Hanya Keponakan

1385 Words
Arga tidak memberikan jawaban atas pertanyaan Elea mengenai kontrak yang sedang ia jalani. Baginya, Elea bukan siapa-siapa sehingga hal sebesar itu tidak perlu ia ceritakan. Lagi pula, apa untungnya? Justru semakin banyak orang yang tahu, malah akan membuat Arga semakin sulit melangkah, karena pekerjaan sampingan yang sedang ia geluti bersifat rahasia. Elea tidak memaksa saat Arga memilih diam. Dia juga melakukan hal yang sama, sama diamnya seperti yang Arga lakukan. Memaksa? Tidak mungkin, karena hal itu hanya akan membuat Arga marah, lalu mengusir dirinya. Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit, akhinya Arga pun menepikan kendarannya di bahu jalan, lalu Elea bertanya, "Kita mau makan apa, Om?" "Katanya mau nasi goreng, gimana sih?" seru Arga seraya membuka sabuk pengaman, la juga membantu Elea membuka sabuk pengamannya saat melihatnya kesulitan. "Mana?" Matanya berkeliling mencari penjual nasi goreng, sedangkan yang ada di depan mata hanya ada penjual siomay, soto, pecel ayam, dan begitu melihat ke arah seberang jalan. Dia melihat pedagang nasi goreng, lalu bicara dengan suara nyaring. "Oh itu." Arga yang terkejut langsung menjauhkan wajahnya. "Kenceng benget suaranya. Pengeng nih kuping gue." "Maaf," ucapnya seraya menangkup pipi Arga sambil tersenyum. Arga langsung menurunkan tangan Elea dari pipinya sambil berkata, "Apaan sih?" "Ih, galak banget. Pantesan cepet tua." Berhasil melepaskan sabuk pengaman, Arga langsung keluar dari mobil, begitupun dengan Elea walau sedikit terlambat. Namun, saat Elea keluar, dia melihat Arga sudah berada di seberang jalan. "Om Arga! Kok malah duluan sih? Bukannya tungguin." Elea berteriak dari kejauhan. "Kenapa emangnya? Udah sini buruan!" Suara Arga juga berteriak. "Nggak mau. Aku nggak bisa nyeberang." "Ah elah, tinggal nyeberang aja apa susahnya sih." Mata Elea berkeliling mencari jembatan penyebrangan jalan. Ada memang, hanya saja jembatan penyeberangan tersebut letaknya berada jauh dari tempat dia berdiri. Karena Elea tidak bisa menyeberang sendiri, ia pun melangkah kakinya ke arah sana. "Mau ke mana, lu?" Kembali Arga berteriak saat melihat Elea berjalan ke kanan jalan. "Itu." Jari lentiknya menunjuk ke arah jembatan. "Ada jembatan penyeberangan jalan." "Ngapain ke sana? Udah lu tinggal nyeberang jalan aja." "Nggak mau! Aku nggak bisa," kekeh Elea. Arga berkacak pinggang, menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu bergumam kesal. "Bener-bener ya ini bocah." Demi mempersingkat waktu, akhinya Arga pun kembali menyeberang, menjemput Elea. "Kenapa Om balik lagi?" tanya Elea saat Arga berjalan ke arahnya dengan tergesa-gesa, juga raut wajahnya terlihat kesal, membuat Elea sedikit merasa takut. "Lu kalau nyeberang lewat tuh jembatan, mau pulang kapan? Pagi?" gerutu Arga setelah berdiri di depan Elea. "Aku kan nggak bisa nyeberang," lirih Elea. "Lu bilang tinggal di jalanan sebatang kara. Terus, gimana ceritanya lu nggak bisa nyeberang jalan sendiri? Selama ini lu hidup di mana?" Kening Elea mengerut, "Kenapa emangnya? Yang kerja di showroom mobil aja, nggak semua harus bisa bawa mobil, kan?" "Ya beda dong. Nggak diharuskan semua bisa bawa mobil, karena untuk tes drive itu ada pegawai khusus. Gimana sih?" Bukannya cepat menyeberang, lalu memesan nasi goreng, mereka malah berdebat di pinggi jalan, hingga akhirnya Elea pun pergi ke arah berlawanan dengan perasaan marah. "Mau ke mana lagi?" tanya Arga. Elea diam tidak menjawab. Dia kesal hanya karena perkara tidak bisa menyeberang saja, Arga sampai hati memarahinya. "Aku ini kabur buat nyari kesenangan, ini cuma nggak bisa nyebrang aja malah kena marah. Nyebelin banget sih," terus menggerutu sepanjang jalan, melewati banyak penjual makanan, beberapa langkah ke depan ada pangkalan ojek, dan langkah demi langkah keramaian itu berubah menjadi sepi seperti di kuburan. Hanya ada satu warung yang mana di warung tersebut terlihat banyak pemuda yang sedang asik nongkrong, bermain gitar, bernyanyi tidak jelas seperti orang mabuk. "Hai," goda salah satu pria saat melihat Elea melintas. Elea yang saat ini mengenakan baju yang sangat minim, terus menarik bajunya sambil berjalan cepat melewati pria tersebut. Namun, karena jarak tempat nongkrong mereka tidak jauh dari trotoar jalan, beberapa pria itu menghalangi jalan dengan berdiri di depan Elea. "Dipanggil nggak mau nengok. Sombong amat, cantik," goda salah satu pria berbaju hitam. "Tau, padahal kita cuma mau ngajak ngopi," sambung teman satunya sambil mencolek dagu Elea. Dengan cepat Elea mengibaskan tangan pria itu dari dagunya. "Jangan halangi jalan saya!" "Udah cantik, galak pula. Gue suka sih." Saat kedua pria itu berjalan lebih dekat, mobil Arga berhenti di bahu jalan dan langsung menghidupkan klakson. Semua orang menoleh, kedua pemuda itu langsung menyapa ketika Arga keluar dari mobil. "Hai, Bro." "Bro?" Dahi Elea mengerut. Arga membalas lambaian tangan orang itu, lalu berjalan menghampirinya. "Ke mana aja lu?" tanya Pria itu kepada Arga. "Ada," jawab Arga santai, lalu ia berdiri di samping Elea. "Nggak pernah keliatan nongkrong." "Sibuk di bengkel, gue. Si Toni ngasih kerjaan nggak kira-kira." "Pantesan. Nah ini lu mau ke mana?" tanya teman satunya. "Nih nyusulin ponakan gue. Lagi ngambek," tunjuk Arga dengan sudut matanya ke arah Elea. Elea yang masih kesal memilih diam, menautkan kedua tangannya di d**a, sambil memalingkan wajahnya ke arah lain. "Oh, jadi ini ponakan lu?" Arga mengangguk. "Iya." "Jagain yang bener ponakan lu, cewek secantik ini lu biarin jalan sendiri. Hampir aja gue embat." Pria itu bersama temannya tertawa terbahak-bahak. "Iya, tenang aja." "Eh ngomong-ngomong si Leo tau lu punya ponakan? Hati-hati sama dia, Ga. Tau lu punya berlian kek gini, bisa-bisa ponakan lu diincer juga," ucap salah satu temannya mengingatkan. "Nggak bakal berani dia sentuh ponakan gue. Kan ada kalian juga yang jaga." Sambil menepuk bahu Arga, pria itu berkata, "Bener, Bro. Gue bakal jagain ponakan lu, anak-anak sini udah tau, jadi lu tenang aja." "Thanks, ya. Ya udah, gue mau balik dulu. Udah malem." Setelah berpamitan dengan temannya, Arga membuka pintu mobil di sisi kiri, lalu meraih tangan Elea, mengajaknya untuk masuk. "Ayo masuk." Dengan sangat terpaksa Elea pun masuk, lalu Arga masuk ke dalam mobil dari sisi kanan. Setelah menghidupkan mesin, Arga menghidupkan klakson untuk berpamitan sambil menginjak pedal gas, meninggalkan area tersebut dengan perlahan. "Tau kan gimana bahayanya tengah malem jalan sendirian?" tanya Arga yang sudah menambah kecepatan laju kendarannya. Elea diam. Dia yang masih marah, memalingkan wajahnya ke arah jendela. Sadar sebab Elea marah karena apa, akhinya Arga pun meminta maaf lebih dulu. "Oke, oke gue minta maaf. Ini cuma perkara nggak bisa nyebrang doang, kan? Gue bener-bener minta maaf kalau ucapan gue menyingung perasaan lu." "Lain kali kalau ngomong sama cewek itu disaring, jangan asal ngomong aja. Semua punya kekurangan, punya juga kelebihan. Jadi, Om nggak berhak menghina kekurangan yang aku miliki. Paham!" "Iya, iya. Kan gue udah minta maaf." "Sama satu lagi. Kenapa Om bilang sama mereka kalau aku keponakan Om? Kenapa nggak bilang kalau aku calon istri Om?" "Yang bener aja. Nggak mungkinlah gue bilang kayak gitu, lagian juga apa kata mereka kalau tau lu tinggal di rumah gue? Lu mau kita dibilang kumpul kebo? Kalau lu mau kayak gitu, mending Soni deh pergi dari sekarang, sebelum warga ngusir kita karna dianggap kumpul kebo." "Ya bilang aja kita nggak ngelakuin apa-apa. Kan emang kenyatannya juga kita nggak ngapa-ngapain. Cuma waktu itu aja Om Arga mabuk." "Terus mereka bakal percaya gitu aja?" Elea diam, Arga melanjutkan bicaranya. "Orang nggak waras kalau sampai percaya." "Terus, gimana sama pernikahan kita?" "Sesuai dengan kesepakatan awal. Gue bakal nikahin lu setelah gue punya kerjaan yang layak dan setelah kita nikah, kita nggak akan tinggal di sini. Kita bakal pindah jauh dari Jakarta." "Pindah dari Jakarta?" Perasaan Elea mulai tidak enak. "Iya, jauh dari orang-orang yang kenal sama kita. Baik itu temen-temen lu, temen-temen gue, terutama musuh gue." Elea diam, dia melihat ke jendela dengan bingung. Tidak lama setelah itu, Arga kembali menepikan mobilnya di bahu jalan, lalu menarik rem tangan. "Ayo turun! Kita makan dulu." "Makan apa?" "Sate. Kali ini kita nggak harus nyebrang jalan. Tuh," tunjuk Arga ke sebelah kiri. "Ada yang jualan sate Madura." Elea juga melepaskan sabuk pengamannya, lalu mereka pun keluar. "Tunggu di sini! Gue pesen satenya dulu." Baru satu langkah, Elea menahan dengan menarik tangannya. "Sebentar!" "Kenapa?" "Aku pengen beli martabak telor. Boleh?" pinta Elea sambil mengulurkan tangan. Arga mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya, lalu menyerahkan satu lembar uang kertas dengan nominal seratus ribu rupiah. "Habis beli martabak jangan ke mana-mana! Kalau ilang repot," pesan Arga. "Iya," jawabnya singkat. Sementara Arga memesan sate, Elea pergi membeli martabak telur. Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Elea pun kembali menghampiri Arga. Namun, hal mengejutkan terjadi saat melihat Arga berjabat tangan dengan seorang wanita cantik, lalu tiba-tiba wanita itu mencium pipi Arga. "Siapa dia?" Dahi Elea mengerut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD