I’m Sorry..

3560 Words
Apa yang lebih menyakitkan saat orang yang kita cintai sudah terlanjur membenci kita karena kesalahan kita sendiri? Pria itu cepat-cepat menghindar sebelum mobil itu menghantam tubuhnya. Untung di waktu yang tepat! Jalan juga belum terlalu banyak di lalui kendaraan, jadi Dimas bisa selamat meski sekarang napasnya mulai terengah-engah sembari tetap menggenggam erat cincin yang berhasil diselamatkannya. Hampir saja nyawanya melayang. Dia bisa bernapas lega, tapi tetap saja, perasaannya belum pulih sama sekali. Pria itu masih meratapi betapa menyakitkan kenyataan yang sangat pahit untuk ditelan. Kenyataan bahwa semua ini memang sudah selesai. Seperti sebuah drama yang berakhir dengan sad ending, tanpa adanya kebahagiaan dan menggantung di tengah jalan. Matanya memandang seluruh sudut jalan, yang dilihat hanya mobil-mobil yang berlalu lalang dan para pejalan kaki yang mulai terlihat. Dengan cepat, pria itu mulai meninggalkan tempat sebelumnya. Dia tak ingin semua orang melihat kehancuran dan keremukan hatinya. Dia laki-laki, bagaimana mungkin dia disakiti oleh seorang perempuan? Langkahnya terlihat begitu kalut, seperti sudah kehilangan pegangan hidup. Apa yang lebih menyakitkan saat orang yang kita cintai sudah terlanjur membenci kita karena kesalahan kita sendiri? *** Hana menutup pintu kamar rapat-rapat. Tubuhnya terbanting di daun pintu tanpa tenaga yang tersisa. Ternyata ini tidak seperti apa yang dibayangkannya, ini jauh lebih menyakitkan. Semakin dia membenci Dimas, semakin pula dia tidak bisa menghilangkan rasa cintanya. Memaki-maki pria itu dengan ucapan-ucapan yang kasar, mengutukinya tanpa henti, harusnya ia merasa puas. Tapi tidak, dialah yang harus menanggung rasa sakit itu. Ini sangat sulit untuk dimengerti. Beginikah rasanya rasa cinta dan benci dicampur menjadi satu? Memang ini kan yang dia mau? Melihatnya terluka, sama seperti dirinya yang pernah terluka karena pria itu dulu. Lagi-lagi cairan hangat meluncur bebas membasai pipi halusnya. Untuk kesekian kalinya, gadis itu merasa rapuh karena cinta. Hana menyimpan wajahnya di lutut yang ia lipat, dia menangis di sana, menangis dengan suara isakan yang terdengar begitu sulit dan menyakiti hati. Sesulit inikah b******a? Pengacara Kim yang berada di balik pintu kamar ikut merasakan perih kala mendengar tangisan gadis itu. Tadi, dia sempat melihat pertengkaran sengit itu. Dia berniat untuk mengambil dokumen yang tertinggal, tapi ia malah disuguhkan oleh pemandangan yang tak terduga. Ternyata ini yang membuat Hana berubah saat ingatannya mulai kembali. Isakan tangis Hana semakin terdengar jelas oleh daun telinganya, melahirkan kepalan kedua tangan pada jari-jemari tangannya. Rasa geram mulai menyelimuti desiran aliran darahnya. *** Dimas tiba di halaman rumahnya, ia disambut oleh Pengacara Kim yang sudah tiba di terasnya lebih dulu. Pria itu tampak tertunduk, sementara Pengacara Kim bangkit dari duduknya dan mulai berjalan mendekati Dimas dengan picingan mata tajam. Tampak kedua tangannya mengepal keras. Sampai tiba di depan Dimas, dia langsung melayangkan tonjokan kencang di pipi Dimas hingga membuat pria itu membuang muka. "Cowok b******k!" Umpatan itu menghentikan niat Dimas untuk membalas pukulannya. Dia masih membuang mukanya, seperti mengerti akan lontaran kasar Pengacara Kim. "Apa begitu cara kamu perlakuin perempuan?!" Dimas kembali mengangkat kepalanya, lagi-lagi tonjokan itu kembali dirasakan di pipinya hingga pria itu membuang muka untuk kedua kalinya dengan kasar lagi. "Beraninya kamu nyakitin Hana!" Pengacara Kim menarik kerah baju Dimas dengan segala luapan emosinya. Menghunuskan tatapan tajam ke arah wajah Dimas yang kini mulai memar di bagian ujung bibirnya. Pukulan ketigaketika berhasil Pengacara Kim layangkan lagi. Dimas hanya bisa pasrah dengan ini. Dia tidak bisa melakukan perlawanan apa-apa karena ini memang murni kesalahannya. Anggap saja ini sebagai hukuman untuknya. "Udah! Stop! Saya mohon!" teriak kak Rere yang tak jauh dari kedua pria itu. Dia sungguh tidak ingin melihat adiknya tersakiti lagi. Sudah cukup penyakit mematikan itu menyiksanya, tolong, jangan ada lagi. Hampir saja wanita itu mengeluarkan air matanya, tak kuat melihat adiknya yang kini sudah melemah. Pukulan ke empat, kelima, dan seterusnya terdengar hingga Dimas pun tersungkur ke atas tanah dengan luka memar yang semakin parah, cairan merah keluar dari ujung bibirnya dan membiru. Pengacara Kim memang tahu tentang kondisi kesehatan Dimas, tapi pukulan ini pantas didapatkan untuknya, untuk pria yang pernah mengkhianati perempuan yang sangat dicintanya. Pengacara Kim pun tidak tega dengan tindakannya sendiri dan rasanya pun ingin menangis. Kesalahan di masa lalu Dimas sudah merubah semuanya, bukan hanya Hana yang tersakiti, tapi Dimas juga. "Aku emang jahat, haha," Dimas tertawa getir. "Ayo terus pukul kalau ini bakal buat kalian seneng," biarkan semua orang membencinya. Lagi pula, hidupnya tak akan lama lagi. Kak Rere mulai terisak melihat penderitaan sang adik. Adik laki-lakinya itu seperti sudah kehilangan semangat hidupnya. Wajah Pengacara Kim sudah merah padam. Rasanya sudah puas, jika dia terus meluapkan amarahnya, yang ada Dimas akan mati di tangannya. Itu tidak mungkin terjadi. Bagaimana mungkin dia melayangkan nyawa seorang pria yang sangat dicintai oleh gadis yang selama ini disayanginya? "Jangan sakitin Hana lagi," lirih pria itu penuh permohonan. Suasana tegang berganti dengan keheningan dan kesedihan. "Jangan sakitin perempuan itu lagi. Dia tulus cinta sama kamu, jangan lakuin lagi.” Rasa pening mulai melanda kepala Dimas. Hingga membuat pengelihatannya terasa samar-samar. Tapi kedua telinganya berusaha tetap mendengar ucapan pria jangkung di depannya. "Sekarang, tugas kamu adalah, perjuangin dia. Perjuangin cinta kalian. Aku tau, Hana belum sepenuhnya benci kamu. Aku tau dan kenal dia lebih banyak. Masih ada kesempatan untuk kamu, teman," hatinya sangat berat untuk mengatakan itu. Tapi ini adalah bentuk rasa cintanya pada seorang gadis, karena cinta tidak perlu saling memiliki. Cinta itu harus memberikan kebahagiaan untuk orang yang dicintainya, walau hati terasa begitu menyakitkan. Pengacara Kim mulai bergegas meninggalkan halaman rumah itu. Saat itu pula Dimas pingsan dan kehilangan kesadarannya. Kak Rere tergelak tatkala melihat adik laki-lakinya pingsan begitu saja. Dia langsung berlari ke arahnya. "Dimas, Dimas sadar sayang, sadar!" wanita itu mengangkat kepala sang adik dengan panik. "Ayo bangun! Kamu gak boleh lemah kaya gitu! Bangun!" pintanya dengan nada marah. Karena penyakitnya itu, Dimas seringkali mengalami pingsan seperti ini akibat kurangnya tekanan darah di tubuhnya. Kak Rere memeluk Dimas erat, dia ikut merasakan kepedihan yang dirasakan sang adik. Kehilangan orang tua dan wanita yang dicintainya, bukankah itu sangat menyakitkan? Langit menggelap, menandakan musim hujan akan kembali datang. Rintikan demi rintikan air mulai berjatuhan, membasahi tanah-tanah di bumi. Menyirami tumbuhan yang kering.' ‘Musim hujan tiba, saatnya aku menebus kesalahanku padanya. Kembali menunggu cintanya. Kembali menikmati cinta seperti pasangan lainnya meski dalam waktu yang singkat. Hana, aku cinta kamu, cinta kamu. Maafkan aku, tolong maafkan aku.' *** "Sebenernya apa yang terjadi sama kalian? Ayo dong, cerita sama kakek," pria paruh baya itu membujuk cucunya untuk menceritakan apa masalahnya. Hana berhenti menegak air putih lalu menyimpan gelas itu di atas meja. "Aku sama dia udah gak ada hubungan apa-apa lagi, kek. Jadi, jangan biarin dia keluar masuk seenaknya ke rumah ini. Dia bukan siapa-siapa kita, dia cuma penjahat laki-laki," tutur Hana dengan nada tegasnya. Tentu saja membuat kakek yang mendengarnya tidak mengerti, pria itu mengerutkan kening,"Bukannya kamu cinta banget sama dia? Ada apa? Ayo cerita sama kakek." "Gak ada yang perlu diceritain lagi kek. Jangan pernah sebut nama dia lagi di sini atau ngomingin dia. Aku males," gadis itu bangkit dari duduknya. Hana lantas pergi meninggalkan sang kakek yang masih menyimpan beribu pertanyaannya. Jika cucunya tak ingin bercerita, dia harus mencari tahu masalah ini pada seseorang. Pengacara Kim, ya, dia pasti tahu semuanya. Kakek mengangguk-anggukan kepala yakin. Semenjak Hana sembuh dari amnesianya, dia menjadi dingin seperti ini. Memang, sama seperti sifat aslinya. Tapi ini lebih dingin, entah apa yang membuat cucunya menjadi seperti itu. *** Dimas mondar-mandir di depan rumah Hana. Dia tahu, gadis itu tidak ada di rumahnya. Untuk itu dia akan menunggunya di sini. Menyambut kedatangannya dengan sebuah permintaan maaf. Mengajaknya untuk melupakan semuanya, mengajaknya untuk membuka lembaran baru. Ia sempat mendengar ucapan Pengacara Kim kemarin, Hana tak membenci dia sepenuhnya. Ya, Dimas yakin itu. Dia juga ikut merasakannya. Mendung kembali datang. Dimas tidak peduli itu. Dia akan tetap menunggu. Meski nanti Hana akan mengusirnya sekali pun, tak akan membuatnya menyerah. Janjinya adalah, kembali mendapatkan maaf dari gadis yang pernah disakitinya dulu. Ingin sekali menikmati cinta seperti dulu dengannya. Selang beberapa menit, terdengar suara mesin kendaraan yang mendekatinya. Dimas menoleh ka asal suara, yang ditunggunya pasti sudah datang. Mobil bercorak hitam itu tiba di depan rumah. Keluar sepasang kaki dengan sepatunya. Hana, Dimas dapat melihat gadis itu dengan jelas. Pria itu cepat-cepat mendekatinya tatkala gadis itu mulai berjalan masuk ke dalam halaman. Dimas berjalan dibelakangnya tanpa sepengetahuan Hana. "Hana," panggilnya. Gadis itu menghentikan langkahnya. Ia kenal dengan suara itu. Pengacara Kim keluar dari mobilnya setelah selesai menyimpan mobilnya itu di halaman. Dia dapat menangkap kedua insan itu. Semoga saja, Dimas bisa mendapatkan cintanya kembali. Jika tidak, mau atau tidak mau dia akan membocorkan rahasianya pada Hana. Tentang penyakit mematikan yang kini bersarang di tubuhnya. Perjanjian kedua pria itu telah disepakati kemarin malam. Gadis itu tidak berbalik sama sekali. Untuk melihatnya saja dia sudah tak sudi lagi. Pengacara Kim mendekati mereka. Ia tidak akan membuka suara. "Hana," panggil Dimas untuk yang kedua kalinya. Gadis itu lagi-lagi tidak menyahut. Jujur, dia ingin melupakannya. Suasana hening kini menyapa ketiganya. "Maafin....," "Pengacara Kim," sela Hana memotong ucapan Dimas. "Jangan biarin laki-laki b******k itu masuk. Dan kalau bisa, tutup mulutnya. Jangan biarin dia injek halaman rumah ini lagi. Jangan biarin dia nunggu di luar. Emangnya dia siapa?" Rasanya begitu sakit. Saat gadis itu menyebutnya dengan nama pria b******k. Ya, panggilan itu memang patut didapatkannya. "Kalau kamu biarin dia masuk, jangan harap kita bisa bicara lagi," lanjut Hana sebagai penutupnya. Ia pun bergegas kembali melanjutkan langkahnya, berjalan masuk ke dalam rumah tanpa sempat berbalik. Dimas hanya bisa memandang punggung Hana yang semakin menghilang dari kedua iris hitamnya. Ini baru awal, tak mungkin dia menyerah hanya karena ucapannya itu. Pengacara Kim melirik Dimas sesaat, memberi kode lewat matanya. Untuk saat ini dia harus mengerti perasaan Hana. Semua perempuan akan melakukan hal yang sama. Dikhianati dan dibohongi setelah diberikan ketulusan, mereka akan marah dan menutup hatinya. Tapi jika memang masih ada satu titik cinta di hatinya, tak akan menutup kemungkinan jika sepasang kekasih yang telah hancur akan kembali bersatu lagi. Kita hanya bisa menunggu waktu dan berusaha. Dimas pun mengerti, dia menganggukan kepala pasrah. Hana melihat Dimas dari jendela. Mengapa dia seperti itu? Mengapa pria itu masih mengerjarnya? Bukankah dulu dia tidak mencintainya dengan sepenuhnya? Apa dia akan mempermainkan cintanya kembali? Tidak. Hana tidak akan pernah dibohongi lagi, dulu dia sangat bodoh. Tapi sekarang tidak lagi. Jika memang Dimas sudah mencintainya dengan tulus, tetap saja Hana tak akan pernah mau menerimanya kembali. Dia akan menganggap ini sebagai balasan dendamnya. Jika pria itu tak ingin tersakiti, jangan pernah mendekatinya lagi. *** Hari berlalu dengan cepat. Esoknya, hujan kembali mengguyur kota Jakarta. Terpaksa Hana harus menunggu di sebuah halte. Sungguh dia begitu kesal dengan keadaan seperti ini. Tadi dia hanya mampir ke sebuah toko kaset dan memilih beberapa drama korea. Ia ingin melepaskan semua penatnya dengan menonton drama buatan negara itu. Tapi di perjalan menuju kantor, dia dicegat oleh hujan menyebalkan ini. Dia sangat membenci hujan, sangat, dan sangat membencinya. Dalam halte itu hanya ada Hana seorang diri. Tak ada orang lain yang berteduh di sana. Seorang pria duduk di sebelahnya. "Lagi nungguin hujan?" tanya pria itu so’ akrab. Keadaan mood-nya sedang tidak bersahabat. Itu sebabnya Hana tak menjawab pertanyaan tersebut. "Ohh yaa. Aku tau, kamu itu benci hujan," lanjutnya, semakin membuat Hana kenal suara itu. Kedua pupilnya membulat sempurna, dia lantas menoleh ke samping. Saat itu juga Dimas melirik ke samping, hingga akhirnya pandangan mereka saling bertemu. Mereka beradu pandang cukup lama, Dimas berusaha memberikan senyumannya. Hana mengepal sebelah tangannya, mengapa pria itu lagi-lagi mengikutinya? 's**l!’ Gadis itu cepat-cepat membuyarkan pengelihatannya ke sembarang tempat. Yang jelas ia tidak ingin melihat pria itu. "Hana dengerin aku sebentar," ucap Dimas di antara suara-suara rintikan hujan. Rasanya Hana ingin cepat menghindar. Tapi apa daya, hujan tak kunjung reda. Hana menahan perasaannya. Menahan emosinya. Sudah dikatakan beberapa kali padanya untuk tidak datang di kehidupannya lagi. Tapi... dia malah tetap mengganggunya. Bahkan sekarangpun dia masih ingin bercerita? "Aku minta maaf. Aku tau, dulu aku emang jahat. Aku selingkuh di belakang kamu dan permainin cinta kamu. Dulu aku emang kejam, dulu aku laki-laki b******k, sama kaya apa yang kamu katain kemarin. Aku laki-laki gak berguna, aku sering mabuk dan....," "Berhenti," sela Hana. Ia tak ingin mendengar apa-apa lagi. Dia hanya ingin berteduh di sini, bukan tempat untuk mendengar curhatan pria itu. "Hana, tolong maafin aku. Kalau kamu emang marah sama aku, ayo marahin aku. Tapi please, jangan jauhin aku. Aku mohon," pinta Dimas dengan sangat. "Jangan diemin aku, jangan anggap aku ini kaya penjahat." "Aku bilang berhenti!" "Aku gak bakal berhenti sebelum kamu maafin aku dan mau bicara sama aku. Hana...," "Apa kamu gak denger aku?!" Gadis itu mengalihkan pandangannya pada Dimas dengan raut kesalnya. "Kata maaf gak segampang itu kamu dapetin. Apa kamu tau perasaan aku dulu? Kamu ngerti itu?!" Ucapnya dengan penuh penekanan. "Jangan ngikutin aku lagi!" Hana bangkit dari duduknya dan turun dari halte tersebut walau langit masih menitikkan hujan derasnya. Hana menerobos air hujan, berjalan cepat meninggalkan Dimas. Pria itu dengan cepat menyusul Hana, ikut menerobos derasnya hujan. Karena berlari, pria itu berhasil menggapai pergelangan tangan Hana. Gadis itu mencoba melepaskannya walau pegangan Dimas semakin kencang dirasakan. Keduanya kini sudah basah kuyup karena hujan. Hana marah dengan tindakan Dimas, dia melepaskan cengkraman tangan pria itu dengan sekuat tenaganya. Hingga ia pun berhasil melepaskannya dan alhasil tangannya langsung melayangkan tamparan kencang di pipi Dimas. Pria itu pun membuang muka. Kesal dengan Dimas, dia menampar pipi pria itu lagi. Dimas beberapa kali mengangkat kepalanya, lagi dan lagi pula gadis itu menampar pipinya. "Berhenti kejar aku lagi, Ren! Semuanya udah selesai! Jangan ngubah takdir kita yang gak akan pernah bersatu lagi!" teriak Hana mecoba mengalahkan suara air hujan. Dimas mencoba membawa Hana ke dalam pelukannya dengan paksa, tapi gadis itu menolaknya dengan kasar. Pria itu melakukannya berulang kali hingga menambah luapan emosi Hana, untuk kesekian kalinya dia menampar lagi pipi pria itu. Melangkah mundur dengan cepat. Dimas mendekati Hana lagi dengan membawa tungkainya satu langkah. Gadis itu beteriak, "Berhenti!" "Berdiri di sana!" Dimas tidak mendengarkan, dia malah tetap mendekati Hana dan menyimpan tangannya di kedua pipi gadis itu, bermaksud untuk mencium bibirnya dengan paksa. Gadis itu melakukan perlawanan, belum sempat bibir mereka bersentuhan, dia sudah lebih dulu mendorong tubuh Dimas dengan segala kekesalannya. Hingga kini jarak mereka lumayan berjauhan. Air mata Dimas turun bersamaan dengan aliran air hujan yang menerpa wajahnya. Bahkan, gadis itu tak ingin disentuh lagi. Gadis itu pun sama, air hujan menutupi air matanya."Aku benci kamu! Aku benci kamu! Aku benci kamu!" teriaknya sekencang mungkin. Dia cukup marah dengan tindakan konyol Dimas barusan. Sama saja dia memaksakan kehendaknya dan cukup egois. "Jangan ikutin aku lagi kalau kamu gak mau liat aku mati!” Hana terisak, ia pun berbalik, berjalan dengan kalut meninggalkan Dimas yang mematung di tempatnya. Tak peduli dengan air hujan yang membasahi sekujur tubuhnya. Cinta ini begitu menyakitkan. Di satu sisi Hana sangat membenci pria itu. Di sisi lain, masih ada sedikit cinta yang tersisa untuknya walau tak sebesar dulu. Mengapa kisah cintanya tak semulus sama seperti pasangan lainnya? Apa harus dia menjalankan cinta bercampur benci ini? Luka di hatinya masih belum hilang, dia masih belum menerima atas pengkhianatan yang Dimas berikan. Kisah cinta serumit ini biasanya hanya bisa dia lihat dalam serial sebuah drama, tapi sialnya, kenyataannya dia juga ikut merasakannya. Ini jauh lebih menyakitkan. Hujan pun seperti ikut merasakan kepedihan mereka, menangis tanpa henti. Dimas memandang kepergian Hana dengan sendu. Hatinya seperti teriris sembilu. Jauh lebih menyakitkan dari pada penyakitnya. Apa gadis itu tak akan memberikan sedikit kesempatannya?' ‘Kalau kaya gini, gimana caranya supaya aku bisa bahagiain kamu? Yang ada, aku malah nyakitin kamu. Ayolah Mel, kembali.’ *** Sebuah tempat yang dikerumuni para pemuda tak tahu diri dan wanita-wanita seksi, bar. Yah, Dimas memilih tempat itu sebagai pelampiasan rasa sakitnya. Dia memesan beberapa botol minuman keras dan meminumnya tanpa henti. Dia menyingkiran para wanita yang berusaha merayunya dan mengajaknya bermain. Gara-gara mereka, dia kehilangan cintanya. Kehilangan wanita pilihannya. Kemarin, dia sudah benar-benar sangat menyakiti hatinya. "Dasar laki-laki gak tau diri!" umpat salah satu wanita yang tidak terima dengan tolakan yang diberikan Dimas. Pria itu mulai mabuk dan kalang kabut, pandangannya mulai samar. Dia sungguh bodoh! Sudah tau sakit, tapi tetap saja meminum alkohol. Dia seperti sudah kehilangan akalnya. Apa ini jalan satu-satunya untuk menenangkan pikiran? "Ayo kita minum sama-sama," ajak seorang pria yang duduk di sebelah Dimas. "Aku pengen sendiri! Jangan ganggu! Sana pergi!" balas Dimas kembali menegak minuman itu. Ucapannya membuat pria itu marah. Dia lantas menarik kerah baju Dimas dengan emosi. "Apa lo bilang?" Tanpa disadari, ternyata sedari tadi Hana mengikuti Dimas. Sekarang dia berada di antara para wanita yang berdansa-dansa mengikuti detuman musik yang menggema di diskotik tersebut. Dia memandang Dimas pilu, mengapa pria itu malah mabuk? Tiba-tiba kedua matanya terbelalak kala melihat Dimas terkapar di bawah karena pukulan seorang pria yang mungkin mereka tengah bertengkar. Ingin sekali membantunya, tapi, bukankah dia membenci pria itu? Entah mengapa Hana khawatir padanya. Dia masih sama seperti Dimas yang dulu, selalu meminum minunan keras. Mungkin dia telah menyakiti hati pria itu, tapi rasanya malah dirinya sendiri yang merasa tersakiti. Hana merasa sangat bersalah karena tangannya beberapa kali menampar pipinya tanpa henti kemarin. Bahkan tadi, tak sengaja ia melewati rumah Dimas dan melihat pria itu keluar dari sana dengan logat yang mengkhawatirkan. Ternyata dia malah mendatangi tempat menjijikan seperti ini. Hana hanya berdiri di tempatnya sekarang, melihat Dimas yang sudah babak belur. Dia mabuk dan dipukuli beberapa kali, pasti dia kesakitan, kan? Mata Hana mulai berkaca-kaca. Apa dia sehancur itu? Bermaksud untuk membalaskan dendamnya, tapi dia sendiri tidak kuat melihat Dimas yang lemah seperti itu. Di keramaian ini, Hana menangis dalam hati. Pria itu mencoba kembali duduk dan menuangkan alkohol ke dalam gelas dengan susah payah. Tak ada yang mempedulikannya. Hana menyeka air matanya. Ia mulai melangkah bermaksud untuk mengampiri Dimas untuk memarahinya. Tapi... Niatnya terhenti. Kakinya berhenti melangkah. Tidak, tidak. Jangan lakukan itu, jika dia menampakkan dirinya pada Dimas, sama saja Dimas akan berpikir bahwa gadis itu sudah memaafkannya. Tidak, Hana tak ingin memberikan harapan palsu padanya. Gadis itupun segera berbalik, membelakangi Dimas. Apa dia selemah itu? Akhirnya Hana pergi meninggalkan tempat sebelumnya, menyelinapi orang-orang yang asyik dalam kesenangannya. Kristal bening menelusuri pipi Dimas, dia segera menghapusnya. Dia sudah menjadi pria tak berguna. Tak ada yang menyayanginya. Dia menyesal, karena dulu ia pernah menyakiti gadis yang begitu tulus mencintainya. Jika saja ia tidak seperti itu, pasti sekarang sudah bahagia,kan bersama Hana? *** Suara gemuruh menggelegar di atas langit tanpa penyangga itu. Memaksa para manusia untuk segera menghentikan aktivitasnya. Segera masuk ke dalam rumah dan bersembunyi. Saat itu pula, Dimas tiba di rumahnya. Kondisinya benar-benar sangat buruk. Penyakitnya kembali kambuh. Pria itu muntah darah, gara-gara terlalu banyak meminum minuman keras. Tubuhnya terhuyung ke atas lantai, kepalanya pening. Cairan merah sudah memenuhi baju dan sekitar mulutnya. Napasnya terdengar sangat tidak berturan, Dimas tergolek lemah di sana. Matanya menatap langit-langit di atas. Tersenyum miris dengan keadaannya sendiri. Sangat mengenaskan. Kak Rere baru saja keluar dari kamarnya dan mendapati sang adik dengan keadaan seperti itu. "Dimas!" pekiknya kaget. Dengan cepat dia menghampirinya. Melihat Dimas yang seperti itu membuatnya emosi. Dia melihat baju Dimas yang sudah dipenuhi darah. "Dimas! Apa yang kamu lakuin? Kamu mabuk lagi?!" tegurnya dengan nada kesal. Pria itu tidak menggubrisnya. Kak Rere menggeleng-gelengkan kepala putus asa. Bisa-bisanya adiknya itu mabuk saat dirinya sudah divonis terkena penyakit paling mematikan. Apa dia ingin mengakhiri hidupnya sekarang juga? "Apa kamu gak kasian sama kakak, hah?!" Wanita itu membanting tubuhnya ke atas lantai, bersebelahan dengan Dimas yang sudah terkapar tak berdaya. "Kamu tega sama kakak! Kakak pengen kamu sembuh tapi kenapa kamu malah mempercepat kematian kamu?!" adiknya cukup membuat wanita itu marah. Marah karena kekhawatirannya. "Bener-bener adik yang gak berguna! Kalau mau mati, sana! Sekalian kamu bunuh diri! Ayo mati sana! Tapi jangan harap kakak mau maafin kamu!" Dimas memejamkan kedua matanya. "Adik yang gak berguna!! Kamu gak bisa manfaatin hidup kamu yang masih tersisa! Kamu bahkan gak mau dengerin kakak supaya pergi kemo. Sana mati, Ren! Kakak gak akan ngelarang kamu lagi. Sana mati aja! Jalanin hidup sesuai keinginan kamu!" Wanita itu mulai mengeluarkan air matanya. Dimas telah membuatnya benar-benar tak berdaya. Dia tidak bisa mengerti akan kasih sayangnya. "Adik yang gak berguna. Kamu gak berguna sama sekali. Gak berguna...," lirihnya dengan intonasi paling rendah. Suaranya menyerak. "Kamu gak bergunaaa..." *** Di luar, hujan begitu kencang terdengar. Musim hujan ini begitu menyedihkan. 'Di musim hujan, aku kembali menunggumu. Kembalilah kepelukanku. Mari kembali menikmati cinta seperti pasangan lain' Dimas menulis kalimat itu dalam sebuah kertas. Berharap harapannya akan menjadi kenyataan. Cincin yang dulu dibuang Hana, Dimas akan menyimpannya dengan baik. Dia akan menyimpan cincin itu di tempat yang sebenarnya, yaitu jari manis milik Hana. Dia tahu waktunya tak akan lama lagi. Tapi dia ingin Tuhan mengizinkannya untuk memberinya kesempatan. Dimas melipat-lipat kertas itu lalu dimasukannya ke dalam kotak merah, bersamaan dengan cincin elegan itu. Sungguh dia ingin menjadi pria yang setia. Lagi-lagi Dimas memuntahkan cairan merah gelap itu. s**l! Ini sangat s**l! Tentu saja, tadi siang dia malah meminum alkohol yang sudah jelas-jelas minuman yang dilarang untuk diminum penderita sirosis hati. Pria itu berlari menuju toilet, menahan rasa sakitnya di sana. Membasuh mulutnya dengan air keran. Dia mundur, menyenderkan tubuhnya di permukaan tembok. Ini begitu melelahkan. Dimas sudah sagat lelah. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD