Pada tengah malam, Nilam bermimpi buruk. Ia terbangun sekitar jam dua dini hari. Keringat bercucuran membasahi tubuhnya, padahal hawa di daerah tempat tinggalnya sangat dingin. Dilihat Wijaya masih terlelap dalam nyenyaknya. Sementara, Nilam yang mengalami mimpi buruk, duduk di tempat tidurnya. Ia mencoba mengingat – ingat mimpinya. ‘Koq aku melihat sendalku di pakai orang yaa, perasaanku juga jadi nggak enak.’ Bisik batinnya. Nilam akhirnya keluar dari kamarnya menuju dapur untuk mengambil segelas air. Ia duduk di kursi di ruang makan dan meneguk air yang telah ia ambil. Sesaat ia termenung dengan mimpi yang ia alami. Lalu, ia menenangkan batinnya sendiri dengan berkata dalam hati, ‘Nilam.., tenang aja.., itu hanya sebuah mimpi.., cukup yakin saja, semua akan baik – baik saja.’ Setelah

