Masih tidak menyangka jika sahabatnya Yoshi dapat berbuat seperti itu, Ray mengamuk di dalam rumahnya sendiri. Di lain sisi, tentu saja dia merasa tidak sanggup jika harus mengotori tangannya dengan darah sahabatnya sendiri. Namun di sisi lain, jika Ray ingin nyawanya tetap selamat, dia mau tidak mau harus membunuh sahabatnya tersebut. Sebatang rokok ia nayalakan dan segelas wine ia tenggak guna menjernihkan pikiran.
"Kenapa aku harus bingung? Yoshi tega denganku, kenapa aku harus tidak tega dengannya? Ini adalah pekerjaan yang sudah biasa aku lakukan, tentu saja tidak akan sulit untuk melakukannya" gumam Ray yang mencoba membuat sebuah keputusan.
Tanpa pikir panjang, dia segera menghubungi Yoshi dan meminta memberitahu keberadaanya sekarang. Sebuah tempat billiard yang ada di kota, Yoshi mengatakan jika dirinya sedang ada di sana. Sebuah pistol dan pisau Ray masukan ke dalam jaket yang ia kenakan, dengan segera ia menuju lokasi yang diberitahukan oleh Yoshi.
Beberapa saat kemudian setelah sampai di tempat Billiard
"Ada apa? Tumben banget kamu mencariku?" sapa Yoshi sembari terus bermain.
"Nggak ada apa-apa, cuma mau menemuimu saja" ucap Ray sembari mengambil satu tongkat billiard dan mendekatkan dirinya dengan Yoshi.
Sama sekali tidak merasa ada keanehan atas kedatangan Ray, Yoshi terus saja fokus bermain.Berulang kali bola incaran yang ia sodok masuk kedalam lubang membuat Yoshi merasa sangat gembira.
"Takkkk....!!" bola yang sedang ingin di sodok oleh Yoshi, dipukul Ray dengan menggunakan tongkat yang ia pegang hingga melompat jauh entah kemana, kemudian mematahkan tongkat yang ia pegang
"Ada apa denganmu?" tanya Yoshi yang merasa kesal dengan tindakan Ray.
Sama sekali tidak ingin menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu, Ray hanya tersenyum simpul sembari menatap wajah Yoshi dengan raut wajah marah. Yoshi sama sekali tidak mengetahui maksud dari tindak Ray, memilih untuk tidak meladeninya dengan mencoba pergi untuk mengambil minum yang ada di atas meja. Namun baru juga ia membalikan badannya, sebuah pistol Ray lempar ke meja billiard
"Kamu kenapa? Aku tidak suka gaya bercandamu seperti ini Ray!"
"Jelaskan! Ada hubungan apa kamu dengan istri Yamamoto?" ucap Ray
"Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak tahu apa yang kau tanyakan" jawab Yoshi sembari tersenyum.
"Yamamoto memintaku untuk membunuhmu, dia tahu kalau kamu bermain api dengan istrinya. Benar begitu bukan?"
Yoshi sama sekali tidak mengetahui bagaimana Yamamoto dan Ray bisa mendapatkan informasi seperti itu. Namun yang pasti, nyawa dia saat ini benar-benar sedang diancam oleh sahabatnya sendiri.
"Mana mungkin aku berani, Ray! Kita berdua tahu betul siapa bos kita itu" ucap Yoshi yang tetap ingin membela diri.
"Apa kamu tidak mempercayai sahabatmu sendiri?" imbuh Yoshi.
"Sayangnya memang sudah tidak!" jawab Ray sembari memutarkan rekaman suara yang ia dapatkan dari Yamamoto.
Mendengar suara rekaman yang diputarkan oleh Ray membuat Yoshi kaget bukan kepalang. Dia tidak menduga jika Ray bisa mendapatkan rekaman yang telah ia berikan kepada Yamamoto itu. Niat awal ingin segera menyingkirkan Ray karena mendapatkan sebuah imbalan yang besar dari Mark, justru nyawa Yoshi sedang berada di ujung tanduk.
"Aku sekarang sudah tahu seperti apa sebenarnya dirimu! Aku tidak menyangka kamu tega berbuat seperti ini padaku" ucap Ray
"Tolong dengarkan aku dulu, Ray!"
"Sudahlah! Tidak ada yang perlu untuk saling dengar mendengarkan. Biarkan malaikat maut saja yang mendengar apa yang ingin kamu bicarakan" ucap Ray
Sebuah pisau tajam Ray ambil dari balik jaket yang ia kenakan, lalu ia hunuskan beberapa tepat di perut Yoshi hingga dia tak sadarkan diri bersimbah darah di lantai. Melihat sabatanya mulai meregang nyawa akibat dari perbuatannya, Ray merasa ingin menangis. Namun Ray mencoba sekuat mungkin untuk menahannya hingga tangan dia merasa gemetar.
"Maafkan aku! Aku tidak ada pilihan lain" gumam Ray yanng lantas pergi meninggalkan Yoshi yang terlihat sudah tidak bernyawa lagi.
Salah satu isi yang ia emban telah selesai ia lakukan, Ray lantas segera menghubungi Yamamoto. Mendengar hal tersebut, Yamamoto memberikan apresiasi atas kesetiaan Ray terhadap dirinya. Mengenai misi pembunuhan istrinya, Yamamoto meminta Ray untuk tetap melakukannya dengan hasil yang sama.
Setelah pulang kerumah
Sesampainya Ray di rumah, dia lantas membersihakan lumuran darah yang tertinggal di pisau yang ia gunakan dengan mengelapnya menggunakan kain dan air sembari sesekali meneteskan air mata. Ray merasa, sekarang sudah tidak ada lagi orang yang dapat ia percaya di negara ini. Hanya tinggal dia sendiri, berjuang sendiri menuju kebebasan yang telah menjadi tujuan hidupnya.
"Tok..tok...tok...." suara pintu rumah Ray diketuk dari luar.
Merasa sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun saat ini, Ray membiarkan orang itu terus mengetuk pintu rumahnya. Sudah sekitar lima belas menit lamanya semenja ketukan pertama kali terdengar, kini tak ada sedikitpun suara yang terdengar kembali, yang menandakan orang itu sudah pergi.
" Apakah dia sudah pergi?" gumam Ray.
Guna memastikan hal tersebut, Ray pun mencoba untuk melihat keluar rumah. Ketika Ray membuka pintu rumahnya, betapa terkejutnya dia melihat seorang perempuan yang tertidur dengan posisi bersandar di dinding rumah dengan baju yang terlihat basah kuyup. Melihat dari bentuk wajah dan rambut wanita itu, tampaknya dia bukan orang asing bagi Ray.
"Bukankah orang ini adalah wanita itu?" gumam Ry mencoba memastikan.
Wanita itu tampak seperti gadis yang ia gunakan dalam misi dia membunuh Nagano tempo hari yang lalu. Gerakan yang dilakukan Ray ternyata membuat wanita itu terbangun dari tidurnya.
"Kamu! Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Ray setelah meyakini jika wanita itu memanglah orang yang dia pikirkan.
Tak kunjung menjawab pertanyaan dari Ray, wanita itu justru terlihat menjadi bingung dan tiba-tiba menangis. Merasa bingung sekaligus kasihan melihatnya, Ray pun mengajak wanita tersebut masuk kedalam rumahnya karena terlihat wanita itu sudah sangat kedinginan sekali. Ray berikan sebuah kemeja putih ukuran besar pada wanita itu dan menyuruh dia untuk membersihkan badanya.
"Kenapa dia bisa sampai di sini? Bagaimana dia bisa tahu kalau aku tinggal di sini?" gumam Ray.
Gemercik air terdengar jatuh ke lantai kamar mandi Ray. Lokasi kamar mandi Ray yang berada tak jauh dari lokasi ia duduk saat ini, membuat Ray dengan mudahnya melihat bentuk tubuh dari wanita itu karena dinding kamar mandi di rumah Ray menggunakan kaca putih yang sedikit buram.
"Memang bagus juga ternyata tubuh dia" gumam Ray.
Tak lama kemudian, wanita itu pun keluar dari kamar mandi. Dibalut dengan kemeja putih yang diberikan oleh Ray, wanita itu benar-benar tampak cantik dan seksi. Ray sangat terpesona dengannya.