I,m Willing, Goodbye...

703 Words
Memaafkan lebih indah dari pada membalaskan dendam. Melupakan kejadian pahit lebih indah dari pada mengingatnya terus-menerus. Apapun itu, lebih baik kita mengikhlaskan segalanya. Jalani apa yang sudah ditakdirkan oleh sang maha pencipta. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari. 'Dimas Alvaro' Nama itu tersemat di batu nisan putih yang terpasang di ujung gumpalan tanah merah. Untuk pertama kalinya gadis itu datang ke makam tersebut setelah beberapa hari kemudiannya. Bukan karena tidak mau menyapa dan tidak merindukannya, tapi, Hana belum sanggup. Dia belum sanggup melihat tempat peristirahatan terakhir pria itu. Dia harus bisa menenangkan diri dan pelan-pelan belajar untuk ikhlas. Kini tangannya tengah menaburi bunga di atas makam Dimas. Apa pria itu sudah tenang di sana? Apa dia tidak sakit lagi? Pasti. Dia pasti tengah dikelilingi oleh para bidadari cantik yang kecantikannya tak akan pernah bisa dimiliki perempuan di bumi ini. Gumpalan tanah tak akan membuatnya gelap, sebuah cahaya akan meneranginya. Tes. Tes. Tes. Teresan air hujan kembali turun dari atas langit. Wanita itu menghembuskan napas berat, dia mendongkak, mengedipkan-ngedipkan mata karena air hujan menerpanya. Dia lantas kembali menurunkan wajahnya. Tangannya terangkat, menyelipkan rambut hitamnya ke belakang daun telinganya. Sesuatu terlintas dalam benaknya..., "Jangan kamu benci hujan, Mel. Karena hujan itu anugerah dari Tuhan. Kalau gak ada hujan, apa kamu bisa hidup?" "Karena hujan, aku selalu dapet kesedihan saat musim itu tiba. Dia ngambil orang tua aku, dan tiap hujan dateng, dia selalu ngasih kabar buruk di hidup aku." "Jadiin itu sebagai takdir hidup kamu. Jangan salahin apa yang datang kebetulan, karena dia gak salah apa-apa." "Emmmm, semenjak kita jauh, kamu jadi laki-laki tulus kaya gini," Hana tersenyum. "Karena aku udah belajar dari kesalahan aku. Setiap manusia itu punya kesalahan dan kekhilafan. Begitupun aku, aku harus perbaikin hidup aku supaya jadi lebih baik." Gadis itu terenyuh sesaat kala melihat silauan cahaya indah dari kedua mata Dimas. Dia bukan Dimas yang dikenalnya dulu, dia sudah berubah. "Jangan lakuin itu lagi," ucapnya memohon. Pria itu mengangguk kecil dan memejamkan matanya. "Jangan tinggalin aku, jangan pergi, karena aku udah kembali," pinta Hana dengan raut memelas. "Iya," jawabnya tanpa ragu. "Bohong," lirih gadis itu, tanpa disadari air matanya kembali mengalir. Gerimis seakan menemani kesedihannya. "Maaf, aku masih tetep benci hujan," Hana menghapus kasar jejak air matanya. Ia tidak ingin terlihat cengeng lagi. Bukan sosoknya jika ia terus mengeluarkan air mata. Perlahan, Hana mulai mencium cincin yang melingkar di jari manisnya. Ia mengecup cincin itu penuh cinta, berjanji tak akan pernah melepaskan benda itu seumur hidupnya. Untuk mengenang pria yang pernah memberikannya warna-warni kehidupan. Warna-warni sebuah kata cinta. Cinta tak akan pernah terus berjalan mulus, akan ada tahap di mana mereka harus berjuang. Berjuang untuk mempertahankan dan mengalahkan keegoannya. Bukan cinta jika tak ada perjuangannya. Sama seperti cerita dalam drama korea yang selalu ia tonton, hanya saja, kenyataannya tidak berakhir bahagia, menggantung di tengah jalan. Sekarang, dia harus bisa melepaskan cintanya yang telah pergi, percaya bahwa Tuhan akan kembali mengirimnya pria yang akan menjadi belahan jiwanya kelak. Tapi, Hana berjanji sepenuh hati, ia tak akan melupakan Dimas sedetikpun. Terbanglah cinta ke atas langit. Kita masih bisa saling membisikan kata lewat do'a. Raga bisa terpisah, tapi hati masih tetap kokoh dalam pijakannya. Begitulah perumpamaannya. Seorang pria berdiri tak jauh dari sana. Pria itu memegang payung berwarna merah hati. Hana beranjak, berjalan mendekati pemuda yang sedari tadi menunggunya. Dia pun sampai di bawah naungan payung merah itu. Hana tersenyum, mengangguk, memberi isyarat dia akan pulang sekarang. Pria yang tak salah lagi adalah Pengacara Kim mengiyakannya. Keduanya berbalik, meninggalkan pemakaman. Pengacara Kim juga mempunyai janjinya, ia akan terus menjaga Hana, menyayangi dan mencintainya sepenuh hati. Meski hati gadis itu tak akan pernah bisa ia miliki, ia masih bisa menganggapnya sebagai seorang adik. Adik perempuan yang tak akan pernah menunjukkan sikap sinis dan dinginnya lagi. Perjalan cinta sudah mengubah kehidupannya. Sosok mereka sudah menghilang di antara rintikan hujan yang menari-nari di udara. Mobil bercorak putih melesat meninggalkan tempat sebelumnya. Hujan semakin deras menggantikan sosok gerimisnya. Memaafkan lebih indah dari pada membalaskan dendam. Melupakan kejadian pahit lebih indah dari pada mengingatnya terus-menerus. Apapun itu, lebih baik kita mengikhlaskan segalanya. Jalani apa yang sudah ditakdirkan oleh sang maha pencipta. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD