"Ada apa? Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Hitomi pada Ray melihat tatapan mata Ray yang tampak tak biasa.
"Boleh kamu lebih dekat sedikit denganku?" ucap Ray.
Entah apa apa yang sedang dinginkan Ray saat ini dengan meminta dirinya mendekat padanya, Hitomi juga tidak mengetahui. Namun melihat gelagat Ray yang tampak aneh, Hotomi merasa Ray sedang memiliki maksud aneh terhadap dirinya. Tak kunjung Hitomi mendekat pada dirnya, Ray pun yang akhirnya berjalan menuju ke arah Hitomi berdiri.
"Ada yang mau kamu lakukan?" tanya Hitomi yang melihat Ray berjalan semakin mendekat ke badannya.
"Sudah! Kamu diam saja" ucap Ray.
Dengan perlahan tangan Ray memegang rambut Hitomi, seketika Hitomi pun merasa gugup luar biasa, jatung dia berdeguk lebih cepat dari biasanya, dia berpikir Ray akan berbuat sesuatu hal yang aneh-aneh dengan dirinya. Namun bukannya menghidar, Hitomi justru memilih tetap diam sembari memejamkan matanya dan menunggu apa yang akan diperbuat oleh Ray padanya.
"Kenapa kamu memakai sampo ini?" ucap Ray setelah mencium aroma rambut Hitomi.
"Apa?" tanya Hitomi yang tak menyangka kalimat tersebut yang akan keluar dari mulut Ray.
"Shampo yang kamu gunakan ini sudah kadaluarsa, kenapa kamu masih gunakan? Aku baru saja mau membaunganya nanti" ucap Ray.
Merasa kesal dengan perkataan Ray, Hitomi pun lantas segara pergi meninggalkan Ray menuju dapur. Hitomi berpikir jika Ray akan berbuat suatu yang mungkin akan membuat dirnya mati berdiri, seperti meciumnya misalkan.
"Apa yang kamu pikirkan, Hitomi!" gumam Hitomi sembari memukul-mukul kepalanya dengan perlahan.
"Ada apa dengan dia?" ucap Ray melihat Hitomi tampak memukul-mukul kepalanya.
"Apa mungkin dia merasa gatal karena memamkai shampo yang sudah kadaluarsa?" imbuhnya.
Sudah berjalan hampir satu bulan lamanya, Ray dan Hitomi hidup bersama dalam satu rumah. Hitomi sebenarnya sudah berulang kali meminta Ray untuk membantunya mencari tempat tinggal baru, namun Ray selalu menolak permintaan dari Hitomi itu. Dia beralasan jika Hitomi tinggal sendirian, itu akan membahayakan bagi dirinya. Namun alasan tersebut hanyalah sebuah trik belaka supaya Ray tetap dapat tinggal bersama dengan Hitomi.
Di saat mereka berdua sedang asyik berbincang sambil bercanda, tiba-tiba sebuah stasiun televisi berita mengabarkan jika semalam terjadi sebuah pembunuhan yang cukup tragis di sebuah apartement dikawasan elit kota Tokyo. Mendengar sang reporter yang mengatakan jika korban dari pembunuhan tersebut adalah Namato, seorang pengusaha yang terkenal akan kekayaannya, seketika mata Ray menjadi terbelalak.
"Coba kencangkan sedikit suaranya!" ucap Ray pada Hitomi.
"Siapa dia?" tanya Hitomi.
"Kenapa dia sudah meninggal? Siapa yang membunuhnya?" gumam Ray merasa penasaran.
Berdasarkan misi yang diberikan oleh Yamamoto, Namato merupakan target selanjunya yang harus ia bunuh. Namun Ray masih menunggu hari yang tepat untuk melakukannya, karena dirinya harus melakukan perhitungan yang sangat matang, agar nantinya misi yang ia jalankan dapat berhasil dengan mulus.
"Kring, kring, kring!" terdengar suara handphone Ray berbunyi.
Melihat jika yang menelpon dirinya adalah Yamamoto, Ray pun memilih untuk pergi menjauh dari Hitomi untuk mengangkat telepon dari Yamamoto tersebut.
"Kamu lagi di mana?" tanya Yamamoto.
"Di rumah. Kenapa?" jawab Ray.
"Kenapa kamu bisa sebodoh itu! Bertahun-tahun kamu melakoki pekerjaan ini, kenapa masih bisa ketahuan kayak gitu?" ucap Yammoto dengan nada tinggi.
Ray sama sekali tidak tahu kemana arah pembicaraan Yamamoto kali ini, Kenapa dia tiba-tiba saja marah-marah dan mengatakan jika Ray bodoh karena ketahuan. Ray merasa ada yang tidak beres kali ini, sebuah permasalah akan terjadi kembali menurut nalurinya.
"Ketahuan? Apa yang ketahuan? Aku tidak melakukan apa-apa" ucap Ray.
"Kamu masih bilang tidak melakukan apa-apa? Sekarang aku tanya padamu? Kapan dan bagaimana caramu membunuh si tua bangka Namato itu?" ucap Yamamoto.
"Membunuh Namato? Bukan aku yang membunuhnya! Aku sama sekali tidak tahu siapa dan kenapa dia bisa terbunuh seperti itu! Aku sendiri pun juga kaget melihat beritanya tadi"
"Kamu benar-benar gila, Ray! Apa kamu tidak tahu jika ciri-ciri tubuh yang terindikasi melakukan pembunuhan Namato adalah kamu? Semua stasiun TV saat ini sudah memajang fotomu sebagai buronan polisi, Ray!"
Ray yang masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Yamamoto, dia pun ingin memastikan sendiri, Ray pun segera belari menuju ke depan TV kembali. Dan benar saja, sebuah poster bergambarkan Ray, lengkap dengan baju yang benar-benar ia miliki, dengan status pelaku pembunuhan sudah terpampang jelas di sana.
"Benar-benar gila mereka ini! Bagaimana mungkin aku menjadi pelakunya!" ucap Ray.
"Kamu sudah lihat sendiri kan? Terus apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya Yamamoto yang masih tersambung telepon dengan Ray..
"Apanya yang harus aku lakukan? Aku sama sekali tidak membunuhnya!"
"Tapi semua orang dan polisi mengetahui kalau kamu adalah pelakunya! Meskipun kamu bukan pelakuknaya, semua orang akan tahu jika kamu adalah seorang pembunuh sadis. Tidak adan gunanaya kamu menyangkal hal itu sekarang" bentak Yamamato.
Hitomi yang melihat Ray terfitnah seperti itu juga merasa tidak terima, dia benar-benar merasa sedih. Namun dia tahu tahu apa yang harus dia lakukan. Dia hanya seorang mantan w*************a yang tidak bisa apa-apa selain merayu laki-laki. Dia mencoba mengelus-elus pundaks Ray guna menenagkan dia.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Ray semabri menghela napas.
"Aku mohon bantuanmu untuk membersihkan namaku dari masalah ini" imbuhnya.
"Tidak semudah itu"
"Lalu? Kamu tidak bisa membantuku kali ini?" ucap Ray yang merasa sangat-sangat kesal.
"Baiklah, biar aku sendiri yang menaganinya. Tapi jangan salahkan aku, jika semua orang tangannya kotor sepertiku, akan mengalami akhir yang sama denganku saat ini. Camkan itu! Aku tidak pernah main-main dengan apa yang aku ucapkan" ancam Ray yang lantas menutup teleponnya.
Ray benar-benar merasa stres berat. Dia sama sekali tidak menyangka jika permasalah seperti ini akan datang menimpanya. Dia bingung harus berbuat apa saat ini.
"Kenapa bisa seperti ini, Ray" tanya Hitomi.
"Entahlah! Aku rasa ada yang sengaja menjebakku kali ini"
"Aku rasa juga begitu. Kamu yang sabar" ucap Hitomi yang lantas memeluk Ray dengan erat
Sudah hampir 5 hari sejak peristiwa pembunuhan itu terjadi, tampaknya polisi belum juga menemukan keberadaan Ray. Namun polisi sudah mengantongi semua identitas lengkap dari Ray dan menggeledak apartement yang ia tinggali, namun mereka tidak menemukan keberadaan Ray dan Hitomi di sana karena mereka berdua telah pergi dari tempat itu dan kini tinggal di sebuah villa yang jauh dari perkotaan. Namun berita tentang pencarian Ray terus saja di siarkan di TV. Hal tersebut membuat Ray harus terus menggunakan topi dan masker ketika bepergian ke luar Villa.
"Hitomi! Kamu dimana? Ayo kita makan! Ini ada ayam kesukaanmu" ucap Ray yang baru saja pulang dari luar.
"Kemana dia" gumam Ray yang mencoba mencari ke seluruh raungan.
"Apa dia ada dikamar"
Mencoba untuk memastikannya, Ray pun lantas masuk ke dalam kamar Hitomi yang memang biasanya tidak pernah dikunci olehnya. Baru saja dia membuka pingtu kamar tersbut, Ray dibuat kaget bukan main melihat apa yang ada di dalamnya...