Why?

1864 Words
... “Kesalahan terbesarku adalah pernah mencintai seorang pria brengsek.” Kala itu. Dimas menghentikan niatnya, sesuatu telah menohok hatinya. Seperti sebuah tarikan magnet untuknya agar kembali. Pria itu mencoba membuang prasangka aneh itu. Tapi--- Aaah! Akhirnya ia berbalik, menuruti apa kata hatinya meski mungkin ini tak akan membuahkan hasil apa-apa. Ini hanya perasaannya saja, tak patut untuk dicurigai. Dimas tertegun tatkala menangkap pemandangan yang membuatnya terkejut beberapa saat. Dia mengintip di balik pagar tembok, dilihatnya Hana yang tengah melepaskan cincinnya. Lalu, berikutnya kedua pupil pria itu kembali terbelalak saat gadis yang jauh dari jangkauannya melempar benda pemberiannya ke sembarang tempat dengan ekspresi puas. Jantung Dimas berdetak lebih cepat. Tanpa melirik lagi, Hana kembali masuk ke dalam rumahnya. Semakin membuat hati Dimas teriris. Terdengar pula hentakan keras dari pintu rumah itu. Pintu tertutup rapat. Dengan cepat Dimas masuk ke dalam halaman rumah tersebut, bermaksud untuk mencari cincin yang dilempar Hana, jangan sampai cincin itu hilang. Pandangannya ia edarkan ke seluruh permukaan tanah dan rumput-rumput taman yang berada di halaman. Kemana benda itu mendarat? Langkahnya kian kemari mencari cincin yang tidak boleh hilang begitu saja. Cincin itu harus kembali ke tempatnya, jari milik Hana. Detik berganti menit, pria itu belum juga mendapatkan apa yang dicarinya. Jangan putus asa! Cincin itu pasti ada di sekitar sini. Hanya saja, ukurannya yang kecil membuat pencarian ini terasa menyulitkan dan memakan waktu lumayan lama. Sesekali Dimas mencarinya di tumbuhan berpot, mungkin saja cincinya ada di sana. Hasilnya nihil. Ia sama sekali tak menemukan apa-apa. Bahkan dari semua tanaman berpot itu, tak ada yang membuahkan hasil. Ia hamburkan lagi pandangannya ke segala arah. Semoga saja ada petunjuk. Tak sengaja, atensinya menangkap siluet kucing berbulu hitam bercampur putih. Kucing itu tengah sibuk memainkan benda kecil dengan kaki-kakinya. Perlahan, sudut bibir pria itu tertarik ke samping. Mengerti dan menyimpulkan, mungkin kini dia berhasil menemukan apa yang dicarinya. Fiuuuh! Tuhan sudah memberinya petunjuk. Tanpa menunggu lagi, Dimas berjalan ke arah kucing tersebut. Pria itu berjongkok. Yah, benar, ternyata apa yang disimpulkannya memang benar. Cincin itu, sekarang sudah berada di depan matanya. Dimas pun mengambil cincin itu dari mainan si kucing. Kucing itu mengeong, sebagai respon layaknya manusia. Pria yang kini merasa lega itu tersenyum kembali seraya mengusap-ngusap puncak kepala si kucing. Binatang itu telah membantunya dalam pencariannya ini. Jika saja dia manusia, pasti Dimas akan langsung berucap terima kasih padanya. Tak lama, si kucing pun berlari meninggalkan tempat sebelumnya. Binatang itupun suka dengan cincinnya ini, tapi Hana? Raut wajah Dimas kembali berubah, terbesit rasa kekecewaan dan sakit hati yang sulit sekali untuk dijelaskan. Pria itu kembali berdiri. Memandang rumah mewah yang berada di sampingnya itu. Begitu banyak pertanyaan yang mengaliri relung jiwanya. Sekarang, biarkan gadis itu beristirahat. Besok, Dimas akan mempertanyakan tentang hal ini padanya. *** "Kenapa?....," tanya Dimas dengan nada pelan. Sungguh ia ingin mendapat jawaban pasti dari gadis ini. Hana masih termangu. Diam di tempat dengan bibir yang bergerak-gerak entah harus mengatakan apa. "Kenapa kamu buang ini?" ulang Dimas lagi. Hana menelan air liurnya dengan kaku. "Kenapa... Kenapa cincin itu bisa ada di tangan kamu?" tanya balik Hana memecahkan suasana ketegangan. Buru-buru dia merebut benda lingkarang itu dari tangan Dimas. Kecurigaan pria itu semakin bertambah tatkala melihat tingkah gadis didepannya yang kikuk seperti menyembunyi-kan sesuatu. "Aku pake lagi yaa," ucap Hana mencoba menyematkan kembali cincin itu ke dalam jari manisnya. Dimas tercenung. Padahal, dia lihat sendiri Hana membuang cincinnya. Tapi.... "Tuh, kan, cincinya udah aku pakek lagi?" tanya gadis itu memperlihat-kan jemarinya, menyembunyikan ketakutannya. Bukan takut akan terkena marah dari pria itu, tapi takut jika sandiwaranya akan segera terbongkar. Dia harus bisa membuat Dimas tergantung dan jatuh hati, jatuh sejatuh jatuhnya pada cintanya. Sekarang belum saatnya, belum saatnya ini selesai. Melihat raut wajah Dimas yang penuh tanda tanya, gadis itu langsung mengimbuhi dengan alasan tak masuk akalnya. "Pasti cincinya jatuh waktu kemarin, dan sekarang aku baru sadar, jari aku kosong. Dan untungnya kamu nemuin lagi," dusta Hana. Tapi sudah terlanjur, karena sekarang Dimas tak akan bisa dibohongi. Kemarin dia jelas-jelas melihatdengan mata kepalanya sendiri bahwa Hana yang membuang cincinya sendiri dengan sengaja tanpa perasaan. "Bohong," lirih pria itu. Hatinya lagi-lagi tergores tanpa ampun. Sebenarnya apa yang direncanakan gadis itu sampai dia menyakitinya seperti ini. Membuang pemberiannya dan berbohong hanya untuk menutupi perbuatannya. Hana mencoba tidak mempedulikan ucapan Dimas. Dia segera mengalihkan pembicaraan. "Aku pergi dulu. Ini hari pertama aku kembali kerja. Kakek udah nunggu aku di sana," pamitnya. Dia pun bergegas melanjutkan kembali perjalannya. Meninggalkan Dimas yang masih mematung dengan kebingungannya dan kesakitannya. Hana keluar dari halaman rumahnya, bermaksud untuk mencari taksi. Dia belum dibolehkan untuk menyetir mobil sendiri lagi semenjak kecelakaan besar itu. Ini tidak benar. Dimas harus meminta jawaban pasti dari Hana. Dia tidak bisa dibohongi seperti ini. Dia harus mencari tahu apa motif gadis itu. Mengapa dia mempermainkannya? Pria itu berbalik dengan cepat. Berjalan meninggalkan pijakan sebelumnya. Mengejar Hana yang sekarang entah berada di mana. Untung saja, dia belum terlalu jauh. Gadis itu tengah berdiri di sisi jalan, mungkin tengah menunggu kendaraannya. Tak bisa mengulur waktu lagi, Dimaspun langsung berlari hingga akhirnya dia tiba di dekat Hana. Gadis itu menoleh, merasakan kehadiran Dimas. Pria itu meraih pergelangan tangan Hana dengan cengkraman kencang. Sontak gadis itu memekik. "Apa yang kamu lakuin?" protesnya dengan intonasi kesal. "Kamu bohong!" tukas Dimas tegas. Hana berusaha melepaskan genggaman tangan Dimas. Tapi pegangannya itu malah semakin kuat. Mempertontonkan kesan bahwa Dimas seperti pencopet yang tengah memaksa targetnya. Gadis itu sudah berusaha keras, tapi tak ada hasil apa pun. "Jujur sama aku Mel!" "Lepas!" "Kamu bohong!" "Apa maksud kamu? Bohong apa?!" "Berhenti pura-pura!" "Lepasin!" "Aku kemarin liat kamu buang cincin itu. Terus kenapa sekarang kamu bilang kalau cincinya jatuh?" Sungguh pertanyaan itu seketika membuat Hana terdiam. Menghentikan aksinya yang meronta ingin melepaskan tangannya dari Dimas. Saat itu juga, perlahan Dimas mulai melepaskan cengkramannya, tapi matanya masih menatap Hana tajam. Suasana hening. Hanya terdengar suara mobil dan motor yang tengah berlalu-lalang di atas aspal sisi mereka. Mereka bertatapan tanpa ada suara lagi. "Kemarin aku liat kamu! Apa sekarang kamu mau ngelak lagi?!" Seluruh organ Hana sudah tak bisa digerakkan lagi. Mungkin sekarang, mungkin sekarang saatnya dia berhenti bersandiwara. Berhenti pura-pura mencintai pria b******k ini. Berhenti memperlihatkan senyuman palsunya. Berhenti bersikap lembut di depannya. Dan berhenti berbaik hati seolah ia tak pernah merasakan keperihan dan kepedihan yang terjadi di masa lalu. Gadis itu menarik napas pelan, "Okeeee," ucapnya menghembuskan napas yang tadi ia hirup. Dimas semakin menggambarkan raut penasarannya. "Okee..., iya, iya kemarin buang cincin kamu itu," lanjut Hana yang langsung menjemput Dimas ke dalam rasa sakit hati. Pria itu tertegun. "Kenapa?" tanya Hana dengan nada enteng. "Kenapa?" ulang Dimas tak habis pikir. "Kenapa? Kamu sakit hati?" Mendengar itu, rasanya darah Dimas berhenti berdesir. Seluruh tubuhnya terasa samar. "Kamu sakit hati?" tanya Hana lagi mengulangi pertanyaannya. "Maksud kamu apa?" Dimas sama sekali tidak tahu menahu. Yang dia pertanyakan adalah, mengapa dia setega ini padanya? Apa kesalahannya sampai Hana tega mempermainkannya? "Ooh. Kamu gak tau?" gadis itu tertawa miris. Dengan cepat dia langsung melepaskan cincin yang melingkar di jari manisnya untuk yang kedua kalinya. Ia sudah tak tahan lagi ingin mengeluarkan semua kemarahannya yang sejak dulu sudah tumbuh. Dimas tertegun. Lagi-lagi ia melihat pemandangan seperti ini, apalagi ketika matanya melihat Hana melempar cincin bermotif elegan itu ke jalan raya tanpa pikir panjang. Alhasil, sekarang benda tersebut tergeletak di atas aspal jalan. Dikelilingi oleh ban-ban mobil dan motor. Sungguh, posisi yang sangat membahayakan. Jika salah satu dari mobil atau motor itu menggilas cincinya, sia-sia sudah. "Lebih sakit hati mana saat aku liat kamu selingkuh di belakang aku?!" bentak Hana dengan mata berkaca-kacanya. Ia kembali merasakan sakit di ulu hatinya kala mengingat kejadian menyeramkan itu. Melihat orang yang sangat kita cintai dan percayai mengkhianati kita sendiri. Perlahan, pandangan Dimas beralih pada Hana setelah mendengarkan lontaran kalimatnya yang membuat jantungnya berdetak tak beraturan. Menelan air liurnya yang terasa pahit. Menelan kenyataan bahwa ternyata... Ternyataaa..., Dimas sudah tak bisa menafsirkan itu. "Selingkuh?" "Lebih sakit hati mana saat aku liat kamu selingkuh dan b******u di belakang aku? Main-main sama perempuan lain, tanpa mikirin perasaan aku yang cinta sama kamu dengan tulus," gadis itu menepuk-nepuk dadanya dengan kencang. Suaranya mulai gemetar dan serak. Setelah sekian lama ia menyimpan rasa sakit ini, sekarang saatnya dia mebeludakkan semuanya. Emosinya yang semakin menggebu-gebu tak bisa ditahan lagi. 'Ya Tuhan! Jadi selama ini Hana udah tau!' Dimas tidak bisa berkutik apa-apa lagi. Pria itu terdiam seperti patung. Seperti robot yang sudah kehilangan baterainya. Memang inilah kenyataannya. "Iya aku udah tau!" Hana menyeka air matanya. "Kamu pikir aku gak tau kalau kamu itu cuma mainin aku? Dan sekarang, kamu juga ngerasa, kan? Gimana rasanya dipermainin?!" "Asal kamu tau! Aku nyesel udah jatuh cinta sama kamu! Aku nyessel udah kasih cinta dan kasih sayang aku buat kamu! Aku nyessel udah percaya kamu! Aku nyessel udah kasih ketulusan sama kamu! Aku nyessel udah keluarin kamu dari penjara dulu!" Tanpa sadar, kristal bening itu meluncur membasahi pipi Dimas tatkala mendengar penuturan Hana. "Aku muak! Aku muak pernah jadi pacar dari laki-laki jahat kaya kamu! Laki-laki yang gak bisa setia. Laki-laki b******k!" tukasnya lagi tanpa henti. Melahirkan luka yang sangat perih di hati Dimas. "Kesalah terbesar aku adalah pernah cinta sama kamu! Dan kedua, saat aku ngeluarin kamu dari penjara. Aku ini emang bodoh! Harusnya aku tau dari awal, kesalahan kamu bukan cuma sama orang-orang yang kamu tabrak, tapi aku juga!" suara seraknya bertambah dengan deraian air mata dari pelupuk matanya. "Aku nyesel keluarin kamu dari sana karena aku tau,saat kamu ngelakuin kesalahan itu kamu lagi..., kamu lagi...," napasnya tersengal hingga ucapannya tercekat. "Kamu lagi selingkuh, Reeen," tangisannya semakin membuncah tak tertahan. Dimas hanya bisa termangu tanpa kata. Ternyata ini, ternyata inilah alasannya. Gadis itu telah mengetahui semuanya. Bahkan, sekarangpun Dimas tidak bisa menahan laju air matanya lagi, ini terasa begitu menyakitkan. Di saat ia ingin setia pada Hana, dia sudah terlambat. Sekarang ia menerima hukuman cinta itu. "Semuanya udah selesai. Gak ada hubungan apa-apa lagi di antara kita." Hana sudah tak ingin lagi melihat Dimas. Dia menghapusi jejak air matanya. Bergegas meninggalkan Dimas dan mengakhiri semuanya. Gadis itu mengurungkan niatnya untuk pergi ke tempat tujuannya tadi, kekuatannya sudah sirna. Hana berjalan melewati Dimas begitu saja, melangkah cepat menuju rumahnya kembali. Untung ini masih dalam keadaan pagi, jadi tak ada orang yang melihat pertengkaran mereka. Sesuatu pun terlintas di benak Dimas, dia melupakan sesuatu! Pria itu kontan membelokkan kepalanya ke samping. Melihat keadaan cincinnya itu yang entah sudah hancur atau masih utuh. Tapi.. Untunglah, Tuhan masih berpihak padanya. Benda itu masih berkilau di sana. Tak ada satu kendaraanpun yang berani menginjaknya. Dimas bisa bernapas lega, setidaknya, ia akan berusaha mendapatkan cintanya kembali. Walau sekarang hatinya terasa begitu tersayat pisau tajam. Tanpa ragu, pria itu menyelinap masuk ke area jalan. Bermaksud untuk mengambil cincinnya yang mungkin akan hancur berkeping-keping. Sekarang, Dimas sudah memungut barang berharganya itu. Untung saja. Tanpa disadari, sebuah mobil melaju dari arah sampingnya. Melaju di jalur di mana Dimas memungut cincinya. Merasa sudah tak aman, pria itu menoleh ke samping dengan luka hati yang sudah begitu parah. Dilihatnya pula mobil bercorak hitam melaju ke arahnya. Dan.... ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD