I’m Getting Hate Rain...

2092 Words
‘Di musim hujan, aku kembali menunggumu. Kembalilah kepelukanku. Mari kembali menikmati cinta seperti pasangan lain’ Entah mengapa, hari ini langit terlihat begitu kelam. Bahkan di pagi hari pun, matahari enggan menyemburkan cahayanya. Seorang gadis berjalan di lorong rumah sakit dengan langkah gontai. Jantungnya berdetak tak beraturan. Sebuah berita di telfon telah membuatnya seperti tersambar petir seperti ini. Langkahnya dipercepat, tapi naas, tungkainya terasa begitu lemas. Sesekali gadis itu menahan tubuhnya dengan memegang permukaan tembok agar tidak terjatuh. Hana tetap menyeret kakinya menuju ruang UGD dengan tenaga yang masih tersisa walau napas begitu terasa sangat sesak. Tak lama, gadis itu pun tiba di sana. Ia terdiam tatkala kedua bola matanya menangkap sesosok wanita yang tengah menangis di depan ruangan itu. Hana mencoba membuang pikiran-pikiran aneh yang akan membuat jantungnya sendiri akan berhenti berdetak. Dalam keheningan, ia pun mulai mendekati wanita itu. Isakan tangis yang terdengar begitu menyakitkan semakin terdengar. "Kak..., apa yang terjadi sama Dimas? Dia gak papa, kan?" tanya Hana memberanikan diri. Kak Rere tetap menangis, seperti tak bisa menjawab pertanyaan gadis di hadapannya itu. Air matanya sudah memenuhi setiap bagian wajahnya. "Sebenernya apa yang terjadi sama Dimas? Kenapa kakak gak bilang sama aku kalau dia sakit?" suaranya mulai terdengar melambat dan mengecil. Tenggorokannya sangat perih dirasa. Hana sangat terkejut saat ia mendapat kabar bahwa Dimas kritis akibat penyakit yang dideritanya. Dia tidak tahu apa-apa tentang hal itu, yang ia tahu Dimas pria yang baik-baik saja. Tapi mengapa? Mengapa ini terasa begitu mendadak? "Dimas kenapa, kak? Dia sakit apa?" Isak tangis wanita itu semakin tidak bisa dibendung lagi. "Dia udah gak ada, Meel. Dia udah meninggal, dia udah ninggalin kita," lirih kak Rere di sela tangisannya. Raut wajah Hana seketika berubah. Sesuatu telah menghantamnya begitu keras. Desiran darahnya sudah tak bisa ia rasakan lagi. Detak jantungnya terhenti saat itu juga. 'Meninggal?' Bahkan, gadis itu sudah tak bisa menafsirkan kalimat itu. Suasana membeku sesaat. Pintu terbuka dari ruangan tersebut, brankar keluar membawa jenazahnya yang sudah ditutupi kain putih. Para suster mendorongnya menuju kamar mayat. Kala itu juga Hana sudah tak bisa menopang tubuhnya lagi, dia terbanting begitu saja ke atas lantai dengan ekspresi datar. Tak sanggup melihat brankar yang membawa mayat Dimas itu. Seluruh tubuhnya terasa begitu lemas. Sudah tak ada kekuatan lagi yang tersisa, daun telinganya masih bisa menangkap suara roda brangkar yang semakin hilang dari pandangannya. Ini sangat menakutkan!Tidak, ini tidak mungkin terjadi. Pasti ini salah! Kak Rere mulai berlari dengan tangisannya, mengikuti para suster. Padahal, baru kemarin Hana masih bisa mendengar suaranya. Melihat wajah tampannya. Melihat sebuah penyesalan yang memenuhi rautnya. Bahkan, pria itu sempat mencium bibirnya. Ya, mereka sempat berciuman. Sebagai tanda bahwa cinta tak akan pernah mengkhianatinya lagi. Kemarin, pria itu mengatakan bahwa ia akan kembali esok hari. Kembali? Waw! Pria itu malah mengingkari janjinya. Dia mempermainkannya lagi. "Jahat!" pekiknya, untuk pertama kalinya gadis itu berucap lagi. "Jahat!....,"Jahat!.." Seulas senyum Dimas terbayang di benaknya. Pria itu seolah datang untuk menyakitinya saja. "Jahaaaaat," tangisannya mulai pecah! Gadis itu akhirnya menangis. Mengeluarkan semua bebannya yang sedari tadi tertahan karena keterkejutannya. "Jahaaaat Dimaso," ini menyakitkan. Suaranya menyerak, tenggorokannya terasa perih. Kepedihan semakin menyelimutinya tanpa ampun. Sungguh sangat menyesakkan dadanya. "Dimasoooooo," air mata terus berjatuhan. Isakannya menjadi-jadi, seolah tak bisa ditahan olehapapun. "Kamu jahaaaaat," Hana melemah. Suara tangisanya terisak-isak, tangannya menjenggut rambutnya. Dia benar-benar kacau! Pengacara Kim tiba dengan langkah kecilnya, dia langsung melihat Hana yang sudah tak berdaya itu. Dia tahu, kejadiannya pasti akan seperti ini. Wajahnya memarah, ia mendongkak, menatap langit-langit dengan mata yang juga ikut berkaca-kaca menahan air matanya. Hanya terlihat binaran di sana. Hana menyadari kedatangan pria itu. Sesuatu terlintas dalam benaknya, sebelumnya pria itu pernah ingin berkata sesuatu tentang Dimas. Apakah ini maksud dia? Dia cepat-cepat menghentikan tangisannya. Mencoba bangkit walau terasa sulit, dia berjalan mendekati pria itu. "Apa kamu tau soal ini?" Pria itu hanya terdiam, menundukkan kepala dan memejamkan matanya. Hingga air mata itu mulai berjatuhan. "Pengacara Kim!" Suasana malah semakim hening dan mencekam. Pengacara Kim enggan membuka mulutnya. "Kimmy Carles!" teriak gadis itu lagi meminta jawaban. Perlahan, anggukan mulai terlihat di kepalanya. Melahirkan keterkejutan lagi di wajah Hana yang sudah lelah tak berbentuk. Astagaaaa... Kedua tangan gadis itu menutupi mulutnya. Jadi, hanya dia yang tidak tahu apa-apa? Jadi hanya dirinyalah yang tidak tahu tentang kondisi Dimas? Lagi-lagi gadis itu menangis, rasa sakit kembali menyeruak merasuki setiap aliran darahnya. "Kenapa kamu gak bilang sama aku?! KENAPA??!" Pria itu menggeleng kecil, mencoba menenangkan Hana. "Kenapa gak bilang sama aku? Apa cuma aku yang gak tau tentang hal ini? Apa cuma aku yang gak tau apa-apa?!" sungguh dia tak bisa menahan emosiny alagi. "Kenapa kamu gak bilaaang....," suaranya melemah. "Karena Dimas gak mau kamu tau. Dia gak mau kamu sedih. Di sisa hidupnya yang gak akan lama, dia cuma mau bahagiain kamu, Mel. Dia cuma maunebus kesalahannya di masa lalu. Dia gak mau liat kamu nangis. Dia..., dia cuma pengen liat kamu bahagia. Dia gak ngizinin siapapun buat ngasih tau kamu. Dia sampai mohon-mohon dan nangis di depan aku, saat itu, aku gak sanggup nolak permintaannya...." "BUAT APA NUTUP NUTUPIN INI KALAU AKHIRNYA DIA NINGGALIN AKU TAMPA KATA PAMIT?!" Suara itu terdengar menggema di telinga Pengacara Kim. Pria itu melihat kemarahan dan kesedihan yang amat di wajah gadis itu. Dia segera memeluk Hana, bermaksud untuk menenangkannya. Jangan sampai gadis itu kehilangan pertahanannya. Hana memberontak dalam pelukan Pengacara Kim. Dia belum menerima kenyataan pahit ini. Sungguh dia belum menerimanya. Kata ikhlas belum bisa ia ungkapkan dalam ulu hatinya. Dunia telah begitu kejam kepadanya. Lagi dan lagi Tuhan membawa mereka yang ia sayang. Dimas, kini Tuhan telah membawanya, bahkan dia belum sempat menikmati cintanya bersama pria itu. Perjalan cintanya yang rumit harus berakhir tragis seperti ini.Apa dia tak mengizinkan kebahagian menghinggapinya sedetik saja? Kenapa selalu saja ada air mata? Dan detik ini, ini adalah puncak kehancurannya. Semuanya telah remuk. Tak ada sesuatu yang bisa diandalkannya lagi. Kenapa? Kenapa? Kenapa harus pedih seperti ini? Tangisannya menjadi-jadi, dekapan Pengacara Kim seolah menjadi penguatnya untuk tetap tenang. Hujan di luar semakin jelas terdengar, semakin membuat suasana rasa kehilangan orang tersayang terasa begitu jelas dirasakan. Langit mengerti akan sesuatu yang terjadi di buminya. Gadis itu melemah, ia tak bisa menahan rasa sesak dan sakit di dadanya lagi. Napasnya tercekat. Dan....Hana pun pingsan. *** "Kenapa kamu ninggalin kakak secepat ini, Ren? Kamu adik yang jahat. Jujur, kakak gak benci kamu. Kakak gak benci kamu. Cuma kakak sayang sama kamu, sayang banget. Sayang kakak ngegantiin sayang orang tua yang ninggalin kamu. Mereka ninggalin kakak, tapi kenapa kamu juga malah ninggalin kakak? Dan itu untuk selama-lamanya," cairan hangat terus saja mengalir tanpa henti hingga membuat wanita itu terisak-isak. "Maaf dulu kakak selalu marahin kamu, tapi itu sebagai wujud kasih sayang kakak. Jangan marah, Ren." Kak Rere mengingat saat ia memarahi adiknya habis-habisan di kantor polisi itu. Saat itu Dimas begitu menjengkelkan, dia menyakiti hati kekasihnya sendiri dan menyebabkan banyak masalah dan membuatnya malu. Kak Rere mengerti, ini bukan kesalahan Dimas, tapi seperti apa yang dikatakan adiknya dulu... 'Ini bukan salah aku. Ini salah mamah sama papah. Kalau aja dulu mereka gak cerai, apa sekarang aku bakal ada di tempat ini? Apa sekarang aku jadi adik yang buruk di mata kamu kak?! Jangan salahin aku lagi, ini salah mereka terutama mamah! Dia ninggalin kita demi pria lain! Aku gak butuh uang dari dia, yang aku butuhin itu cuma kasih sayang!' Ucapan itu masih terngiang jelas di telinganya. Perlahan, kak Rere mulai membuka kain putih yang menutupi seluruh tubuh kaku adiknya yang telah tiada itu. "Iya, kamu gak salah, Ren. Kamu gak salah," bisiknya lirih. "Yang salah itu takdir. Dan sekarang, takdir juga udah jahat sama kakak, dia renggut kamu dari kakak. Tapi... kakak terima ini Reeen, kakak ikhlas...," sudah cukup wanita itu melihat penderitaan adik laki-lakinya. Dia harus mengikhlaskan kepergiannya, supaya dia dapat bahagia di sana. Bumi terlalu kejam untuknya. Tak lama kemudian tangisannya kembali pecah. Ia berjongkok, sudah tak sanggup berbicara pada Dimas yang sama sekali tak akan mendengarnya. Tapi ia yakin, jiwa Dimas masih di sini dan memeluknya erat. Memintanya agar jangan menangis lagi. Kak Rere bisa merasakan itu. *** Gadis yang terbaring itu perlahan mulai membuka kedua matanya. Mengerjap-ngerjapkan matanya yang sudah terlihat bengkak akibat tangisan histerisnya beberapa jam kebelakang. Kali ini suasananya beda, apa yang terjadi? Gadis itu mulai mengingat-ngingat mengapa dia bisa tak sadarkan diri seperti ini. Dan, sesuatu pun melintas di benaknya. Ya, dia ingat. Bukankah tadi ia baru saja mendapatkan kabar buruk? Gadis itu pun mulai bangkit dari tidurnya. Dimas, Dimas.... Pria itu.... Itu hanya mimpi kan? Saat kakinya ingin turun dari tempat tidur rumah sakit, tiba-tiba suara pintu menghentikannya. Dia tercekat kala melihat seorang wanita memasuki ruang inapnya. Hana pingsan selama tiga jam. Batinnya sangat tertekan karena belum bisa mempercayai takdirnya, ditinggal pergi oleh pria yang sangat dicintainya. Gadis itu memandangi kedatangan kak Rere penuh pertanyaan. Kedua matanya melihat kotak berwarna merah yang disodorkan wanita di depannya. Dia menyuruh agar Hana cepat mengambilnya. Dengan ragu, Hana pun mulai mengambil benda tersebut dari tangan kak Rere. Ini adalah kotak cincin, begitulah Hana mengiranya. Kak Rere mengangguk sejenak, setelah itu dia kembali keluar dari sana, meninggalkan Hana yang masih memandang lekat-lekat benda di tangannya. Perlahan tapi pasti, Hana membuka kotak merah itu. Semburat cahaya bersinar dari sana. Cahaya indah yang berasal dari cincin perak dengan mutiara kecil di tangannya. Gadis itu ingat, ia ingat akan cincin ini. Ini adalah cincin pemberian..., Dimas. Dan sekarang? Pria itu telah tiada. Gadis itu termangu sesaat sambil menatap lingkaran itu. Mengapa ini begitu menyakitkan? Karena dia sempat membuat cincin itu hampir hilang. Tapi Dimas masih bisa menemukannya dan menyimpannya dengan sangat baik, tidak sakitkah hatinya? Tak sengaja, dia melihat lipatan kertas yang tersimpan di penutup kotak cincin itu. Hana mulai mengambilnya dengan tangan gemetar, takut, takut jika dia akan menangis lagi karena ini. Sekarang kertas itu sudah menampakkan barisan kalimatnya. Kedua iris hitam gadis itu dapat membaca jelas tulisan tangan Dimas. 'Cuma kata maaf yang bisa aku ucapin. Aku tau kamu benci aku, aku emang laki-laki jahat. Tapi, aku pengen dapet kata maaf dari kamu, Mel. Aku emang pantes dibenci kamu. Tapi aku sakit, aku sakit saat kamu bilang aku adalah penjahat. Aku sakit saat kamu diemin aku tanpa mau denger penyesalan aku. Aku sakit saat kamu maki-maki aku. Aku sakit saat kamu bilang nyesel karena udah jatuh cinta sama aku. Aku sakit saat saat kamu bilang kamu nyesel udah kasih ketulusan kamu buat aku....,’ Belum sempat membaca sampai akhir, air mata keluar begitu saja menelusuri pipinya. Dia teringat saat dia memarahi Dimas habis-habisan. Mempermainkannya, membalaskan dendamnya. 'Aku sakit saat kamu nampar aku beberapa kali waktu kita ada di bawah air hujan itu. Saat kamu gak mau aku sentuh sama sekali, apalagi peluk kamu.' Hana mencoba menahan tangisannya. 'Dan yang lebih menyakitkan, saat kamu buang cincin ini dua kali. Aku tetep simpen, karena ini milik kamu. Cuma milik kamu. Suatu saat, aku pengen pasang ini lagi di jari manis kamu. Aku..., pengen jadi laki-laki setia. Untuk itu..., Hana Anastasya..., Di musim hujan, aku kembali menunggumu. Kembalilah kepelukanku. Mari kembali menikmati cinta seperti pasangan lain.' -Dimas Alvaro- Pria yang pernah menyakitimu. Pandangan Hana yang semakin kabur berpaling pada cincin yang masih tersimpan di tempatnya. Dia mulai membawa benda itu, menyimpan kertas yang sudah dibacanya dengan mata yang sudah tergenang. Di luar, jelas terdengar suara rintikan air hujan. Dia benci ini. Dia benci hujan. Saat dia datang, selalu saja mendatangkan kabar buruk untuknya. Dengan sepenuh hatinya, dengan seluruh cintanya, dengan segala kesakitannya, dengan penyesalannya, gadis itu memasangkan cincin indah itu ke dalam jari manisnya pelan-pelan sambil memutar ingatannya saat ia melempar dan membuang benda ini tanpa perasaan di depan Dimas. Ini begitu terasa begitu menyedihkan, harusnya Dimaslah yang melakukakan ini. Tapi apa daya, pria itu sudah meninggalkannya tanpa mengatakan selamat tinggal dahulu. Terpaksa, untuk membalas rasa bersalahnya Hana menyematkan cincinnya dengan tangan sendiri. Sekarang, benda itu sudah bertengger indah di jari manisnya. Hana menyimpan kedua tangannya lagi. Melepaskan kesesakan yang menyeruak tiada henti. Memejamkan kedua mata hingga air mata jatuh bertetesan. Suasana hening semakin terasa, hanya suara air hujan yang mendominasi. Tapi, detik demi detik selanjutnya, terdengar suara isakan dari rongga hidung dan kerongkongan gadis itu di antara kesunyian. Terdengar keperihan. Dia menangis sambil mengatup kedua matanya. Terseguk-seguk karena merindukan sosok yang dicintainya. Baru kemarin dia memaafkannya, baru kemarin dia merasakan kebahagiaan dengannya. Mengapa dia begitu jahat? Hanya memberikan kebahagiaan sesaat. Jika begini, untuk apa dia memintanya untuk kembali? 'Aku udah kembali, tapi kenapa kamu malah pergi?' ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD