"Menurutku, ini adalah cara terbaik agar kita berdua bisa cepat keluar dari lingkaran setan ini, Ray!" ucap Yoshi mencoba meyakinkan Ray untuk menyetujui idenya.
"Yamamoto bukanlah orang yang mudah untuk kita kalahkan begitu saja. Selain itu, aku juga belum terlalu yakin dengan Mark yang begitu mudahnya mau membantu kita. Pasti ada sesuatu hal besar yang sebenarnya dia inginkan"
Bukannya Ray tidak ingin mencari jalan pintas untuk mereka berdua dapat pergi, namun menurutnya Mark bukanlah orang yang tepat untuk dimintai pertolongan. Ray tidak ingin ide tersebut akan menjadi sebuah bumerang yang akan justru akan menyerang dirinya dan juga Yoshi.
"Lalu bagaimana? Aku sudah lelah dan jijik mengotori tanganku setiap hari dengan darah, Ray! Apa kamu juga tidak merasakan hal itu?" Yoshi terus kekeh membujuk Ray.
"Sudahlah! Kita jangan bahas masalah ini. Menurutku ini bukanlah cara yang aman bagi kita. Sebaiknya kita tetap berada pada rencana awal kita"
"Terserah kamu lah, Ray" ucap Yoshi yang lantas pergi keluar dari rumah Ray.
Melihat sahabatnya yang tampak kesal karena keinginannya tidak dapat terpenuhi, Ray sama sekali tidak merasa bersalah. Ini bukanlah perkara mengenai bagimana cara pergi tercepat, namun pergi tercepat dengan menggunakan cara paling aman. Melihat hari yang tampak masih malam, Ray pun melanjutkan tidurnya.
Pagi-pagi buta, Yamamoto telah menghubungi Ray untuk segera datang ke markas. Entah misi apa yang akan diberikan padanya, namun Ray yakin ada sesuatu hal yang penting, karena mendengar nada bicara Yamamoto yang tampak sedang marah. Ray khawatir jika bosnya itu mengetahui soal perempuan yang ia gunakan tempo hari.
"Bagaimana tidurmu malam ini? Nyenyak sekali bukan?" ucap Yamamoto sembari menghisap sebatang cerutu.
"Berkat anda, Tuan!" jawab Ray.
"Syukurlah" ucap Yamamoto yang justru pergi menghadap keluar jendela.
Masih merasa bingung dengan situasi macam apa yang terjadi saat ini, Ray hanya bisa berdiam diri menunggu Yamamoto berbicara kembali. Namun jika terlihat dari gelagatnya, Ray dapat mengetahui jika bosnya tersebut sedang memiliki sebuah permasalahan.
"Ada apa, Tuan? Kenapa anda memanggil saya ke sini pagi-pagi buta seperti ini?" ucap Yamamoto mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
"Aku hanya ingin bertanya padamu, jika salah seorang terdekatmu berbuat kesalahan besar, apakah kamu tega memberinya pelajaran?" tanya Yamamoto.
"Apa maksud, Tuan?"
"Jawab saja! Aku hanya ingin mendengar jawaban darimu!"
"Berani, Tuan" Jawab Ray setelah diam cukup lama sembari memikirkan apa maksud dari pertanyaan yang diberikan oleh bosnya tersebut.
Mendengar jawaban dari Ray, Yamomoto terlihat langsung tersenyum simpul sembari mengangguk-anggukan kepalanya. Dia terlihat merasa puas dengan jawaban yang diberikan oleh anak buahnya tersebut.
"Lalu bagaimana jika aku membunuh seseorang untuk menutupi kesalahan yang aku perbuat?Apakah itu menjadi sebuah hal yang wajar jika aku lakukan?" tanya Yamamoto kembali.
Pertanyaan kedua yang semakin membuat Ray merasa kebingungan dengan arah dan tujuan dari pertanyaan tersebut. Namun menyadari dia hanyalah seorang anak buah yang patuh terhadap bosnya, Ray mengatakan jika apa yang dilakukan Yamamoto tersebut bukanlah sebuah kesalahan.
"Baiklah! Aku suka dengan jawaban yang kamu berikan" ucap Yamamoto yang lantas duduk kembali.
"Coba lihat itu!" ucap Yamamoto setelah mengeluarkan tiga lembar foto dari dalam lacinya.
Betapa terkejuttnya Ray setelah melihat tiga lembar foto yang diberikan oleh Yamamoto. Dua lembar foto bergambarkan Yoshi yang sedang bertemu dengan Mark di sebuah tempat dan foto Yoshi yang sedang berhubungan badan dengan istri Yamamoto di atas ranjang.
"Bagaimana? Sungguh menarik bukan orang-orang yang ada di dalam foto ini?"
"Tidak mungkin, Tuan! Yoshi tidak mungkin berbuat seperti ini!"
"Apanya yang tidak mungkin? Apa foto ini masih tampak kurang jelas bagimu? Manusia bodoh itu telah berani-beraninya meniduri istriku dan juga menghianatiku"
Seperti sedang dihantam oleh batu yang begitu besar, orak Ray seakan menjadi kosong tak berisi setelah menyaksikan apa yang ada di dalam foto tersebut. Ray sama sekali tidak mengira jika bosnya dapat dengan mudahnya mendapatkan foto-foto tersebut.
"Bodohnya kau, Yosh! Apa yang kamu lakukan anak bodoh!" gumam Ray.
"Menurutmu, apa yang harus aku lakukan kali ini? Membiarkan mereka? Atau justru membungkam mereka selama-lamanya?" tanya Yamamoto.
Ray sudah mulai paham arah dari dua pertanyaan yang dilontarkan oleh Yamamoto tadi. Dia pasti meminta Ray untuk membunuh Yoshi, istrinya dan juga Mark secara bersamaan. Namun tentu saja itu menjadi sebuah hal yang berat untuk Ray lakukan.
"Kenapa diam! Kamu bingung harus menjawab bagaimana? Baiklah! Biarkan aku sendiri yang memutuskannya" ucap Yamamoto.
Sebuah pisau Yamamoto ambil dari dalam lacinya, lalu ia arahkan ke Yoshi dan istrinya yang ada di dalam foto tersebut. Hal itu menjadi tanda jika dia ingin kedua orang tersebut mati.
"Aku beri kamu waktu tiga hari, pastikan kedua orang itu sudah raib dari muka bumi ini"
"Untuk dia, biarkan saja dia hidup. Aku masih belum merasa perlu untuk menghabisinya sekarang" ucap Yamamoto sembari menujuk ke arah kepala Mark dengan menggunakan pisau yang ia genggam
"Bagaimana? Apakah kamu mampu melakukannya?" imbuhnya.
Sudah menjadi sebuah hal yang wajib, Ray tidak bisa menolak dengan misi yang diberikan bosnya tersebut kepadanya. Namun jika dia harus membunuh sahabatnya sendiri, apa yang harus dia lakukan? Ray tidak tahu harus menolaknya dengan cara apa.
" Maaf, Tuan! Tidak bisakah orang lain yang melakukannya? Yoshi adalah sahabat saya" ucap Ray.
"Oh, sahabat! Jadi kamu tidak mau jika aku suruh untuk menghabisinya?"
"Bagaimana dengan ini? Kamu boleh mengsinya dengan nominal yang kamu inginkan" imbuh Yamamoto sembari memberikan Ray selembar cek kosong.
Merasa semakin terpojokan, Ray menjadi semakin stres dengan keadaan yang ia alami kali ini. Namun mengingat bagaimana perjuangan yang telah ia alami bersama dengan Yoshi, sangatlah mustahil baginya untuk menghabisi nyawa seorang sahabat yang telah ia anggap sebagai saudara sendiri.
"Aku harus bagaimana ini?" gumam Ray sembari berkeringat dingin.
"Baiklah jika kamu masih merasa kebingungan, akan aku tunjukan satu hal lagi yang mungkin saja akan memberimu pilihan" ucap Yamamoto.
Kembali selembar foto Yamamoto keluarkan dari dalam lacinya. Sebuah foto bergambarkan perempuan yang Ray gunakan untuk membantunya ketika membunuh Nagano di tempo hari, dan juga sebuah rekaman suara ketika Yoshi dan Ray berbicara di kamar tadi malam, ketika Ray mengatakan menggunakan bantuan dari seseorang wanita untuk membunuh Nagano.
"Aku sudah tahu siapa gadis ini! Kamu tidak perlu menjelaskan" ucap Yamamoto.
"Itu bukanlah hal yang menarik untuk kamu jelaskan kali ini. Yang lebih menarik, apakah kamu tahu siapa yang memberikan rekaman ini padaku?" imbuhnya.
"Yoshi! Tega-teganya kamu melakukan hal ini kepadaku!" gumam Ray yang seketika merasa geram karena sahabat yang berusaha ia lindungi kali ini ternyata menusuknya dari belakang.
"Bagimana, Ray?"
"Baiklah! Aku akan melakukannya" ucap Ray
Tersulut perasaan emosi oleh tindakan Yoshi, Ray menyanggupi misi yang diberikan oleh Yamamoto