Bab 18

2537 Words
Hana sedari tadi hanya melamun duduk di repi ranjang. Rasa bimbang semakin menyeruak ke dalam pikirannya. Melihat Dimas yang seperti itu, apa dia telah begitu kejam padanya? Cahaya matahari sudah tampak, sama sekali tidak memabangunkan gadis itu dari lamunanya. Pengacara Kim tiba di depan kamarnya, melihat pintu itu terbuka dan sosok Hana yang termenung pun dapat langsung dilihatnya. Dia mulai melangkahkan kakinya dengan ragu, takut jika gadisitu akan menegurnya karena masuk tanpa permisi. Tapa apa yang bisa dilakukan, ketika seseorang tengah melamun, suara apa pun tak akan bisa masuk ke dalam telinganya. Dia tahu bahwa Hana tengah terjebak dalam kisah cintanya sendiri. Apa Dimas masih belum bisa meyakinkan Hana? Sekarang pria itu sudah berdiridi depan Hana. "Kamu cinta dia?" tanya Pengacara Kim dengan pandangan yang entah kemana. "Mungkin," gadis itu menyahutnya masih dalam keadaan ekspresi datar. Seolah tengah berbicara dengan lamunannya sendiri. Bahkan, dia tidak tahu bahwa seseorang berdiri di depannya. "Apa kamu bisa maafin dia?" "Mungkin," jawabnya dengan ucapan yang sama. "Kalau iya. Ayo, kasih kesempatan buat Dimas," lanjut Pengacara Kim. Ucapannya mulai menyadari Hana akan lamunannya, wanita itu menggeleng cepat. Mulai mendongkak, dia baru tahu ternyata sedari tadi lelaki itulah yang menanyainya. Pria itu pun duduk di sebelah Hana. "Lupain itu. Aku benci sama laki-laki itu. Jangan sebut-sebut nama dia lagi," ucap Hana walau terkesan tengah berbohong. "Oh, ya?" tanggap Pengacara Kim. Hana tertawa meremehkan."Kenapa? Bukannya kamu suka sama aku? Harusnya kamu seneng karena aku udah benci sama laki-laki yang pernah aku cintain. Itu artinya, kamu ada kesempatan." Pengacara Kim tertawa kecut. Apa dia seburuk itu? Mengambil kesempatan dalam situasi seperti ini. Dia bukan pria yang egois. "Buat apa aku coba deketin kamu kalau masih ada laki-laki lain di hati kamu. Hana, kamu gak bisa bohongin aku, aku tau, kamu masih cinta sama Dimas. Kalau gitu, buang rasa benci kamu itu dan kembali sama dia. Ini adalah saran dari aku, sebelum kamu bener-bener nyesel di kemudian hari." "Semudah itu, ya?" tanya Hana tersenyum tak habis pikir. "Hana..." "Terus, kalau aku mau buka hati aku untuk kamu? Gimana? Kamu mau nolak aku? Gitu?" Pertanyaan yang benar-benar konyol. "Hana dengerin aku!" "Nggak! Aku gak butuh nasihat kamu! Berhenti bujuk aku! Pengacara Kim, jadi orang itu jangan so naif!" "Naif? Naif apa? Ini demi kebahagiaan kamu sendiri." "Bahagia? Apa ada kesempatan buat aku bahagia setelah aku pernah disakitin sama laki-laki?! Bahagia? Hah? Kalimat yang kejam." "Stop bohongin diri kamu sendiri!" tukas Pengacara Kim dengan nada lumayan tinggi. "Sekarang aku harus kasih tau kamu," lanjutnya lagi. Tersirat pertanyaan yang tiba-tiba tergambar di mata gadis itu. "Mau ngasih tau apa? Mau ngasih tau kalau Dimas itu udah berubah? Iyaa aku tau dia udah berubah, tapi itu gak akan ngubah apapun...," "Ini penting!" Sekarang pria itu berniat untuk jujur. Memberi tahu gadis itu tentang rahasia Dimas. Sepertinya Hana akan tetap menutup hatinya, tapi jika dia mendengar kabar ini, gadis itu tak akan bisa bersembunyi lagi. Dia tak akan bisa terus berpura-pura tidak mencintai Dimas. "Dimas..., Dia....," Hana bergeming. "Dimas...,” "Aku pengen jadi laki-laki yang setia," ucap seorang pria di ambang pintu. Mengundang Hana dan Pengacara Kim menoleh pada asal suara. Dimas. Pria itu sudah berdiri di sana. Entah dari mana datangnya, yang jelas, Dimas sudah merasakan sesuatu ada yang tidak beres. Benar saja, Pengacara Kim, pria itu hampir membocorkan semuanya. Dia belum ingin Hana mengetahui tentang kondisinya. Hana beranjak dari duduknya, disusul dengan Pengacara Kim. Gadis itu memicing ke arah Dimas, bisa-bisanya dia datang tanpa diundang. Pengacara Kim sangat menyesali ini. Mengapa Dimas malah tetap ingin menutup-nutupinya? Pria itu mulai melangkah mendekati Dimas, tapi sesuatu menyekanya. "Pengacara Kim. Aku pernah bilang,kan? Orang lain gak boleh masuk seenaknya ke sini," ujar Hana dengan nada menyindir. Dimas berusaha tidak mendengar ucapan Hana, dia bisa bernapas lega karena gadis itu belum tahu apa-apa. Dia datang di waktu yang tepat. "Laki-laki setia?" gadis itu melangkah, menyamai posisinya dengan Pengacara Kim. Melipatkan kedua tangannya di bawah d**a. "Apa di jaman sekarang masih ada laki-laki setia?" Dimas bergeming tanpa suara. Perlahan, Hana mulai melakukan hal tak terduganya. Aura keheningan mulai menyeruak. Gadis itu melingkarkan tangannya di tubuh Pengacara Kim, memeluknya lembut. Menyimpan kepalanya di d**a bidang pria tersebut. Kedua mata pria itu membulat sempurna. Terutama Dimas, dia termangu dengan pemandangan tak wajar di hadapannya ini. "Aku, lebih percaya sama laki-laki yang selalu ada buat aku. Meski aku gak pernah peka sama perasaannya, aku tau, dia laki-laki yang baik. Dia gak akan pernah mungkin khianatin cintanya sendiri. Gak akan selingkuh, gak akan nyakitin mereka. Dan aku, ngerasa beruntung karena dicintain sama dia," suara Hana terdengar begitu datar dan cukup membuat Dimas tersindir dan terluka. Mata Pengacara Kim memerah sesaat. Jantungnya berdetak lebih cepat, karena cintanya pada gadis itu masih belum pernah hilang. Pria itu menyeka air matanya, mengerti akan perlakuan Hana. Dia hanya memperlakukan-nya sebagai sebuah pelampiasannya saja. Tidak lebih. Ucapan yang dikeluarkannya hanya ilusi semata, semata-mata hanya untuk menyakiti hati Dimas. Tapi dia tidak sadar, bahwa dia juga sudah menyakiti hatinya pula. Dimas mengangguk-anggukan kepalanya. Pasrah dengan ini. Sebenci itukah Hana padanya? Diapun mulai meninggalkan keduanya, membawa luka yang sudah tak bisa lagi diungkapkan dengan apa-apa. Hatinya terasa tercabik-cabik. Hana, gadis itu melepaskan pelukannya. Menyadari bahwa Dimas sudah pergi. Menyudahi aksi sandiwaranya. Satu tetes air mata jatuh membasahi pipinya. Hana melangkah ke samping, berjalan pelan menuju tepi ranjang. Sementara Pengacara Kim, dia masih mematung di tempatnya. Untuk pertama kalinya gadis itu memeluknya. Dengan alasan yang sama sekali tidak logis. Sesuatu yang sangat tak lumrah. "Maafin aku," tangannya menghapus jejak air matanya. Pengacara Kim manarik napas berat. Suasana canggung kini tampak mendominasi udara. Sebenarnya pria itu merasa tidak terima dengan tindakan Hana. Tapi jujur dia tidak bisa memarahi gadis itu. Bagaimanapun dia juga ikut terluka. Pengacara Kim mulai pergi meninggalkan kamar, tak ingin memperpanjang masalah ini. Dia pergi bermaksud untuk menyusul Dimas. Hana sadar, bahwa ia sudah menyakiti keduanya. Tapi ini satu-satunya cara untuk mengusir Dimas. Ia sudah tak ingin berurusan lagi dengan dia. Masih trauma dengan peristiwa di masa lalu. Untuk saat ini ia tak ingin b******a dengan siapapun. Ia tak ingin nantinya terluka lagi. Kejadian menyakitkan saat ia melihat Dimas b******u mesra dengan wanita lain, masih membekas dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Ia lepaskan saja cinta ini, mungkin ia bisa memaafkan, tapi tak bisa melupakan. Pengacara Kim berdiri di anak tangga, atensinya menangkap sosok Dimas yang terduduk menunduk di atas sofa. Syukurlah dia tidak pergi. Ada sesuatu yang ingin ia katakan padanya. Pria itu melanjutkan langlahnya lagi. Begitu sampai di bawah dia langsung duduk di depan Dimas. "Udah aku bilang, jangan cerita soal itu ke Hana. Kalau aku telat dateng, apa yang bakal terjadi?" "Itu satu-satunya cara," jawab Pengacara Kim seadanya. "Aku masih mau perjuangin dia. Karena aku tau, dia masih nyimpen setitik cintanya. Dan aku gak mau bikin dia sedih saat tau penyakit aku. Penyakit yang gak akan ngasih umur panjang buat penderitanya...," "Kita bisa ngelakuin donor hati. Kamu masih punya kesempatan." Dimas tersenyum kecut, "Mana ada yang mau nyumbangin hatinya buat laki-laki jahat kaya gini?" "Namanya juga usaha." Sebenarnya kondisi Dimas mulai drop. Kulitnya mulai menguning, tapi dia berusaha tetap menyembunyikan keadaannya. Dia ingin hari ini juga mendapatkan kata maaf dari Hana. Menahan sakitnya tak masalah, asalkan ia ingin memperbaiki semua. "Kamu baik-baik aja?" tanya Pengacara Kim tatkala melihat wajah Dimas yang mulai memucat. Tiba-tiba terdengar suara panggilan dari ponsel milik Pengacara Kim, dia segera mengambil benda itu dari saku bajunya. Mengangkat panggilan telfonnya. Dimas mendongkakkan kepalanya, melihat Hana yang turun dari tangga. Sama sekali dia tak melirik keberadaannya. Gadis itu berjalan menuju dapur dengan langkah datar. "Oh, ya ya, saya segera ke sana," Pengacara Kim menutup sambungan telfonnya. Dia pun menoleh ke arah Dimas, "Aku harus pergi ke pengadilan sekarang. Ada kasus yang harus aku selesain, aku titip Hana," pria itu menepuk-nepuk bahu Dimas, yakin bahwa pria itu bisa mendapatkan kata maaf dari Hana. Dimas menganggukan kepalanya kecil. Dia memandang kepergian Pengacara Kim. Sungguh beruntung dia, dia pria pintar dan tampan. Kepintarannya bisa membuatnya menjadi seorang Pengacara. Membela mereka yang tidak bersalah dan mendapatkan uang banyak. Sementara dia? Dia hanya bisa menghabiskan uang dengan foya-foya. Sama seperti apa yang dikatakan kakaknya, dia laki-laki yang tidak berguna. Dimas pun beranjak dari duduknya. Berjalan ke arah dapur. Bermaksud untuk menemui Hana di sana. Siapa tahu, dia bisa berbicara banyak dengannya. Hana duduk di meja makan sambil menuangkan air dalam teko ke dalam gelasnya. Dia mendiami kedatangan Dimas. Gadis itu meneguk air putihnya habis-habis. Dimas memandangi Hana dari kejauhan, menatap setiap lekak-lekuk wajah cantiknya. Perlahan, dia mulai mendekatinya. "Apa kamu mau mulai buka hati kamu buat Pengacara Kim?" "Bukan urusan kamu," Hana menjawab dengan nada sinis. "Iya aku tau, dia emang laki-laki yang jauh lebih baik dari aku. Dia laki-laki baik, dia gak akan mungkin nyakitin perempuan yang nanti bakal jadi pacarnya. Yaah, dia emang sempurna," puji Dimas, memang kenyataannya seperti itu. Hana tersenyum kecut. "Iya kamu beruntung karena bisa dicintain sama dia. Kamu perempuan yang paling beruntung. Tapi kamu perempuan paling bodoh saat kamu jatuh cinta sama laki-laki kaya aku...," Merasa tak tahan dengan ucapan Dimas, gadis itu lantas berdiri dan mengambil sebuah pisau yang tak jauh dari jangkauannya. "Berhenti bicara!" Ancamnya sambil mengacungkan pisau tersebut. Tapi sama sekali tak membuat Dimas takut. "Sekarang kamu pergi dari sini. Aku udah gak mau liat kamu! Aku muak liat wajah kamu! Pergi!" Pria itu tidak menghiraukan ancaman Hana, dia malah terus mendekati Hana dan mencoba berbicara dengannya. Ia tidak takut dengan benda itu, yang ia takutkan adalah, kebencian gadis itu yang tak akan pernah mau memaafkannya. "Apa sebesar itu kebencian kamu sama aku? Apa gak ada kata maaf untuk aku? Gak ada kesempatan buat aku? Aku, cinta kamu, Hana. Dulu aku khilaf, tapi sekarang, aku serius pengen jadi laki-laki yang setia. Aku pengen mulai semuanya dari awal. Aku pengen kamu kembali sama aku. Aku udah berubah, walau aku gak sebaik Pengacara Kim, tapi aku punya cinta yang tulus buat kamu." "Iya aku benci sama kamu! Benci! Kamu tau itu?!" balas Hana masih tetap mengacungkan pisau tajamnya dengan nekat. Sungguh, untuk pertama kalinya dia memegang benda tajam di depan seseorang. Hana hanya ingin melihat Dimas pergi dari sini, itu saja. Wajah Dimas mulai memberikan tanda permohonannya. "Jangan sandiwara lagi, Mel. aku tau kamu masih cinta sama aku. Kamu masih khawatirin aku, sama kaya dulu..." "Nggak, gak usah ge'er kamu!" "Kemarin aku liat kamu di bar itu. Apa kamu ngikutin aku? Gak mungkin cuma kebetulan, kerena kamu gak akan pernah mau datengin tempat itu. Apa kamu masih mau ngelak?" Ekspresi Hana perlahan berubah. Ucapan pria itu memang benar, tapi mengapa dia tahu itu? Sungguh dia sangat ceroboh, membiarkan Dimas melihatnya di sana. "Kenapa kamu kaget?" tanya Dimas. "Aku cuma kebetulan ada di sana. Dan aku gak tau, kalau kemarin kamu juga ada di tempat itu. Jadi kamu gak usah....," "Jangan bohong," lirih Dimas yang sudah tak tahan dengan kebohongan Hana yang sama sekali tak pantas untuk ditutup-tutupi lagi. "Bilang sama aku, bilang kalau kamu masih cinta dan sayang. Aku gak bakal minta apa-apa lagi. Cukup denger kamu maafin dan bilang cinta, aku bakal berhenti ganggu kamu. Aku gak bakal maksa kamu kembali." Hana masih mengatup mulutnya. Penuturan Dimas seolah menjadi tekanan untuknya. "Aku bakal pergi selamanya dari hidup kamu. Sesuai keinginan kamu, aku cuma pengen kamu jujur sama perasaan kamu." Segampang itukah dia mengatakan itu? Menyuruhnya untuk mengucapkan cinta lalu setelah itu dia akan pergi meninggalkannya? Sama saja, dia akan jatuh ke jurang yang sama. "Hana. Aku bakal jauhin kamu kalau itu buat kamu bahagia. Sekarang bilang, bilang kalau kamu masih cinta sama aku," pintanya dengan sangat. Dia yakin dengan ucapannya. "Bilang kalau..." Tiba-tiba saja Hana mengarahkan pisau yang ia pegang di area denyut nadi di pergelangan tangannya. Membuat pria di depannya tergelak kaget. "Aku benci kamu. Jangan harap ada kata cinta. Kalau kamu masih tetep maksa aku, aku gak akan segan-segan buat potong urat nadi aku dan kamu bakal liat aku mati. Aku lebih baik mati dari pada harus jatuh cinta lagi sama kamu." "Jangan, jangan lakuin hal bodoh itu. Simpen pisau itu," pria itu menggeleng-gelengkan kepala tak mau. Ia tak ingin membiarkan Hana memotong urat nadinya sendiri. Dia memang gadis keras kepala, bisa melakukan apapun supaya tidak kalah. "Aku benci sama perasaan aku sendiri!" matanya mulai bebinar-binar. Dia benci pada perasaannya sendiri. Benci karena merasakan benci dan cinta yang dicampur menjadi satu. Ini sangat menyitkan. Menekan batinnya. Lebih baik mati saja dari pada harus tetap menjalankan kisah cintanya yang benar-benar rumit. Bahkan, dia pun tak ingin merasakan cinta lagi. Dia sudah trauma dengan laki-laki. Tak ingin terkhianati lagi. Sudah cukup Dimas yang melakukannya, tidak akan ada lagi. Hana semakin mendekati pisau bagian tajamnya di pergelangan tangannya. Sontak Dimas langsung merebut pisau tersebut, tapi nihil, pegangan Hana cukup kuat. "Jangan..., lepas pisau ini Mel, jangan lakuin hal konyol ini...," kedua tangannya susah payah untuk mengambil alih pisau tersebut. "Nggak! Biarin aku mati! Aku capek! Aku capek harus nahan diri supaya berhenti cinta kamu yang udah nyakitin aku. Biarin aku matiii!!!" jerit Hana yang tak ingin melepaskan benda yang mulai terombang-ambing di tangannya. Ia berontak dan mulai menangis. Dimas berusaha merebutnya hingga mereka saling berebut benda tajam itu. Ia tak akan membiarkan itu terjadi. "Jangan. Jangan, kamu boleh berhenti. Aku bakal pergi dan biarin kamu bahagia sama yang lain. Tapi lepasin ini! Aku gak mau kamu terluka!" kekuh Dimas. "Lepasiiiin!!" teriak gadis itu bersikukuh. "Hana!" sentak Dimas dengan intonasi tinggi. "Nggak!! Aku mau mati! Aku mau nyusul orang tua aku!" "Jangan...." "Lepaas!!!" Dan...'Sreeetttt' Pisau itu mengenai tubuh salah satu dari mereka. Dimas tertegun, kedua bola mata Hana terbelalak, ia merasakan sesuatu yang tidak beres. Apa hal buruk terjadi karena tindakan konyolnya? Sekarang dia dapat melihat jelas wajah pucat Dimas, ada apa dengan pria itu? Apa dia sakit? Jarak keduanya begitu dekat, dan hanya kedua napas mereka yang saling bersahutan. Suasana ricuh berganti dengan keheningan. Astagaaa... Dimas mematung seperti menahan sesuatu.' Tes' Setetes darah jatuh mengotori lantai. Cairan itu jatuh bertetesan tanpa henti. Seseorang terluka karena pisau tersebut. "Ahh..hhhh...,"dirasanya perih. Gadis itu menurunkan pandangan matanya ke bawah, melihat luka sayatan pisau di bagian lengan Dimas. Tidak! Ini tidak mungkin! Pria itu sudah pucat pasi, detik selanjutnya, tubuhnya ambruk ke bawaah. Hana tergelak. Pria itu terluka karenanya, terluka karena tindakan bodohnya, karena rasa keras kepalanya. Hana menegang, kalang kabut, dan panik. Dia langsung menyambar serbet yang berada tak jauh darinya. Segera menyeka aliran darah di lengan Dimas dengan menalikan kain tersebut pada bagian yang terluka. Dimas menatap Hana nanar, dia dapat melihat kecemasan yang begitu besar dari gadis itu. Dimas tersenyum haru. "Maafin aku, maafin aku, Ren. Maafin aku," isaknya sambil susah payah menghentikan pendarahan pria yang masih sanggup menahan lukanya. "Maafin aku..." Ini cukup. Cukup membuat Dimas bahagia. Bahkan rasa perih di lukanya itu seolah tak terasa lagi. Semuanya berganti kala melihat gadis yang begitu dicintainya ternyata masih mengkhawatirkannya seperti ini. "Mel...," lirihnya. Kepalanya pening dan...'Bruk!' Dimas membanting tubuhnya pada Hana. Gadis itu terkaget, kedua iris hitamnya membola. Dimas? Dia pingsan? Sekarang tangannya juga ikut dilumuri darah Dimas. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD