Tak ada perjuangan yang tak membuahkan hasil. Selagi kita ingin memperbaiki kesalahan, pasti suatu saat akan ada kata maaf yang akan didengar. Saat itu pula kamu akan merasakan sebuah kebahagiaan yang tak akan pernah bisa diungkapkan kata-kata.
Sekarang, Dimas terbaring di atas sofa dengan keadaan tidak sadarkan diri. Hana duduk di sebelahnya sambil mengobati luka pria itu yang jelas-jelas karena ulahnya sendiri. Sesekali, dia memandang wajah tampan, mata yang tengah terpejam, hidung mancung dan bibir indah milik Dimas. Sudah lama dia tidak melihat paras tampannya itu secara dekat seperti ini. Lembaran perban sudah meliliti lengannya, gadis itu bisa bernapas lega. Tindakan bodohnya tadi hampir saja membuat pria itu terluka parah bahkan dia bisa kehilangan nyawanya. Jujur, Hana belum ingin kehilangan Dimas. Dia merindukannya, sungguh merindukannya.
Gadis itu melepaskan pandangannya dari Dimas. Bangkit dan berjalan meninggalkan tempat sebelumnya. Meninggalkan Dimas yang masih enggan membuka kedua matanya.
Benak gadis itu mulai bermain. Tidak seharusnya dia mengacungkan pisau di depan pria itu hanya semata-mata untuk mengusirnya dari sini. Hana tidak berniat untuk melakukannya. Apa ini sebuah tanda untuknya? Tuhan mungkin telah menuntunnya untuk melupakan kejadian di masa lalu. Yang dulu, biarlah berlalu. Hari ini, ya hari ini. Pria itu sudah berubah, jadi untuk apa jika tetap dipermasalahkan? Bahkan saat tadi dia melihat Dimas terluka pun rasanya begitu sangat mengerikan. Dia tidak ingin terjadi sesuatu padanya.
Hana mendongkak, menatap langit-langit yang mulai menitikkan air hujannya. Gadis itu mencoba menimbang-nimbangi di balkon. Untuk mencerahkan pikirannya, memilih jalan yang tepat. Memilih jalan yang tak akan pernah membuatnya menyesal. Jika memang ini takdir kisah cintanya, Hana akan menerima dengan senang hati. Tetap mencintai pria yang pernah menyakitinya, karena dia telah menyampaikan permintaan maaf. Tetap saja, rasa benci tak akan pernah bisa mengalahkan sebuah rasa cinta. Karena sampai kapanpun, cinta tak akan pernah kalah.
Pria yang masih tergolek itu mulai mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Pandangannya samar-samar, sesekali meringis merasakan sakit. Dengan tenaga yang masih tersisa, dia mencoba mengubah posisinya menjadi duduk. Dia dapat merasakan perubahan di lengannya, tak terasa sakit seperti sebelumnya. Tangan kanannya meraba-raba lengan kirinya yang kini sudah dibaluti perban. Merasakan perbedaan yang terasa. Seseorang telah mengobatinya, siapa dia? Hana, kah? Gadis itu, kah?
"Kamu udah bangun?"
Suara itu memecahkan suasana. Dimas tercenung tatkala melihat sosok Hana yang tiba-tiba muncul menampakkan dirinya dan lantas berjalan lebih mendekatinya.
"Hana?"
Gadis itu pun duduk di sebelah Dimas. Suasana canggung kembali terlahir. Untuk pertama kalinya lagi Dimas bisa melihat kelembutan dalam pancaran wajah gadis itu.
"Makasih," gumam Dimas. Ia tahu Hana lah yang sudah mengobati lukanya. Jika bukan dia, lantas siapa lagi?
"Gak usah makasih, ini salah aku. Maaf udah bikin kamu terluka," jawab Hana.
"Aku perempuan bodoh."
"Nggak, aku yang harusnya minta maaf," elak Dimas. Mengundang Hana untuk menoleh.
"Kenapa?"
"Aku. Aku yang harusnya minta maaf. Karena aku banyak salah sama kamu."
Hana mulai menatap Dimas nanar. Ucapannya memang benar, tapi, rasanya dialah yang sudah menyakiti pria itu berulang kali. Ternyata dengan membalaskan dendam tak membuahkan hasil apa-apa.
"Aku banyak ngelakuin kesalahan dengan nyakitin perasaan kamu. Maaf. Dulu aku jahat sama kamu, Mel. Maafin aku, maaf."
Gadis itu bergeming. Seolah kehilangan kata-kata. Kabur begitu saja dari dalam pikirannya.
Dimas, pria itu tertunduk. Kedua matanya mulai memerah. Meratapi betapa jahatnya dia dulu, dia sangat jahat pada Hana. Mempermainkan cinta gadis itu dan menkhianatinya tanpa perasaan. Memang, apa hukuman yang pantas diberikan untuknya?
"Aku udah maafin kamu," ucap Hana yang membuat Dimas berubah ekspresi. Perlahan, dia mengangkat kepalanya kembali, menatap gadis itu tidak percaya. Muncul desiran-desirant anda kebahagiaan yang akan langsung menyeruak menuju relung hatinya.
"Aku udah maafin kamu. Gak usah minta maaf lagi, aku maafin kamu, Dimas," gadis itu akhirnya mengungkapkan kalimat yang sangat ingin Dimas dengar selama ini.
Dimas menatap Hana masih dengan raut tidak percayanya. Daun telinga itu mendapat sentilan yang begitu indah.
"Aku maafin kamu. Aku rasa, gak ada lagi yang perlu disesalin. Semuanya udah berlalu, aku maafin kamu. Dan aku...," ia menyeka kalimatnya tatkala memejamkan kedua mata lalu turunlah cairan bening dari pelupuk matanya yang sedari tadi menggenanginya.
Dimas mulai menangkup kedua pipi halus gadis itu. Ini sungguh mengejutkan. Tapi pria itu merasa begitu terharu dengan penuturan Hana. Maaf? Priaitu tersenyum, kedua matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku gak mau kehilangan kamu," lanjut Hana menjatuhkan krisral beningnya lagi. Suaranya terdengar sebagai sebuah permohonan seperti anak kecil. Tenggorokannya serasa tercekat.
Dimas hanya tersenyum haru mendengarnya. Dirasakan seluruh badannya terasa begitu sakit. Seperti sulit untuk berjanji untuk tidak. meninggalkannya pergi. Pria itu terlalu bahagia sampai mampu menyembunyikan kesakitannya.
Dimas mulai memiringkan wajahnya, hembusan napas saling beradu beriramakan kembalinya sebuah kata cinta. Dimas mendaratkan bibir pucatnya di bibir gadis itu dengan begitu lembut di antara keheningan dan rintikan hujan yang menari-nari di atas tanah. Hana yang merasakan sentuhan hangat itu kembali memejamkan kedua matanya. Cairan hangat berangsur-angsur turun membasahi wajahnya. Seiringan dengan suara setitik air demi titik air yang jatuh di luar sana, gadis itu membalas kecupan Dimas dengan segala cintanya masih tersisa begitu banyak. Tak ada kebencian lagi yang tersirat. Keduanya sama-sama melepaskan kerinduan mereka lewat tautan bibir ini. Menerpa ego salah satu dari mereka yang menjadi penghalang cinta untuk bersatu. Dalam kecupan ini, Hana berjanji, ia akan melupakan semua yang terjadi. Mencoba membuka lembaran baru. Tak usah melirik perngkianatan yang dulu dirasakannya. Karena cintanya kini telah menyesalinya.
Tanpa diduga, Pengacara Kim yang awalnya ingin masuk ke sana, secara tak terduga disuguhkan oleh pemandangan menyakitkan ini yang langsung meyendat langkahnya. Dia segera berbalik, bersembunyi di balik permukaan tembok. Ada rasa senang, juga pedih. Cemburu, tapi ia sama sekali tak ada hak untuk mencemburui mereka. Dia bukan siapa-siapa. Hanya seorang pria yang menyimpan cintanya diam-diam.
Beberapa detik kemudian, Dimas melepaskan kecupannya, ia juga menangis. Terisak karena merasa begitu bahagia dan merasa bersalah saat mengingat masa lalu. Kedua tangannya masih berada di kedua pipi gadis itu, kedua wajah mereka masih begitu dekat, diselimuti oleh air mata dan kesedihan.
"Jangan nangis, aku cinta kamu, Dimas," ujar Hana menguatkan saat mendapati pria itu menangis. Sungguh, ia tak ingin melihat seorang pria menangis lemah seperti itu. Dimas segera merengkuh Hana ke dalam pelukannya, "Aku cinta kamu Hana, cinta kamu," ucapnya dalam tangisannya yang belum bisa terhenti.
"Aku juga cinta kamu Dimas, cinta kamu," jawab Hana dengan kalimat yang sama. Ternyata, memaafkan dan melupakan jauh lebih indah. Jangan pernah melirik ke belakang lagi.
"Aku cinta kamu," ulang Dimas.
Kedua anak manusia itu berpelukan erat ditemani dengan tangisannya masing-masing. Tak ada lagi yang lebih indah lagi selain ini.
***
Malan tiba. Matahari terbenam beberapa jam yang lalu hingga membuat langit gelap, di temani bintang yang berkelap-kelip. Lampu menjadi penerang bumi selain benda langit di atas sana.
Hana memandang kepergian Dimas di lawang pintu. Membiarkan pria itu pulang, dia berjanji akan kembali esok hari. Gadis itu tersenyum teduh seraya melambaikan tangan tatkala pria di sana juga melambaikan tangannya. Mereka saling melemparkan senyum penuh cintanya. Terutama Hana, tersirat kebahagiaan di paras cantiknya ketika kedua matanya terus saja menjangkau sosok Dimas yang semakin jauh. Pria itu terhenti, kembali mempersembahkan senyum manisnya. Hana mengangguk menerima senyuman pria itu, lalu kembali melukiskan senyum di bibirnya. Baru kali ini, gadis itu kembali merasakan sebuah kebahagiaan.
Dimas pun kembali melanjutkan langkahnya, keluar dari halalam rumah itu. Hana sudah tak sabar menunggu hari esok. Hari yang akan menyambut kebahagiaan barunya. Tak akan ada lagi air mata.
Setelah dirasa sudah tak ada yang memperhatikannya lagi, pria itu melemas. Menjatuhkan kedua bahunya. Dirasakan sakit yang teramat sakit di bagian perutnya, keringat dingin kembali bercucuran membasahi pelipisnya. Napasnya terengah-engah.
Dimas sudah tak bisa lagi menahan bebannya, dia memuntahkan isi dalam perutnya yang berubah menjadi cairan kental. Akibat ulahnya beberapa hari yang lalu, terlalu banyak meminum alkohol karena kehancuran hatinya oleh cinta, pria itu menjadi malah semakin drop. Dimas kembali berdiri, langkahnya gontai, pening di kepalanya semakin menjadi-jadi. Mulutnya kembali bermandikan darah.
'Aku sudah mendapatkan maaf darinya. Melihat kembali senyum teduhnya. Melihatnya bahagia walau sesaat. Mungkin itu akan menjadi pertemuan kita yang terakhir, Mel. Maafkan aku untuk yang kedua kalinya. Tugas aku udah selesai. Terima kasih Tuhan, sudah memberiku kesempatan. Aku akan pergi dengan tenang, kata maaf darinya seolah menjadi berlian hati yang akan aku bawa mati. Gadis yang pernah aku sakiti telah memaafkanku, lalu apa lagi yang kuminta? Aku tak ingin menjadi beban lagi bagi mereka, sudah cukup sampai di sini. Aku lelah... Dan aku mempunyai satu permohonan lagi pada Tuhan, bisikan seorang pria yang akan menggantikanku untuk segera menjemput gadis yang aku cintai lepas dari kesedihannya kelak.... Maaf...., aku memang lelaki kejam.....’
'BRUK!'
***