BAB 3 : Tujuan Akhir Cinta

1269 Words
Perjalanan yang menghabiskan waktu satu jam tanpa terasa di lalui oleh mereka berdua dengan keindahan area perbukitan yang seolah mengelilingi mereka. Jalan raya yang menikung, naik dan turun membuat adrenalin orang yang belum pernah melaluinya merasakan sensasi luar biasa ketika mereka akan memasuki sebuah dusun di kaki perbukitan. Jalan terakhir untuk sampai ke rumah Nilam, ketika mereka memasuki area persawahan yang naik dan turun sesuai dengan letak tanahnya. Dan sepanjang mata memandang, hanya keindahan alam yang terlihat. Padi yang baru tumbuh dengan warna hijaunya, membuat hamparan persawahan menjadi hamparan hijau yang memanjakan mata saat memandang. Setelah melewati area persawahan, dan irigasi, kini mereka mulai melalui jalan yang semakin menanjak, menaiki perbukitan hingga akhirnya masuk ke jalan tak beraspal dengan ukuran lima meter. Jalan itu hanya berupa beton dengan bagian kanan dan kirinya, menggunakan fondasi dari batu kali besar. Mobil yang membawa mereka, sampai pada sebuah rumah bertingkat, dengan cat berwarna hijau muda. Rumah tanpa pagar itu, terlihat lebih tinggi dari jalan. Pada samping kanan rumah tersebut terdapat kandang kambing, yang berbagi tempat dengan kandang bebek dan ayam. Sedangkan disebelah bagian kiri dari rumah tersebut, terdapat pohon singkong dan beraneka ragam jenis sayuran. Nilam dan Wijaya keluar dari taxi tersebut, begitu juga dengan sopir taxi yang membantu mengeluarkan koper mereka dari bagasi. Setelah itu, Wijaya membayar ongkos taxi yang telah mengantar mereka dengan memberikan tip dan berkata, “Terima kasih banyak pak.” Setelah itu, mereka masuk ke dalam pekarangan rumah. Sebelum sampai di teras rumah, pintu utama dari rumah itu terbuka, terlihat seorang wanita paruh baya keluar dari balik pintu, di barengi oleh munculnya, seorang lelaki dengan rambut yang telah berwarna putih. “Selamat datang, Nak Jaya ke gubuk kami,” ucap paman Nilam yang bernama Rifai menyambut kedatangannya dengan bersalaman. “Sehat-sehat terus yaa..., paman,” Wijaya menimpali ucapan Rifai. Sedangkan Nilam, mencium punggung tangan paman dan bibinya, lalu memeluk kedua orang tua tersebut. Kemudian bibi Nilam yang bernama Zubaedah mempersilakan Wijaya untuk masuk ke rumah mereka. “Silakan masuk Nak, beginilah suasana di kampung, berbeda dengan suasana kota.” Wijaya dan Nilam masuk ke dalam rumah, dengan mendorong kedua koper yang mereka bawa. Kemudian Wijaya duduk di ruang tamu di temani oleh Rifai di sebuah kursi dengan ukiran Jepara. Terlihat sebuah hiasan dinding berupa wayang kulit berbentuk gambar semar dan bagong pada ruang tamu, membuat suasana kedaerahan melekat pada rumah itu. Sedangkan Nilam dan bibinya masuk ke ruang tengah. Disana Nilam pergi ke kamar untuk menaruh koper dan sebuah tas tangan. Dan bibinya berjalan menuju dapur. Zubaedah membuatkan dua cangkir kopi dan satu piring pisang goreng, satu piring singkong rebus yang memang telah disiapkan olehnya, ketika mendengar kabar Nilam telah sampai di bandar udara. “Silakan di minum Nak Jaya...,” Zubaedah meletakkan dua cangkir kopi berikut satu piring pisang goreng dan satu piring singkong rebus. “Terima kasih, Bi...,” jawab Wijaya tersenyum pada bibinya Nilam. Kemudian mereka berdua menikmati secangkir kopi dan pisang goreng. Tak berapa lama, Nilam datang ke ruang tamu itu dengan membawa dua gelas teh. Ia langsung memberikan satu gelas teh untuk bibinya dan satu gelas untuknya. “Ini singkong dari kebun sebelah, kalau pisangnya, dari kebun yang di belakang rumah. Kehidupan di desa yaah... seperti ini. Terkadang kami hanya membeli garam aja, karena beberapa jenis sayur sudah ada. Kalau ingin makan ayam dan telur, tinggal ambil di kandangnya, hahahaha..., tetapi yaaa, harus rajin kasih makan hewannya,” panjang lebar Rifai menjelaskan keadaan di desanya dengan menikmati secangkir kopi. Wijaya yang mendengar cerita dari pamannya Nilam, hanya mangut-mangut memperhatikan dengan saksama, cerita yang telah di jabarkan perihal kehidupan di desa. Selesai, menikmati secangkir kopi dan camilan buatan rumah, Paman Nilam terlihat menyalakan, rokok linting. Biasanya orang-orang desa merokok dengan cara melinting sebuah kertas yang diisi dengan bakau. “Maaf yaa Nak, paman merokok..., apa Nak Jaya merokok juga?” tanya Rifai sambil menyalakan lintingan dari rokok itu, lalu menghisap rokok yang berada pada bibirnya, dengan asap mengepul yang menyebar ke ruang tamu itu. “Iyaa paman, enggak apa-apa..., kalau saya enggak pernah merokok , karena memang dari dulu saya tidak merokok,” jawab Wijaya dengan menyeruput kopi dan memakan singkong rebus. Zubaedah dan Nilam, beranjak dari tempat duduk meninggalkan ruang tamu untuk memasak. Dan saat ini, Wijaya hanya di temani oleh pamannya Nilam. Mereka bercakap-cakap tentang isu yang berkembang serta cerita dari paman Nilam, tentang masa lalu pekerjaannya ketika ia masih berada di Jakarta. “Maaf paman, kalau boleh saya tahu..., kedua saudara misan Nilam, apa sering pulang ke desa?” “Ooh, Raditya dan Radikha..., mereka sih biasanya pulang sebulan sekali, karena mereka saat ini sudah mempunyai anak kecil,” Rifai, paman Nilam bercerita tentang kedua putranya, yang saat ini telah berkeluarga. Setelah menghabiskan satu batang rokok linting, Paman Nilam langsung bertanya pada Wijaya, maksud dari dirinya ke kampung halamannya. “Nak Jaya, kalau boleh paman tanya, apa maksud dan tujuan Nak Jaya datang ke desa kami? agar saya sebagai orang tua tidak salah tampi atau tidak salah paham,” ujar Rifai. Sesaat, Wijaya merasa aliran darahnya terhenti, perutnya terasa sakit, serta kerongkongannya seperti tercekik, karena ternyata berbicara tentang sebuah pernikahan itu, bukan suatu yang mudah untuk dijabarkan, apalagi dia hanya datang sendiri. Dengan agak gugup Wijaya akhirnya mengutarakan kedatangannya ke rumah paman dan bibi Nilam. “Ehmmmm, begini paman, hmmmm, maksud saya datang bersama Nilam ke desa ini, ingin meminang Nilam, hanya saja karena ibu saya berhalangan hadir, kemungkinan, besok ayah saya akan ke rumah ini,” jawab Wijaya dengan gugup dan jantung yang berdetak kencang. Dalam hati Wijaya bergumam, ‘Seharusnya aku ke rumah Nilam bersama ayah, jadi kan..., aku bisa sedikit rileks.’ Paman Nilam kembali menyalakan rokok linting yang telah disiapkan sebelumnya, kembali ia menghisap rokok itu, dan kembali kepulan asap memenuhi ruang tamu yang berukuran 3meter x 3meter. Kemudian ia menjawab ucapan Wijaya, “Nak Jaya...., sebenarnya, acara melamar itu, biasanya dilakukan untuk perkenalan antara kedua keluarga, yang disebut dengan acara seserahan, setelah satu bulan kemudian, acara pernikahan dilakukan,” ujar Paman Nilam memberikan gambaran yang biasanya menjadi tradisi pada daerah tempat tinggalnya. “Tetapi karena, Nak Jaya akan ditemani oleh ayahnya besok, bagi paman, yaa..., enggak apa-apa, kita lewati aja acara yang berbau tradisional, yang terpenting bagi paman, kelak kamu, bisa menjadi suami yang baik, bagi keponakan saya, Nilam,” Rifai melanjutkan pembicaraan yang pertama, tentang yang seharusnya dilakukan jika mengikuti adat istiadat secara tradisional. Melihat kondisi dan keadaan dari Wijaya, yang ke rumahnya hanya berdua dengan Nilam, dan mengatakan, kalau ayahnya akan ke rumah besok, maka paman Nilam tidak bisa mengatakan apa pun, yang terpenting baginya, Nilam mau menerima Wijaya, sesuai kemampuannya. “Nilam..., Buu...., kemari sebentar,” pinta paman Nilam masuk ke ruang tengah dan memanggil Nilam dan istrinya. Nilam dan bibinya ke ruang tamu. Mereka duduk pada kursi yang saling berhadapan satu sama lain, lalu Rifai, memberitahukan maksud dari Wijaya datang ke rumah mereka. Kemudian, Rifai bertanya pada Nilam. “Lam..., apa kamu bersedia jika Jaya, melamar kamu tanpa seserahan, dan hanya ayahnya saja yang datang ke rumah ini? Kalau paman, enggak masalah, yang terpenting Nilam mau menerima dengan ikhlas,” ujar Rifai selaku wali dari Nilam. Sesaat Nilam tertunduk, kemudian dengan tegas ia mengatakan, “Iyaaa, paman, Nilam bersedia menerima Jaya, walau tanpa mengikuti adat istiadat yang berlaku di sini, yang terpenting bagi Nilam, kami berdua sah sebagai suami istri.” Mendengar keikhlasan dari keponakannya, yang ingin menikah, walau tanpa prosesi tradisional, seperti lamaran dan seserahan pada umumnya, Rifai sebagai orang tua tidak dapat mengatakan apa-apa, selain merestui mereka. Setelah pembicaraan itu selesai, bibi Nilam mengajak mereka semua untuk makan siang bersama. Karena tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul dua belas siang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD