Nilam berada dalam peluknya. Akhirnya, mereka berdua telah berada di tempat tidur yang telah dihias dengan kelopak mawar dan bunga melati. . Disana mereka menumpahkan rasa cinta yang selama ini telah di pelihara dengan baik. “Mas..., pelan-pelan..., sakit,” suara Nilam lirih diantara deru napasnya. Akhirnya malam itu menjadi malam paling keramat bagi mereka berdua. Mereka memadu cinta dengan rasa cinta yang kian bergelora. Dan di malam itu, Wijaya sebagai lelaki telah menjalankan tugasnya sebagai suami. Ia telah membawa Nilam terbang melayang, ke dalam rasa yang belum pernah dirasakan olehnya. Cecak di dinding menjadi saksi bisu, atas bukti cinta yang berbeda di malam penuh hasrat, bagi mereka berdua. Mereka memadu cinta hingga menjelang subuh, karena Wijaya sebagai lelaki yang lebih berpengalaman, telah mempersiapkan secara pisik untuk hal yang selama enam tahun, telah di tunggunya. Mereka meraih cinta, hingga rasa lelah mendera tubuh. Sampai akhirnya mereka terlelap dalam nyenyak. Dan dapat di pastikan mereka akan terbangun di siang hari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD