Satu hari menjelang pernikahan, kesibukan di rumah paman Nilam kian bertambah. Hari ini, para kaum lelaki sibuk dengan menyembelih dua ekor kambing yang akan di pakai esok hari. Dan ada sekitar sepuluh ekor ayam yang di potong, untuk di pakai pada hari resepsi besok siang.
Sejak awal mereka tidak pernah berpikir untuk merayakan pernikahan dengan mengundang siapa pun, Hanya keluarga saja. Tetapi, berbeda dengan kondisi yang terjadi saat ini, para tetangga samping kanan, kiri, kerabat dekat dan jauh berdatangan untuk membantu terlaksananya hari pernikahan Nilam. Apalagi Nilam sejak berusia sebelas tahun telah di tinggal kedua orang tuanya dalam kecelakaan yang menjadikan dirinya, yatim piatu, sehingga banyak tetangga dan kerabat ingin ikut andil dalam acara lepas lajangnya Nilam.
Beberapa pemuda, bergotong royong untuk membuat beberapa penutup dari daun pohon kelapa yang masih berwarna hijau. Oleh beberapa orang di desa, biasanya, dibuat sebagai penutup pada sebuah lahan kosong yang di pakai sebagai tempat duduk para tetangga dan kerabat yang datang di pernikahan Nilam, dengan tujuan agar mereka tidak kepanasan.
Bagian dari daun pohon kelapa yang berwarna hijau itu, di jalin menyerupai tikar, kemudian antara daun yang telah terjalin itu di satukan hingga menyerupai sebuah terpal, walaupun terdapat rongga antara daun yang telah di jalin. Lalu mereka memasang jalinan daun dari pohon kelapa yang masih muda itu, pada beberapa batang bambu yang telah di letakkan pada setiap sisi, yang akan digunakan bagi para tetangga dan kerabat yang ingin menyaksikan pernikahan Nilam.
Jaya yang melihat kesibukan dari tetangga Nilam, merasa tidak enak hati. Ia tidak menyangka, kalau masyarakat disana mempunyai sifat saling membantu yang begitu besar. Tadinya Wijaya berpikir, kalau mereka hanya menikah dengan disaksikan oleh kerabat dekat Nilam. Tidak oleh tetangga Nilam. Mengingat ia hanya membawa ayahnya saja sebagai saksi pernikahan esok hari. Membuat Wijaya, tidak enak hati pada paman dan keluarga Nilam.
“Lam..., mengapa kamu enggak menjelaskan kalau di desamu, seperti ini cara mereka membantu persiapan menikah, apa memang setiap ada yang menikah, para tetangga melakukan hal sama? Atau karena paman kamu terpandang di desa ini?” tanya Wijaya ketika baru saja sampai di rumah paman setelah menginap di rumah bibi Diah.
“Mas di antar sama anak bibi Diah?” tanya Nilam tanpa menjawab pertanyaan Wijaya.
Terlihat wajah Wijaya sedikit kesal, karena pertanyaannya tidak dijawab. Memang demikianlah hakikat sebuah pernikahan, pada saat mendekati harinya, pasti ada sedikit ketegangan bahkan terkadang saling tarik urat karena rasa stress yang mereka rasakan menjelang hari pernikahan.
“Jaya..., mari kita akan jemput ayahmu,” ajak Paman Nilam, dan Jaya mengikutinya dari belakang.
Beberapa pasang mata yang belum pernah melihat wajah Wijaya, ada yang sekedar melirik, memandangnya dan ada juga yang berbisik-bisik. Wijaya yang tahu jadi bahan pembicaraan, hanya menunduk mengikuti langkah paman Nilam menuju mobil yang terparkir pada lahan kosong di antara pohon-pohon jati.
Sementara itu, Nilam bersama bibinya sedang mengisi lauk pauk pada sebuah wadah kotak yang akan di bagikan sore nanti selesai mereka mendoakan kedua mempelai yang akan menjalani akad nikah esok hari.
“Bu Zubaedah..., ini ada titipan dari ibu kepala dusun,” ujar seorang tetangga menghampiri mereka yang sedang berada di dapur.
“Terima kasih, mbak Asih..., sampaikan juga ucapan terima kasih saya dan Nilam untuk ibu Kadus,” ujar bibinya Nilam.
Setelah seorang wanita yang di panggil mbak Asih itu keluar dari dapur, Zubaedah meminta keponakannya untuk membuka pemberian dari ibu Kadus (Kepala Dusun).
“Nilam, coba kamu buka *besek dari ibu Kadus,” pinta Zubaedah pada keponakannya. (*sebuah wadah terbuat dari bambu yang berbentuk persegi empat)
Nilam pun membuka besek yang di ikat oleh seutas tali. Lalu ia mengeluarkan isi dari besek itu. Dan berkata pada bibinya, “Bii..., ibu Kadus mengirimkan lemper, tahu-baso dan lumpia, masing-masing satu besek.”
“Hemmm, banyak sekali ibu Kadus memberikan kita jajanan, apakah memang setiap ada yang menikah, ibu Kadus selalu memberikan hal yang sama pada masyarakat di sini?” tanya Nilam pada Zubaedah.
“Yang bibi tahu, memang ibu Kadus selalu mengirimkan jajanan pada saat ada warga yang menikah, yaa... sudah, kamu taruh saja dulu di atas kulkas, nanti setelah pembacaan doa..., baru kita bagikan,” jawab Zubaedah.
Nilam yang mendengar penjelasan dari bibinya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dan menempatkan ketiga besek yang berisi jajanan di atas kulkas.
Persiapan pernikahan yang dilakukan oleh tetangga dan masyarakat sekitar dekat rumah Nilam, hampir rampung. Baik itu tempat akad nikah yang telah di hias janur. Jalan masuk ke rumah paman Nilam, telah dibuatkan umbul-umbul yang terbuat dari janur juga Begitu juga kursi-kursi telah disiapkan yang diambil dari balai desa di tempatkan pada halaman depan.
Dan pada bagian atas dari tempat itu, telah di tutup oleh jalinan daun yang hampir menyerupai terpal. Sehingga tidak terkena panas ketika tetangga mereka duduk bersama-sama menyaksikan pernikahan yang akan dilakukan esok hari.
Akhirnya seluruh pekerjaan telah rampung, dan sebagian besar tetangga pun berpamitan untuk pulang ke rumah masing-masing. Tinggal empat orang tetangga yang masih membantu untuk menyiapkan makanan esok hari. Karena waktu telah menjelang makan siang, bibinya Nilam mengajak ke empat tetangganya untuk makan siang bersama.
“Mari ibu-ibu..., kita makan siang dulu...,” ajak bibinya Nilam pada ke empat perempuan yang masih membantu mempersiapkan makanan untuk esok hari.
Akhirnya mereka makan bersama di ruang keluarga, dengan beralaskan tikar. Disela-sela makan, sama seperti ibu-ibu pada umumnya, mereka akan bergosip dan bercerita tentang keluarga mereka, terutama suami dan anak-anak mereka.
“Lam..., berapa orang dari pihak calon suami yang ikut menyaksikan?” tanya salah seorang tetangganya, selesai makan siang bersama.
Nilam langsung menjawab, “Jaya hanya bersama ayahnya saja.” Ujar Nilam datar.
Tanpa di duga, mereka berempat langsung berbicara bersamaan dengan ucapan yang sama juga. “Apaa...?” mereka serempak mengatakan hal yang sama dengan nada tidak percaya.
Kemudian salah seorang dari mereka kembali berkata-kata, “Lam..., kenapa hanya berdua dengan ayahnya saja...? Apa mereka enggak punya keluarga lain?”
Dengan sabar, Nilam mendengarkan celoteh dari ibu-ibu tetangganya. Lalu ia menjawab, “Bude dan bulik, Jaya itu anak tunggal, sedangkan ibu dan bapaknya telah lama bercerai, jadi memang tidak ada keluarga lainnya.”
“Ooh...,” kembali mereka serempak berujar dengan kata yang sama, lalu mereka kembali menyelesaikan pekerjaan yang belum rampung.
Zubaedah memberikan bahasa isyarat pada keponakannya agar mengikuti dirinya ke kamar, Nilam pun mengikuti bibinya yang berjalan menuju kamarnya. Sesampai di kamar, bibinya yang terkejut ketika, mendengar penjelasan atas perceraian kedua orang tua Wijaya saat bersama ibu-ibu yang lain, langsung mengajak Nilam, untuk mengetahui lebih jelas tentang keluarga calon suaminya.
“Lam..., kemarin kata Jaya, ibunya kurang enak badan, sehingga enggak bisa menyaksikan kalian menikah,” cecar Zubaedah pada Nilam.
“Uhmm, Bii..., sebenarnya...,ehmm, memang benar ibunya sedang kurang enak badan, karena itu ayahnya yang datang menyaksikan,” Nilam menjelaskan sebuah kebohongan pada bibinya, padahal ia ingin sekali berkata jujur atas restu yang tidak diberikan pada ibunya Wijaya. Hanya saja, ia takut bibinya kecewa dan membenci Wijaya atas ketidak-jujurannya.
“Yakin..., kamu berkata jujur...., Nilam?” suara Zubaedah dengan tegas menanyakan kembali tentang kejujuran Nilam. Dan ia merasa, Nilam menyimpan sesuatu. Apalagi selama ini ia sudah seperti ibu kandungnya, sangat mengenal Nilam yang tidak bisa berbohong dan berbicara apa adanya.
Hanya saja, kali ini ia tidak dapat mengorek tentang keluarga Wijaya. Walaupun selama yang ia kenal, Wijaya orang yang cukup baik dan sopan. Dan ketika, Zubaedah ingin menanyakan kembali hal lainnya, terdengar suara putra keduanya memanggilnya.
“Bunda..., Bun...,” panggil Radhika ketika memasuki ruang keluarga.
Zubaedah pun keluar dari kamar menyambut putra keduanya, yang terlihat hanya datang seorang diri. Sementara itu, Nilam masih berada dalam kamarnya dengan jantung yang hampir copot. Ia masih merasa badannya gemetar, karena tidak berkata jujur pada Zubaedah. Ia lalu berjalan menuju kamar mandi yang berada di sudut kamar, untuk sekedar membasuh wajahnya.
Dalam hati ia mengutuk diri sendiri atas kebohongan yang terlanjur ia lakukan. Ada penyesalan yang menyergap relung hatinya hingga ia bergumam, ‘Yaa..., Tuhan, bagaimana mungkin aku berbohong untuk hal yang sepenting ini? Bagaimana aku bisa membalikkan kondisi ini? Oooh...’
Nilam yang telah mampu mengendalikan emosi dan penyesalannya, berjalan keluar kamar untuk menemui kakak sepupunya, Radikha. Sesampai di luar kamar, ia melihat Radikha sedang berbicara pada bibinya. Lalu, Nilam berjalan menghampiri mereka.
“Ooh...ini calon pengantinnya,” goda Radhika pada Nilam dengan memeluk dan mengacak-ngacak rambutnya.
“Mas Dhika koq sendirian..., kenapa enggak ngajak mbak Silvi?” rajuk Nilam dengan mimik kecewa.
“Laah... yang buat mbak Silvi enggak ikut kan kamu..., lagian kenapa sih, pakai acara dadakan nikahnya,” Radhika bersungut-sungut komplain atas pernikahan dadakan Nilam.
Nilam yang merasa kebenaran atas ucapan kakak sepupunya, tidak dapat membela dirinya, karena ia sangat paham, alasan kakak ipar sepupunya tidak bisa hadir, karena ia tidak bisa cuti mendadak, sehingga ia tidak dapat menyaksikan pernikahan Nilam.
Tidak lama kemudian, mobil yang di pakai paman untuk menjemput ayahnya Wijaya telah sampai. Kemudian, ayahnya Wijaya berjalan di belakang paman, mengikuti langkah paman yang masuk ke ruang tamu. Tampak juga Wijaya yang berada di belakang ayahnya memasuki ruang tamu.
“Kenalkan ini istri saya, bibinya Nilam,” ujar pamannya Nilam memperkenalkan Zubaedah pada ayahnya Wijaya.
Zubaedah menyalami ayahnya Wijaya dan mempersilakan tamunya untuk duduk, “Silakan duduk pak, maaf kondisi di kampung seperti ini, mohon di maklum kan saja,” ujar bibinya Nilam. Lalu mereka duduk bersama di ruang tamu.
Dan Nilam yang mengetahui, ayahnya Wijaya telah sampai, langsung ke dapur untuk membuatkan tiga cangkir kopi. Setelah itu, Nilam membawa tiga cangkir kopi ke ruang tamu, dan menyuguhkannya berikut jajan pasar yang telah disiapkan oleh Zubaedah.
Mereka pun di persilakan untuk menikmati kopi yang masih panas, ayahnya Wijaya, pamannya Nilam dan Wijaya bersama-sama menyeruput kopi yang telah di letakkan pada meja di ruang tamu. Sambil menyeruput kopi, merek berbincang-bincang tentang pelaksanaan pernikahan yang akan dilaksanakan besok hari dengan serius dan terlihat sedikit tegang.