Telah tampak kesibukan di rumah Nilam, beberapa tetangga yang tinggal di samping rumah mereka telah berdatangan, padahal baru saja pukul tujuh pagi. Sementara Nilam, selepas subuh telah di rias wajahnya, oleh seorang tukang rias pengantin.
Dengan balutan kebaya tradisional beludru berwarna Maroon, dan bawahan kain batik tulis bercorak bunga mawar berwarna Maroon juga, membuat penampilan Nilam berbeda dari hari biasa. Polesan khusus bagi seorang pengantin, membuat Nilam terlihat bagai seorang putri keraton yang anggun dan cantik. Sampai memukau tukang rias itu sendiri.
“Wow! cantik sekali kamu Nak..., pangling akuuu... ,” pekik mbak Indah, tukang rias pengantin yang terbiasa menerima pekerjaan ke rumah orang yang sedang ada hajat, dengan merias wajah pengantin.
Wajah Nilam, yang terbiasa polos tanpa bantuan make-up , kini berubah drastis, ketika seorang perias pengantin, menyulap wajah aslinya, menjadi seseorang yang berbeda, dengan tampilan yang memukau bagi yang memandangnya.
Nilam melihat wajahnya pada cermin yang berada di depan meja rias, ia merasa ada perubahan yang jauh berbeda. Sampai-sampai ia sendiri tidak percaya dengan perubahan pada wajahnya, dan bergumam dalam hati, ‘Apakah memang aku secantik ini?
Nilam yang selama ini tidak menyadari kecantikan yang telah melekat pada wajahnya, baru menyadari kecantikan yang ia miliki. Karena selama ini, Nilam merasa dia biasa-biasa saja, sama seperti wanita lainnya.
Siapa pun wanita di dunia ini, pasti akan merasa bangga dan bahagia ketika mendapati dirinya, terlihat cantik dari wanita lain. Dan penampilan itu akan membuatnya lebih percaya diri.
‘Mas Jaya pasti akan pangling melihat wajahku..., dan Uhmm..., dia akan lebih mencintai aku lagi.’ Pikir Nilam dengan tersenyum kecil memandang wajahnya pada cermin.
Memang tidak dapat di pungkiri, mayoritas semua lelaki akan lebih tergoda ketika melihat seorang wanita cantik. Karena hal utama yang dilihat lelaki pada wanita yang adalah wajahnya. Dari sana ketertarikan mulai muncul, setelah itu baru kepribadian dan karakter dari wanita itu. Jadi, anggapan dari beberapa pandangan orang, tentang wajah tidak menjadi hal penting saat seorang lelaki mencari pasangan, tidaklah seluruhnya benar.
Tanpa terasa, waktu telah bergulir dengan cepatnya, persiapan pun telah selesai di lakukan oleh keluarga Nilam yang dibantu oleh beberapa tetangga. Sementara itu, Wijaya yang menggunakan pakaian adat Jawa, dengan warna yang senada dengan kebaya yang dikenakan oleh Nilam tampak seperti seorang adipati. Ia sangat bersahaja dan terkesan karismatik.
Beberapa tetangga yang melihat penampilan Wijaya, terkesima dengan ketampanan dan karisma yang di milikinya. Apalagi saat ia menggunakan pakaian tradisional dalam acara akad nikah yang akan di adakan, ketampanannya lebih terlihat. Wijaya yang telah lebih dulu selesai di rias, tampak menjadi pusat perhatian bagi sebagian orang yang mondar-mandir di ruang tamu. Saat ini, Wijaya telah duduk menunggu kehadiran Nilam di ruang tamu yang telah di hias sedemikian rupa.
Tiga puluh menit kemudian, paman, bibi, dan kedua kakak sepupu Nilam telah rapi menggunakan busana tradisional, begitu juga dengan ayahnya Wijaya. Mereka saat ini telah bersama-sama duduk di ruang tamu, yang di jadikan tempat akad nikah. Sesaat kemudian, Nilam yang telah selesai berhias, menuju ruang tamu.
Seluruh pandangan tertuju pada Nilam yang tampil bagai seorang putri raja. Ia tampak anggun dengan kecantikan yang terpancar pada paras ayunya. Sesampai di ruang tamu, ia duduk pada sebuah kursi yang telah di siapkan. Mereka berdua duduk bersebelahan, ayah Wijaya, Handoko berada di sebelah kanan Wijaya, sedangkan paman Nilam, Rifai berada di sebelah kiri Nilam. Dan di depan mereka ada sebuah meja dan dua buah kursi yang diperuntukkan bagi penghulu yang belum tiba ke rumah itu. Serta satu kursi yang berada di samping penghulu duduk kepala Dusun desa tersebut.
Tepat pukul sembilan, seorang penghulu tiba di rumah Rifai. Mereka menyambut kedatangan penghulu dengan bersalaman. Setelah penghulu itu duduk di tempat yang telah di siapkan, ia lalu memulai acara dengan ucapan sepatah, dua patah kata nasehat. Kemudian janji setia yang di pimpin oleh penghulu itu dilakukan dengan hening, karena seluruh telinga mendengarkan ijab kabul yang di pimpin oleh penghulu dengan khimad.
Terdengar suara tangis dari Nilam, ketika mengucapkan janji pernikahan yang di pimpin oleh penghulu. Disaat itu, ada rasa haru yang menyelimuti ruang hatinya. Ia merasakan kehadiran almarhum ibu dan ayahnya dalam prosesi pernikahan itu. Ia merasa, kedua orang tuanya ikut menyaksikan janji suci yang di ucapkan oleh Wijaya dan Dirinya. Dalam hati ia berkata, ‘Ayah...Ibu..., putrimu minta restu.’
Paman, bibi Nilam yang mendengar tangisan dari keponakannya, ikut terhanyut dalam suasana haru. Ia yang selama ini telah mendidik dan melindungi Nilam, merasa telah menyelesaikan tugasnya dengan baik. Bahkan ketika momen meminta restu pada kedua orang tua, Bibi dan paman Nilam, tidak dapat lagi membendung rasa haru. Mereka menangis ketika berpelukan.
“Nilam anakku, tugas paman telah selesai dan akan paman serahkan pada suamimu, paman minta, jadilah istri yang baik, penurut dan menyayangi kedua orang tua suamimu, seperti kamu menyayangi kedua orang tuamu sendiri, karena saat ini, mereka telah menjadi orang tuamu juga. Dan pesan terakhir paman, selalu jujur dalam menjalani hidup berumah tangga, karena kehidupan ini, bukan hanya manisnya saja yang kita jalani. Tetapi pahit dan getirnya juga akan kamu rasakan,” ungkap paman Nilam, yang telah seperti ayahnya sendiri.
Begitu juga ketika Nilam meminta restu pada bibinya, petuah hidup dikatakan dengan berurai air mata, hingga kata tidak lagi terucap, hanya derai air mata dan pelukan penuh cinta yang bisa ia berikan pada Nilam, yang telah ia anggap sebagai putrinya sendiri.
Dan ketika paman Nilam memeluk Wijaya, ia berkata, “Paman mohon, jagalah Nilam dengan baik, pelihara hati dan tubuhnya dengan baik, kelak, jika ada satu kesalahan yang di perbuat oleh Nilam, paman mohon sama Nak Jaya, beritahukan paman..., agar paman bisa ikut menasihatinya,” ujar paman Nilam memberikan nasehat dan permintaan pada Wijaya.
Selesai ikrar suci yang disaksikan oleh tetangga, kerabat dekat dan kerabat jauh, lalu di lanjutkan dengan acara makan bersama. Seluruh orang yang hadir dalam acara ini, mendapatkan nasi kotak yang telah disiapkan sebelumnya, oleh beberapa kerabat yang mengatur konsumsi. Kakak sepupu Nilam mengabadikan momen pernikahan itu dalam bentuk photo yang ia ambil dalam berbagai momen.
“Silakan di nikmati,” ucap Zubaedah menghampiri beberapa tetangga yang duduk di luar rumah, ketika sedang menikmati nasi kotak.
Zubaedah dan Rifai berjalan menemui semua orang-orang yang memadati rumahnya. Dan beberapa kali Rifai berucap, “Terima kasih sudah datang, silakan di nikmati makanannya, monggo...monggo....”
Sementara itu, Nilam dan Wijaya yang menjadi raja dan ratu sehari hanya mampu memandang ke arah tetangga, kerabat dan handai taulan yang datang dengan perasaan haru dan berbahagia.
“Lam..., aku tidak menyangka, akan seperti ini sambutan dan kerja keras dari semua sampai akhirnya, kita duduk bersama disini..., aku merasa tidak enak hati dengan paman dan bibi kamu,” ucap Wijaya ketika melihat banyaknya tetangga Nilam dan kerabatnya yang hadir dalam pernikahannya.
“Yaa...sudahlah mas, aku juga tidak pernah berpikir sampai seperti ini, paman dan tetangga melakukan persiapan yang hanya tiga hari,” jawab Nilam menenangkan hati Wijaya yang merasa tidak memberikan kontribusi dalam pernikahan mereka.
“Kamu juga terlihat sangat cantik, dan aku merasa sangat beruntung memilikimu,” ucap Wijaya dengan menggenggam erat tangan Nilam.
Sementara, ayahnya Wijaya..., sesekali hanya terlihat menyalami beberapa tetangga yang akan kembali ke rumah mereka, dengan mengucapkan terima kasih. Handoko juga tidak pernah berpikir, jika pernikahan antara Nilam dan Wijaya bisa semeriah ini, apalagi di sebuah desa kecil di kaki perbukitan. Padahal awalnya mereka hanya ingin agar di sah-kan saja sebagai pasangan suami-istri. Oleh karena itu, Handoko juga tidak punya persiapan apa pun.
Akhirnya satu persatu tetangga dan kerabat pulang ke rumah masing-masing, hanya beberapa tetangga dekat saja yang ikut merapikan halaman dari kursi-kursi plastik yang di ambil dari balai desa. Terlihat Handoko, ayahnya Wijaya membantu membawa kursi yang di pinjam dari balai desa bersama kakak sepupu Nilam. Di dalam perjalanan menuju balai desa, ada perbincangan antara Handoko dan paman Nilam yang menanyakan tentang keluarga Handoko di Jakarta.
“Pak Handoko kapan balik ke Jakarta?” tanya Rifai sambil membawa beberapa kursi yang diturunkan dari mobil pick-up yang disewanya.
“Rencananya besok pak, inginnya sih...agak lama disini, cuma anak saya yang terkecil susah tidur kalau enggak ada saya, maklum anak perempuan, lebih dekat dengan ayahnya,” ujar Handoko memberitahu Rifai.
Rifai yang mendengar penjelasan dari Handoko, terkejut dengan penuturannya, lalu ia mengernyitkan dahinya. Karena yang ia dengar dari Wijaya, tidak sesuai dengan apa yang di dengar dari ayahnya. Kemudian, Rifai kembali memancing pembicaraan dengan bertanya, “Memang berapa usia anak perempuan bapak?”
“Anak perempuan saya sudah berusia sebelas tahun, kelas VI SD, hanya saja, dia manja sekali dengan saya, kalau kakaknya sudah kelas 3 SMP,” jawab Handoko dengan santai menjelaskan keluarga barunya.
Selesai mengembalikan kursi ke balai desa, mereka kembali ke rumah. Di sepanjang jalan ada kegelisahan dalam hati Rifai atas perbedaan keterangan yang di dengar dari Handoko dan putranya Wijaya. Dalam hati ia terus bertanya-tanya, ‘Bagaimana mungkin, keterangan tentang keluarga yang dikatakan oleh ayah dan anaknya berbeda...? Apa yang sebenarnya terjadi...? Mengapa aku seceroboh ini menikahkan putriku...?
Seribu macam pertanyaan muncul dalam benak dan pikirannya, hanya saja ia ingin menanyakan langsung pada keduanya setelah sampai di rumah. Akhirnya mereka sampai di rumah, dan masuk ke dalam pekarangan. Lalu mobil pick-up yang membawa mereka ke balai desa berlalu dari halaman rumahnya. Rifai berjalan dengan pikiran yang berkutat pada pertanyaan yang ingin segera ia tanyakan pada Wijaya.
Sampai di dalam rumah, Rifai duduk di ruang keluarga, lalu ia meminta pada Nilam, yang telah membersihkan riasan pada wajahnya, dan mengganti pakaiannya, untuk membuatkan kopi. Saat itu, Jam telah menunjukkan pukul tiga sore, Rifai menoleh ke arah jam yang terletak di dinding berdentang tiga kali.
“Nilam..., tolong buatkan dua cangkir kopi, Nak...,” pinta Rifai pada Nilam yang terlihat sedang merapikan beberapa perabot di dapur, karena antara dapur dan ruang keluarga tersekat oleh sebuah hiasan yang terbuat dari kayu, agar ada pembatas antara dapur dan ruang keluarga. Sehingga siapa pun yang berada di dapur akan terlihat dari ruang keluarga.
“Baik paman,” jawab Nilam, langsung menyalakan kompor, memasak air panas yang akan digunakan membuat kopi.
Selesai menyeduh dua cangkir kopi, Nilam langsung menyuguhi kopi tersebut di ruang keluarga. Dan ketika ia meletakkan kopi tersebut pamannya bertanya, “Nilam.., tolong panggilkan Jaya,” pinta pamannya.
Mendengar perintah pamannya, Nilam menjawab, “Maaf paman, mas Jaya sedang tidur.., mungkin dia kelelahan.”
“Ehmmmm, tolong bangunkan saja, ada yang ingin paman bicarakan,” pinta pamannya kembali.
“Tetapi paman..., baru saja mas Jaya___.” Nilam tidak dapat meneruskan kata-katanya, saat ia mendengar paman menyela ucapannya dengan tetap memaksakan keinginannya dan berkata, “Sudah bangunkan saja dulu!” suara Rifai agak meninggi dan itu membuat Handoko juga terkejut dengan perubahan yang terjadi pada Rifai, baik dari intonasi suaranya dan raut wajahnya.
Nilam yang tidak menyangka pamannya akan berkata lebih keras dari biasanya, membuat hatinya terus bertanya-tanya. Dan Zubaedah, bibinya Nilam yang mendengar suara dari suaminya yang terdengar agak keras bergegas menuju ruang keluarga, bersama kedua putranya. Mereka pun berkumpul di ruang keluarga sambil menunggu kedatangan Wijaya.
Wijaya yang terlihat masih mengantuk, berjalan di belakang Nilam. Sesampai di ruang keluarga, Wijaya duduk di samping Zubaedah. Sedangkan Nilam bersama ke dua kakak sepupunya berdiri di antara bibi dan pamannya.
Seperti hari kemarin, sebelum memulai pembicaraan paman Nilam yang gelisah, mengeluarkan lintingan rokok yang ia simpan pada kantong kemeja yang ia pakai. Dan ia langsung menyalakan rokok itu serta menghisap rokok tersebut. Kepulan asap rokok memenuhi ruang keluarga. Sesaat semua hanya terdiam, begitu juga dengan Wijaya yang beberapa kali mengusap wajahnya.
“Sebelumnya, paman minta maaf sama kamu Nilam.., di sini paman hanya ingin kejelasan, tentang keluarga dari suami kamu, Wijaya. Karena, tadi paman sempat berbincang dengan ayahnya Wijaya, kalau ia masih mempunyai anak yang masih duduk di sekolah dasar, sedangkan dua hari lalu, paman dengar dari Wijaya, kalau ia..., anak tunggal. Dan ibunya tidak ikut karena sedang tidak enak badan. Apa yang sebenarnya terjadi?” suara paman Nilam, agak meninggi ketika ia mengungkapkan semua yang di rasa. Dan semua itu dapat di maklumi, karena sudah lama ia mengidap penyakit darah tinggi.
Mendengar pertanyaan tentang ibunda Wijaya dan keluarganya, membuat tubuh Nilam bergetar dengan hebat. Ia sangat ketakutan jika kebohongan yang telah ia lakukan bersama Wijaya terbongkar. Pikirannya terasa kosong, yang ada hanya rasa takut dan malu pada paman dan bibi yang telah membesarkan dirinya.
“Maafkan saya..., pak Rifai. Seharusnya sejak awal saya memberitahukan bapak, kalau Jaya adalah anak dari istri pertama saya. Sedangkan, anak perempuan yang saya ceritakan, adalah anak saya dengan istri kedua,” Handoko memberikan kejelasan atas statusnya yang mempunyai istri dua.
Mendengar kejelasan dari Handoko, ada ketenangan dalam hati Rifai, tetapi dalam hati yang terdalam, ia ingin menanyakan perihal, tidak hadirnya, ibunda Wijaya dalam menyaksikan putranya ketika menikah. Tetapi semua itu di urungkan, ketika ia melihat Zubaedah memberikan isyarat lewat matanya, untuk tidak menanyakan hal itu.
“Baiklah kalau demikian, saya sudah merasa tenang, karena saya ingin, rumah tangga keponakan saya, bahagia tanpa masalah dikemudian hari,” ujar Rifai dengan menoleh ke arah Nilam yang berada di belakangnya.
Kemudian mereka pun, berbincang hal lain untuk mencairkan suasana yang sempat tegang di antara mereka.
Demikianlah sebuah kebohongan, ia akan membawa kebohongan lainnya. Dan itu akan terus terjadi hingga kebohongan itu terkuak dengan sendirinya.