BAB 4 : Persiapan Pernikahan

2179 Words
Melalui perbincangan serius antara Paman, bibi, Wijaya dan Nilam, yang di lakukan setelah usai makan siang, akhirnya pernikahan yang seharusnya dilakukan pada hari minggu, batal dilakukan. Rifai, telah menghitung hari baik yang akan digunakan untuk akad nikah keponakannya, berdasarkan perhitungan hari kelahiran masing-masing calon mempelai. “Jaya...., untuk hari pernikahan yang kalian inginkan di hari minggu besok, sepertinya tidak bisa dilaksanakan, karena setelah mencocokkan hari lahir kalian, pernikahan yang dilakukan hari minggu, tidak akan baik untuk kelangsungan rumah tangga kalian,” Rifai menjelaskan hal itu, setelah meminta hari kelahiran Wijaya yang di tambahkan dengan hari kelahiran Nilam. Berdasarkan hitungan weton dalam budaya yang telah mereka jalani selama ini, mengandung unsur ketidak-harmonisan jika dilakukan pernikahan di hari minggu, begitu yang di sampaikan oleh Rifai, paman Nilam. Wijaya dan Nilam, yang tidak mengerti dalam perhitungan hari lahir itu, tidak dapat membantah atas keputusan yang telah di ambil paman dan bibinya. Karena Paman dan Bibinya meyakini, hari pernikahan akan mempengaruhi perjalanan rumah tangga yang akan mereka lalui, walaupun mereka menyanggahnya tentang perhitungan yang dilakukan oleh mereka. “Maaf paman dan bibi, bukankah setiap hari itu baik?” ujar Wijaya yang tidak sependapat dengan gambaran perhitungan kelahiran seseorang, untuk menjadikannya hari pernikahan. Ia memberikan pendapat, pada paman Nilam, dengan mengingatkan, kalau semua hari adalah baik. Mendengar sanggahan yang dilakukan Wijaya secara halus lewat pertanyaannya, membuat Rifai kembali memberikan argumentasi atas perhitungan yang ia lakukan. “Jaya...., benar apa yang kamu katakan, kalau semua hari itu baik...., dan paman sependapat dengan itu. Cuma..., paman ingin mencari hari baik, di antara yang terbaik,” jawab Rifai atas pertanyaan Wijaya yang terkesan tidak peduli atas perhitungan yang telah dilakukan dan merupakan bagian dari adat istiadat setempat. “Tetapi paman, mengapa hari baik pernikahan kami harus di hitung berdasarkan hari kelahiran kami berdua?” tanya Wijaya yang memang kurang setuju dan tidak percaya sama sekali, atas hal yang tidak masuk akal dan tidak bisa dibuktikan dalam ilmu pengetahuan. “Jaya bagi kami, orang yang telah sepuh, percaya pada hal yang telah turun temurun di ajarkan pada kami, yang pasti semua itu bertujuan untuk kebaikan semua. Karena tidak mungkin, buyut-buyut kami memberikan ajaran seperti itu, tanpa pertimbangan semua kebaikan yang telah di dapat.” “Memang zaman yang telah maju seperti saat ini, membuat kebanyakan orang, lebih praktis dalam mengambil keputusan, dan lebih simpel dalam berpikir, tanpa memikirkan budaya yang telah turun temurun di wariskan pada kita,” ujar Rifai dengan nada sedikit kecewa. Setelah itu, ia kembali membuka lintingan rokok dan tembakau yang berada di balik pinggangnya. Tangan yang berisi lintingan rokok itu pun, mulai menyalakan rokok dan menghisapnya dalam-dalam, sebelum ia memberikan argumentasi kembali, atas penjelasan yang di ingini oleh Wijaya, sebagai anak yang terlahir di zaman modern. “Anakku, Jaya dan Nilam..., perlu di ingat! Setiap orang di lahirkan dengan tanggal dan hari lahir yang berbeda-beda. Dan setiap kelahiran anak manusia kebumi ini, adalah rahasia dan kehendak dari Yang Maha Kuasa. Tetapi..., pada setiap hari yang kita jalani, ada saja unsur kesialan di dalamnya. Atau biasa di sebut hari naas. Begitu juga kelahiran itu sendiri, selain ada keberuntungannya, ada juga ke-naas’annya. Jadi, biasanya kami mengambil perhitungan yang sudah sering dilakukan oleh turun temurun generasi kami, sebagai ikhtiar agar terlepas dari kesialan itu sendiri...,” Rifai dengan panjang lebar memberikan penjelasan pada kedua anak muda, yang tidak mengerti dengan perhitungan seperti itu. Apalagi Wijaya lahir, besar di kota metropolitan. Yang tidak pernah menjalankan adat istiadat. Setelah mendengar kejelasan dan pendapat dari paman Nilam yang terdengar alot, dalam urusan tanggal pernikahan, maka Wijaya dan Nilam, akhirnya mengikuti hari yang telah di tetapkan oleh pamannya Nilam. Maka hari Senin, dijadikan hari pernikahan mereka, walaupun keinginan dari Wijaya dan Nilam untuk menetapkan hari pernikahan mereka sebenarnya jatuh pada hari minggu. Unsur tradisi dengan menggabungkan hari kelahiran mereka berdua, menjadikan Senin sebagai hari baik dalam pernikahan mereka, yang harus dilaksanakan tanpa bisa di tolerir, seperti pada prosesi seserahan dalam lamaran. Karena menurut Paman Nilam, hal itu menyangkut kelangsungan hidup berumah tangga. “Jaya, karena kalian belum sah sebagai suami istri, maka untuk sore nanti, kamu akan tinggal sementara di rumah adik perempuan paman. Bibi Diah namanya dan dia hanya punya anak lelaki saja, jadi kamu akan lebih leluasa jika disana,” ucap Rifai. Wijaya yang mendengar penjelasan Rifai, atas norma hidup bermasyarakat di desa, yang terlihat lebih kompleks. Karena mayoritas masyarakat dimana, norma kesusilaan dan nilai agama yang kuat, mereka junjung tinggi dalam kehidupan, sehingga mereka tidak akan mentoleransi hal-hal yang menyimpang dalam norma bermasyarakat dan agama. “Hmmmm, paman..., bagaimana untuk ayah saya, apakah ayah juga akan tinggal di rumah bibi Diah?” tanya Jaya. “Untuk ayah kamu, biar besok tinggal di rumah ini saja. Memang jam berapa besok ayah datang?” tanya Rifai setelah menjawab pertanyaan Wijaya. “Ayah menggunakan kereta api, kalau di lihat dari tiketnya, besok subuh telah sampai,” jawab Wijaya memberitahukan kedatangan ayahnya yang menggunakan jalur kereta api. “Yaa...sudah, besok paman yang jemput di Stasiun Tugu, sekalian mau paman ajak ke rumah kepala dusun, untuk memberitahukan pernikahan kamu dan Nilam.” Selesai bercakap-cakap, Rifai langsung mengajak Jaya pergi ke rumah adik perempuannya yang tinggal dalam satu dusun. Kira-kira berjarak satu kilo dari rumah Rifai. Mereka akan menggunakan sepeda motor untuk sampai ke rumahnya. Sebelum itu, Jaya masuk ke ruang tengah untuk mengambil koper yang tadi di bawa masuk oleh Nilam. “Lam..., aku ke rumah bibi Diah dulu yaa, sekalian berkenalan dengan keluarga besar kamu,” ucap Wijaya berpamitan pada Nilam yang sedang merapikan ruang tengah, bersama beberapa tetangga yang telah datang ke rumah. Nilam yang melihat kedatangan Wijaya ke ruang tengah, langsung memberikan kopernya dan ia berkata, “Mas..., ingat nanti telepon ayah, siapa tahu sudah bisa di hubungi. Apa mas sudah menghubungi ibu?” “Waduh...., lupa aku menghubungi ibuu,” bisik Wijaya dengan suara perlahan. Karena ia tidak ingin keluarga Nilam tahu tentang hal yang terjadi antara ia dan ibunya. Kemudian, Wijaya meminta izin pada paman Nilam untuk ke kamar kecil. Dan di kamar kecil itu, Wijaya menghubungi ibunya, dengan suara yang sengaja dikecilkan volumenya. “Buu..., maaf Jaya baru bisa menghubungi. Jaya sudah sampai dengan selamat, baru aja break setelah meeting dadakan. Ibu gimana kabarnya?” Jaya membohongi ibunya dengan berpura-pura habis meeting dan menanyakan kondisi ibunya. “Syukurlah Jaya, ibu lega mendengarnya, ingat kamu jaga kesehatan disana....hmmm apa enggak bisa lebih cepat kamu menyelesaikan pekerjaan kamu?” tanya Hanifah pada putra semata wayang yang sangat di kasihinya. “Yaa...enggak bisa seperti itu, Buu..., Jaya kan hanya pelaksana saja, kecuali Jaya udah jadi Bos..., beda lagi ceritanya...hehehehe, udah dulu yaa Buu, meeting mau mulai, ibu juga jaga kesehatan disana,” Wijaya menutup pembicaraan dengan ibunya. Selesai menghubungi ibunya, Jaya terdiam sejenak. Ia duduk di kloset, termenung, dan terus bertanya dalam hatinya, ‘Apakah pantas aku membohongi ibu seperti ini? Yaaa....Tuhan, sekarang aku harus bagaimana? Aku berjanji..., akan mengatakan semua pada ibu, setelah pernikahanku selesai.’ Sekitar tiga puluh menit, Wijaya berada di kamar kecil. Sehingga membuat paman Nilam berpikiran, kalau Wijaya terkena diare. Maka ketika ia baru selesai dari kamar kecil, paman Nilam bertanya padanya, “Jaya..., apakah kamu sakit diare?” Mendengar pertanyaan seperti itu, hati kecil Wijaya tergelitik. Ingin rasanya ia menjawab tidak, tetapi paman Nilam, pasti akan menanyakan hal lain, terkait lamanya ia berada di kamar kecil. Akhirnya, Wijaya menjawab, “Iyaa paman, agak mules sedikit..., biar nanti saya minum obat diare, kebetulan saya bawa obat-obatan di tas.” Paman Nilam, Rifai hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu keluar dari ruang tengah beranjak ke halaman. Lalu, Wijaya membawa kopernya keluar rumah itu, menuju motor yang telah terparkir di halaman rumah. “Taruh di bagian depan saja koper kamu itu, soalnya kita akan naik ke bukit. Rumah adik paman, di atas sana,” Rifai menunjuk arah jalan yang tertutup pohon-pohon jati di sepanjang jalan. Wijaya pun menaruh koper kecilnya di bagian depan dari motor itu, agar mempermudah mereka menaiki jalan terjal. Setelah menghidupkan mesin motor, mereka pun keluar dari pekarangan rumah, dan hilang diantara pohon-pohon jati yang besar. Sementara itu, kesibukan di rumah Nilam, semakin menjelang sore, semakin ramai. Beberapa tetangga yang mengetahui kedatangan Nilam ke kampung halaman untuk menikah, bersama-sama mengunjungi rumah Rifai. Sudah terbiasa bagi masyarakat di desa, untuk saling tolong menolong ketika, ada suatu kegiatan di rumah tetangga mereka. “Buu Zubaedah, koq enggak ngasih tau kalau Nilam mau nikah?” tanya seorang tetangga yang baru datang dan langsung masuk ke ruang tengah. “Nilam..., kapan acara seserahannya?” tanyanya lagi, setelah tidak mendapat jawaban dari bibinya Nilam. Bibi Nilam pun menghampiri tetangga dekatnya yang bernama ibu Siti, terlihat mereka berbicara dengan serius di ruang tamu. Bibinya Nilam, mengajak ibu Siti yang memang agak rempong itu, ke ruang lain, agar ibu-ibu yang sedang membantu, untuk persiapan prasmanan tidak terganggu dengan ocehannya. Setelah mendapatkan penjelasan dari bibinya Nilam, akhirnya ibu siti pun memaklumi kondisi yang serba mendadak. Hanya saja mendadaknya pernikahan antara Nilam dan Wijaya, menghembuskan gosip atas kehamilan diri Nilam, dan ada juga gosip yang mengatakan, jika calon suami Nilam telah mempunyai keluarga, sehingga mereka menikah secara diam-diam. Fitnah dan gosip yang beredar di kalangan tetangga yang membantu menyiapkan jamuan pada hari pernikahan yang akan diadakan dua hari lagi, menyebar bagaikan angin. Tetapi, Nilam yang tidak merasa seperti yang di tuduhkan, hanya tersenyum dalam hati dan tidak menghiraukan fitnah yang beredar di tengah tetangga dalam lingkungan rumah pamannya. Kesibukan para perempuan, dengan mengupas bumbu dapur, serta membuat bumbu yang akan digunakan pada hari minggu besok, membuat keadaan rumah pamannya, terlihat berantakan. Sementara, kaum lelakinya sibuk membuat hiasan dari janur untuk mempercantik, ruang tamu yang akan digunakan untuk akad nikah antara Nilam dan Wijaya. Walaupun mereka tidak mengundang, tetapi sudah menjadi kebiasaan masyarakat di desa, yang tetap akan datang pada saat mereka menikah, berbeda dengan masyarakat kota yang memerlukan kartu undangan untuk datang ke acara pernikahan seseorang. Dan biasanya, sebelum acara pernikahan, esok hari akan dilakukan doa bersama yang akan di hadiri oleh masyarakat sekitar rumah mereka. Oleh karena itu, persiapan mereka untuk melakukan masak-memasak besok, di cicil hari ini. “Nilam..., bibi sampai lupa menghubungi kedua kakakmu, beritahu mereka, besok pagi untuk datang ke rumah, tetapi...., kalau memang bisa, sekarang aja suruh mereka pulang,” pinta bibinya Nilam, agar ia menghubungi ke dua anaknya, yang berada di kota Yogyakarta untuk datang. Nilam berlalu dari ruang tengah dan ruang tamu yang telah di penuhi oleh tetangga yang membantu persiapan pernikahannya, ke kamar. Sesampai di kamar ia menghubungi kakak sepupunya yang bernama Raditya. “Mas Radit..., ini Nilam..., aku sudah di rumah. Mas..., bisa hari ini ke rumah? Dua hari lagi aku akan menikah,” ucap Nilam dengan nada datar pada kakak sepupunya yang nomor satu. “Apa...? Menikah...? Looh, koq mendadak gitu sih...., Lam? Memang kapan acara lamaran dan seserahannya?” tanya Raditya dengan nada suara terkejut atas berita yang disampaikan langsung oleh adik sepupunya. “Udah... mas ke rumah saja, nanti bibi yang jelaskan semuanya..., Nilam sekarang mau hubungi mas Radikha, Cepat ke rumah yaa...mas, udah rame ini orang-orang ke rumah,” pinta Nilam pada kakak sepupunya dan mengakhiri pembicaraan mereka. Sama halnya ketika ia menghubungi Radikha, kakak sepupunya nomor dua juga sangat terkejut dengan acara dadakan yang akan di langsungkan, walaupun ibunya, sempat menghubungi dia perihal rencana pernikahan Nilam. Tetapi ia tidak berpikir, akan secepat ini. Oleh karena itu, sama seperti kakak sepupunya yang pertama. Ia pun banyak menanyakan perihal yang sama, dan dijawab oleh Nilam sama seperti yang ia katakan pada kakak sepupu pertamanya. Selesai Nilam menghubungi ke dua kakak sepupunya. Kini ia duduk di pinggir tempat tidurnya, memandang ke arah cermin yang berada di depannya. Ia pun menanyakan perihal keputusan yang ia ambil ini. Apalagi, tanpa sepengetahuan paman dan bibinya, mereka menikah tanpa restu dari ibunya Wijaya. Ada keraguan di hati kecil Nilam, atas pernikahan tanpa restu ini. Kebohongan yang dilakukan oleh Wijaya pada ibunya, dan kebohongan Nilam pada keluarga pamannya, membuat hatinya goyah. Ia sangat takut, pernikahan yang di awali dengan kebohongan ini akan berakhir tidak baik. Karena sudah menjadi rahasia umum, setiap satu kebohongan pasti akan diikuti oleh kebohongan lainnya. Dalam hati Nilam ia menjerit, ‘Bagaimana aku bisa keluar dari kebohongan yang sudah aku mulai? Bagaimana? Bagaimana?’ Nilam menutup kedua matanya, ada ketakutan bergelayut dalam pikirannya. Begitu juga dengan keraguan hatinya. Kemudian ia bergumam, ‘Yaaa...Tuhan, apa aku salah memilih jalan seperti ini?’ “Tok...tok...tok..., Nilam....,” ketukan pada pintu kamar dan panggilan bibinya membuyarkan lamunannya atas keraguan dan kebohongan yang ia sesalkan. “Iyaa...Bi,” sahut Nilam keluar dari kamarnya. “Bagaimana dengan kedua kakakmu..., apa sudah kamu hubungi?” tanya Bibinya. “Sudah Bi...,” jawab Nilam dengan memperhatikan raut wajah bibinya yang terlihat lelah, karena harus melakukan persiapan yang serba mendadak. Kemudian, Zubaedah meminta Nilam, untuk menghubungi beberapa keluarganya dan kerabat jauhnya agar datang ke rumahnya besok. Setelah mendengar permintaan bibinya, Nilam masuk kembali ke kamarnya, karena terlihat di semua bagian rumah itu telah ramai dengan tetangga yang ikut membantu persiapan untuk acara doa bersama esok hari dan acara pernikahannya dua hari lagi. Sesampai di kamar, Nilam kembali menghubungi beberapa kerabat, sesuai dengan perintah bibinya. Dan hari itu, menjadi hari yang melelahkan bagi pikiran dan perasaan Nilam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD