Entah siapa wanita itu. Penampilannya sederhana, rambutannya yang hanya sebahu dibiarkan terurai. Dia datang menggunakan motor, karena setelah menemui Arga, wanita itu naik ke atas motor metik tanpa mengenakan helm, lalu pergi. Itu artinya wanita tersebut tinggal tidak jauh dari wilayah sekitar.
Sambil menenteng keresek berwarna putih bertuliskan selamat menikmati, Elea berjalan menghampiri Arga, duduk di kursi panjang berbahan kayu itu tepat di sebelahnya. Karena penasaran, Elea pun bertanya, "Siapa, Om?"
"Siapa apa?"
"Tadi aku liat ada perempuan ngobrol sama Om."
"Oh itu. Temen," jawabnya singkat.
Elea mengangguk-anggukan kepalanya. "Oh, temen. Kayaknya udah deket banget ya, Om?"
"Iya, dia udah kayak adik buat gue."
Pesanan Arga sudah selesai dibuat. Pedagang menyerahkan kantung keresek berwarna hitam berisi dua puluh tusuk sate juga dua bungkus nasi kepada Arga.
"Berapa, Pak?" tanya Arga seraya mengeluarkan dompet.
"Enam puluh ribu."
Arga menyerahkan uang pas, bersamaan dengan pedang menyerahkan keresek tersebut. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, mereka pun pulang.
Saat ini waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Elea yang tidak pernah tidur sampai larut malam, menguap saat mobil baru saja melaju. Dia menyandarkan tubuhnya pada sandaran jok, kepalanya ia miringkan melihat ke arah luar yang terlihat masih sangat ramai.
Kalau di rumah, biasanya di jam segitu Elea sudah berada di alam lain bermimpi bersama pangeran, tetapi akhir-akhir ini mimpinya selalu buruk. Bahkan di malam dia berada di kamar Arga, Elea sama sekali tidak tidur sampai pagi, sampai Arga bangun dan terkejut saat pertama kali melihat dirinya di dalam kamar tanpa mengenakan pakaian. Elea tersenyum tatkala mengingat kejadian itu. Namun, senyumnya memudar saat mengingat rumah besar bak istana yang ia tinggalkan.
"Ayah, gimana kabar ayah sekarang? Maafin Elea, Ayah. Elea kesal ayah selalu percaya sama ucapan mamah Lena, ayah nggak pernah mau dengerin Lea," batin Elea bergumam. Secara diam-diam ia meneteskan air mata kesedihan. Bagaimana tidak, Elea begitu merindukan sang ayah setelah tiga hari melarikan diri dari rumah.
Elea yang merasa kedinginan, karena kemeja yang ia kenakan sangat minim, mengangkat kedua kakinya ke atas jok, memeluknya dengan erat. Arga merasa kasihan melihatnya, lalu ia pun melepaskan jaket yang sedang dipakai, menyerahkannya kepada Elea.
"Nih pake!" Tidak seperti di film-film saat lawan mainnya menyerahkan jaket dengan cara yang lembut, tutur kata manis, lalu menautkannya di atas pundak. Arga tidak melakukan itu, dia sedikit melempar jaket tersebut, bahkan besi relseting mengenai keningnya.
"Aduh." Elea meringis sambil mengusap keningnya. "Sakit tau."
"Sakit kenapa? Masa kena jaket aja sakit," ucap Arga tanpa mengalihkan pandangan dari fokus mengemudi.
"Bukan kena jaketnya, tapi besinya nih," tunjuk Elea pada besi resleting yang barusan mengenai keningnya.
"Ya udah kalau nggak mau pake. Sini!" Saat Arga akan mengambil kembali jaketnya, Elea menahannya, lalu menutup bagian paha yang terbuka.
Setelah itu tidak ada lagi percakapan. Elea kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela, berkutat dengan pikirannya yang terus memikirkan keadaan sang ayah, hingga akhirnya dia yang sejak tadi sudah mengantuk, tiba-tiba saja tertidur pulas bahkan sampai di kontrakan.
"Nih bocah malah tidur. Mau gue bangunin kasian, nggak dibangunin masa mau dibiarin tidur di mobil," gumam Arga sambil menatap wajah Elea dari jarak dekat, sampai-sampai keningnya yang tadi terkena resleting, jelas terlihat merah. Spontan Arga mengangkat tangannya, mengusap kening Elea dengan lembut. "Beneran kena besi. Sorry, ya. Sumpah gue nggak sengaja."
Elea menggeliat, Arga langsung menurunkan tangannya, kembali duduk seperti semula. Berpikir Elea akan bangun, gadis berusia dua puluh tahun itu kembali tertidur pulas, malah sampai mendengkur. Arga menghela napas kasar, mau tidak mau akhirnya ia pun menggendong Elea masuk ke dalam rumah.
Ia membaringkan tubuh mungil itu di atas ranjang yang kurang empuk, tentunya. Selimut yang dipakai pun masih selimut kemarin yang Elea gunakan untuk menutupi tubuhnya yang polos tanpa busana. Tidak ingin membayangkan kejadian kemarin, Arga segera keluar dari kamar, lalu berbaring di atas kursi berbahan kayu yang ada di ruang tengah.
***
Sinar matahari menyeruak masuk ke dalam rumah. Pria pemilik tubuh kekar itu perlahan membuka mata dan langsung terkejut saat melihat wajah Elea ada di depan mata, dengan jarak yang sangat dekat. Wajah Elea terlihat cemberut.
"Ngapain sih, lu? Ngagetin gue aja," seru Arga seraya menyipitkan mata. Ia merubah posisinya dari berbaring menjadi duduk, menggerak-gerakan kepalanya ke kanan dan ke kiri, lalu ke atas dan ke bawah melemaskan otot lehernya yang terasa kaku.
"Pengen mandi, Om," lirih Elea.
"Terus, apa urusannya sama gue? Pengen gue mandiin?"
"Enak aja. Jangan m***m!"
"Lu yang pagi-pagi ngajak m***m. Pengen mandi bilang sama gue, sono ke kamar mandi! Handuknya ada di jemuran belakang. Jangan minta handuk baru, handuk gue cuma satu doang."
"Aku tau, yang warnanya abu-abu, kan? Yang ada bolongnya di tengah?" tebak Elea yang memang sudah menggunakannya saat mandi sore kemarin.
"Nah itu lu dah tau."
"Bukan masalah handuk, tapi ...," ucap Elea terputus-putus, membuat Arga sedikit geram.
"Tapi apa?"
"Aku nggak punya baju lagi."
"Baju lu yang kemaren?" tanya Arga sambil berdiri, berjalan menuju jendela hendak membuka gordennya.
"Belum aku cuci," jawab Elea dengan enteng, pandangannya mengikuti ke mana Arga berjalan.
Dahi Arga mengerut. "Belum dicuci? Kemarin lu bilang udah dicuci, gimana sih?"
Elea menggelangkan kepalanya. "Belum, cuma aku masukin ke dalem ember kosong."
"Kenapa nggak lu cuci sekalian?"
"Aku nggak bisa nyuci."
"Nggak bisa nyuci? Gimana ceritanya lu nggak bisa nyuci?" Setelah membuka gorden yang ukurannya hanya satu meter, Arga kembali duduk di kursi panjang.
"Ya nggak bisa pokoknya."
"Gue aneh deh sama lu. Lu kan katanya tinggal sebatang kara di Jakarta nih, kerjaan lu juga serabutan, hidup di jalanan, terus gimana ceritanya lu nggak bisa nyuci? Selama ini yang nyuciin baju lu siapa? Lu punya ibu peri?"
"Kan ada tetangga. Aku bayar nyuci setiap satu bulan sekali."
"Duit dari mana?"
"Dari hasil kerja."
"Kerja apaan?"
"Ah, udah deh. Ngapain sih ngomongin kehidupan aku? Udah sekarang pokoknya aku mau mandi, tapi bajunya mana?" Semakin banyak pertanyaan, Elea semakin bingung akan menjawab apa. Ia takut Arga tahu jati diri dia yang sebenarnya.
"Habisnya lu aneh. Beresin rumah nggak bisa, nyebrang jalan nggak bisa, nyuci baju nggak bisa, maunya makan makanan enak terus. Lu ratu gelandangan, apa ratu istana negara? Gue curiga, jangan-jangan lu bukan anak gelandangan, ya?"
"Nggak percaya banget, sih?" Gerutu Elea.
"Ya nggaklah. Lagian bisa lu apa? Ini itu serba nggak bisa."
"Emangnya kenapa kalau aku serba nggak bisa?"
"Ogah gue jadiin lu istri. Kalau lu nggak bisa ngapa-ngapain, siapa yang beberes rumah? Siapa yang masak? Nyuci dan lain-lain?"
"Kalau gitu jangan nikahin aku. Nikah aja sana sama pembantu," kelakar Elea seraya bangkit dari duduknya.
"Beneran nih?" ucap Arga meledek.
"Sono! Asal Om tau, ya. Kodrat istri itu bukan nyuci, ngepel, nyapu, dan lain-lain. Kodrat istri itu hanya melahirkan, menyusui. Lebih dari itu tangung jawab suami." Elea menekankan kata 'hanya' yang artinya tidak ada lagi selain yang ia sebutkan tadi.
Arga ikut bangkit dari duduknya, membalas ucapan Elea. "Kalau pekerjaan rumah gue yang urus, siapa yang mau kerja?"
"Makanya kalau udah punya istri, kasih istrinya pembantu buat ngurusin rumah biar Om tetep kerja. Itu baru bener."
Arga menyunggingkan senyum dari sudut bibirnya. "Enteng banget ini bocil kalau ngomong."
"Kalau nggak mau kayak gitu, minimal punya tutur kata yang lembut kek sama istri. Ngomong sama perempuan kayak ngomong sama musuh, salah dikit diomelin. Dasar nyebelin." Elea mendorong tubuh Arga, lalu berjalan menuju pintu, membukanya secara kasar. Namun, hal mengejutkan terjadi setelah pintu terbuka lebar.
"Hai, cantik." Seorang pria memakai jaket hitam menyapa Elea dengan sangat manis.
Belum sempat Elea membalas sapaannya, Arga berjalan menghampiri Elea, lalu menarik tangannya untuk menjauh dari pria itu.